Skip to search.

Breaking News Visit Yahoo! News for the latest.

×Close this window

wartaaids

The Yahoo! Groups Product Blog

Check it out!

Group Information

  • Members: 1038
  • Category: AIDS-HIV
  • Founded: Nov 4, 1999
  • Language: Indonesian
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Message search is now enhanced, find messages faster. Take it for a spin.

Messages

Advanced
Messages Help
Messages 2970 - 2999 of 3526   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Messages: Show Message Summaries Sort by Date ^  
#2970 From: "Pengelola www.aids-ina.org" <administrator@...>
Date: Fri Jan 2, 2009 2:59 am
Subject: Content terbaru di www.aids-ina.org
komunitasaid...
Send Email Send Email
 
Daftar Data Terbaru
Dari Tanggal: 18 December 2008 Sampai Tanggal: 2 January 2009





   _____

Artikel

1.       Isu tanpa batas: HIV/AIDS di Asia Tenggara

o
<http://aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&file=abstract&idabstract=20>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&file=abstract&idabstract=2
0

2.       Perkawinan bukanlah tempat yang aman: perkawinan heteroseksual dan
kerentanan terkait HIV di Indonesia

o
<http://aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&file=abstract&idabstract=21>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Abstract&file=abstract&idabstract=2
1

   _____

Individu

1.       Tony B Daulat

o        Tampilkan:
<http://aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1355>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1355

   _____

Laporan Keg.

1.       AKSI PEDULI SEKAT AIDS SULTENG

o        Tampilkan:
<http://aids-ina.org/modules.php?name=Report&file=report&idreport=49>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Report&file=report&idreport=49

Pengelola aids-ina.org

A better way in strengthening strategic information to guide a more
effecctive

Dukung dan kunjungi terus  <http://www.aids-ina.org/>
<http://www.aids-ina.org/> www.aids-ina.org





[Non-text portions of this message have been removed]

#2971 From: Caroline Thomas <carolt3398@...>
Date: Mon Jan 5, 2009 2:46 am
Subject: Pengumuman Pengajuan Proposal Collaborative Fund Putaran 4
carolt3398
Send Email Send Email
 
Normal   0                         MicrosoftInternetExplorer4    
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }       /* Style Definitions */ 
table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal"; 
mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes; 
mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0mm 5.4pt 0mm 5.4pt;  mso-para-margin:0mm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:10.0pt;
font-family:"Times New Roman";}    Dear Friends,
   The HIV Collaborative Fund untuk Asia Tenggara saat ini membuka pengajuan
proposal untuk putaran pendanaan 2009-2010 dari organisasi-organisasi yang
mencari dukungan untuk advokasi pengobatan HIV yang berbasis masyarakat dan
program pendidikan. Pemberian dana secara geografis dibatasi untuk Thailand,
Laos, Kamboja, Vietnam, Indonesia, Myanmar, Pilipina dan Malaysia.
   Setiap organisasi non pemerintah atau yang berbasis masyarakat dari
negara-negara tersebut yang bekerja di bidang pendidikan pengobatan HIV dan
advokasi serta isu-isu terkait diberi kesempatan untuk mengajukan permohonan
dana. Bantuan dana disediakan untuk program satu tahun dengan maksimum USD
10,000 untuk satu organisasi dan sampai USD 20,000 untuk aplikasi gabungan dua
organisasi atau lebih. Jika organisasi anda kurang dari satu tahun, jumlah dana
yang diajukan harus antara USD 3,000 dan 5,000. Jumlah total dana yang dibagikan
di Asia Tenggara adalah USD 200,000.

   Jika anda sudah menerima bantuan dana sebelumnya dari the HIV Collaborative
Fund, proposal anda harus menunjukkan bahwa proyek anda sedang melangkah maju
dan anda akan melangkah ke tingkat kerja yang baru dengan inovasi atau aspek
baru dibanding hanya melanjutkan proyek yang sama. Masukan juga pernyataan
dengan proposal tersebut bagaimana Anda akan memperluas lingkup kerja,
tunjukkanlah proyek anda yang sukses dan apa tujuan jangka panjang Anda.

