Skip to search.

Breaking News Visit Yahoo! News for the latest.

×Close this window

wartaaids

The Yahoo! Groups Product Blog

Check it out!

Group Information

  • Members: 1036
  • Category: AIDS-HIV
  • Founded: Nov 4, 1999
  • Language: Indonesian
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Messages

Advanced
Messages Help
Messages 3369 - 3398 of 3520   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Messages: Show Message Summaries Sort by Date ^  
#3369 From: rico gustav <rico.gustav@...>
Date: Sun Jan 30, 2011 4:11 pm
Subject: GFATM Communities Delegation 2011 - 2013
rico_gustav
Send Email Send Email
 
Hi,

Beberapa bulan yang lalu, saya diminta untuk menjadi anggota delegasi
komunitas (Communities Delegation Board)  untuk Global Fund, TB dan Malaria.
Karena belum sempat membalas emailnya, baru minggu ini saya baru menerima
nominasi tersebut dan setuju untuk menjadi anggota dari Communities
Delegation Board untuk Global Fund.

Saya akan bertugas dari periode January 2011 - January 2013 dengan major
role seperti ini:

- Mewakili issue dari konstituen komunitas & menyampaikannya ke delegasi
yang lainnya; sebaliknya menyampaikan issue yang disampaikan delegasi yang
lainnya kepada konstituen yang diwakili
- Mereview dokumen komite dan board dan memberikan saran berdasarkan
perpsektif konstituen
- Mengembangkan position papers / dokumen mengenai posisi GF board dan
mengangkat perspektif konsituen kepada GF board members

*Maaf saya translatenya rada ngaco ;) versi bahasa inggrisnya ada di bawah
email ini.*

Saya diharapkan mewakili komunitas di Asia & Pacific, termasuk Indonesia
(dan bukan organisasi dimana saya bekerja sekarang). Ini merupakan tugas
yang cukup berat, jadi saya mohon dukungan rekan rekan sekalian. Jadi bila
ada hal hal yang ingin diangkat kepada Global Fund board members, jangan
ragu untuk berkomunikasi langsung kepada saya di rico.gustav@...

PS: Kalo ada yang mau nawarin bawain rendang atau batagor ke sini juga boleh
;)

Terima kasih



Cheers,

  Rico Gustav

Opinions expressed in this email are personal opinions and does not reflect
organizational policies & position on issues the author is working at.
*
*
*
*
*

The Global Fund to fight AIDS, Tuberculosis and Malaria is perhaps the most
important and innovative health initiative developed in the 21st century.
The Global Fund was created to dramatically increase resources to fight
these three devastating diseases, and to direct much needed resources to
areas of greatest need. As a partnership between governments, civil society,
the private sector and affected communities, the Global Fund represents an
innovative approach to international health financing.



The delegation actively participates in formulating policy and strategy
positions on key issues of relevance and works closely with other board
delegations (in particular the developed and developing country delegations)
to ensure that issues relevant to communities infected and affected by the
three diseases are effectively addressed. The delegation is required to have
informed and accountable representatives on the different committees and
structures of the Global Fund, as well as implementing mechanisms and
strategies to communicate with the broader community and partners affected
by the three diseases.



The delegation is looking for suitable candidates to join the current
Communities Delegation, to ensure that the issues and voices heard at the
Global Fund Board level are legitimate and continue to represent issues
faced by communities living with HIV, TB and affected by malaria.



Criteria for selection:

The delegation member is an individual.  However, institutional support is
critical to carrying out the duties.  The geographic coverage of the
delegation member spans numerous countries in specific region(s) and looks
at community issues and needs of HIV, TB and malaria.  The selection of the
delegation
members[1]<https://mail.google.com/mail/?ui=2&view=bsp&ver=ohhl4rw8mbn4#1291afd3\
02c1c44d_1287246a0d45af6a__ftn1>
will
be based on the following criteria:

i.      An individual living with HIV and/or living with or had TB and/or
living in communities affected by malaria;

ii.     Understanding of the scope of work of the Global Fund and
opportunities it presents, particularly as it relates to issues of people
living with AIDS, affected by TB, and malaria in implementing countries on
the Board level;

iii.   Internet, email and phone accessibility;

iv.    Ability to work well in written and spoken English (additional
languages will be valued);

v.     Ability and capacity to communicate and network effectively and
broadly (must have functioning communication linkages in region or
sub-regions);

vi.    Ability to adhere to processes that ensure transparency and
accountability between the Communities Delegation and communities living
with the diseases;

vii.  Diplomatic and strategic political and negotiating skills to work with
donor, government, non-governmental organisations, private sector and
foundation Delegations;

viii. Openness, willingness and ability to learn, and to take on issues
across constituency groups;

ix.    Willingness to adhere to the signed key performance indicators of the
delegation;

x.      Assurance regarding availability of 20% of working time for Global
Fund related duties; and

xi.    Preparedness in signing a confidentiality agreement with regards to
board and committee documents.



Length of term:

Delegation members serve a three-year term, and the new Alternate Board
Member and ad hoc committee representatives are chosen from the Communities
Delegation. Successful applicants will begin their term in January 2011
through December 2013.



Role of Communities Delegation Member:

The delegation member:

·   Represents issues from her/his specific constituency and feeds these
into the wider delegation communication, and in turn shares communication
and information from the wider delegation to her/his constituency;

·   Reviews committee and board documents and provides feedback from their
constituency perspective;

·   Participates in decision making that impacts the lives of those living
with, or affected by the three diseases;

·   Has an opportunity to participate in Board Meetings, by applying to be a
member of the 10 person board delegation;

·   Participates on a voluntary basis and will not be compensated monetarily
for their commitments; and

·   Is expected to contribute in the development of position papers and
preparation of speaking notes at board meetings to reflect the views of the
wider delegation.
*


[Non-text portions of this message have been removed]

#3370 From: rico gustav <rico.gustav@...>
Date: Mon Jan 31, 2011 5:22 am
Subject: Re: [aids-ina] GFATM Communities Delegation 2011 - 2013
rico_gustav
Send Email Send Email
 
He he he. Moktar! surat cinta abis...

Moktar, tidak perlu minta maaf. Saya mengerti bahwa ini bukan masalah iri,
dan memang proses ini perlu dijelaskan lebih lanjut. Jadi prosesnya adalah
melalui seleksi dari kandidat dari Asia Pasifik. Seperti yang diterangkan di
email di bawah (dalam versi bahasa inggrisnya). Itu adalah open application
yang dibuka untuk semua orang (sepertinya di mailing list ini pun di
publish), setelah aplikasi semua masuk, diseleksi oleh board yang telah ada.
Mungkin Moktar punya masukan yang lebih baik bagaimana untuk seleksi dari
Delegation ini?

Untuk pertanyaan kedua, saya harus tekankan, bahwa saya tidak hanya mewakili
Indonesia - tapi Asia Pacific (dimana Indonesia termasuk di dalamnya). Jadi
konsolidasi dilakukan melalui jaringan jaringan masyarakat sipil yang ada di
level regional & nasional. Saya harap dapat dimengerti bahwa Asia Pacific
itu sangat besar dan akan ada banyak competing agenda dari civil society
groups - jadi saya tidak dapat melakukan pencarian informasi secara aktif ke
kelompok civil society, kecuali lewat jaringan jaringan nasional yang ada
(sekali lagi saya tekankan "komunitas" adalah entitas yang sangat
heterogenous & definisinya berubah dari waktu ke waktu. Berbeda dengan
"pemerintah"

Dan sepertinya untuk pertanyaan ketiga itu pertanyaan yang cukup personal,
dan saya hanya bisa jawab sambil minum kopi :D Lagipula, saya rasa dengan
pindahnya saya ke Thailand bukan berarti saya tidak berpihak kepada
komunitas ODHA di Indonesia kan? Atau mungkin saya salah dengan berpikir
bahwa keberpihakan berarti harus secara fisik berada di tengah tengah issue?

Dan mungkin sebelum menanyakan keberpihakan saya, mungkin mau bertanya dulu
apa yang sedang saya lakukan di Thailand?

PS: Terima kasih sudah cinta gw, Moktar! Love you too, man :D

Cheers,

Rico Gustav

On 31 January 2011 09:40, moktark moktar <kobarbaralin@...> wrote:

>
>
> Inilah mekanisme yang menurutku syarat dengan kepentingan dan super aneh ?.
>
>
> Sori Rico, aku mau tanya, dasarnya apa, memilih kamu ? (ini bukan bersoalan
> iri, kalau alasannnya  logis, aku pasti sepakat dan dukung)
>
> Kedua, bagaimana kamu mambangun konsolidasi dengan komunitas rakyat
> Indoensia dengan keberadaanmu dan posisimu sekarng ini. (PS, Waria,  Gay,
> Panasun, orang yang terinfeksi HIV,  LSM dan stake holder).
>
> Ketiga  kamu memilih ke Thailand dan tidak di Indonesia untuk membangun
> gerakan sipil itu saja jadi pertanyaan ? Pertanyaan intergritas terhadap
> kepihakan kawan2 yang terdampak HIV atau apa ?
>
> Pertanyaan ini, tidak lebih adalah pertanyaan seorang kawan cinta pada
> kawannnya, ha, ha, ha pakai cinta segala...... Sudah ah tolong dijawab ya.
>
> Salam hangat,
> MTR
>
>
> --- On Sun, 30/1/11, rico gustav
<rico.gustav@...<rico.gustav%40gmail.com>>
> wrote:
>
> From: rico gustav <rico.gustav@... <rico.gustav%40gmail.com>>
> Subject: [aids-ina] GFATM Communities Delegation 2011 - 2013
> To: "AIDS INA" <aids-ina@yahoogroups.com <aids-ina%40yahoogroups.com>>,
> "Wartaaids" <wartaaids@yahoogroups.com <wartaaids%40yahoogroups.com>>
>  Date: Sunday, 30 January, 2011, 11:11 PM
>
>
>
>
> Hi,
>
> Beberapa bulan yang lalu, saya diminta untuk menjadi anggota delegasi
>
> komunitas (Communities Delegation Board) untuk Global Fund, TB dan Malaria.
>
> Karena belum sempat membalas emailnya, baru minggu ini saya baru menerima
>
> nominasi tersebut dan setuju untuk menjadi anggota dari Communities
>
> Delegation Board untuk Global Fund.
>
> Saya akan bertugas dari periode January 2011 - January 2013 dengan major
>
> role seperti ini:
>
> - Mewakili issue dari konstituen komunitas & menyampaikannya ke delegasi
>
> yang lainnya; sebaliknya menyampaikan issue yang disampaikan delegasi yang
>
> lainnya kepada konstituen yang diwakili
>
> - Mereview dokumen komite dan board dan memberikan saran berdasarkan
>
> perpsektif konstituen
>
> - Mengembangkan position papers / dokumen mengenai posisi GF board dan
>
> mengangkat perspektif konsituen kepada GF board members
>
> *Maaf saya translatenya rada ngaco ;) versi bahasa inggrisnya ada di bawah
>
> email ini.*
>
> Saya diharapkan mewakili komunitas di Asia & Pacific, termasuk Indonesia
>
> (dan bukan organisasi dimana saya bekerja sekarang). Ini merupakan tugas
>
> yang cukup berat, jadi saya mohon dukungan rekan rekan sekalian. Jadi bila
>
> ada hal hal yang ingin diangkat kepada Global Fund board members, jangan
>
> ragu untuk berkomunikasi langsung kepada saya di
rico.gustav@...<rico.gustav%40gmail.com>
>
> PS: Kalo ada yang mau nawarin bawain rendang atau batagor ke sini juga
> boleh
>
> ;)
>
> Terima kasih
>
> Cheers,
>
> Rico Gustav
>
> Opinions expressed in this email are personal opinions and does not reflect
>
> organizational policies & position on issues the author is working at.
>
> *
>
> *
>
> *
>
> *
>
> *
>
> The Global Fund to fight AIDS, Tuberculosis and Malaria is perhaps the most
>
> important and innovative health initiative developed in the 21st century.
>
> The Global Fund was created to dramatically increase resources to fight
>
> these three devastating diseases, and to direct much needed resources to
>
> areas of greatest need. As a partnership between governments, civil
> society,
>
> the private sector and affected communities, the Global Fund represents an
>
> innovative approach to international health financing.
>
> The delegation actively participates in formulating policy and strategy
>
> positions on key issues of relevance and works closely with other board
>
> delegations (in particular the developed and developing country
> delegations)
>
> to ensure that issues relevant to communities infected and affected by the
>
> three diseases are effectively addressed. The delegation is required to
> have
>
> informed and accountable representatives on the different committees and
>
> structures of the Global Fund, as well as implementing mechanisms and
>
> strategies to communicate with the broader community and partners affected
>
> by the three diseases.
>
> The delegation is looking for suitable candidates to join the current
>
> Communities Delegation, to ensure that the issues and voices heard at the
>
> Global Fund Board level are legitimate and continue to represent issues
>
> faced by communities living with HIV, TB and affected by malaria.
>
> Criteria for selection:
>
> The delegation member is an individual. However, institutional support is
>
> critical to carrying out the duties. The geographic coverage of the
>
> delegation member spans numerous countries in specific region(s) and looks
>
> at community issues and needs of HIV, TB and malaria. The selection of the
>
> delegation members[1]<
>
https://mail.google.com/mail/?ui=2&view=bsp&ver=ohhl4rw8mbn4#1291afd302c1c44d_12\
87246a0d45af6a__ftn1
> >
>
> will
>
> be based on the following criteria:
>
> i. An individual living with HIV and/or living with or had TB and/or
>
> living in communities affected by malaria;
>
> ii. Understanding of the scope of work of the Global Fund and
>
> opportunities it presents, particularly as it relates to issues of people
>
> living with AIDS, affected by TB, and malaria in implementing countries on
>
> the Board level;
>
> iii. Internet, email and phone accessibility;
>
> iv. Ability to work well in written and spoken English (additional
>
> languages will be valued);
>
> v. Ability and capacity to communicate and network effectively and
>
> broadly (must have functioning communication linkages in region or
>
> sub-regions);
>
> vi. Ability to adhere to processes that ensure transparency and
>
> accountability between the Communities Delegation and communities living
>
> with the diseases;
>
> vii. Diplomatic and strategic political and negotiating skills to work with
>
> donor, government, non-governmental organisations, private sector and
>
> foundation Delegations;
>
> viii. Openness, willingness and ability to learn, and to take on issues
>
> across constituency groups;
>
> ix. Willingness to adhere to the signed key performance indicators of the
>
> delegation;
>
> x. Assurance regarding availability of 20% of working time for Global
>
> Fund related duties; and
>
> xi. Preparedness in signing a confidentiality agreement with regards to
>
> board and committee documents.
>
> Length of term:
>
> Delegation members serve a three-year term, and the new Alternate Board
>
> Member and ad hoc committee representatives are chosen from the Communities
>
> Delegation. Successful applicants will begin their term in January 2011
>
> through December 2013.
>
> Role of Communities Delegation Member:
>
> The delegation member:
>
> · Represents issues from her/his specific constituency and feeds these
>
> into the wider delegation communication, and in turn shares communication
>
> and information from the wider delegation to her/his constituency;
>
> · Reviews committee and board documents and provides feedback from their
>
> constituency perspective;
>
> · Participates in decision making that impacts the lives of those living
>
> with, or affected by the three diseases;
>
> · Has an opportunity to participate in Board Meetings, by applying to be a
>
> member of the 10 person board delegation;
>
> · Participates on a voluntary basis and will not be compensated monetarily
>
> for their commitments; and
>
> · Is expected to contribute in the development of position papers and
>
> preparation of speaking notes at board meetings to reflect the views of the
>
> wider delegation.
>
> *
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>



--
Cheers,

Rico Gustav


[Non-text portions of this message have been removed]

#3371 From: rico gustav <rico.gustav@...>
Date: Tue Feb 1, 2011 6:58 am
Subject: Re: [aids-ina] GFATM Communities Delegation 2011 - 2013
rico_gustav
Send Email Send Email
 
Hi Moktar,

Thanks atas cintanya ;) ha ha

Iya, saya setuju. Namun mungkin tidak hanya satu orang yang bisa memberikan
update, karena kapasitas & perspektif dari satu orang mungkin tidak dapat
merefleksikan keadaan yang sebenarnya. Plus karena ini voluntary basis, jadi
saya tidak bisa bergantung dengan komitmen personal saja.

Saya akan lebih banyak berkomunikasi dengan jaringan masyarakat sipil yang
ada (seperti JOTHI, PKNI, OPSI, GWL, dll), tapi juga akan membuka pintu
untuk aktifis individual yang memiliki pendapat mengenai bagaimana caranya
agar GF policy & system di level global lebih baik. Jadi bila ada issue yang
ingin diangkat, silahkan saja email saya atau kalau bisa, lebih baik angkat
saja di AIDS Ina atau WartaAIDS, agar bisa berdiskusi lebih luas mengenai
issuenya.