   Tujuan menyeluruh dari program ini adalah untuk memperbaiki akses pengobatan
HIV bagi mereka yang memerlukannya melalui literasi pengobatan dan advokasi.
   Sasaran prioritas proyek adalah:

    Meningkatkan akses pengobatan      untuk orang-orang yang hidup dengan
HIV/AIDS termasuk pendidikan pengobatan,      informasi, dan persiapan untuk
memulai ARV dan obat Infeksi Oportunistik      (IO)


    Menanggulangi stigma dan diskriminasi      terhadap orang-orang dengan
HIV/AIDS dan/atau populasi-populasi rentan      terhadap resiko HIV, seperti
wanita, para pemakai narkoba,  LSL (laki-laki yang melakukan hubungan      seks
dengan laki-laki), para pekerja seks, pemuda/i dan populasi yang     
berpindah-pindah (ini akan membantu      usaha-usaha untuk meningkatkan akses
pengobatan bagi komunitas yang      terinfeksi)


    Meningkatkan kapasitas      dan memperkuat pengembangan organisasi-organisasi
ODHA dan para mitra      kunci lain (ini akan meningkatkan kemampuan     
kelompok-kelompok ini untuk melakukan proyek-proyek akses pengobatan)


    Mendukung      proyek-proyek yang fokus pada advokasi untuk kelompok-kelompok
rentan,      sebagai contoh: advokasi berhubungan dengan pengurangan kejahatan
atau hak      asasi manusia.


   Melibatkan orang-orang yang hidup dengan HIV dan/atau dari orang-orang
beresiko terhadap infeksi HIV dalam pengembangan dan implementasi proyek
merupakan satu ukuran penting untuk pendanaan.

   The HIV Collaborative Fund adalah suatu mekanisme pendanaan masyarakat yang
digerakkan oleh para ahli dari orang-orang yang hidup atau terpengaruh dengan
HIV. Ini adalah proyek utama dari International Treatment Preparedness Coalition
(ITPC). Pada setiap daerah pendanaan, Regional Advisory Committee (RAC)
menghimpun prioritas-prioritas pendanaan dan menentukan bagaimana dana dibayar
melalui suatu proses aplikasi yang direview.
   Selama putaran pertama, kedua dan ketiga, dukungan dana untuk hampir 60 LSM
lokal, LSM dan kelompok ODHA di Wilayah Asia Tenggara.
   ITPC adalah koalisi global primer dari orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS
dan para pendukung mereka dipersembahkan untuk advokasi agar dapat memastikan
akses terhadap mutu pengobatan HIV/AIDS, kepedulian dan pelayanan pencegahan.

   Tides merupakan sumbangan berbasis publik-AS yang memfasilitasi proses
pendanaan lokal dan internasional.

   Proyek dapat berjalan selama satu tahun mulai dari Juni 2009-May 2010,
proyek-proyek lebih pendek akan dipertimbangkan juga. Jika anda tertarik akan
dukungan the Collaborative Fund, anda harus mempertimbangkan dokumen-dokumen
berikut:

   *Permohonan Pengajuan Proposal - Pengumuman
   *Permohonan Pengajuan Proposal – Formulir Proposal
   *Permohonan Pengajuan Proposal – Panduan Aplikasi
   *Pola untuk Proposal Anggaran Dana/budget

   Formulir tersedia dalam bahasa Inggris dan bahasa lokal. Bagi yang ingin
mengajukan proposal dalam Bahasa Indonesia . Formulir Pengajuan Proposal dalam
Bahasa Indonesia sudah tersedia. Jika anda berminat mendapatkan dokumen
tersebut, silahkan kirim e-mail kepada Mr. Pathompong Serkpookiaw dengan alamat
Pathompong@.... Kami menanti kabar dari anda. Anda dapat juga
menghubungi Mr. Serkpookiaw jika anda memerlukan informasi atau klarifikasi
lebih lanjut.


   Batas Penyerahan: 6 Februari 2009

   Tentang the HIV Collaborative Fund: www.hivcollaborativefund.org
   Tentang ITPC: www.itpcglobal.org
   Tentang Tides: www.tides.org

   Shiba Phurailatpam
   Koordinator Regional, ITPC – HIV Collaborative Fund Asia Tenggara
   Atas nama ITPC Community Review Panel Collaborative Asia Tenggara





[Non-text portions of this message have been removed]

#2972 From: "Pengelola www.aids-ina.org" <administrator@...>
Date: Mon Jan 5, 2009 3:10 am
Subject: Klipping Media Masa Terbaru www.aids-ina.org
komunitasaid...
Send Email Send Email
 
Kumpulan Berita Media Massa
HIV-AIDS dan Narkoba
Dari Tanggal: 29 December 2008 Sampai Tanggal: 5 January 2009

   _____





1. Depkum HAM: 750 Napi Meninggal Selama 2008

Okezone, 31 Desember 2008
"Rata-rata mereka mempunyai penyakit dari luar, kemudian masuk lapas," kata
Direktur Jenderal Pemasyarakatan Departemen Hukum dan HAM Untung Sugiyono
saat konferensi pers Refleksi Kinerja Pemasyarakatan tahun 2008 di Ditjen
Pemasyarakatan, Jakarta, Rabu (31/12/2008).

Selengkapnya:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=870>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=870

   _____

Pengelola aids-ina.org

A better way in strengthening strategic information to guide a more
effecctive

Dukung dan kunjungi terus  <http://www.aids-ina.org/>
<http://www.aids-ina.org/> www.aids-ina.org





[Non-text portions of this message have been removed]

#2973 From: Forum LSM <forumlsmpaj@...>
Date: Mon Jan 5, 2009 12:35 pm
Subject: Buletin Suara 2
forumlsmpaj
Send Email Send Email
 
teman2 yang belum punya buletin Suara Edisi ke 2, bisa diambil di
kantor Forum LSM Peduli AIDS Jabodetabek jl. Raya Bekasi Timur KM.18
Pulogadung...YANG PASTI ISI YA SANGAT MENARIK DAN BERGUNA...


ataw hubungi debbie di 08128338819 / 02133250526


cepetan ya keburu habis...GRATIS


salam Forum LSM...^_^

#2974 From: Afip Lombok <afip_tm@...>
Date: Wed Jan 7, 2009 8:36 am
Subject: Permintaan Perda HIV/AIDS
afip_tm
Send Email Send Email
 
Dear Pegiat AIDS,

Mohon bantuan kawan-kawan mengirimkan dokumen atau soft file tentang PERDA
HIV/AIDS,

Salam Fight AIDS

Afip

#2975 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Wed Jan 7, 2009 11:22 pm
Subject: (Fwd) [aids-ina] 9th International Congress on AIDS in Asia an
wartaaids
Send Email Send Email
 
9th International Congress on AIDS in Asia and the Pacific

======================
VERSI BAHASA INDONESIA
======================

UNDANGAN

Atas nama panitia 9th ICAAP di Indonesia dan di tingkat Internasional,
kami mengundang Saudara untuk berpartisipasi dalam Kongres AIDS
Internasional di Asia dan Pasifik ke- 9 yang akan berlangsung di Bali,
Indonesia pada 9 - 13 Agustus 2009.

Tema Kongres adalah Empowering People, Strengthening Networks. Kongres
ini diharapkan akan dapat menjadi wadah pertemuan berbagai individu
dari berbagai latar belakang di Asia Pasifik untuk saling berbagi
pengetahuan, keterampilan, ide, dan hasil penelitian yang berkaitan
dengan HIV dan AIDS. Acara ini juga merupakan kesempatan untuk
menguatkan komitmen dalam menghadapi epidemi HIV dan AIDS.

Untuk informasi lebih lengkap, silakan kunjungi website kami di
www.icaap9.org

============
REGISTRASI

Kami menyarankan registrasi secara online melalui website kongres di
www.icaap9.org

Batas Akhir untuk Pendaftaran Early Bird      : Sabtu, 28 Februari 2009
Batas Akhir untuk Pendaftaran Reguler         : Minggu, 31 Mei 2009

Pendaftaran dengan Late Charges rate akan dimulai pada hari Senin, 1
Juni 2009

Batas Akhir untuk Pendaftaran Media            : Selasa, 30 Juni 2009

Untuk informasi biaya registrasi dan pedoman registrasi online,
silakan kunjungi www.icaap9.org


============
PENGIRIMAN ABSTRAK

Topik Kongres ( Studi Ilmiah/Pengalaman)