Cheers,

Rico Gustav

On 1 February 2011 09:32, moktark moktar <kobarbaralin@...> wrote:

>
>
> Makasih Rico, sukses selalu ya. Informasih dari masyarakat Indoinesia
> sangat penting, tetapi Tuga Rico juga banyak. Kalau aku usul Rico perlu
> satu orang yang bisa membantu memberikan  up date perkembangan civil society
> di Indoesia. Dari dia Rico tahu keadaan setiap saat, perkembangannya dan
> diharapkan bisa membantu  kemajuan penanggulangan HIV  di Indonesia. Saya
> berpikir Rico dijadikan semacam perwakilan civil Society, bukan sebagai
> peribadi tetapi sebagai bagian keluarga Indonesia. Itu saja, cinta abis, ha,
> ha, ha
>
> sukses selalu ya.
>
> salam
>
> --- On Mon, 31/1/11, rico gustav
<rico.gustav@...<rico.gustav%40gmail.com>>
> wrote:
>
> From: rico gustav <rico.gustav@... <rico.gustav%40gmail.com>>
> Subject: Re: [aids-ina] GFATM Communities Delegation 2011 - 2013
>
> To: aids-ina@yahoogroups.com <aids-ina%40yahoogroups.com>
> Cc: "Wartaaids" <wartaaids@yahoogroups.com <wartaaids%40yahoogroups.com>>
> Date: Monday, 31 January, 2011, 12:22 PM
>
>
> He he he. Moktar! surat cinta abis...
>
> Moktar, tidak perlu minta maaf. Saya mengerti bahwa ini bukan masalah iri,
> dan memang proses ini perlu dijelaskan lebih lanjut. Jadi prosesnya adalah
> melalui seleksi dari kandidat dari Asia Pasifik. Seperti yang diterangkan
> di
> email di bawah (dalam versi bahasa inggrisnya). Itu adalah open application
> yang dibuka untuk semua orang (sepertinya di mailing list ini pun di
> publish), setelah aplikasi semua masuk, diseleksi oleh board yang telah
> ada.
> Mungkin Moktar punya masukan yang lebih baik bagaimana untuk seleksi dari
> Delegation ini?
>
> Untuk pertanyaan kedua, saya harus tekankan, bahwa saya tidak hanya
> mewakili
> Indonesia - tapi Asia Pacific (dimana Indonesia termasuk di dalamnya). Jadi
> konsolidasi dilakukan melalui jaringan jaringan masyarakat sipil yang ada
> di
> level regional & nasional. Saya harap dapat dimengerti bahwa Asia Pacific
> itu sangat besar dan akan ada banyak competing agenda dari civil society
> groups - jadi saya tidak dapat melakukan pencarian informasi secara aktif
> ke
> kelompok civil society, kecuali lewat jaringan jaringan nasional yang ada
> (sekali lagi saya tekankan "komunitas" adalah entitas yang sangat
> heterogenous & definisinya berubah dari waktu ke waktu. Berbeda dengan
> "pemerintah"
>
> Dan sepertinya untuk pertanyaan ketiga itu pertanyaan yang cukup personal,
> dan saya hanya bisa jawab sambil minum kopi :D Lagipula, saya rasa dengan
> pindahnya saya ke Thailand bukan berarti saya tidak berpihak kepada
> komunitas ODHA di Indonesia kan? Atau mungkin saya salah dengan berpikir
> bahwa keberpihakan berarti harus secara fisik berada di tengah tengah
> issue?
>
> Dan mungkin sebelum menanyakan keberpihakan saya, mungkin mau bertanya dulu
> apa yang sedang saya lakukan di Thailand?
>
> PS: Terima kasih sudah cinta gw, Moktar! Love you too, man :D
>
> Cheers,
>
> Rico Gustav
>
> On 31 January 2011 09:40, moktark moktar
<kobarbaralin@...<kobarbaralin%40yahoo.com>>
> wrote:
>
> >
> >
> > Inilah mekanisme yang menurutku syarat dengan kepentingan dan super aneh
> ?.
> >
> >
> > Sori Rico, aku mau tanya, dasarnya apa, memilih kamu ? (ini bukan
> bersoalan
> > iri, kalau alasannnya  logis, aku pasti sepakat dan dukung)
> >
> > Kedua, bagaimana kamu mambangun konsolidasi dengan komunitas rakyat
> > Indoensia dengan keberadaanmu dan posisimu sekarng ini. (PS, Waria,  Gay,
> > Panasun, orang yang terinfeksi HIV,  LSM dan stake holder).
> >
> > Ketiga  kamu memilih ke Thailand dan tidak di Indonesia untuk membangun
> > gerakan sipil itu saja jadi pertanyaan ? Pertanyaan intergritas terhadap
> > kepihakan kawan2 yang terdampak HIV atau apa ?
> >
> > Pertanyaan ini, tidak lebih adalah pertanyaan seorang kawan cinta pada
> > kawannnya, ha, ha, ha pakai cinta segala...... Sudah ah tolong dijawab
> ya.
> >
> > Salam hangat,
> > MTR
> >
> >
> > --- On Sun, 30/1/11, rico gustav
<rico.gustav@...<rico.gustav%40gmail.com>
> <rico.gustav%40gmail.com>>
> > wrote:
> >
> > From: rico gustav <rico.gustav@...
<rico.gustav%40gmail.com><rico.gustav%
> 40gmail.com>>
>
> > Subject: [aids-ina] GFATM Communities Delegation 2011 - 2013
> > To: "AIDS INA" <aids-ina@yahoogroups.com
<aids-ina%40yahoogroups.com><aids-ina%
> 40yahoogroups.com>>,
> > "Wartaaids" <wartaaids@yahoogroups.com
<wartaaids%40yahoogroups.com><wartaaids%
> 40yahoogroups.com>>
>
> >  Date: Sunday, 30 January, 2011, 11:11 PM
> >
> >
> >
> >
> > Hi,
> >
> > Beberapa bulan yang lalu, saya diminta untuk menjadi anggota delegasi
> >
> > komunitas (Communities Delegation Board) untuk Global Fund, TB dan
> Malaria.
> >
> > Karena belum sempat membalas emailnya, baru minggu ini saya baru menerima
> >
> > nominasi tersebut dan setuju untuk menjadi anggota dari Communities
> >
> > Delegation Board untuk Global Fund.
> >
> > Saya akan bertugas dari periode January 2011 - January 2013 dengan major
> >
> > role seperti ini:
> >
> > - Mewakili issue dari konstituen komunitas & menyampaikannya ke delegasi
> >
> > yang lainnya; sebaliknya menyampaikan issue yang disampaikan delegasi
> yang
> >
> > lainnya kepada konstituen yang diwakili
> >
> > - Mereview dokumen komite dan board dan memberikan saran berdasarkan
> >
> > perpsektif konstituen
> >
> > - Mengembangkan position papers / dokumen mengenai posisi GF board dan
> >
> > mengangkat perspektif konsituen kepada GF board members
> >
> > *Maaf saya translatenya rada ngaco ;) versi bahasa inggrisnya ada di
> bawah
> >
> > email ini.*
> >
> > Saya diharapkan mewakili komunitas di Asia & Pacific, termasuk Indonesia
> >
> > (dan bukan organisasi dimana saya bekerja sekarang). Ini merupakan tugas
> >
> > yang cukup berat, jadi saya mohon dukungan rekan rekan sekalian. Jadi
> bila
> >
> > ada hal hal yang ingin diangkat kepada Global Fund board members, jangan
> >
> > ragu untuk berkomunikasi langsung kepada saya di
rico.gustav@...<rico.gustav%40gmail.com>
> <rico.gustav%40gmail.com>
>
> >
> > PS: Kalo ada yang mau nawarin bawain rendang atau batagor ke sini juga
> > boleh
> >
> > ;)
> >
> > Terima kasih
> >
> > Cheers,
> >
> > Rico Gustav
> >
> > Opinions expressed in this email are personal opinions and does not
> reflect
> >
> > organizational policies & position on issues the author is working at.
> >
> > *
> >
> > *
> >
> > *
> >
> > *
> >
> > *
> >
> > The Global Fund to fight AIDS, Tuberculosis and Malaria is perhaps the
> most
> >
> > important and innovative health initiative developed in the 21st century.
> >
> > The Global Fund was created to dramatically increase resources to fight
> >
> > these three devastating diseases, and to direct much needed resources to
> >
> > areas of greatest need. As a partnership between governments, civil
> > society,
> >
> > the private sector and affected communities, the Global Fund represents
> an
> >
> > innovative approach to international health financing.
> >
> > The delegation actively participates in formulating policy and strategy
> >
> > positions on key issues of relevance and works closely with other board
> >
> > delegations (in particular the developed and developing country
> > delegations)
> >
> > to ensure that issues relevant to communities infected and affected by
> the
> >
> > three diseases are effectively addressed. The delegation is required to
> > have
> >
> > informed and accountable representatives on the different committees and
> >
> > structures of the Global Fund, as well as implementing mechanisms and
> >
> > strategies to communicate with the broader community and partners
> affected
> >
> > by the three diseases.
> >
> > The delegation is looking for suitable candidates to join the current
> >
> > Communities Delegation, to ensure that the issues and voices heard at the
> >
> > Global Fund Board level are legitimate and continue to represent issues
> >
> > faced by communities living with HIV, TB and affected by malaria.
> >
> > Criteria for selection:
> >
> > The delegation member is an individual. However, institutional support is
> >
> > critical to carrying out the duties. The geographic coverage of the
> >
> > delegation member spans numerous countries in specific region(s) and
> looks
> >
> > at community issues and needs of HIV, TB and malaria. The selection of
> the
> >
> > delegation members[1]<
> >
>
https://mail.google.com/mail/?ui=2&view=bsp&ver=ohhl4rw8mbn4#1291afd302c1c44d_12\
87246a0d45af6a__ftn1
> > >
> >
> > will
> >
> > be based on the following criteria:
> >
> > i. An individual living with HIV and/or living with or had TB and/or
> >
> > living in communities affected by malaria;
> >
> > ii. Understanding of the scope of work of the Global Fund and
> >
> > opportunities it presents, particularly as it relates to issues of people
> >
> > living with AIDS, affected by TB, and malaria in implementing countries
> on
> >
> > the Board level;
> >
> > iii. Internet, email and phone accessibility;
> >
> > iv. Ability to work well in written and spoken English (additional
> >
> > languages will be valued);
> >
> > v. Ability and capacity to communicate and network effectively and
> >
> > broadly (must have functioning communication linkages in region or
> >
> > sub-regions);
> >
> > vi. Ability to adhere to processes that ensure transparency and
> >
> > accountability between the Communities Delegation and communities living
> >
> > with the diseases;
> >
> > vii. Diplomatic and strategic political and negotiating skills to work
> with
> >
> > donor, government, non-governmental organisations, private sector and
> >
> > foundation Delegations;
> >
> > viii. Openness, willingness and ability to learn, and to take on issues
> >
> > across constituency groups;
> >
> > ix. Willingness to adhere to the signed key performance indicators of the
> >
> > delegation;
> >
> > x. Assurance regarding availability of 20% of working time for Global
> >
> > Fund related duties; and
> >
> > xi. Preparedness in signing a confidentiality agreement with regards to
> >
> > board and committee documents.
> >
> > Length of term:
> >
> > Delegation members serve a three-year term, and the new Alternate Board
> >
> > Member and ad hoc committee representatives are chosen from the
> Communities
> >
> > Delegation. Successful applicants will begin their term in January 2011
> >
> > through December 2013.
> >
> > Role of Communities Delegation Member:
> >
> > The delegation member:
> >
> > · Represents issues from her/his specific constituency and feeds these
> >
> > into the wider delegation communication, and in turn shares communication
> >
> > and information from the wider delegation to her/his constituency;
> >
> > · Reviews committee and board documents and provides feedback from their
> >
> > constituency perspective;
> >
> > · Participates in decision making that impacts the lives of those living
> >
> > with, or affected by the three diseases;
> >
> > · Has an opportunity to participate in Board Meetings, by applying to be
> a
> >
> > member of the 10 person board delegation;
> >
> > · Participates on a voluntary basis and will not be compensated
> monetarily
> >
> > for their commitments; and
> >
> > · Is expected to contribute in the development of position papers and
> >
> > preparation of speaking notes at board meetings to reflect the views of
> the
> >
> > wider delegation.
> >
> > *
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
> >
>
> --
> Cheers,
>
> Rico Gustav
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> ------------------------------------
>
>
> Kunjungi Website tersohor http://wwww.aids-ina.org
> Yahoo! Groups Links
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>



--
Cheers,

Rico Gustav

*Important Notice*

If you are not the intended recipient of this email (or such
person's authorized representative), then: (a) please notify the sender of
this email immediately by return email, facsimile or telephone and delete
this message from your system; (b) you may not print, store, forward or copy
this message or any part thereof or disclose or cause information in this
message to be disclosed to any other person.

The information in or attached to this email message is confidential and may
be subject to legal privilege and client confidentiality. This email and
any files transmitted with it are confidential and intended solely for the
use of the individual or entity to whom they are addressed.

If you have received this email in error please notify the system manager.

Please note that any views or opinions presented in this email are solely
those of the author and do not necessarily represent those of the company.

Finally, the recipient should check this email and any attachments for the
presence of viruses. The sender accepts no liability for any damage caused
by any virus transmitted by this email.


[Non-text portions of this message have been removed]

#3372 From: Chris Green <wartaaids@...>
Date: Sun Feb 6, 2011 4:10 am
Subject: Malam Renungan AIDS Nusantara
wartaaids
Send Email Send Email
 
The International AIDS Candlelight Memorial akan diselenggarakan di
seluruh dunia pada hari Minggu, 15 Mei 2011 (lihat
<http://www.candlelightmemorial.org/>.

Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN) diselenggarakan pertama kali oleh
Grup Koordinasi Nasional Mobilisasi AIDS Nusantara (GKNMAN) pada 1996,
walau pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia dengan nama Malam
Tirakatan AIDS. GKNMAN meneruskan koordinasi sampai dengan 2001.

Untuk membantu organisasi di seluruh Indonesia yang ingin melakukan
kegiatan terkait MRAN, GKNMAN membuat sebuah paket informasi mengenai
MRAN dan maknanya, beserta beberapa pedoman. Yang terakhir dibuat pada
2001. Walau jelas tidak semuanya berlaku lagi, mungkin ada manfaat pada
penyelenggara tahun ini untuk mengacu pada paket informasi tersebut.
Jadi isi paket itu, dalam bentuk beberapa file PDF, dapat diakses
dengan browse ke <http://spiritia.or.id/mran/>.

Pada halaman itu, juga dimuat beberapa dokumen lain dari arsip saya
dari 1993, termasuk brosur, poster dan flier. Tambahan, ada isi dari
kaset yang dikeluarkan oleh GKN pada 1997, termasuk lagu Lilin-lilin
Kecil, kutipan dari beberapa aktivis termasuk Suzana Murni, dan puisi
karya Suzana dibaca oleh Baby Jim Aditiya.

Silakan menyebarkan informasi ini secara luas...

Babé
--
Chris W. Green
Jakarta, Indonesia
Tel: +62 (811) 102814

#3373 From: maulana aries <aris_thoq@...>
Date: Sat Feb 19, 2011 3:39 pm
Subject: Dampak ARV terhadap Menstruasi dan Berat badan pada ODHA perempuan
aris_thoq
Send Email Send Email
 
Salam semuanya,

Selama 6 bulan ini saya mendampingi 2 perempuan yang menjalani ART, berikut ini
gambaran keadaan pasien:
Pasien 1 :
6 bulan yang lalu pasien ini didiagnosa dengan HIV dan hasil CD4 = 8, berat
badan 65 Kg. dan kemudian menjalani ART (3TC, AZT, NVP) setelah hasil CD4
keluar. setelah 6 bulan berjalan, Kondisi pasien sangat baik dengan kondisi
sebagai berikut : CD4 = 356, Berat badan menjadi 93 Kg, Namun sejak mengkonsumsi
ARV tidak mengalami menstruasi.
Pasien 2 :
3 Bulan ART (3TC, D4T, NVP), CD4 = 150, berat badan stabil (47 Kg). Namun tidak
mengalami menstruasi selam 2 bulan.

Pertanyaan :
Saya telah membaca di LI Spiritia tentang gangguan Haid pada perempuan dan
keberhasilan terapi ARV yang dilihat terkait dengan peningkatan berat badan dan
CD4.

	 * Apakah keadaan pada pasien 1 dan 2 adalah wajar terkait dengan siklus
menstruasi?
	 * Apakah keadaan pada pasien 1 normal, karena efek kenaikan berat badan hingga
50%? (pasien merasa tidak nyaman)
	 * Apakah ada kaitan antara siklus menstruasi yang tidak teratur dapat menaikkan
berat badan?


	 * Apakah ART dapat dinyatakan sukses?
Mohon penjelasan dari rekan - rekan semua yang pernah mendampingi pasien seperti
kondisi di atas. Terima kasih.

Salam hangat,


  Aries Setyawan
KDS Solidaritas


Sent from my city
powered by #LovedSalatiga,MyHome,MyFamily,ICare





[Non-text portions of this message have been removed]

#3374 From: KPA News <kpa.news@...>
Date: Wed Mar 9, 2011 9:18 am
Subject: Draft Iklan IPF- CFP via Jaringan
tary_angga
Send Email Send Email
 
*[image: KPA Logo Small]***

* *

*U**NDANGAN **PENGAJUAN** PROPOSAL*



Komisi Penanggulangan AIDS Nasional membuka kesempatan pengajuan

Proposal kepada ORGANISASI MASYARAKAT SIPIL untuk mendukung upaya

penanggulangan HIV dan AIDS, dalam rangka mewujudkan manusia

pembangunan yang sehat dan produktif, melalui



*PROGRAM PENCEGAHAN HIV MELALUI TRANSMISI SEKSUAL (PMTS) SECARA KOMPREHENSIF
DI JAWA TIMUR, JAWA TENGAH,  DIY, JAWA BARAT DAN BANTEN 2011 - 2012.*

* *

*Kegiatan*

*Tanggal*

Periode Pengajuan Proposal

14 - 28 Maret 2011, Pukul 17:00 WIB

Pengumuman Hasil Penerima Hibah

14 April 2011

* *

* *

* *

* *

* *

* *

* *

* *

* *

Ketentuan dan Persyaratan Pendaftaran adalah sebagai berikut :

1.Berbadan hukum dan dapat bekerja sama dengan KPA Provinsi,

    Kabupaten/ Kota, Dinas Kesehatan serta pemangku kepentingan lainnya.

2.Mempunyai pengalaman melaksanakan Program PMTS dan Bersedia

melaksanakan 4 komponen PMTS di Kabupaten/ Kota dengan

indikator dan target yang telah ditetapkan.