Topik A            : Pemahaman Epidemi dan Penguatan Usaha Pencegahan
Topik B            : Penguatan Kemitraan untuk Perawatan, Perhatian dan
                      Dukungan
Topik C            : AIDS dalam Konteks : Pemahaman dan Tanggapan dari
                      faktor Sosial Budaya, Ekonomi dan Politik
Topik D            : Kepemimpinan dan Perluasan Tanggapan

Untuk registrasi secara online dan informasi lebih lengkap, silakan
kunjungi www.icaap9.org


============
PROPOSAL UNTUK PENINGKATAN KETERAMPILAN (SKILLS BUILDING)

Kami menyarankan pengiriman proposal untuk peningkatan keterampilan
secara online melalui website kongres di www.icaap9.org Batas Akhir
untuk pengiriman proposal secara online : Minggu, 15 Maret 2009

Topik Peningkatan Keterampilan:

  1.. Keterampilan kepemimimpinan
  2.. Pengembangan Organisasi dan Manajemen
  3.. Penguatan individu yang terinfeksi dan terimbas untuk meningkatkan
      kualitas hidup
  4.. Keterampilan strategi dan pendidikan dalam pencegahan HIV,
      perawatan dan dukungan
  5.. Keterampilan Mobilisasi Sumber Daya

Untuk registrasi secara online dan informasi lebih lengkap, silakan
kunjungi website ICAAP 9 di www.icaap9.org


============
PROPOSAL UNTUK PERTUNJUKAN BUDAYA
Kami menyarankan pengiriman proposal untuk peningkatan keterampilan
dilakukan secara online melalui website kongres di www.icaap9.org Batas
Akhir untuk pengiriman Proposal secara online :  Minggu, 15 Maret 2009
Untuk registrasi secara online dan informasi lebih lengkap, silakan
kunjungi www.icaap9.org


=================
PENDAFTARAN BEASISWA

Kami menyarankan pendaftaran beasiswa  secara online melalui website
kongres di www.icaap9.org Batas Akhir untuk pendaftaran beasiswa :
Kamis, 30 April 2009

Kategori Beasiswa:
1. Beasiswa Komunitas Community Scholarships
2. Beasiswa Ilmiah ( untuk tenaga kesehatan, peneliti dan/atau
    mahasiswa/i)
3. Beasiswa Media
4. Beasiswa untuk pemuda/i

Untuk registrasi secara online dan informasi lebih lengkap, silakan
kunjungi www.icaap9.org



============
SAMPAI JUMPA DI BALI!

Sekretariat ICAAP ke-9 :
Menara Eksekutif 8th Floor
Jalan MH Thamrin Kav. 9, Jakarta 10330
INDONESIA

Phone: +62 21 39838845/46
Fax: +62 21 39838847
Website: http://www.icaap9.org
Email. secretariat@icaap9.


===============
ENGLISH VERSION
===============

***Please also feel free to forward this message to anyone who may be
interested in attending or presenting.** For more information, please
visit the 9th ICAAP website at www.icaap9.org

=========
INVITATION

On behalf of the local organizing committee and our Indonesian and
international partners, we would like to invite you to join us for the
9th International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP 9),
to be held in Bali, Indonesia from 9-13 August 2009.

The Congress Theme is Empowering People, Strengthening Networks. It
wishes to bring people from various backgrounds in Asia and the Pacific
region to meet and share knowledge, skills, ideas, research findings
related to HIV and AIDS. This is also be an opportunity for people to
provide mutual support and make stronger commitments in their fight
towards the epidemic.

For more information, please visit the 9th ICAAP website at
www.icaap9.org

============
REGISTRATION
We encourage online registration through the congress website at
www.icaap9.org

Deadline for Early Bird Registration: Saturday, 28 February 2009
Deadline for Regular Registration: Sunday, 31 May 2009
Late Registration Charge applies: 1 June 2009
Deadline for Media Registration: Tuesday, 30 June 2009

For online registration and more information, please visit the 9th
ICAAP website at www.icaap9.org

============
CALL FOR ABSTRACT SUBMISSION
We encourage online submission through the congress website at
www.icaap9.org
Deadline for Online Abstract Submission: Sunday, 15 March 2009
Late breaker Abstract Submission: Monday, 1 June 2009 - Tuesday, 30
June
2009

Congress Tracks (Scientific-Studies/Experience-based)
Track A: Understanding the Epidemic and Strengthening Prevention
Efforts
Track B: Strengthening Partnership for Treatment, Care, and Support
Track C: AIDS in Context: Understanding and Addressing Socio-Cultural,
Economic and Political Determinants
Track D: Leadership and Broadening
the Response

For online submission and more information, please visit the 9th ICAAP
website at www.icaap9.org


============
CALL FOR SKILLS BUILDING PROPOSAL
We encourage online submission through the congress website at
www.icaap9.org
Deadline for Online Proposal Submission: Sunday, 15 March 2009
Skills Building tracks:
  1. Leadership skills.
  2. Organizational development and management.
  3. Empowering infected and affected people to improve their quality of
life.
  4. Strategy and education skills on HIV prevention, care and supports.
  5. Resource mobilisations skills.

For online submission and more information, please visit the 9th ICAAP
website at www.icaap9.org


============
CALL FOR CULTURAL PERFORMANCE PROPOSAL
We encourage online submission through the congress website at
www.icaap9.org
Deadline for Online Proposal Submission: Sunday, 15 March 2009
For online submission and more information, please visit the 9th ICAAP
website at www.icaap9.org


============
CALL FOR SCHOLARSHIP APPLICATION
We encourage online submission through the congress website at
www.icaap9.org
Deadline for Scholarship Application: Thursday, 30 April 2009

Scholarship Category:
1. Community Scholarships
2. Scientific Scholarships (for healthcare professionals, researchers,
and/or graduate students) 3. Media Scholarships 4. Youth Scholarships

For online submission and more information, please visit the 9th ICAAP
website at www.icaap9.org


============
SEE YOU IN BALI!

9th ICAAP Secretariat:
Menara Eksekutif 8th Floor
Jalan MH Thamrin Kav. 9, Jakarta 10330
INDONESIA

Phone: +62 21 39838845/46
Fax: +62 21 39838847
Website: http://www.icaap9.org
Email. secretariat@...
--

#2976 From: Forum LSM <forumlsmpaj@...>
Date: Thu Jan 8, 2009 6:19 am
Subject: Yayasan Intermedika pindah kantor...
forumlsmpaj
Send Email Send Email
 
Info :

>
> Bersama ini kami beritahukan bahwa mulai tanggal 5 Januari
> 2009, Yayasan Inter Medika pindah kantor ke :
   HARMONI PLAZA A-28, Lt.2
> JAKARTA PUSAT - 10130
> Telp.:  98272195 / 63850618
> Fax.:   63850618
>
> Thx u

#2977 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Sat Jan 10, 2009 4:00 am
Subject: TB masa kanak-kanak - epidemi yang diabaikan (bagian 2)
wartaaids
Send Email Send Email
 
Pada Desember 2008, dimuat artikel HATIP pertama mengenai topik ini.
Sekarang baru dimuat artikel kedua.

Karena anak jarang mempunyai TB yang BTA-positif, diagnosis TB pada
anak tidak selalu menjadi prioritas untuk program TB. Tetapi dampak TB
pediatrik yang tidak didiagnosis dan tidak diobati terutama berat
karena anak lebih mungkin mengembangkan penyakit miliaria atau berat.
Sebagaimana dijelaskan di artikel ini, hal ini terutama benar untuk
anak yang lebih muda dan anak dengan HIV.

Oleh karena itu, mungkin adalah terbaik untuk anak terinfeksi atau
terpajan HIV bila pengasuhnya lebih berperan aktif dalam meluncurkan
proses diagnosis - dan belajar semaksimal mungkin mengenai riwayat
alami TB, spektrum pengungkapan klinis TB yang mungkin pada anak.
Sedikitnya, pemberi perawatan primer dan HIV harus mengetahui cukup
mengenai diagnosis TB agar mulai proses dengan cara yang tepat sebelum
anak terduga TB dirujuk lebih lanjut.

Baca artikel "HATIP 126: TB masa kanak-kanak (bagian 2): pengungkapan
dan diagnosis" dengan klik
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=0126>

Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163  Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>

#2978 From: Rico Gustav <rico.gustav@...>
Date: Sun Jan 11, 2009 8:45 am
Subject: Forward Berita
rico_gustav
Send Email Send Email
 
Hi semua,

Hanya ingin mem-forward sedikit berita saja. Dari Kompas Online. Mudah
mudahan bisa menjadi perhatian ­ terutama pada pernyataan ³ada juga pendonor
atau penderita HIV yang memang sengaja ingin menularkan virus HIV dengan
mendonor darahnya²

Cheers,

Rico Gustav

----------------------------------------------------------------------------

JAKARTA, RABU - Kepala Humas PMI Jakarta Timur  Eki Komala Sari, di Jakarta,
Rabu (31/12) mengatakan, banyak darah yang disumbangkan pendonor terindikasi
virus HIV dan angkanya cenderung meningkat satu persen per tahun.