Ketentuan/ persyaratan dan informasi selengkapnya dapat dilihat pada

http://www.aidsindonesia.or.id,



Pengiriman Proposal dapat dalam bentuk hard-copy di kirim ke

Komisi Penanggulangan AIDS Nasional,

Menara Topas  Lt.9, Jl. MH Thamrin Kav.9, Jakarta 10330,



atau dalam  soft copy,  maksimal 2 MB /file terkompresi dalam format zip/
rar

ke ipf.proposal@...






Komisi Penanggulangan AIDS Nasional
(National AIDS Commision)
TOPAS Building 9th Floor
Jl. M.H Thamrin Kav 9 Jakarta 10350
Telp. 62 21 3901758, Fax 62 21 3902665


[Non-text portions of this message have been removed]

#3375 From: Agus Sulaiman <agus_sulaiman38@...>
Date: Wed Mar 30, 2011 4:07 pm
Subject: (No subject)
agus_sulaiman38
Send Email Send Email
 
http://plastberg.com/molo.php

[Non-text portions of this message have been removed]

#3376 From: Rico Gustav <rico.gustav@...>
Date: Tue Apr 12, 2011 10:07 am
Subject: APN+ Job Vacancy
rico_gustav
Send Email Send Email
 
Hi,

Maaf, numpang posting lowongan. Silahkan diteruskan ke jaringan masing
masing:

The Asia Pacific Network of People Living with HIV/AIDS (APN+) is
seeking to recruit new staff to manage its regional community treatment
database. Based in Bangkok, these challenging posts will involve working
with a dedicated team of people living with HIV in the region and APN+
secretariat  team. A willingness and proven commitment to working for
people living with HIV is essential for successful candidates. All job
applications will be treated as strictly confidential. *All positions
are open to Thai nationals only, except the M&E Officer which is open to
applicants of all nationalities.*

http://www.apnplus.org/main/Index.php?module=job

--
Warm regards,


*Rico Gustav*
Treatment & Advocacy Officer
Asia Pacific Network of PLHIV (APN+)

51/2,3rd & 4th floor Ruam Rudee Bldg.III Soi Ruam Rudee, Phloenchit
Road,Lumpini,Pathumwan, Bangkok 10330 THAILAND |Skype: rico.gustav | Tel
: +662-2557477, +662-2557478,+662-2557480 | Fax : +662-2557479 | Email :
info@... <mailto:info@...> | Website : www.apnplus.org
<http://www.apnplus.org>

*/Important Notice /*/

The information in or attached to this email message is confidential and
may be subject to legal privilege and client confidentiality. This email
and any files transmitted with it are confidential and intended solely
for the use of the individual or entity to whom they are addressed./


[Non-text portions of this message have been removed]

#3377 From: KPA News <kpa.news@...>
Date: Wed Apr 20, 2011 2:12 am
Subject: Siaran Pers : Pertemuan Nasional AIDS IV Diselenggarakan di DI Yogyakarta
tary_angga
Send Email Send Email
 
*Pertemuan Nasional AIDS IV akan diselenggarakan di DI Yogyakarta*



Jakarta, 11 April 2011 - Pertemuan Nasional (Pernas) AIDS IV akan
diselenggarakan pada tanggal 3–6 Oktober 2011 di Propinsi DI Yogyakarta.
Kegiatan ini akan diawali dengan pertemuan Forum Komunitas pada tanggal 1–2
Oktober 2011 di tempat yang sama, dan diperkirakan akan melibatkan sekitar
1500 peserta melalui registrasi, abstrak dan beasiswa dari seluruh provinsi
di Indonesia. Acara pembukaan akan dilaksanakan pada pagi hari tanggal 3
Oktober 2011 bertempat di Graha Sabha, Universitas Gadjah Mada. Sedangkan
sore harinya akan diselenggarakan Rakernas Khusus Penanggulangan AIDS Daerah
bersama Gubernur, Walikota dan Bupati dari seluruh tanah air.



Pertemuan Nasional AIDS merupakan forum diskusi akbar para pemangku
kepentingan dari setiap tingkatan dan sektor, untuk melakukan review bersama
atas situasi epidemi HIV dan AIDS di Indonesia, upaya penanggulangan yang
telah dilakukan dan tantangan kedepan dalam rangka pencapaian Akses
Universal dan Tujuan Pembangunan Milemium (MDG). Kesepakatan untuk memilih
DI Yogyakarta sebagai tempat penyelenggaraan Pernas AIDS IV 2011 adalah
rekomendasi dari Pernas AIDS III yang diselenggarakan di Surabaya 4-8
Februari 2007.



Secara umum Pernas AIDS IV akan melakukan review program penanggulangan HIv
dan AIDS selama lima tahun sejak Perpres 75/2006, pencapaian Target MDG
Untuk HIV dan AIDS menuju tahun 2015, serta konsolidasi upaya penanggulangan
lima tahun kedepan.  Sedangkan *Track* Ilmiah dalam Pernas AIDS IV yang
menjadi konteks umum pembahasan dari abtrak yang akan diseleksi adalah *
Track* A: Pencegahan HIV melalui penggunaan napza suntik; *Track* B:
Pencegahan HIV melalui transmisi seksual; *Track* C: Perawatan, Dukungan dan
Pengobatan, Serta Penguatan Sistem Kesehatan dan Penelitian Biomedis; dan *
Track* D: Pencegahan HIV dan mitigasi dampak pada masyarakat umum.



Secara khusus Pernas AIDS IV 2011 juga akan memberikan perhatian kepada
review upaya penanggulangan HIV dan AIDS pada pengguna napza suntik
(Penasun). Pada pertemuan *Harm Reduction* II yang dilaksanakan di Makassar
pada tanggal 15-18 Juni 2008, telah disepakati bahwa kegiatan
Pertemuan *Nasional
Harm Reduction* (PNHR) akan dilaksanakan setiap dua tahun sekali. PNHR
adalah forum untuk mengumpulkan para pelaksana kegiatan harm reduction di
Indonesia yang mendiskusikan hasil yang sudah tercapai melalui berbagai
kegiatan tersebut dan mengidentifikasi kesenjangan respon di berbagai
wilayah di Indonesia. Mengingat tujuan dan besaran skala kegiatan yang
serupa, maka PNHR III yang seyogyanya dilakukan pada tahun 2010 diputuskan
untuk disatukan dalam Pertemuan Nasional AIDS IV. Oleh karena itu, Pernas
AIDS IV akan memberikan kesempatan diskusi yang signifikan terhadap review
upaya penanggulangan AIDS bagi penasun.



“Besar harapan saya, Pernas AIDS IV di tahun 2011 ini dapat digunakan secara
strategis dan optimal untuk melakukan review bersama atas situasi epidemi
HIV dan AIDS di Indonesia, kemajuan yang telah dicapai dan tantangan kedepan
untuk menekan laju epidemi, menghentikan infeksi baru HIV, meningkatkan
kualitas hidup bagi orang yang hidup dengan HIV (ODHIV)  dan mengurangi
dampak HIV dan AIDS di masyarakat umum,” demikian disampaikan Dr. Nafsiah
Mboi, SpA, MPH selaku Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional
menyambut rencana pelaksanaan Pernas AIDS IV mendatang.



Untuk mendukung partisipasi seluas-luasnya dari masyarakat, Panitia Pernas
AIDS IV telah membuka program beasiswa. Prioritas beasiswa adalah untuk
calon peserta yang mengirimkan abstrak dan aktif dalam upaya penanggulangan
HIV dan AIDS baik sebagai pekerja kesehatan, petugas penjangkau, aktivis
komunitas & populasi kunci, orang yang hidup dengan HIV (ODHIV), remaja dan
pewarta media yang akan mengambil manfaat dari Pernas untuk kegiatan
selanjutnya. Pendaftaran peserta, pengajuan lamaran beasiswa dan abstrak
untuk presentasi oral dan poster telah dibuka pada tanggal 1 April 2011
melalui website Pernas AIDS IV di www.pernasaids.org.







*Untuk informasi selanjutnya dapat dilihat di www.pernasaids.org atau
hubungi: **Ajianto Dwi Nugroho, Email: ajianto@...,.
Sekretariat Komisi Penanggulangan AIDS, Gedung Menara Topas Lt.9, Jl. M.H
Thamrin Kav. 9, Jakarta 10350, Telp.+62(21)3901758, Fax.+62(21)3902665.*

* *

*Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional adalah lembaga yang bertugas
merumuskan kebijakan dan melakukan koordinasi dalam penanggulangan HIV/AIDS
di Indonesia. KPAN berada dibawah dan bertanggungjawab kepada Presiden. KPA
berdiri sejak tahun 1994 dan dasar hukum KPA Nasional saat ini adalah
Peraturan Presiden No.75 Tahun 2006.*

* *

*HIV & AIDS adalah penyakit menular yang bisa di cegah. HIV hanya MENULAR
melalui hubungan seks tanpa kondom, penggunaan jarum/alat suntik yang
tercemar virus HIV, dan dari ibu ke anak. HIV TIDAK MENULAR melalui jabat
tangan, berciuman, menggunakan peralatan makan/kerja bersama, berbagi
ruangan, dan kontak sosial biasa.*


[Non-text portions of this message have been removed]

#3378 From: Humas Orbit <humas.orbitfoundation@...>
Date: Tue Apr 26, 2011 5:06 am
Subject: Lowongan Pekerja Sosial di Kota Surabaya
humas.orbitf...
Send Email Send Email
 
ORBIT (Our Right To Be Independent) Foundation
 
Yayasan Orbit merupakan Lembaga Non Pemerintah yang berkonsentrasi terhadap
pemberdayaan masyarakat. Dalam memperkuat program “Pengurangan Dampak Buruk
Napza dan HIV/AIDS pada Kelompok Sasaran Pengguna Napza Suntik di Kota
Surabaya”
membutuhkan pekerja sosial sebagai berikut :         

 
Petugas Lapangan (Kode CO)
Lokasi kerja        : Kota Surabaya – Jawa Timur
Durasi kerja        : Mei  2011 – April 2012
Type kerja           : kontrak
Kualifikasi            :
1.       Minimal SMU dan sederajat
2.       Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis
bidang
permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal satu tahun
3.       Memahami struktur masyarakat, tata pemerintahan, serta peta
permasalahan kesehatan maupun masalah sosial pada umumnya
4.       Mampu membangun jejaring kerja di masyarakat dan aparatur
pemerintahan
5.       Mampu bekerjasama sebagai tim, pendokumentasian dan komunikasi
yang
baik
6.       Mampu membuat tulisan/artikel pendek secara baik
7.       Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
 
Data Manager (Kode DM)
Lokasi kerja          : Kota Surabaya – Jawa Timur
Durasi kerja          : Mei  2011 – April 2012
Type kerja             : kontrak
Kualifikasi              :
1.       Minimal SMU dan sederajat
2.       Mempunyai pengalaman berorganisasi dan atau organisasi berbasis
bidang
permasalahan Napza dan HIV/AIDS minimal satu tahun
3.       Memiliki kemampuan komputer MS Office dan software lainnya
4.       Familiar dengan berbagai operating system
5.       Mampu membuat dan menganalisa data serta pendokumentasian
6.       Memiliki kemampuan IT
7.       Memiliki kemampuan penelitian dan survey
8.       Mampu bekerjasama sebagai tim dan mempunyai komunikasi yang baik
9.       Tidak terikat kerja dengan institusi/perusahaan lain.
 
 
Kualifikasi umum yang mempunyai nilai lebih:
1.       Gelar pendidikan
2.       Mempunyai kemampuan berbahasa inggris tulis dan percakapan
3.       Memiliki keahlian dan ketrampilan lainnya
 
Surat lamaran di alamatkan ke Orbit Foundation melalui pos di Jalan Bratang
Binangun 5C No 54 Surabaya selambat-lambatnya tanggal 29 April 2011, Pkl 15.00
WIB dengan ketentuan:
 
-          Kode Lamaran dipojok kanan atas amplop
-          Surat Lamaran
-          Riwayat Hidup dan atau pekerjaan terakhir
-          Foto terbaru
-          Fotocopy KTP/SIM /Paspor/lainnya yang masih berlaku
-          Dokumen pendukung lainnya yang terkait pekerjaan
(sertifikat,
rekomendasi, dll)

 
Surat lamaran berikut ketentuan dapat dikirim melalui email ke
orbit.foundation@... tidak lebih dari 2MB dengan judul email sesuai kode.
 
Proses lowongan:
 
Publikasi lowongan kerja di mailing list dan jejaring sosial: Tanggal 26 April
2011
Seleksi administrasi: Tanggal 30 April 2011
Panggilan wawancara oleh Yayasan Orbit: Tanggal 3 Mei 2011
Penggumuman penerimaan oleh Yayasan Orbit: Tanggal 4 Mei 2011
Tanda tangan kontrak, orientasi dan serangkaian kegiatan oleh Yayasan Orbit :
Mulai tanggal 5 Mei 2011
 Salam,


ORBIT Foundation
Bratang Binangun 5C No 54 Surabaya
East Java - Indonesia
Tlp/Fax: 62.31.5044014
Email: orbit.foundation@...
Website: www.orbit.or.id


[Non-text portions of this message have been removed]

#3379 From: Chris Green <wartaaids@...>
Date: Wed Apr 27, 2011 3:42 pm
Subject: Infeksi Oportunistik yang dilaporkan kepada Kemkes sd Maret 2011
wartaaids
Send Email Send Email
 
Di antara informasi yang disediakan pada laporan triwulan Kemkes ada
tabel "Infeksi Oportunistik yang dilaporkan sd Maret 2011".
Kami bandingkan dengan angka untuk empat tahun terakhir.

                              Mar 11   Des 10   Des 09   Des 08   Des 07
TB                          11983    11836    10359     8986     5975
Diare                        7381     7227     5691     4542     3605
Kandidiasis                  7227     7084     5604     4479     3459
Dermatitis                   1810     1752     1448     1146      958
Limfadenopati Generalisata    801      789      709      603      504
PCP                           678      676      626      474      294
Herpes Zoster                 400      386      356      299      225
Ensefalopati                  386      387      386      386      252
Herpes Simpleks               203      200      185      141      105
Toxoplasmosis                 115      115      114      104       56
Sarkoma Kaposi                 80       80       80       79       78
Wasting syndrome               59       59       59       59       59
Koksidiomikosis                34       34       34       34       34
Histoplasmosis                 14       14       14       14        2
PML                             6        6        6        6        -
CMV                             4        4        4        4        1
Kriptosporidiosis               1        1        1        1        1

#3380 From: Chris Green <wartaaids@...>
Date: Wed Apr 27, 2011 3:39 pm
Subject: Statistik kasus AIDS di Indonesia sd Maret 2011
wartaaids
Send Email Send Email
 
Berikut adalah laporan situasi perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia
sampai dengan 31 Maret 2011, yang diterima dari Ditjen PP & PL,
berdasarkan surat Direktur Jenderal P2PL, Prof. dr. Tjandra Y Aditama,
SpP(K), DTM&H tertanggal 26 April 2011:

I. Situasi Perkembangan HIV&AIDS pada tahun 2011

     1. Triwulan 1 (Januari - Maret 2011)

     a. Dari Januari sampai dengan Maret 2011 jumlah kasus AIDS baru yang
        dilaporkan adalah 351 kasus dari 27 kabupaten/Kota di 12
        provinsi.

     b. Ratio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:2

     c. Cara penularan kasus AIDS baru yang dilaporkan melalui
        Heteroseksual (66,95%), (IDU 23,08%), Perinatal (5,70%) dan LSL
        (3,42%).

     d. Proporsi kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur 30-39
        tahun (33,62%), disusul kelompok umur 20-29 tahun (33,05%) dan
        kelompok umur 40-49 tahun (17,09%).

     e. Jumlah total kasus baru HIV positif pada layanan VCT di triwulan
        1 tahun 2011 adalah 4.552,

II. Situasi Perkembangan HIV&AIDS kumulatif

     1. Laporan Kasus AIDS sampai dengan Maret 2011

     a. Pada tahun 2005 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan sebesar 2.639
        kasus, pada tahun 2006 sebesar 2.873 kasus, pada tahun 2007
        sebesar 2.947 kasus, tahun 2008 sebesar 4.969 kasus, pada
        tahun 2009 sebesar 3.863 kasus dan pada tahun 2010 sebesar 4.158
        kasus.

     b. Sampai dengan Maret 2011 secara kumulatif jumlah kasus AIDS
        yang dilaporkan adalah 24.482 kasus. Sebanyak 300 kabupaten/kota
        yang melapor dan sebanyak 32 provinsi yang melapor.

     c. Ratio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1

     d. Cara penularan kasus AIDS kumulatif yang dilaporkan melalui
        Heteroseksual (53,1%), IDU (37,9%), dan Lelaki Seks Lelaki
        (3,0%), perinatal (2,6%), transfusi darah (0,2%) dan tidak
        diketahui (3,2%).

     e. Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok
        umur 20-29 tahun (47,2%), disusul kelompok umur 30-39 tahun
        (31,3%) dan kelompok umur 40-49 tahun (9,5%).

     f. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Jawa Timur,
        Jawa Barat, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sulawesi
        Selatan, Sumatera Utara, dan DIY.

     g. Rate kumulatif kasus AIDS Nasional sampai dengan Maret 2011
        adalah 10,62 per 100,000 penduduk (berdasarkan data BPS 2009,
        jumlah penduduk Indonesia 230.632.700 jiwa).

     f. Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari provinsi
        Papua (16,6 kali angka nasional), Bali (4,7 kali angka nasional),
        DKI Jakarta (4,3 kali angka nasional), Kep. Riau (2,4 kali angka
        nasional), Kalimantan Barat (2,3 kali angka nasional), DI
        Yogykarta (1,5 kali angka nasional). Maluku (1,4 kali angka
        nasional), dan Bangka Belitung (1,1 kali angka nasional).

     g. Proporsi kasus AIDS yang dilaporkan telah meninggal adalah 18,8%.

     h. Infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah:
        * TBC: 11.915
        * Diare kronis: 7.254
        * Kandidiasis oro-faringeal: 7.098
        * Dermatitis generalisata: 1.767
        * Limfadenopati generalisata: 795

     2. Laporan Monitoring VCT sampai dengan Maret 2011

     a. Jumlah Kasus HIV positif kumulatif sebanyak 59.941 dengan
        positive rate rata-rata 10,1%.

     b. Secara kumulatif jumlah kasus HIV positif terbanyak dilaporkan
        dari Provinsi DKI Jakarta (15.769), Jawa Timur (7.734), Jawa
        Barat (4.335), Sumatera Utara (4.059), Kalimantan Barat (2.785)
        dan Jawa Tengah (2.709).