"Kebanyakan para pendonor tidak mengetahui bahwa mereka terindikasi virus
HIV. Maka, kami selalu membuat surat rujukan ke rumah sakit untuk memeriksa
lebih lanjut dan darah yang disumbangkan langsung dimusnahkan."

"Tetapi ada juga pendonor atau penderita HIV yang memang sengaja ingin
menularkan virus HIV dengan mendonor darahnya. Bagusnya, petugas sudah
mengetahui hal ini, sehingga bisa dilakukan pencegahan," katanya.

Menurut Eki, saat ini PMI DKI Jakarta khususnya Jakarta Timur terus
melakukan pengawasan ketat terhadap darah yang masuk dengan alat pendeteksi
virus penyakit serta memeriksa kesehatan pendonor.

"Sebelum menyumbang darah, pendonor harus mengisi formulir dan memeriksa
kesehatan yang telah disediakan oleh PMI, dan jika darahnya terindikasi
penyakit, kami terpaksa menolaknya dan manfaat dari pendataan itu agar
sewaktu-waktu jika ingin mendonor darah lagi terlihat dari data sistem bahwa
ia mempunyai penyakit, dan kami akan menolaknya," tambahnya.

Ia menambahkan, selain virus HIV, penyakit lain yang perlu diwaspadai adalah
sifilis serta Hepatitis B dan C yang kerap ditemukan petugas, namun
frekuensinya lebih kecil dibandingkan terindikasi HIV.

Sementara itu, mengenai stok darah yang tersedia pada liburan panjang kali
ini, ia mengatakan stok darah masih cukup dan aman. Menurut dia, PMI
kekurangan darah pada saat bulan puasa dan permintaan darah meningkat saat
pascamusim hujan terutama ketika wabah demam berdarah dengue (DBD) meningkat.


[Non-text portions of this message have been removed]

#2979 From: "eka prahadian" <eprahadian@...>
Date: Sun Jan 11, 2009 1:57 pm
Subject: Fwd: [GYCA] Fwd: Announcements & Jobs
eprahadian@...
Send Email Send Email
 
---------- Forwarded message ----------
From: Rachel Jacobson <rachel@...>
Date: Sat, Jan 10, 2009 at 4:05 AM
Subject: [GYCA] Fwd: Announcements & Jobs
To: eka prahadian <eka@...>


FYI.

---------- Forwarded message ----------
From: Linda Hutjens
Date: Thu, Jan 8, 2009 at 5:04 PM
Subject: Announcements & Jobs
To: REPROHEALTHLAW-L@...

ANNOUNCEMENTS
Jan 7, 2009


ANNOUNCEMENTS

UN: General Assembly Addressed Sexual Orientation and Gender Identity
http://www.awid.org/eng/Women-in-Action/Announcements2/United-Nations-General-As\
sembly-Statement-Affirms-Rights-for-All
See also: http://www.iglhrc.org

New Website: UNIFEM East and Southeast Asia Office: "CEDAW in Action in
Southeast Asia"
http://www.awid.org/eng/Women-in-Action/Announcements2/New-Website-UNIFEM-East-a\
nd-Southeast-Asia-Office-CEDAW-in-Action-in-Southeast-Asia

The Next Face of Leadership on US Global AIDS Policy: Communities Speak Out
(Includes texts of Sign-On Letters to President-Elect Obama)
http://www.rhrealitycheck.org/blog/2008/12/23/the-next-face-leadership-us-global\
-aids-policy-communities-speak-out
PAI "white paper" on population & family planning for Obama transition team
http://www.populationaction.org/Issues/U.S._Policies_and_Funding/asset_upload_fi\
le267_7565.pdf
http://www.populationaction.org/Issues/U.S._Policies_and_Funding/transition.shtm\
l