     3. Laporan Monitoring CST sampai dengan Maret 2011

     a. Pelayanan pengobatan ODHA di Indonesia telah dimulai sejak tahun
        2005 dengan jumlah yang masih dalam pengobatan ARV pada akhir
        2005 sebanyak 2.381 (61% dari yang pernah menerima ARV).
        Sedangkan pada Maret 2011 terdapat 20.069 ODHA yang masih
        menerima ARV (55,4% dari yang pernah menerima ARV). Jumlah ODHA
        yang masih dalam pengobatan ARV dilaporkan dari provinsi DKI
        Jakarta (8.998), Jawa Barat (2.200), Jawa Timur (1.859), Bali
        (1.293), Papua (998), Jawa Tengah (713), Sumatera Utara (767),
        Kalimantan Barat (541), Kepulauan Riau (569), dan Sulawesi
        Selatan (500).

     b. Kematian ODHA menurun dari 46% pada tahun 2006 menjadi 22% pada
        tahun 2010.

     c. Sebanyak 80% ODHA masih menggunakan rejimen lini pertama, 16,7%
        telah substitusi (salah satu ARV nya diganti dengan obat ARV lain
        tapi masih pada kelompok lini pertama yang original) dan 4%
        switch (1 atau 2 jenis ARV-nya diganti dengan obat ARV lini
        kedua).

     4. Laporan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)

        Sebanyak 2536 orang dari 67 Layanan, aktif melakukan terapi
        rumatan metadon.


[Catatan:

1. Laporan mengenai faktor risiko tidak mencatat jumlah mutlak,
     melainkan hanya mencatat persentase kasus AIDS yang dilaporkan
     berasal dari masing-masing faktor risiko.

2. Nanti kami akan menyebarkan informasi hasil ART dari laporan ini.

3. File statistik lengkap dalam format HTML, MS-Excel dan PDF sudah
     diupload ke bagian Statistik di situs web Spiritia
     <http://spiritia.or.id/Stats/Statistik.php>

#3381 From: Chris Green <wartaaids@...>
Date: Wed Apr 27, 2011 3:43 pm
Subject: Laporan Penggunaan ART sd Maret 2011
wartaaids
Send Email Send Email
 
Laporan Penggunaan ART sd 31 Maret 2010

Laporan berikut diperoleh dari Depkes sebagai bagian dari laporan
triwulan baru

Situasi Pengobatan ARV di Indonesia (angka dalam kurung laporan 31
Maret 2008):

Masuk dalam perawatan HIV             74.926 100%    (36.628 100%)
Belum memenuhi syarat medis           25.185  33,6%  (13.268  36,2%)
                                       -------
Memenuhi syarat medis                 49.741  66,4%  (23.360  63.8%)
Belum mendapat terapi ARV             13.528  27,2%  ( 5.480  23.5%)
                                        ------
Pernah menerima ART                   36.213  72,8%  (17.880  76,5%)

Meninggal                              7.727  21,3%  ( 3.612  20,2%)
Mangkir                                4.626  12,8%  ( 2.005  11,2%)
Berhenti                               1.373   3,8%  (   649   3,6%)
Transfer ke luar                       2.418   6,7%  (   998   5,6%)
                                         -----
Masih menerima ART                    20.069  55,4%  (10.616  59,4%)

Terapi ARV Lini 1 Orisinal            15.920  79,3%  ( 8.444  79,5%)
Terapi ARV Substitusi dari Lini 1      3.350  16,7%  ( 1.994  18,8%)
Switch [Pengalihan ke lini 2]            799   4,0%  (   178   1,7%)

Laporan dari 207 Rumah Sakit Rujukan dan 69 Satelit

Catatan: Data ini, termasuk grafik, dapat dibaca dan diunduh di situs
web Spiritia dengan klik <http://spiritia.or.id/Stats/statart.php?lang=id>

#3382 From: AIDS Uganda <aidsuganda@...>
Date: Thu Apr 28, 2011 9:25 am
Subject: Summer HIV/AIDS Projects Volunteer Placements
aidsuganda
Send Email Send Email
 
Kindly
Circulate Widely!
 
Dear Sir or
Madam,
 
By Following the weblinks below, you will
be able to access all our past & current Comprehensive HIV/AIDS Service
Delivery Projects. We currently & Urgently Need HIV/AIDS Voluntary
Counseling & Testing VOLUNTEERS &
INTERNS in Uganda.

PEOPLE LIVING WITH AIDS

http://www.aymu.org/index.php?option=com_content&view=article&id=56&Itemid=93
ORPHAN OR OVC CARE &
SUPPORT
http://www.aymu.org/index.php?option=com_content&view=article&id=55&Itemid=92
HIV/AIDS Prevention
http://www.aymu.org/index.php?option=com_content&view=article&id=54&Itemid=91
RED RIBBON CAMPAIGN
http://www.facebook.com/album.php?aid=19257&id=124805177579448&l=2a2d67a181
HIV/AIDS Medical
Projects
http://www.facebook.com/album.php?id=114547171923813&aid=12368
2010 World AIDS Day
http://www.facebook.com/album.php?id=124805177579448&aid=18107

TO APPLY ONLINE, FOLLOW THE
LINK BELOW:-
http://www.aymu.org/index.php?option=com_content&view=article&id=93&Itemid=139

Albert KUNIHIRA
CEO/Peace & AIDS
Activist
Africa Youth Ministries
AG. Director Living Hope Health
Care
P.O. BOX 20029, Kampala-Uganda
Plot 002 Jerusalem Avenue, Off Airport
Road
P: +256-776-200002/753-200002/793-200002
F: +256-414-287151
E:
albert@... or admin@... or volunteers@...
I:
www.aymu.org
Skype: miracleug

"Before you
can think of printing this mail, think about the
environment"

Africa Youth Ministries is a registered
Charity in Uganda No 5914/6068

"Investment in
AIDS will be repaid a thousand-fold in lives saved and communities held
together."Dr. Peter Piot, Executive Director,
UNAIDS"

[Non-text portions of this message have been removed]

#3383 From: rico gustav <rico.gustav@...>
Date: Fri May 13, 2011 1:02 am
Subject: Fwd: ITPC Breakthrough: ARVs=96% Redux in Infections
rico_gustav
Send Email Send Email
 
Dear all,

Mungkin bisa jadi bahan diskusi?

Cheers,

Rico Gustav

---------- Forwarded message ----------
From: Matthew Kavanagh <matthew@...>
Date: 12 May 2011 22:49
Subject: ITPC Breakthrough: ARVs=96% Redux in Infections
To: Hgap list <healthgap@...>, PRAT <pepfar2@googlegroups.com>,
treatmentworkinggroup <treatmentworkinggroup@googlegroups.com>, ITPC <
internationaltreatmentpreparedness@yahoogroups.com>, GAR Google <
global-aids-roundtable@googlegroups.com>




*All... Very important US National Institutes for Health study out today
showing a 96% reduction in HIV infection in discordant couples when ARVs are
initiated... the study was actually halted due to overwhelming evidence of
efficacy.*
*
*
*This is game-changing: Major US funded research has shown ARVs are among
the most effective prevention strategies to halt the epidemic!*
*
*
*====*
*
*
*Initiation of Antiretroviral Treatment *
*Protects Uninfected Sexual Partners from HIV Infection (HPTN Study 052) *
*
*
*96% reduction in HIV transmission, according to study conducted *
*by HIV Prevention Trials Network *
*

Thursday, 12 May 2011, 11 am EST

*
*Washington, DC *- Men and women infected with HIV reduced the risk of
transmitting the virus to their sexual partners through initiation of oral
antiretroviral therapy (ART), according to findings from a large
multinational clinical study conducted by the HIV Prevention Trials Network
(HPTN), a global partnership dedicated to reducing the transmission of HIV
through cutting-edge biomedical, behavioral, and structural interventions.

The study, known as HPTN 052, was designed to evaluate whether immediate
versus delayed use of ART by HIV-infected individuals would reduce
transmission of HIV to their HIV-uninfected partners and potentially benefit
the HIV-infected individual as well. Findings from the study were reviewed
by an independent Data and Safety Monitoring Board (DSMB).The DSMB
recommended that the results be released as soon as possible and that the
findings be shared with study participants and investigators. The DSMB
concluded that initiation of ART by HIV-infected individuals substantially
protected their HIV-uninfected sexual partners from acquiring HIV infection,
with a 96 percent reduction in risk of HIV transmission. HPTN 052 is the
first randomized clinical trial to show that treating an HIV-infected
individual with ART can reduce the risk of sexual transmission of HIV to an
uninfected partner.

“This is excellent news,” said Dr. Myron Cohen, HPTN 052 Principal
Investigator and Associate Vice Chancellor for Global Health and Director of
the Institute of Global Health and Infectious Diseases at the University of
North Carolina at Chapel Hill. “The study was designed to evaluate the
benefit to the sexual partner as well as the benefit to the HIV-infected
person. This is the first randomized clinical trial to definitively indicate
that an HIV-infected individual can reduce sexual transmission of HIV to an
uninfected partner by beginning antiretroviral therapy sooner. HPTN
recognizes the significant contribution that this study’s participants have
made to furthering the progress in HIV treatment and prevention. We are very
grateful for their participation.”
HPTN 052 began in April 2005 and enrolled 1,763 HIV-serodiscordant couples
(couples that have one member who is HIV-infected and the other who is
HIV-uninfected), the vast majority of which (97 percent) were heterosexual.
The study was conducted at 13 sites across Africa, Asia and the Americas.
The HIV-infected person was required to have a CD4 cell count between
350-550 per cubic millimeter (cells/mm3) at enrollment, and therefore did
not require HIV treatment for his or her own health. Couples were randomized
to one of two groups. In one group, the HIV-infected person immediately
began taking ART (immediate ART group). In the other group, the HIV-infected
person began ART when his or her CD4 cell count fell below 250 cells/mm• or
if he/she developed an AIDS-related illness (the delayed ART group).

Throughout the study, both groups received HIV-related care that included
counseling on safe sex practices, free condoms, treatment for sexually
transmitted infections, regular HIV testing, and frequent evaluation and
treatment for any complications related to HIV infection. Each group
received the same amount of care and counseling. Any HIV-uninfected person
who became HIV-infected during the course of the study was referred to local
services for appropriate medical care and treatment.

“This rigorously conducted clinical trial demonstrates that ART dramatically
reduces HIV transmission from an infected partner to an uninfected spouse or
partner,” states Sten Vermund, HPTN Principal Investigator and Amos Christie
Chair of Global Health at the Vanderbilt University School of Medicine.
“Earlier therapy is a superior option that benefits both an infected
individual and his or her uninfected partner and we support global efforts
to offer ART to everyone who needs it.”

Among the 877 couples in the delayed ART group, 27 HIV transmissions
occurred. This was in contrast to only one (1) transmission that occurred in
the immediate ART group. This difference was highly statistically
significant. The viruses transmitted in these 28 cases were confirmed to be
linked by genetic analysis, confirming that the source of the new infection
was the previously HIV-infected partner.

In the originally HIV-infected individuals themselves, 17 cases of
extrapulmonary tuberculosis occurred in the delayed ART group, compared with
three (3) cases in the immediate ART group, also a statistically significant
finding. There were also 23 deaths during the study. Thirteen (13) occurred
in the delayed ART group and 10 in the immediate ART group. Study
participants and investigators are being informed of the results, and
HIV-infected participants in the delayed ART group will be offered ART. All
study participants will continue to be followed for at least one more year.

“Previous data about the potential value of antiretrovirals in making
HIV-infected individuals less infectious to their sexual partners came
largely from observational and epidemiological studies,” said NIAID Director
Anthony S. Fauci, M.D. “This new finding convincingly demonstrates that
treating the infected individual — and doing so sooner rather than later —
can have a major impact on reducing HIV transmission.”

“The HPTN 052 study provides compelling evidence for a new HIV prevention
approach that links prevention and care efforts,” said Quarraisha Abdool
Karim, HPTN co-principal investigator and associate scientific director of
CAPRISA. “Strategies for scaling up knowledge of HIV status and increasing
treatment coverage are critical next steps to realizing the public health
benefits of this finding. This is also very good news for women who bear a
disproportionate burden of HIV infection acquired from infected male
partners but have few options to reduce their risk especially if their
partner refuses to use condoms

*Media inquiries: *
Matt Matassa
703.647.1909; mmatassa@...
--
Matthew Kavanagh
Health GAP (Global Access Project)
tel +1 202 355-6343 // mob +1 202 486-2488
matthew@...
   www.healthgap.org







--
Cheers,

Rico Gustav

*Important Notice*

If you are not the intended recipient of this email (or such
person's authorized representative), then: (a) please notify the sender of
this email immediately by return email, facsimile or telephone and delete
this message from your system; (b) you may not print, store, forward or copy
this message or any part thereof or disclose or cause information in this
message to be disclosed to any other person.

The information in or attached to this email message is confidential and may
be subject to legal privilege and client confidentiality. This email and
any files transmitted with it are confidential and intended solely for the
use of the individual or entity to whom they are addressed.

If you have received this email in error please notify the system manager.

Please note that any views or opinions presented in this email are solely
those of the author and do not necessarily represent those of the company.

Finally, the recipient should check this email and any attachments for the
presence of viruses. The sender accepts no liability for any damage caused
by any virus transmitted by this email.


[Non-text portions of this message have been removed]

#3384 From: "Yonathan" <kloyangkloyong@...>
Date: Tue May 24, 2011 8:41 am
Subject: WARIA PALING RENTAN AIDS?
yonathanraha...
Send Email Send Email
 
NOVEL BARU, BARANGKALI ANDA BERMINAT...

Judul : TAMAN API
Pengarang : Yonathan Rahardjo
Penerbit: Pustaka Alvabet
Editor : Errena Ike Hendraini
Genre : Novel
Cetakan : I, Mei 2011
Ukuran : 13 x 20 cm
Tebal : 216 hlm
ISBN : 978-602-9193-01-5
Harga : Rp. 42.500,-

=================

Dapat diperoleh di:

* Toko Buku Gramedia
- Jakarta: Mall Pondok Indah, Plaza Bintaro, Kelapa Gading Mall, Plaza Semanggi,
Pejaten, Artha Gading, Gandaria, Grand Indonesia, Mall of Indonesia, Matraman,
Melawai (Blok M)
- Depok: Margonda
- Bandung: Merdeka, Paris Van Java, Bandung Supermall, Istana Plaza, Bandung
Festival
- Tasikmalaya: Gramedia Tasikmalaya
- Cirebon: Gramedia Cirebon
- Semarang: Pandanaran, Java Supermall, Pemuda
- Yogyakarta: Sudirman, Malioboro
- Solo: Slamet Riyadi, Solo Square
Harga: Rp 42.500,-

* Penerbit Pustaka Alvabet, Jl. SMA 14 No. 10 RT/RW. 010/09, Kelurahan Cawang,
Kecamatan Kramat Jati, Jakarta Timur, 13610.
Telp : 021 - 800 6458, Fax : 021 - 800 6458, www.alvabet.co.id

* Toko Dewi Sri, Jl. Raya Plaosan 61 Babat, Lamongan 62271
Telp : 0322 457383, HP : 085852985854
Harga : Rp. 42.500,- + ongkos kirim

=================


SINOPSIS

Kaum waria mendapat stigma negatif nyaris di semua lingkungan masyarakat.
Anggapan sebagai patologi sosial, perusak moral, pencemar kesehatan, dan
menyalahi kodrat Tuhan membuat kaum waria terpinggirkan dan terisolasi.
Walhasil, kehidupan mereka pun tak banyak diketahui khalayak.

Taman Api menggambarkan sisi-sisi tersembunyi kehidupan waria yang demikian
kompleks. Dengan pendekatan kritis, novel ini tak hanya menyuguhkan
"abnormalitas" kehidupan waria dari beragam segi, tapi juga menguak
praktik-praktik picik dan ilegal yang menempatkan kaum waria sebagai obyek
penderita: misi rahasia berkedok agama untuk melenyapkan waria melalui bisnis
gelap bedah kelamin berikut segenap teknologi turutannya. Bagaimanakah praktik
picik itu berlangsung dan siapakah pihak-pihak yang terlibat di dalamnya?

Dengan gaya penulisan yang khas dipadu pendekatan investigatif dan konspiratif,
rahasia-rahasia yang menyembul dari novel ini ihwal sisi-sisi kabur kehidupan
waria dengan segudang problematikanya akan membuat Anda terperangah tiada
terkira.



ENDORSEMENT


"Novel ini penting untuk membongkar berbagai kemungkinan sisi patologis dari
bentuk-bentuk kesalehan religius yang kerap naif, munafik dan berbahaya."

—Prof. Dr. I. Bambang Sugiharto
Guru Besar Filsafat Universitas Parahyangan

"Dengan gaya filmis-jurnalistik, Yonathan ... berhasil mengguncang kenyamanan
pastoral pembaca, dengan menyuguhkan detail peristiwa operasi kelamin sebagai
kekayaan sekaligus keunikan novel ini. Selamat!"

—Arie MP Tamba
Sastrawan, Redaktur Budaya Jurnal Nasional

"... bisa menjadi pintu masuk untuk membuka 'Kotak Pandora' kisi-kisi hidup yang
sering tertutup oleh tabir etika dan moral."

— Edy A. Effendi
Penyair dan Journalist

"... Sungguh suatu novel yang fantastis dan sangat menarik untuk diapresiasi
lebih jauh."

— Mansur Ga'ga, M.A.
Dosen Ilmu-Ilmu Sastra

"Novel ini mengangkat persoalan yang jarang disentuh dalam sastra Indonesia,
yakni tentang dunia waria dan kaum dokter urban dengan segala konfliknya yang
dikaitkan dengan fenomena pemaksaan klaim kebenaran oleh kelompok tertentu
dengan menistakan kelompok lain. Percobaan yang berani dan sangat menarik."

—Anton Kurnia
Juri Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010

"Kisah waria dengan berbagai problem sosialnya lebih sering dijadikan lelucon,
jarang yang mengisahkan bagaimana sesungguhnya 'ketegangan' perubahan orientasi
seksual serta 'ketegangan' perubahan tubuh dan fungsinya. Dalam novel ini,
Yonathan menyuguhkan sebuah kisah yang mewakili keingintahuan publik tentang apa
yang ada di balik kehidupan mereka...."

—Cok Sawitri
Pemenang Anugerah Dharmawangsa 2010 untuk Prosa

"Novel yang patut disimak. Perpaduan problematika sosial dan kesehatan seperti
HIV/AIDS dan kelainan genetik, diramu secara menarik dengan pendekatan seni dan
ilmiah. Kritis sekaligus bermanfaat memberikan pendidikan bagi masyarakat."

—Dr. Hari Basuki Notobroto, dr., M.Kes.
Departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM Universitas Airlangga

"Imaginasi penulis buku ini saya pikir termasuk ajaib. Ia berbicara banyak hal,
menceritakan banyak hal, yang sebenarnya bukan dunianya. Dan roh penulis masuk
pada dunia yang tidak diakrabinya setiap hari. Tentang issue silikon, kekerasan
pada Waria secara mental, operasi kelamin, sampai issue munculnya orang orang
yang kontra dengan Waria dengan dalil agama. Saya harap buku ini menjadi satu
dari sekian referensi dari penokohan Waria di beberapa tulisan sejenis ..."

— Merlyn Sopjan
Penulis buku Jangan Lihat Kelaminku dan Perempuan Tanpa V

"Dalam novel Taman Api kita yang waria atau kenal atau dekat dengan kawan-kawan
waria akan mengenali dalam fiksi suatu dunia kehidupan yang sayangnya dalam
kenyataannya pun masih penuh kekerasan dan diskriminasi hanya karena perbedaan
ekspresi dan identitas gender. Kita sambut dengan besar hati terbitnya novel
ini, yang merupakan satu lagi langkah maju menuju suatu dunia di mana perbedaan
tidak akan lagi menjadi dasar kekerasan dan diskriminasi."

— Dédé Oetomo
Ketua Dewan Pengurus, GAYa NUSANTARA

"Lewat novel ini, kita makin dicelikkan up and down kisah galang gulung waria di
negeri ini. Ada thriller, ada god's spy yang bergemeretak hendak menujah
keberadaan waria, sidik medik dan juga futuristik. Dengan alur tarik-ulur yang
dentang debar, rasanya penulis berhasil memanggungkan teater kompleksitas rumpun
"kelamin ketiga" ini."

— Soffa Ihsan
Penulis

"... Setelah novel "Lanang" meraih penghargaan di Sayembara Novel Dewan Kesenian
Jakarta 2006, saya berharap penulis yang pernah mengenyam studi dokter hewan ini
akan lebih jauh mengungkap berbagai ulah dan perilaku medis di Indonesia, bahkan
di dunia. Bukan menyoal hal normatif, tapi berbicara tentang realitas sosial
yang ada. Kali ini, Yonathan, lewat "Taman Api", menyingkap fenomena kaum waria
yang orang awam hanya paham di bagian permukaannya saja. Sebagaimana novel,
setelah penulisnya menyibak, ..."

— Sihar Ramses Simatupang
Sastrawan, Pemenang Hadiah Sastra Metropoli D'Asia Khatulistiwa 2009

"Konspirasi dalam novel ini merupakan realita bisnis yang ada dalam kehidupan,
penderitaan manusia diacak-acak dan dicari kelemahannya sehingga mau dibujuk
untuk mengikuti keinginan para konspirator; kelainan fisik, psikis kekuatan ilmu
ilmiah kedokteran-farmasi dibalut keuntungan mengesampingkan etika dan kepatutan
digunakan sebagai tameng bahkan kepercayaan pun dipakai sebagai alat untuk
mencapai tujuan itu; suatu hal yang menjijikkan yang perlu diketahui bersama!"

— Drh. Suli Teruli Sitepu
Wakil Sekretaris Jenderal PB PDHI
(Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia)
periode 2006-2010

"... Taman Api menggedor-gedor kejujuran akal sehat dan hati sanubari publik
pembaca, mungkinkah rezim berkuasa dan negara tidak berperan bahkan tidak
tahu-menahu sindikat konspirasi mafia humanika itu? ..."

— Toga Tambunan
Penyair, Salah Seorang Pendiri Paguyuban Kebudayaan Rakyat Indonesia (PAKRI)



BIODATA PENULIS

Yonathan Rahardjo, lahir di Bojonegoro, adalah pengarang novel Lanang (2008),
salah satu Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2006. Ia merupakan
satu dari 15 penulis Indonesia yang terpilih mengikuti UWRF (Ubud Writers &
Readers Festival) 2009 di Bali. Karya-karyanya yang lain: Avian Influenza:
Pencegahan dan Pengendaliannya (2004), Antologi Puisi: Jawaban Kekacauan (2004),
Kedaulatan Pangan (2009). Sejak 1983, puisi, cerpen, esai, opini, dan tulisan
jurnalistiknya diterbitkan di berbagai buku dan media massa. Dalam buku 100
Tahun Dokter Hewan Indonesia (2010), namanya tercatat sebagai salah satu dari
100 Profil Dokter Hewan Berprestasi. Pada pasal Dokter Hewan Berprestasi di
Bidang Lain, nama Drh. Yonathan Rahardjo tercatat setelah nama Drh. Taufiq
Ismail (Penyair Angkatan 66), Drh. Asrul Sani (Seniman Pelopor Angkatan 45), dan
Drh. Marah Rusli (Pengarang Novel Siti Nurbaya).

#3385 From: yanri subronto <ysubronto@...>
Date: Mon Jun 6, 2011 4:16 pm
Subject: harm reduction in Iran
ysubronto@...
Send Email Send Email
 
dear all,
 
saya sangat memerlukan film atau dokumentasi tentang Harm Reduction di Iran
apakah ada yang punya dan bisa dikirmkan ke saya?
ada mahasiswa S2 di Amsterdam sini yag minta tolong saya untuk mencarikannya
 
mohon bantuannya ya... terima kasih sekali
 
salam dari jauh

Yanri W. Subronto, MD, PhD (Infectiologist)
Faculty of Medicine
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta 55281
Tel / Fax: +62 274 547147
Email: ysubronto@...
INDONESIA

[Non-text portions of this message have been removed]

#3386 From: luh putu lila wulandari <putuwulandari@...>
Date: Sun Jun 12, 2011 10:33 am
Subject: Fw: [global] International Conference on Evidence-based Programmes for Reproductive and HIV Interventions
putuwulandari
Send Email Send Email
 
Dear all, 
FYI
salam

==================================================
dr Luh Putu Lila Wulandari, MPH
School of Public Health, Faculty of Medicine, Udayana University
Gedung PS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Kampus Universitas Udayana   Jl P.B. Sudirman, Denpasar, Bali  80232
Phone/Facs    +62 361 7448773
   ==================================================

--- On Fri, 10/6/11, Luh Putu Lila Wulandari <putuwulandari@...> wrote:

From: Luh Putu Lila Wulandari <putuwulandari@...>
Subject: [global] International Conference on Evidence-based Programmes for
Reproductive and HIV Interventions
To: "Global" <global@...>
Received: Friday, 10 June, 2011, 10:55 PM

Thank you for your contribution. It has been approved and published.

Your Contribution:

International Conference on Evidence-based Programmes for Reproductive and HIV
Interventions


Dear all,
please kindly distribute this information to your network
cheerswulan

==================================================
dr Luh Putu Lila Wulandari, MPH 
School of Public Health, Faculty of Medicine, Udayana University
Gedung PS Ilmu Kesehatan Masyarakat
Kampus Universitas Udayana   Jl P.B. Sudirman, Denpasar, Bali  80232
Phone/Facs    +62 361 7448773
   ==================================================

--- On Mon, 7/3/11, International Seminar <ebprhhi@...> wrote:

From: International Seminar <ebprhhi@...>
Subject: Call for Abstract : International Seminar on Evidence-based Programmes
for Reproductive and HIV Interventions
Received: Monday, 7 March, 2011, 4:13 PM





Dear
colleagues,

 

 

Apologies for
any double posting of this invitation

 

We are
pleased to announce an International Seminar on Evidence-based Programs for
Reproductive and HIV Interventions, to be held at the Werdhapura Hotel, Sanur,
Bali, Indonesia, on 25 June 2011




This event is organized jointly by the
School of Public Health, Faculty of Medicine, Udayana University, and Indonesian
Public Health
Association (IAKMI Bali Chapter), supported by the HIV Consortium for
Partnerships in Asia and the Pacific, which is funded by AusAID.

Some
of the issues explored in the seminar will include : Bridging Research and
Policy, Integration or linkages of Sexual and Reproductive Health with HIV and
AIDS, HIV and AIDS Surveillance in Indonesia, Building Capacity to advocate for
better National Reproductive Health and HIV Responses.

 

Conference
Sub themes :

* Gender and Sexual Health

* Health Services and Human Resources

* Health Policy

* Community Empowerment

* Public private partnership

* STI/HIV prevention, care and treatment

* Stigma and discrimination

* Prevention of Parent to Child HIV Transmission

 

Guest
speakers

Prof John Kaldor, Professor of
      Epidemiology, National Centre in HIV Epidemiology and Clinical Research,
      the University of New South Wales, AustraliaProf. D.N. Wirawan, Professor
at
      Faculty of Medicine, Udayana UniversityDr Anna Whelan, Regional Director
      of International Planned Parenthood Federation, East and Southeast Asia
      and Oceania RegionSally Nathan, Consumer Right
      Advocate and Chief Investigator in Community Based Intervention Research
      with Vulnerable Groups, School of Public Health and Community Medicine,
      the University of New South Wales

Keynote
Address:

John Kaldor, Bridging Research
      and PolicyAnna Whelan, “integration” or
      Linkages of Sexual and Reproductive Health with HIV and AIDSD.N. Wirawan,
Surveillance on
      HIV-AIDS in Indonesia Sally Nathan, Building Capacity
      to Advocate for better National Reproductive Health and HIV Responses

Conference
Key Deadlines :

Abstract
Submission  : 27 May 2011

Earlybird Registration : 30 March 2011

Standard Registration : 20 June 2011

 

Please get in
touch with us at ebprhhi@... for further
information of this conference.

or
visit our website for online information :  http://psikm.unud.ac.id/eng/

Please
circulate this information, together with the attached flyers to anyone who
might be interested.

We are looking forward to seeing you in Bali in
June! 





 

Organizing
Committee General Chairdr Luh Putu Lila Wulandari, MPH





Flyer_ English.pdf - 323 KB, application/pdf
Flyer_Bahasa Indonesia.pdf - 753.7 KB, application/pdf



Visit web site | Reply to sender |
Click here to unsubscribe

The email is intended only for the recipients. The owners of the Knowledge
Gateway cannot be held responsible for the contents of the email message.



[Non-text portions of this message have been removed]

#3387 From: yudopuspito trijoko <tyudop@...>
Date: Mon Jun 13, 2011 12:39 am
Subject: Fw: Boleh Lupa tapi Ingat
tyudop
Send Email Send Email
 
----- Forwarded Message ----
From: yudopuspito trijoko <tyudop@...>
To: aids-ina@yahoogroups.com
Sent: Sat, April 30, 2011 11:57:47 AM
Subject: Boleh Lupa tapi Ingat



Tetap prinsipnya :
A : Abstinence
B : Be faithful
C : Condom use
D : Drugs free & Decisions
E : Equipment, Education & Environment
F : Food, Friendships & Fellowships
G : back Grounds

"All or None" atau "more or less"

salam
3jk

[Non-text portions of this message have been removed]

#3388 From: yudopuspito trijoko <tyudop@...>
Date: Mon Jun 13, 2011 12:46 am
Subject: Fw: [aids-ina] Re: Upaya penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia
tyudop
Send Email Send Email
 
----- Forwarded Message ----
From: yudopuspito trijoko <tyudop@...>
To: aids-ina@yahoogroups.com
Sent: Wed, May 25, 2011 10:04:25 AM
Subject: Fw: [aids-ina] Re: Upaya penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia






----- Forwarded Message ----
From: yudopuspito trijoko <tyudop@...>
To: aids-ina@yahoogroups.com
Sent: Wed, May 25, 2011 12:09:10 AM
Subject: Re: [aids-ina] Re: Upaya penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia


Salah satu contoh yang wajib dilakukan:
Yang seharusnya didorong dalam penanggulangan ini adalah membuat settingan
standar pelayanan medis minimal bagi ibu hamil dengan peraturan menteri
kesehatan yaitu pemeriksaan standar bagi ibu hamil; apalagi sekarang ada program
Jampersal yang terkover dalam Jamkesmas maupun yang tidak.
Pemeriksaan medis standar minimal tersebut adalah anamnesa, Umur, TB, BB, Tensi,
Lila, ketebalan kulit, TFU, presentasi; pemeriksaan darah tepi lengkap yaitu Hb,
Ht, Leko, trombo,diffcount, GDS, Urine lengkap dan Faeces lengkap Ureum,
Creatinin, LFT, TPHA, VDRL, Hepatitis, HIV, Malaria tebal/tipis, serta sputum TB
dan kesejahteraan janin.


Pemeriksaan fisik yang rutin dilaksanakan saat ANC adalah anamnesa, TB, BB,
Tensi, Lila, ketebalan kulit, TFU,  presentasi;
Pemeriksaan lain minimal satu kali sekali dilakukan, bisa pada trimester 1,
trimester 2 ataupun 3 adalah umur, pemeriksaan darah tepi lengkap yaitu Hb, Ht,
Leko, trombo,diffcount,  GDS, Urine lengkap dan Faeces lengkap; Ureum,
Creatinin, LFT (SGOT, SGPT, AP), TPHA, VDRL,  Hepatitis, HIV, Malaria
tebal/tipis, serta sputum TB dan kesejahteraan janin.

Hanya dengan demikian, maka ibu hamil akan merasa rugi bila tidak mengikuti
program ANC
Banyak hal yang bisa teratasi dengan contoh tersebut dan tidak akan menimbulkan
pertanyaan perihal efisiensi, efektivitas dan ekonomisitas penanggulangan alias
pengendalian; artinya value seorang manusia indonesia benar-benar dihargai.


Dengan cara sederhana inilah rakyat merasakan pelaksanaan amanah menjadi sebuah
republik, wujud tanggung jawab republik terhadap rakyatnya.
agar ada rasa bangga bahwa setiap rakyat atau calon rakyat di masa depan memang
diperhatikan oleh republik.

Tugas KPA yang utama adalah melakukan koordinasi agar permenkes itu terwujud
secepatnya tahun ini, tentu saja bekerjasama dengan penanggung jawab bumil di
indonesia dan menjamin pelaksanaannya diseluruh wilayah  republik serta
mendorong pencatatan dan pelaporan yang handal secara berjenjang.
Perihal kondom sebagai bentuk implementasi kegiatan sebenarnya bukan domain KPA,
tetapi domain promosi kesehatan

Perihal surveilans, asalkan pencatatan dan pelaporannya tertib secara berjenjang
dengan format baku sesuai UUPK dan Permenkes Rekam Medis yang sudah ada, cukup
untuk itu. Yang perlu diingat bahwa pencatatan yang 'ribed' dan pelaporan yang
tidak 'on-line' akan menghilangkan kemauan mencatat dan melaporkan. Dengan
demikian status surveilans utama juga bisa ditepati dan kesenjangan
teori-praktek diperkecil.

Satu hal lagi yaitu target MDGs hanyalah sasaran antara; karena penanggulangan
bukan hanya sebatas target MDGs tersebut.
Sekalipun target MDGs itu yang mendorong kucuran dukungan donor he he he

Dengan demikian, pelaksanaan tupoksi kembali ke qitahnya (sustainable,
measurable, achievable, rational & timely = SMART)) dan Ini memang  upaya
all-out; tetapi harus dimulai sekarang.

Ayo

Salam
3jk



________________________________
From: pandu <panduriono@...>
To: aids-ina@yahoogroups.com
Sent: Tue, May 24, 2011 12:04:48 PM
Subject: [aids-ina] Re: Upaya penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia


Yth Pak Nadiar,

Seharusnya Pak Nadiar mengubah "mindset" bahwa upaya penanggulangan infeksi,
bukan hanya promosi kondom. Yang sama efektifnya atau bahkan lebih adalah
mengurang jumlah pasangan seks.

Tes HIV, seharusnya bukan lagi VCT atau PITC saja. Ini sama menciptakan hambatan
untuk melakukan tes HIV. Jadikan tes HIV seperti lazimnya tes laboratorium
lainnya.

Konsep surveilans seharusnya juga sudah berubah, tetapi biasanya teman-teman
yang terlibat progam susah melihat paradigma yang sekarang sudah berbeda.

Perubahan paradigma pencegahan dengan nama "revolution prevention" saja sulit
difahami. Belum lagi upaya penanggulangan HIV masih sangat ekslusif di
Indonesia, belum menyatu dengan program kesehatan masyarakat lainnya (mungkin
masih berlimpah dananya).

Tahun ini sudah waktunya masuk era baru, orangnya boleh lama tetapi cara
berpikirnya harus baru. Sudah memasuki dekade ke 3, kita masih belum melihat
adanya sepercik harapan bahwa kita mampu menanggulanginya.

Salam,
P

--- In aids-ina@yahoogroups.com, "DR. Nadiar. MPH" <ndiar@...> wrote:
>
> Teman-teman penggiat,
>
> Satu-satunya sumber data hasil surveilans (pengamatan penyakit) HIV & AIDS
> secara nasional memang yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan RI
> setiap triwulan. Sayangnya yang disajikan hanya data semata, dan tidak
> dilengkapi dengan analisis mengapa data itu terjadi dan faktor yang
> mempengaruhinya.
> Bagaimanapun juga mereka yang mengikuti perkembangan upaya termasuk upaya
> surveilans, tentu harus melihat deretan angka sebagai resuLtante dari
> berbagai faktor.  Semisal data HIV, 5 tahun yl, data HIV bersumber pada
> sero survei, dimana pelaksanaanya tergantung dari adanya alokasi dana
> terutama di daerah.Sekarang data HIV berasal dari layanan VCT yang dari
> tahun ke tahun semakin banyak jumlahnya dan semakin merata. Karena layanan
> VCT didanai sebagian besar oleh Pusat maka sumber data relatif stabil.
> Data AIDS ( reported cases),didapat dari RS yang menyelenggarakan CST,
> yang juga berdasarkan ketetapan Menkes semakin banyak pula jumlahnya.
> Saringan utama adalah CVT dan PITC. Tentu perlu diingat kasus AIDS
> mendapat infeksi sekitar 7-10 tahun yl. Setidaknya di Indonesia, kita
> belum mempunyai cara yang ampuh untuk mengetahui angka infeksi baru
> (incidence) yang merupakan tool yang paling baik untuk mengukur
> keberhasilan suatu upaya pencegahan.Ini tantangan bagi teman-teman ahli
> epidemiologi.
> Memang benar terdapat kecenderungan bahwa terjadi peningkatan proporsi
> dari jumlah kasus HIV melalui transmisi seksual, terutama hetero seksual (
> berdasarkan presentase). Dan kita sudah cukup lama mengubah paradigma
> tentang siapa yang paling bertanggung jawab, dan jawaban kita adalah:
> laki-laki.Sebagai konsekwensinya, berbagai upaya ditujukan kepada
> laki-laki ini ( high risk men ). tanpa mengabaikan peningkatam awareness
> populasi umum tentang mamfaat kondom, tetapi memanglah upaya intensif
> dilakukan di tempat-tempat yang berpotensi terjadinya hubungan seksual
> berisiko.Pertanyaannya adalah siapa yang menjamin bahwa si laki-laki yang
> sudah melek kondom itu benar-benar menggunakannya? saudara-saudara yang
> mempunyai ide cemerlang bagaimana mengajak laki-laki itu menggunakan
> kondom bila diperlukan, silahkan posting disini.
> Wassalam,
>
>
> Nadiar
>
>
>
> > Dear Teman2,
> >
> > Menurut berita bulan lalu di US Global Health/Reuters,
> > 1. Kasus HIV-ADIS di Indonesia berlipat ganda (pada th 2010 dua kali lipat
> > dibandingkan 5 tahun yl) karena masyarakat "tidak tahu" tentang penyakit
> > tsb dan
> > Pemerintah "takut" mengkampanyekan cara pencegahan yang efektif karena
> > khawatir
> > dituduh mempromosikan seks bebas oleh kalangan konservatif.
> >
> > 2. Pada th 2010, 65% infeksi HIV baru di Indonesia terjadi akibat hubungan
> > seks
> > hetero antara PS dan pelanggannya, yang mana lalu menularkan HIV kepada
> > isteri
> > atau pasangannya. Hanya 10-15% dari sekitar 2-3 juta atau lebih pelanggan
> > PS
> > menggunakan kondom.
> >
> >
> > Bahwa kasus HIV-AIDS berlipat ganda memang pertanda bahwa upaya kita
> > selama ini
> > tidak/belum berhasil. Pertama, karena tidak cukup memberikan informasi
> > kepada
> > masyarakat luas tentang cara2 penularan dan pencegahan HIV. Kedua, karena
> > penggunaan kondom tetap rendah.
> >
> > Yang menjadi pertanyaan: Contingency plan seperti apa yang sudah
> > dipersiapkan
> > oleh pemerintah untuk mengatasi kedua masalah itu? Kalo benar pemerintah
> > "takut"
> > mempromosikan kondom karena tidak mau disangka mempromosikan seks bebas,
> > wah ya
> > bagaimana ini?
> >
> > Selain itu, penyajian data statistik seperti itu menurut saya memojokkan
> > kaum
> > wanita, khususnya PS... Jika benar 65% dari kasus infeksi HIV baru terjadi
> > akibat hubungan seks hetero, kenapa tidak ada data rinci tentang berapa %
> > laki2
> > yang (mengaku) tertular HIV dari PS dan berapa % wanita/isteri yang
> > tertular HIV
> > dari pasangannya? Kasus  wanita/isteri yang tertular dari suaminya  sudah
> > pasti
> > jauh lebih besar daripada kasus laki2 yang tertular HIV dari PS  wanita -
> > lagipula dari mana kita tahu bahwa semua laki2 itu tertular HIV  dari PS
> > wanita?
> > Bagaimana kalo mereka juga bekas pecandu? Bagaimana  pula kalo mereka juga
> > melakukan seks tanpa proteksi dengan sejenis?
> >
> > Yang menjadi pertanyaan: Apakah Reuters "sengaja" menghilangkan rincian
> > statistiknya, ataukah memang pihak KemenKes yang belum punya data rinci
> > seperti
> > itu? Tidak sepantasnya kita membiarkan masyarakat luas mendapat gambaran
> > se-olah2 biang keladi penyebaran HIV di Indonesia adalah PS wanita.
> >
> >
> > Berita lengkap ada di:
> > -
> >
>http://globalhealth.kff.org/Daily-Reports/2011/April/12/GH-041211-News-Roundups\
.aspx
>
> >
> > -
> >
>http://www.reuters.com/article/2011/04/12/us-aids-indonesia-idUSTRE73B18K201104\
12
>
> >
> >
> > Salam prihatin,
> > Alita
> >
> > [Non-text portions of this message have been removed]
> >
> >
>




[Non-text portions of this message have been removed]

#3389 From: "mcrpkbi@..." <mcrpkbi@...>
Date: Tue Jun 21, 2011 6:04 am
Subject: KESEMPATAN MENJADI SSR GF-ATM ROUND 8 PHASE II Daerah Jawa Barat
mcrpkbi@...
Send Email Send Email
 
KESEMPATAN MENJADI SSR GF-ATM ROUND 8 PHASE II
PKBI DAERAH JAWA BARAT

Memasuki Phase II pelaksanaan Program HIV dan AIDS melalui pendanaan
GF-ATM Round 8, PKBI Daerah Jawa Barat membuka kesempatan
LSM/organisasi masyarakat untuk bermitra sebagai SSR (Sub Sub
Recipient).

Dibutuhkan 3 SSR untuk wilayah kerja:
a. SSR-1 : Kota Bandung dan Kota Bogor
b. SSR-2 : Kota Bekasi, Kab. Bekasi dan Kab. Karawang
c. SSR-3 : Kota Cirebon, Kab. Cirebon dan Kab. Indramayu

Kriteria SSR sebagai berikut:
1. Pendaftaran sebagai entitas legal (badan hukum) di lembaga
pemerintahan (Kementrian Hukum dan HAM atau Kesbanglimas).
2. Rekomendasi dan referensi dari lembaga donor yang pernah mendanai,
KPA dan/atau Dinas Kesehatan setempat.
3. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
4. Anggaran Dasar (Articles of Association)
5. Alamat yang dapat diverifikasi;
6. Profil organisasi;
7. Perencanaan monitoring dan evaluasi.

Lamaran lengkap di kirim ke alamat:

PKBI DAERAH JAWA BARAT
Jl. Soekarno Hatta No. 496 (Sekelimus) Bandung 40135
Telp : 022-7567997, Faks : 022-7514332
e-mail : pkbijb@..., atau pkbi.jabar@...

Lamaran paling lambat 30 Juni 2011, pukul 10.00 WIB dalam bentuk soft
copy dan hard copy. Semua pelamar diharapkan mengikuti Penjelasan
Teknis pada 24 Juni 2011, pukul 13.30 WIB di Kantor PKBI Daerah Jawa
Barat.

#3390 From: Chris Green <chrisg1941@...>
Date: Wed Jun 22, 2011 12:35 pm
Subject: Pedoman WHO Pencegahan & Pengobatan HIV & IMS di antara LSL & Waria
wartaaids
Send Email Send Email
 
Backgrounder UNTUK MEDIA

PEDOMAN WHO PENCEGAHAN DAN PENGOBATAN HIV DAN INFEKSI MENULAR SEKSUAL
DI ANTARA LAKI-LAKI BERHUBUNGAN SEKS DENGAN LAKI-LAKI DAN WARIA

21 JUNE 2011

Fakta penting

Sejak awal epidemi di awal 1980-an, laki-laki yang berhubungan seks
dengan laki-laki (LSL) dan waria telah terpengaruh oleh human
immunodeficiency virus (HIV). Risiko infeksi tetap tinggi di antara
mereka, dan telah ada kebangkitan infeksi HIV di antara LSL, khususnya
di negara industri. Data muncul mengenai epidemi HIV yang baru atau
baru diidentifikasi di antara LSL di Afrika, Asia, Karibia dan Amerika
Latin.

Sebuah meta-analisis terhadap data surveilans di negara berpenghasilan
rendah dan menengah menemukan bahwa LSL 19,3 kali lebih mungkin
terinfeksi HIV dibandingkan populasi umum. Tingkat prevalensi HIV
antara LSL diperkirakan hingga 40%, dengan tingkat melebihi 20% di
negara-negara yang beragam seperti Bolivia, Jamaika, Meksiko, Myanmar,
Thailand, Trinidad dan Zambia.

Kejadian HIV di antara LSL berkisar 1,2-14,4 per 100 orang-tahun.
Penelitian terbaru dari Afrika sub-Sahara melaporkan bahwa prevalensi
HIV di antara LSL berkisar dari 6% hingga 31%. Di Asia, kemungkinan LSL
terinfeksi HIV adalah 18,7 kali lebih tinggi dibandingkan pada populasi
umum. Di Amerika Latin, diperkirakan bahwa separuh dari semua infeksi
HIV di wilayah ini telah dihasilkan dari hubungan seksual dubur tanpa
kondom antara laki-laki.

Sedikitnya studi epidemiologi yang ada di antara waria telah
menunjukkan angka prevalensi HIV yang amat tinggi berkisar antara 8%
sampai 68%, dan kejadian HIV dari 3,4 sampai 7,8 per 100 orang-tahun.
Penting untuk dicatat bahwa korelasi yang mendasari risiko HIV dan IMS
serta kebutuhan kesehatan seksual yang spesifik untuk waria dapat
berbeda dari LSL lain.

Meskipun intervensi pencegahan dasar HIV dan IMS yang sama dapat
diindikasikan baik untuk LSL maupun untuk waria, para profesional
kesehatan masyarakat harus menghindari menyamakan kedua kelompok dan
bekerja ke arah pemahaman yang lebih bernuansa tentang kebutuhan
masing-masing kelompok.

Definisi

LSL adalah istilah kesehatan masyarakat inklusif yang dipakai untuk
mendefinisikan perilaku seksual laki-laki yang berhubungan seks dengan
laki-laki, terlepas dari motivasi untuk terlibat dalam seks atau
identifikasi dengan "komunitas" yang ada atau yang tidak tentu. Mungkin
perbedaan yang paling penting adalah salah satu antara laki-laki yang
berbagi identitas non-heteroseksual (yaitu gay, homoseksual, biseksual
atau budaya khusus dengan konsep yang menyamakan daya tarik untuk laki-
laki lainnya) dan laki-laki yang melihat diri mereka sebagai
heteroseksual, tetapi yang terlibat dalam seks dengan laki-laki lain
karena berbagai alasan (misalnya isolasi, kompensasi ekonomi, hasrat
seksual, script jender).

Waria (transjender) adalah istilah payung untuk orang yang identitas
jender dan ekspresi tidak sesuai dengan norma-norma dan harapan
tradisional dihubungkan dengan seks ditugaskan kepada mereka di
kelahiran. Orang transjender dapat mengidentifikasi diri sebagai
transjender, perempuan, laki-laki, transwoman atau transman, trans-
seksual, hijrah, kathoey, waria atau salah satu dari banyak identitas
transjender lainnya, dan mungkin mengungkapkan jenis kelamin mereka
dalam berbagai cara maskulin, feminin dan/atau androgini.

Pedoman WHO yang pertama

Kriminalisasi dan hambatan hukum dan kebijakan memainkan peran kunci
dalam kerentanan Odha LSL dan waria. Lebih dari 75 negara saat ini
mengkriminalisasi kegiatan seksual sesama jenis kelamin.

Waria tidak mempunyai pengakuan legal di sebagian besar negara. Kondisi
hukum ini memaksa LSL dan waria berisiko sanksi pidana jika mereka
ingin mendiskusikan tingkat seksual risiko dengan penyedia layanan.
Mereka juga memberikan polisi wewenang untuk melecehkan organisasi yang
memberikan layanan kepada populasi ini.

Dari perspektif sistem kesehatan, LSL dan waria dapat menunda atau
menghindari mencari kesehatan, informasi terkait infeksi menular
seksual (IMS) atau HIV, perawatan dan layanan sebagai hasil homofobia,
transfobia, ketidaktahuan homofobia, dan ketidakpekaan yang dirasakan.

Meskipun dampak yang kuat dari epidemi HIV pada LSL dan waria, sampai
saat ini, tidak ada rekomendasi teknis telah dibuat untuk memandu
tanggapan sistem kesehatan terhadap epidemi di antara mereka.

Pada September 2008, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengadakan
konsultasi global tentang "Pencegahan dan pengobatan HIV dan infeksi
menular seksual lainnya untuk laki-laki yang berhubungan seks dengan
laki-laki dan populasi transjender". Rekomendasi dari konsultasi global
tersebut, serta dari konsultasi wilayah WHO, menyerukan perlunya untuk
mengembangkan panduan bagi menyampaikan paket intervensi esensial
berdasarkan bukti, untuk diterapkan oleh sektor kesehatan untuk
mencegah dan mengobati HIV dan IMS lain antara LSL dan waria.

Pengembangan dokumen ini mengikuti prosedur standar saat ini di tempat
di WHO untuk produksi rekomendasi berdasarkan bukti, yang memanfaatkan
pendekatan Grading dari Rekomendasi Penilaian, Pengembangan dan
Evaluasi (GRADE). Rekomendasi ini yang diusulkan sebagai standar
pencegahan dan perawatan dicapai dalam rangkaian terbatas sumber daya.

Pedoman ini dirancang untuk dipakai oleh pejabat kesehatan masyarakat
nasional dan manajer program HIV/AIDS dan IMS, organisasi non-
pemerintah (LSM) termasuk masyarakat dan organisasi masyarakat sipil,
dan petugas layanan kesehatan. Ini juga mungkin menarik buat lembaga
donor internasional, media ilmiah, para pembuat kebijakan kesehatan dan
pendukung.

21 Rekomendasi

Tentang hak asasi manusia dan non-diskriminasi dalam rangkaian layanan
kesehatan

1. Para pembuat keputusan dan pemerintah lainnya harus menetapkan
undang-undang anti-diskriminasi dan pelindung, berasal dari standar
internasional hak asasi manusia, dalam rangka untuk menghilangkan
diskriminasi dan kekerasan yang dihadapi oleh LSL dan waria, dan
mengurangi kerentanan mereka terhadap infeksi dengan HIV, dan dampak
HIV dan AIDS.

2. Layanan kesehatan harus melibatkan LSL dan waria, berdasarkan asas
etika medis dan hak atas kesehatan.

Tentang pencegahan penularan seksual

3. Penggunaan kondom secara konsisten selama seks anal sangat
disarankan untuk LSL dan waria daripada tidak menggunakan kondom.

4. Penggunaan kondom secara konsisten sangat direkomendasikan
dibandingkan sero-pemilahan untuk LSL dan waria HIV-negatif. Sero-
pemilahan disarankan dibandingkan tidak memakai kondom oleh LSL dan
waria HIV-negatif dalam keadaan tertentu sebagai strategi pengurangan
dampak buruk.

5. Tidak menawarkan sunat laki-laki dewasa untuk orang LSL dan
transjender untuk pencegahan HIV dan IMS disarankan daripada menawarkan
itu.

Tentang tes dan konseling HIV

6. Penawaran tes dan konseling HIV kepada LSL dan waria adalah sangat
dianjurkan daripada tidak menawarkan intervensi ini.

7. Menawarkan konseling dan tes HIV berdasarkan masyarakat dikaitkan
dengan perawatan dan pengobatan untuk LSL dan waria disarankan daripada
tidak menawarkan program tersebut.

Tentang intervensi perilaku, informasi, pendidikan, komunikasi

8. Pelaksanaan intervensi perilaku tingkat-individu untuk pencegahan
HIV dan IMS antara LSL dan waria disarankan daripada tidak menerapkan
intervensi tersebut.

9. Pelaksanaan intervensi perilaku tingkat-masyarakat untuk pencegahan
HIV dan IMS antara LSL dan waria disarankan daripada tidak menerapkan
intervensi tersebut.

10. Penawaran informasi yang ditargetkan berdasarkan internet untuk
mengurangi perilaku seksual berisiko dan meningkatkan tes HIV dan
konseling di antara LSL dan waria disarankan daripada tidak menawarkan
informasi tersebut.

11. Penggunaan strategi pemasaran sosial untuk meningkatkan penyerapan
tes dan konseling HIV/IMS dan layanan HIV di antara LSL dan waria
disarankan daripada tidak memakai strategi tersebut.

12. Pelaksanaan strategi penjangkauan berdasarkan tempat seks untuk
mengurangi perilaku seksual berisiko dan meningkatkan penyerapan tes
HIV dan konseling di antara LSL dan waria disarankan daripada tidak
menerapkan strategi tersebut.

Tentang penggunaan narkoba dan pencegahan penularan melalui darah

13. LSL dan waria yang memakai alkohol atau zat lain secara berbahaya
harus memiliki akses pada intervensi psikososial berdasarkan bukti yang
mencakup penilaian, umpan balik yang spesifik dan saran.

14. LSL dan waria yang menyuntikkan narkoba harus memiliki akses ke
program jarum suntik dan terapi substitusi opioid.

15. Waria yang menyuntik zat untuk peningkatan jender harus memakai
peralatan suntikan steril dan praktik perilaku menyuntik yang aman
untuk mengurangi risiko infeksi patogen melalui darah seperti HIV,
hepatitis B dan hepatitis C.

Tentang perawatan dan pengobatan HIV

16. LSL dan waria yang hidup dengan HIV harus memiliki akses terhadap
ART yang sama dengan populasi lain. ART harus dimulai pada jumlah CD4
<= 350 (dan bagi mereka dengan stadium klinis WHO 3 atau 4 jika tes CD4
tidak tersedia). Akses juga harus mencakup pengelolaan infeksi
oportunistik, komorbiditas dan kegagalan pengobatan.

17. LSL dan waria yang hidup dengan HIV harus memiliki akses terhadap
intervensi esensial untuk mencegah penyakit dan penularan HIV termasuk,
tetapi tidak terbatas pada, perawatan dan dukungan, tes dan konseling,
dan terapi ARV.

Tentang pencegahan dan perawatan infeksi menular seksual lainnya

18. LSL dan waria dengan IMS bergejala harus mencari dan ditawarkan
manajemen dan pengobatan sindromik.

19. Penawaran tes berkala untuk infeksi uretra tanpa gejala dan N.
gonorrhoeae dan C. trachomatis pada dubur dengan memakai tes
amplifikasi asam nukleat disarankan dibandingkan tidak menawarkan tes
semacam itu untuk LSL dan waria. Tidak menawarkan tes berkala untuk
infeksi uretra tanpa gejala dan N. gonorrhoeae pada dubur dengan
memakai pembiakan disarankan daripada menawarkan pengujian semacam itu
untuk LSL dan waria.

20. Penawaran tes serologis berkala untuk infeksi sifilis tanpa gejala
pada LSL dan waria sangat disarankan atas tidak menawarkan skrining
tersebut.

21. LSL dan waria harus dimasukkan dalam strategi mengejar imunisasi
HBV pada rangkaian di mana imunisasi bayi belum mencapai cakupan penuh.

Pedoman WHO Pencegahan dan Pengobatan HIV dan Infeksi Menular Seksual
di antara Laki-Laki Berhubungan Seks dengan Laki-Laki dan Waria dapat
diunduh dari
http://www.who.int/hiv/pub/guidelines/msm_guidelines2011/en/index.html

Dokumen asli:
http://www.who.int/entity/hiv/mediacentre/msm_backgrounder_20110621.pdf

#3391 From: Chris Green <chrisg1941@...>
Date: Mon Jun 27, 2011 7:04 am
Subject: HATIP 176: Kepatuhan dan penahanan pada perawatan HIV di rangkaian,terbatas sumber daya
wartaaids
Send Email Send Email
 
HATIP 176: Kepatuhan dan penahanan pada perawatan HIV di rangkaian
terbatas sumber daya

Titik kunci

* Kepatuhan dalam pengobatan dan penahanan dalam perawatan merupakan
    tantangan penting untuk semua program pengobatan HIV, terutama bila
    sumber daya terbatas.

* Penahanan dalam perawatan setelah satu tahun di banyak program
    pengobatan di Afrika sub-Sahara adalah 60%. Hal ini menunjukkan bahwa
    banyak pasien hilang dan banyak waktu dan dana yang terbuang dalam
    mempersiapkan pasien untuk pengobatan dan mengobati mereka selama
    beberapa bulan. Jauh lebih sedikit waktu dan dana ditanam dalam
    mencari pasien tersebut setelah mereka tidak kembali ke klinik.

* Lebih banyak perhatian harus diberikan untuk mencari pasien yang
    tidak kembali ke klinik, dan menemukan cara yang paling efektif-biaya
    untuk melakukannya.

* Saat ini sulit menetapkan suatu standar terbaik sebagai alat ukur
    kepatuhan, ada banyak alat dan masing-masing memiliki kelebihan dan
    kekurangan.

* Klinik yang dapat menyediakan lebih banyak waktu oleh petugas untuk
    melacak yang mangkir, dan keluar ke komunitas untuk melakukannya,
    mungkin memiliki tingkat mangkir yang lebih rendah.

* Semakin lama klinik tidak mencari pasien hilang, semakin mungkin
    pasien tersebut akan hilang secara tetap.

* Penahanan pasien yang belum memakai terapi antiretroviral (ART)
    adalah penting; pasien yang mangkir sebelum memenuhi persyaratan
    untuk pengobatan kemungkinan nanti terlanjur datang, dan hanya muncul
    ketika sakit berat.

* Penawaran profilaksis kotrimoksazol (kotri) dapat meningkatkan
    penahanan dalam perawatan bagi mereka yang belum memenuhi persyaratan
    untuk ART.

* Persyaratan akan konseling kesiapan ART mungkin berat, dan penelitian
    lebih lanjut diperlukan untuk menentukan apakah persyaratan ini
    bertanggung jawab atas hilangnya pasien.

* Melayani pasien berisiko tinggi terhadap penyakit berat terkait AIDS
    secara cepat harus menjadi prioritas.

* Di antara mereka yang sudah dalam pengobatan, orang dewasa yang lebih
    muda mungkin perlu perhatian khusus untuk mencegah kemangkiran.

* Kelompok dukungan dan hitungan pil dikaitkan dengan kepatuhan yang
    lebih baik dalam penelitian di Nigeria, tetapi mungkin yang membuat
    hitungan pil lebih efektif adalah rasa bertanggung jawab pasien
    kepada petugas kesehatan, daripada pengaruh pemantauan dosis yang
    dilewatkan.

HATIP (HIV-AIDS Treatment in Practice) ini, yang diterjemahkan menjadi
bahasa Indonesia, dapat dibaca dan diunduh dari situs web Spiritia, di
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=0176>

#3392 From: Herru Pribadi <herru_stigma@...>
Date: Mon Jul 4, 2011 7:55 am
Subject: Monitorindonesia.com: Sekurangnya Ada 10 Anak Penderita HIV/AIDS di Depok
herru_stigma
Send Email Send Email
 
Sekurangnya Ada 10 Anak Penderita HIV/AIDS di DepokLembaga Swadaya Masyarakat,
Stigma mencatat, sebanyak 10 anak di Depok, Jawa Barat, tertular HIV/AIDS dari
orangtuanya. Nasib ke-10 anak tersebut kini mendapat perhatian serius dari
Pemerintah Kota Depok.MEREKA tersebar di sejumlah wilayah di kota Depok,
seperti Tapos, Pancoran Mas, dan Sawangan. Stigma juga mencatat, sejak 2005 tren
peningkatan jumlah penderita HIV/AIDS di wilayah Depok mulai terjadi.Sejak 2006
hingga 2010, penderita penyakit yang belum ditemukan obatnya itu terus meningkat
sampai 27 persen, kebanyakan tertular melalui penggunaan narkoba suntik. Pada
tahun 2006 itu pula jumlah penderita HTV/AIDS tercatat 290 orang di wilayah
Depok.Empat tahun kemudian jumlahnya terus melonjak menjadi 750 penderita. Meski
begitu, diyakini masih banyak penderita positif HIV/AIDS di kota ini.
“Sebagian besar belum tertangani pemerintah. Semua itu kasus lama,” ujar
Koordinator LSM Stigma, Irwansyah,
  Kamis (30/6/2011). Para penderita, lanjut Irwansyah, merupakan  anak-anak di
bawah umur, tak urung mereka kerap dikucilkan, atau diasingkan keluarga dan
masyarakat sekitar.Stigma menyayangkan kurangnya perhatian dari pemerintah Kota
Depok untuk menanganani penderita HIV/AIDS. Untuk itu mereka meminta Dinas
Kesehatan Depok diminta segera membenahi pelayanan kesehatan mereka, khususnya
bagi penderita AIDS.“Meski punya RSUD, tapi pelayanannya belum maksimal untuk
penderita HIV. Penderitanya masih dirujuk ke rumah sakit lain,” kata
Irwansyah. Sebelumnya diberitakan, dua bocah bernama Zh dan Rf, yang tinggal di
Kelurahan Mampang, Pancoran Mas, Depok, terjangkit virus HIV/AIDS.Kedua orangtua
Zh, dan satu kakaknya, sudah meninggal akibat virus itu. Kini bocah berusia 6
tahun itu tinggal bersama kakek dan neneknya. Zh diketahui menderita HIV karena
tertular dari orangtua mereka.Dia menjalani perawatan di Rumah Sakit Fatmawati,
Jakarta Selatan. Selama
  dirawat, biaya pengobatan Zh ditanggung keluarga. Manih sang nenek hanya mampu
membayar Rp 700 ribu dari total biaya yang mencapai Rp 4,7 juta, untuk setiap
kali berobat.Penyakit HIV juga diwarisi Sg kepada buah hatinya Rf, yang masih
berusia 4 tahun. Rf kini tumbuh tak seperti balita di usianya. Dia kerap
menangis setiap malam, dan mengeluh kesakitan di bagian perut.■ Indra Maliara
Terima kasih,

Herru Pribadi

Jl. H. Nawi I No.l 1A, Gandaria Selatan, Cilandak

Jakarta 12420,

Telp/Fax: 021.7651501

Hp:081310165801/021.91126498

email: herru_stigma@...

[Non-text portions of this message have been removed]

#3393 From: "aris" <aris@...>
Date: Wed Jul 20, 2011 3:24 am
Subject: Kursus Pengelolaan Informasi
su_bacx
Send Email Send Email
 
Mohon maaf untuk pengiriman ganda

Kursus Pengelolaan Informasi SatuDunia

Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) hadir untuk memperkuat peran dan
fungsi masyarakat sipil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. OMS
bekerja dalam isu perubahan yang terkadang luas dan baru, serta
melibatkan banyak pihak.

Kegiatan OMS banyak berurusan dengan kampanye dan advokasi. Butuh
dukungan data dan informasi yang kuat, agar dapat digunakan untuk
pengembangan advokasi dan kampanye yang dilakukan. Data dan informasi
bisa digunakan OMS untuk terus berinovasi dalam kampanye dan
advokasinya. Namun, seringkali menemui jalan buntu. Penyebabnya
pasokan data dan produksi informasi sangat lemah.

Untuk menjawab kebutuhan tersebut, Yayasan SatuDunia mengadakan
program memperkuat kapasitas organisasi dalam mengelola data dan
informasi, dengan kegiatan "Kursus Pengelolaan Informasi untuk OMS",
yang diselenggarakan pada:

Hari &Tanggal : Senin s/d Rabu 25-27 Juli 2011.
Waktu : Pkl 09.00 s/d 17.00 WIB
Tempat : Wisma PGI, Jl. Teuku umar No. 17 Menteng, JakartaPusat

Informasi lebih lanjut bisa dibaca di
http://www.satudunia.net/content/kursus-pengelolaan-informasi-untuk-oms atau di
web kursus http://kursus.satudunia.net/?page_id=4.

Salam
Aris
Capacity Building of SatuDunia

#3394 From: Chris Green <chrisg1941@...>
Date: Wed Jul 27, 2011 8:39 am
Subject: Statistik kasus AIDS di Indonesia sd Juni 2011
wartaaids
Send Email Send Email
 
Berikut adalah laporan situasi perkembangan HIV dan AIDS di Indonesia
sampai dengan 30 Juni 2011, yang diterima dari Ditjen PP & PL,
berdasarkan surat Direktur Jenderal P2PL, Prof. dr. Tjandra Y Aditama,
SpP(K), DTM&H tertanggal 13 Juli 2011:

Bersama ini kami sampaikan laporan situasi perkembangan HIV dan AIDS di
Indonesia pada triwulan II tahun 2011.

I. Situasi Perkembangan HIV & AIDS pada Triwulan 2 2011

    1. Kasus AIDS

      a. Dari April sampai dengan Juni 2100 jumlah kasus AIDS baru yang
         dilaporkan adalah 2.001 kasus dari 59 kabupaten/kota di 19
         provinsi.

      b. Ratio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2:1.

      c. Cara penularan kasus AIDS baru yang dilaporkan melalui
         Heteroseksual (76,3%), IDU (16,3%), Perinatal (4,7%), dan LSL
         (2,2%).

      d. Proporsi kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok umur
         20-29 tahun (36,4%), disusul kelompok umur 30-39 tahun (34,5%)
         dan kelompok umur 40-49 tahun (13,3%).

      e. Jumlah total kasus baru HIV positif pada layanan VCT di triwulan
         2 tahun 2011 adalah 6.087.

II. Situasi Perkembangan HIV & AIDS kumulatif

    1. Kasus AIDS sampai dengan Juni 2011

      a. Pada tahun 2005 jumlah kasus AIDS yang dilaporkan sebesar 2.639
         kasus, pada tahun 2006 sebesar 2.873 kasus, pada tahun 2007
         sebesar 2.947 kasus, tahun 2008 sebesar 4.969 kasus, pada tahun
         2009 sebesar 3.863 kasus dan pada tahun 2010 sebesar 4.158
         kasus.

      b. Sampai dengan Juni 2011 secara kumulatif jumlah kasus AIDS yang
         dilaporkan adalah 26.483 kasus. Sebanyak 33 provinsi dan 300
         kabupaten/kota yang melapor.

      c. Ratio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3:1.

      d. Cara penularan kasus AIDS kumulatif yang dilaporkan melalui
         Heteroseksual (54,8%), IDU (36,2%), Lelaki Seks Lekaki (2,9%),
         perinatal (2,8%), transfusi darah (0,2%) dan tidak diketahui
         (3,0%).

      e. Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok
         umur 20-29 tahun (46,4%), disusul kelompok umur 30-39 tahun
         (31,5%) dan kelompok umur 40-49 tahun (9,8%).

      f. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari DKI Jakarta, Jawa Timur,
         Jawa Barat, Papua, Bali, Jawa Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi
         Selatan, DI Yogykarta, dan Sulawesi Utara.

      g. Rate kumulatif kasus AIDS Nasional sampai dengan Juni 2011
         adalah 11,09 per 100,000 penduduk (berdasarkan data BPS 2011,
         jumlah penduduk Indonesia 238.893.400 jiwa).

      h. Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari provinsi
         Papua (16,6 kali angka nasional), Papua Barat (4,8 kali angka
         nasional), Bali (4,5 kali angka nasional), DKI Jakarta (4,0 kali
         angka nasional), Kalimantan Barat (2,3 kali angka nasional),
         Kep. Riau (2,2 kali angka nasional), Sulawesi Utara (2,2 kali
         angka nasional). DI Yogykarta (1,7 kali angka nasional). Maluku
         (1,3 kali angka nasional), dan Sulawesi Selatan (1,1 kali angka
         nasional).

      i. Proporsi kasus AIDS yang dilaporkan telah meninggal adalah 19,1.

      j. Infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah:
        * TBC: 12.304
        * Diare kronis: 7.717
        * Kandidiasis oro-faringeal: 7.534
        * Dermatitis generalisata: 1.888
        * Limfadenopati generalisata: 817

    2. Laporan Monitoring VCT sampai dengan Juni 2011

      a. Jumlah Kasus HIV positif kumulatif sebanyak 66.693 dengan
         positive rate 10,1%.

      b. Secara kumulatif jumlah kasus HIV positif terbanyak dilaporkan
         dari Provinsi DKI Jakarta (17.130), Jawa Timur (8.469), Papua
         (5.473), Jawa Barat (4.974), Sumatera Utara (4.382), Bali
         (3.849) dan Jawa Tengah (3.059).

    3. Laporan Monitoring CST sampai dengan Juni 2011

      a. Pelayanan pengobatan ODHA di Indonesia telah dimulai sejak tahun
         2005 dengan jumlah yang masih dalam pengobatan ARV pada akhir
         2005 sebanyak 2.381 (61% dari yang pernah menerima ARV).
         Sedangkan pada Juni 2011 terdapat 21.775 ODHA yang masih
         menerima ARV (55,7% dari yang pernah menerima ARV). Jumlah ODHA
         yang masih dalam pengobatan ARV dilaporkan dari provinsi DKI
         Jakarta (8.311, Jawa Barat (2.542), Jawa Timur (2.072), Bali
         (1.379), Papua (1.116), Jawa Tengah (909), Sumatera Utara (850),
         Kalimantan Barat (582), Kepulauan Riau (580), dan Sulawesi
         Selatan (611).

      b. Kematian ODHA menurun dari 46% pada tahun 2006 menjadi 22% pada
         tahun 2010.

      c. Sebanyak 79,7% ODHA masih menggunakan rejimen lini pertama,
         16,5% telah substitusi (salah satu ARV nya diganti dengan obat
         ARV lain tapi masih pada kelompok lini pertama yang original)
         dan 3,8% switch (1 atau 2 jenis ARV-nya diganti dengan obat ARV
         lini kedua).

    4. Laporan Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM)

       Sebanyak 2548 orang dari 68 Layanan, aktif melakukan terapi
       rumatan metadon.


[Catatan:

1. Laporan mengenai faktor risiko tidak mencatat jumlah mutlak,
     melainkan hanya mencatat persentase kasus AIDS yang dilaporkan
     berasal dari masing-masing faktor risiko.

2. Nanti kami akan menyebarkan informasi hasil ART dari laporan ini.

3. File statistik lengkap dalam format HTML, MS-Excel dan PDF sudah
     diupload ke bagian Statistik di situs web Spiritia
     <http://spiritia.or.id/Stats/Statistik.php>

#3395 From: Chris Green <chrisg1941@...>
Date: Wed Jul 27, 2011 8:42 am
Subject: Infeksi Oportunistik yang dilaporkan kepada Kemenkes sd Juni 2011
wartaaids
Send Email Send Email
 
Di antara informasi yang disediakan pada laporan triwulan Kemkes ada
tabel "Infeksi Oportunistik yang dilaporkan sd Juni 2011".
Kami bandingkan dengan angka untuk empat tahun terakhir.

                              Jun 11   Des 10   Des 09   Des 08   Des 07
TB                          12304    11836    10359     8986     5975
Diare                        7717     7227     5691     4542     3605
Kandidiasis                  7534     7084     5604     4479     3459
Dermatitis                   1888     1752     1448     1146      958
Limfadenopati Generalisata    817      789      709      603      504
PCP                           696      676      626      474      294
Herpes Zoster                 416      386      356      299      225
Ensefalopati                  388      387      386      386      252
Herpes Simpleks               230      200      185      141      105
Toxoplasmosis                 116      115      114      104       56
Sarkoma Kaposi                 80       80       80       79       78
Wasting syndrome               74       59       59       59       59
Koksidiomikosis                34       34       34       34       34
Histoplasmosis                 14       14       14       14        2
PML                             6        6        6        6        -
CMV                             4        4        4        4        1
Kriptosporidiosis               1        1        1        1        1

#3396 From: Chris Green <chrisg1941@...>
Date: Wed Jul 27, 2011 8:44 am
Subject: Laporan Penggunaan ART sd Juni 2011
wartaaids
Send Email Send Email
 
Laporan Penggunaan ART sd 30 Juni 2010

Laporan berikut diperoleh dari Kemenkes sebagai bagian dari laporan
triwulan baru

Situasi Pengobatan ARV di Indonesia (angka dalam kurung laporan 31
Maret 2008):

Masuk dalam perawatan HIV             81.960 100%    (36.628 100%)
Belum memenuhi syarat medis           26.444  32,3%  (13.268  36,2%)
                                       -------
Memenuhi syarat medis                 55.516  67,7%  (23.360  63.8%)
Belum mendapat terapi ARV             16.388  29,5%  ( 5.480  23.5%)
                                        ------
Pernah menerima ART                   39.128  70,5%  (17.880  76,5%)

Meninggal                              8.005  20,5%  ( 3.612  20,2%)
Mangkir                                4.918  12,6%  ( 2.005  11,2%)
Berhenti                               1.641   4,2%  (   649   3,6%)
Transfer ke luar                       2.777   7,1%  (   998   5,6%)
                                         -----
Masih menerima ART                    21.775  55,7%  (10.616  59,4%)

Terapi ARV Lini 1 Orisinal            17.630  79,7%  ( 8.444  79,5%)
Terapi ARV Substitusi dari Lini 1      3.586  16,5%  ( 1.994  18,8%)
Switch [Pengalihan ke lini 2]            829   4,2%  (   178   1,7%)

Laporan dari 276 Layanan ART

Catatan: Data ini, termasuk grafik, dapat dibaca dan diunduh di situs
web Spiritia dengan klik <http://spiritia.or.id/Stats/statart.php?lang=id>

#3397 From: "Rudhy Sinyo" <sinyo_addict@...>
Date: Thu Aug 4, 2011 5:05 am
Subject: Fw: PERKEMBANGAN TERAKHIR PENOLAKAN UU SJSN DAN RUU BPJS
sinyo_addict
Send Email Send Email
 
-----Original Message-----
From: Pengurus Nasional <dkrnasional@...>
Date: Thu, 4 Aug 2011 12:52:08
To: <p_peduli@...>; <pembebasan.kaltim@...>;
<perhimpunan.aksara@...>; <pinomakassar@...>;
<pirapapua@...>; Polres Rembang<dhika_salim@...>;
<pondokaspirasi@...>; <poppy_ismalina@...>;
<pprm.diyjateng@...>; <pra.elsant@...>;
<psolidaritasburuh@...>; <pudjianto_batu@...>; <qimunk73@...>;
Rahmi Bina Kelola Sumbar<rachmee85@...>; <ranting_daun@...>; Rauf
LAWAN<laskarmahasiswapembebasan@...>; <revolusi98@...>;
<rhstamba@...>; <rhstamba@...>; Richard
Simbolon<richardsimbolon@...>; Rio SRMI<riomartin84@...>;
<rudiastika@...>; <rudy_qute@...>; <salmasafitri@...>;
<sarifainhusman@...>; <saubakimoniche@...>;
<sbrs.jarikebu@...>; SBSI<reksonsilaban@...>;
<sekretariat@...>; <shita_oye@...>;
<sinyo_addict@...>; <snt-dkijakarta @...>; <snt-ppusat@...>;
<sonny.imut@...>; SP Koja Saryanto<bascel@...>;
<sr.melubae@...>; <standarkiaa@...>; Sukari
Solo<sukariy10@...>; <syahrial81@...>; <syauhar_sal@...>;
<t.jatmiko@...>; <tengku.safar@...>; <tioncamang@...>;
<tohang_very@...>; <tonyofoi@...>; <Uchico_san@...>;
<unity_ps@...>; <wahyususilo@...>; Weni Widya
Shari<when2_ners@...>; widi wahyuwidodo<weedeeww@...>;
<wilsontherik@...>; <wongmerapi@...>; <yamandidu@...>;
<yansen.ew@...>; <yayat_fisip@...>; <yhan_windy@...>;
<yppma_st@...>; <yuniar7044@...>; <zainalasyikin@...>;
<zulbahary@...>
Subject: PERKEMBANGAN TERAKHIR PENOLAKAN UU SJSN DAN RUU BPJS








JAMKESMAS UNTUK
SELURUH RAKYAT !

CABUT UU NO 40/2004 TENTANG SJSN !

HENTIKAN PEMBAHASAN RUU BPJS !





Kawan-kawan Seperjuangan

Di Seluruh Indonesia

 

Perkembangan Terakhir (4 Agustus 2011)



1. Situasi terakhir dari pembahasan RUU BPJS antara DPR dan Pemerintah
telah mencapai beberapa kesepakatan yaitu :1). PENARIKAN IURAN, 2) SANKSI
BAGI YANG TIDAK MEMBAYAR IURAN BAIK DARI RAKYAT, BURUH DAN PENGUSAHA YANG TIDAK
MENYETOR IURAN DAN 3). DIBENTUK SATU BPJS YAITU BPJS JAMKESMAS.



2. Perjuangan penolakan kedua
Undang-undang ini dari seluruh rakyat di seluruh Indonesia telah berhasil
menunda
pengesahan. DPR dan pemerintah memutuskan akan mensahkan RUU BPJS ini pada
tanggal
21 Oktober 2011.



3. Sementara itu, Sidang Judicial
Review oleh Koalisi Jamian Sosial Pro Rakyat (KJSPR) pada pasal 17 UU No
40/2004 di MK sampai hari ini belum ada keputusan.



4. Dari kesepakatan DPR dan
Pemerintah diatas, dapat disimpulkan 1). bahwa DPR dan Pemerintah tidak
peduli dengan keberatan rakyat pada penarikan iuran dari masyarakat, buruh, PNS
dan Prajurit. 2). Bahkan DPR dan Pemerintah terus melanjutkan pembahasan
tentang besaran iuran dan sanksi. 3) Bahkan DPR dan Pemerintah
memutuskan agar Program Jamkesmas yang sudah berjalan selama 3 tahun dikelola
oleh BPJS Jamkesmas, yang artinya uang jamkesmas yang selama untuk menjamin
76,4 rakyat miskin dan tidak mampu yang sebesar Rp 5,1
triliun (2011) yang disimpan di Kas Negara, untuk selanjutnya
diserahkan ke BPJS dan dikelola dengan mekanisme bisnis asuransi.



5. Selain itu DPR juga tetap
memaksakan penggabungan 4 BUMN Asuransi (PT ASKES, PT JAMSOSTEK, PT ASABRI DAN
PT TASPEN)



6. DPR yang telah menjadi agen
asuransi BPJS selalu berkilah bahwa orang miskin dibayar negara, namun menutupi
bahwa yang dibayar negara adalah premi asuransi-nya, tetapi kalau berobat,
tidak semua dibayar negara dan rakyat miskin tetap harus mencari uang untuk
membayar iur biaya pelayanan kesehatan
(Pasal 22, UU No 40/2004 Tentang SJSN)



7. Untuk itu DKR, KJSPR dan seluruh
kelompok, LSM, Organisasi Massa yang sadar akan bahaya kedua Undang-undang ini
perlu
untuk tetap meningkatkan penolakan pada RUU BPJS dan UU SJSN No 40/2004, dengan
cara menggalang aliansi yang luas
dari masyarakat, DPR dan pemerintah setempat.



8. Pada peringatan 17 Agustus 2011
nanti setiap kepala daerah perlu mendeklarasikan penolakan rakyat dari kota,
kabupaten dan propinsi, baik dalam pidato kenegaraan didepan masyarakat maupun
wawancara media massa. (Contoh pointers untuk pidato 17 agustus kami
lampirkan)



9. Pidato dari setiap kepala daerah
dan petisi masyarakat yang mendukungnya diharapkan dikirimkan kepada :



1. Presiden RI,
Soesilo Bambang Yudhoyono (PO BOX 9949),

2. Ketua DPR,
Marzuki Alie (Fax : 021-5715637)

3. Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD
(Jl. Medan Merdeka Barat No. 6 Jakarta 10110)

4. DKR
Nasional (Jalan Johar
Baru 2 No 12, Johar Baru, Jakarta
Pusat, 10560, dkrnasional@...)

 

10. Pidato dari kepala-kepala daerah ini akan sangat
menentukan penolakan pada RUU BPJS.







Hormat kami,





Web Warouw





[Non-text portions of this message have been removed]

#3398 From: "Rudhy Sinyo" <sinyo_addict@...>
Date: Sun Aug 7, 2011 3:18 pm
Subject: Re: [anggota-pkni] Report of The Global Commision on Drug Policy - Fakta Kegagalan Perang Narkoba
sinyo_addict
Send Email Send Email
 
Jika rekan-rekan akan gunakan dokumen ini untuk bahan advokasi silahkan download
file berikut untuk lebih memudahkan diseminasi informasi pada pihak-pihak
potensial.

Salam,
Rudhy Sinyo

-----Original Message-----
From: "Rudhy Sinyo" <sinyo_addict@...>
Sender: anggota-pkni@yahoogroups.com
Date: Sun, 7 Aug 2011 15:08:53
To: <napza_indo@yahoogroups.com>; <aids-ina@yahoogroups.com>;
<jangkar@yahoogroups.com>; <anggota-pkni@yahoogroups.com>;
<wartaaids@yahoogroups.com>
Reply-To: anggota-pkni@yahoogroups.com
Subject: [anggota-pkni] Report of The Global Commision on Drug Policy - Fakta
Kegagalan Perang Narkoba

REPORT OF THE GLOBAL COMMISSION ON DRUG POLICY

RINGKASAN EKSEKUTIF

Perang global terhadap narkoba telah gagal, dengan konsekuensi yang justru lebih
parah bagi individu-individu dan masyarakat di berbagai belahan dunia. Setelah
lima puluh tahun inisiasi Konvensi Tunggal PBB tentang Obat-obatan Narkotika,
dan empat puluh tahun setelah Presiden Nixon menyatakan Pemerintah AS memerangi
narkoba, maka kebutuhan akan sejumlah pembaruan mendasar untuk
kebijakan-kebijakan pengendalian narkoba baik secara nasional maupun global
dirasa sangat mendesak.

Dana besar-besaran untuk pengkriminalan melalui pendekatan represif yang
ditujukan bagi produsen, pengedar, serta konsumen napza ilegal telah jelas-jelas
gagal menghentikan secara efektif pasokan ataupun konsumsi. Keberhasilan
pemusnahan suatu sumber atau organisasi perdagangan segera digantikan oleh
sumber dan pengedar-pengedar lainnya. Upaya-upaya represif yang ditujukan kepada
konsumen justru menghambat upaya kesehatan masyarakat untuk menurunkan infeksi
HIV, kelebihan dosis yang fatal, serta konsekuensi-konsekuensi lain yang
membahayakan dari pemakaian narkoba. Pengeluaran pemerintah untuk
strategi-strategi pengurangan pasokan dan pemenjaraan yang sia-sia telah menutup
peluang bagi pengeluaran yang lebih cost-effective dan berlandaskan bukti-bukti
ilmiah untuk pengurangan permintaan dan dampak buruk.

Prinsip dan rekomendasi-rekomendasi kami dapat disimpulkan sebagai berikut:

Hentikan pengkriminalan, marjinalisasi, dan stigmatisasi pada orang-orang yang
menggunakan narkoba tapi tidak merugikan orang lain. Menantang ketimbang
menuruti miskonsepsi umum tentang pasar narkoba, pemakaian narkoba, serta
ketergantungan narkoba.

Mendukung eksperimen yang dilakukan pemerintah untuk model pengaturan legal
narkoba demi melemahkan kekuatan kejahatan terorganisir serta melindungi
kesehatan dan keamanan penduduknya. Rekomendasi ini terutama ditujukan untuk
ganja, namun kami juga mendukung eksperimen lain dalam mendekriminalisasi dan
pengaturan legal yang dapat mencapai tujuan-tujuan ini serta menyediakan
model-model buat yang lainnya.

Menawarkan layanan kesehatan dan perawatan bagi mereka yang membutuhkan.
Memastikan ketersediaan beragam model perawatan, tidak hanya perawatan metadon
dan buprenorfin namun juga program-program perawatan asistensi heroin yang telah
membuktikan keberhasilannya di banyak negara Eropa dan Kanada.
Mengimplementasikan akses peralatan suntik serta pendekatan pengurangan dampak
buruk lainnya yang telah terbutkti efektif dalam menurunkan penyebaran HIV serta
infeksi darah lain sebagaimana juga dengan kelebihan dosis yang fatal.
Menghormati hak-hak asasi mereka yang pakai narkoba. Menghentikan penyalahgunaan
praktek-praktek yang mengatasnamakan perawatan – seperti pemenjaraan paksa,
kerja paksa, serta penyalahgunaan secara fisik atau psikologis – yang
bertentangan dengan norma dan standar-standar HAM atau yang yang menghilangkan
hak atas keputusan diri sendiri.

Menerapkan sebanyak mungkin prinsip dan kebijakan-kebijakan yang sama seperti
yang tertulis di atas terhadap orang-orang yang berada paling bawah di
keterlibatnya dalam perdagangan narkoba ilegal, seperti petani, kurir, dan
pengedar kecil-kecilan. Kebanyakan dari mereka adalah korban kekerasan serta
intimidasi atau karena ketergantungan narkoba. Menangkap dan memenjarakan
puluhan juta orang-orang seperti ini selama dekade terakhir telah menyesaki
penjara dan menghancurkan kehidupan serta keluarga tanpa mengurangi ketersediaan
narkoba ilegal atau kekuatan organisasi-organisasi kejahatan yang terlibat.
Sepertinya hampir tidak ada batas banyaknya orang-orang yang berniat untuk
terlibat dalam bisnis ini untuk memperbaiki kehidupannya, menafkahi keluarga,
atau keluar dari kemiskinan. Sumber-sumber daya untuk pemberantasan narkoba
lebih baik dialokasikan ke tempat lain.

Anggarkan untuk kegiatan-kegiatan yang dapat mencegah anak-anak muda pakai
narkoba untuk pertama kalinya sekaligus mencegah mereka yang telah menggunakan
dari masalah-masalah yang lebih serius. Hindari kata-kata “katakan tidak” yang
menyederhanakan serta kebijakan “bebas narkoba” terutama dalam rangka pendidikan
yang memerlukan informasi yang kredibel serta program-program pencegahan yang
berfokus pada ketrampilan sosial serta pengaruh teman-teman sebaya. Upaya-upaya
pencegahan yang paling sukses mungkin adalah yang targetnya kelompok yang memang
memiliki risiko.

Pusatkan tindakan represif pada organisasi-organisasi kejahatan yang melakukan
kekerasan, namun lakukan untuk melemahkan kekuatan dan cakupan mereka sementara
juga prioritaskan pengurangan kekerasan dan intimidasi. Penegakkan hukum harus
berpusat bukan pada mengurangi pasar narkoba ansih tapi juga mengurangi dampak
buruknya terhadap individu, warga masyarakat, dan keamanan nasional.

Mulailah ide untuk mentransformasi rezim pelarangan narkoba secara global. Ganti
kebijakan dan strategi penangggulangan masalan napza yang dipengaruhi oleh
ideologi dan kenyamanan politis dengan kebijakan dan strategi dengan tanggung
jawab secara fiskal berdasarkan ilmu pengetahuan, kesehatan, keamanan dan HAM –
serta amalkan kriteria yang sesuai untuk evaluasinya. Kaji kembali penggolongan
narkoba yang menghasilkan anomali-anomali seperti kesalahan kategorisasi ganja,
daun koka dan MDMA. Pastikan bahwa kesepakatan internasional ditafsirkan
dan/atau direvisi untuk mengakomodasi uji coba yang membawa kebaikan dengan
pengurangan dampak buruk, dekriminalisasi, dan kebijakan-kebijakan pengaturan
secara legal.

Tinggalkan rasa tabu untuk berdebat dan memperbarui. Waktunya untuk perubahan
adalah sekarang.

========

Sumber: http://www.globalcommissionondrugs.org/Report

Terjemahan bebas oleh "Patri Handoyo"


[Non-text portions of this message have been removed]

Messages 3369 - 3398 of 3520   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help