EDUCATIONAL OPPORTUNITIES

Graduate Scholarships in Reproductive & Sexual Health Law
at the University of Toronto's Faculty of Law
for lawyers from developing countries
Application deadline is February 16, 2009.
http://www.law.utoronto.ca/visitors_content.asp?itemPath=5/12/12/0/0&contentId=4\
13
Application information:
http://www.law.utoronto.ca/prosp_stdn_content.asp?itemPath=3/7/0/0/0&contentId=2\
63

The International Fellowships Program (IFP) West Africa,
The Ford Foundation
http://www.aau.org/ifp/announce.htm

International Summer School on Human Rights
organized by the Helsinki Foundation for Human Rights
in Warsaw-Miedzeszyn, Poland, 20-27 June 2009
http://insanhaklarimerkezi.bilgi.edu.tr/pages/Announces_full.asp?id=55&r=1%2F7%2\
F2009+2%3A21%3A09+PM

International Courses at United Nations University
http://www.unu.edu/ic/

New LL.M in Global Health Law and International Institutions
Georgetown University Law Center and the ONeill Institute for National and
Global Health Law
http://www.law.georgetown.edu/graduate/IHEID.htm.

EVENTS

Global Symposium: "Engaging Men and Boys in Achieving Gender Equality"
March 30-April 03, 2009, Rio de Janeiro, Brazil,
http://www.engagingmen2009.org/

International Conference: "Ways of Implementing the EU Directives on
Violence against Women, Children and Youth: Good Practices and
Recommendations"
March 20-22, 2009  Ljubljana, Slovenia
http://www.awid.org/eng/Women-in-Action/Events-around-the-world/Int-l-Conference\
2


CALL FOR PARTICIPATION

Ugandan youth SRH education organization seeks volunteers
Health for Youth with Parents Involved, educates youth in Nansana, Wakiso,
Uganda
For more information, see:
http://www.heypi.com

NEW RESOURCES

A New Article/Resource: IRIN: "Sudan: It takes more than a law to stop the
cut "
A law passed in November 2008 prohibiting female genital mutilation/cutting
(FGM/C) in the state of Southern Kordofan is unique in Sudan. Need to
overcome deep-seated attitudes and misinformationhttp://
www.awid.org/eng/Women-in-Action/New-Resources/A-New-Article-Resource-IRIN-Sudan\
-It-takes-more-than-a-law-to-stop-the-cut

A New Resource: OSI: "International Women's Program Brochure"
http://www.soros.org/initiatives/women/articles_publications/publications/brochu\
re_20090105/brochure_20090105.pdf

A New Publication: UNIFEM: "Making the MDGs Work for All: Gender-Responsive
Rights-Based Approaches to the MDGs"
http://cedaw-seasia.org/resource_documents.html#makingmdgswork2

A New Resource: BAOBAB for Women`s Rights: Reproductive Health and Rights
Leaflet for women in Nigeria ­ 13 page legal literacy booklet
http://www.baobabwomen.org/health.pdf

New Resource/Interview: IPS: "Failure to Translate Women's Legal Rights into
Action"
Kristin Palitza (IPS) interviews Nokothula Magudulela, executive director,
Agenda Feminist Media.
http://www.awid.org/eng/Women-in-Action/New-Resources/A-New-Resource-Interview-I\
PS-Failure-to-Translate-Women-s-Legal-Rights-into-Action

Governments in southern Africa need to work harder at ARV treatment
scale-up, according to a new report from the Southern Africa Treatment
Access Movement (SATAMo).
http://www.aidsmap.com/en/news/13200B82-2704-4958-A0F3-BABE2F66C5E3.asp

Abortion and Mental Health: Separating Science from the Junk
http://www.rhrealitycheck.org/blog/2008/12/19/abortion-and-mental-health-separat\
ing-science-junk

Virginity Pledges Do Not Work, Yet Another Study Confirms
http://www.guttmacher.org/media/inthenews/2008/12/30/index.html

2008 Top Ten Wins for Women's Health | RHRealityCheck.org
http://www.rhrealitycheck.org/blog/2008/12/24/2008-top-ten-wins-wom...

Meeting report re:  HIV/AIDS and Human Rights Hearing at the European
Parliament, December 11 2008
http://www.stopaidsalliance.org/events/saa+human+rights+hearing

RH Reality Check Readers' 10 Favorite Stories of the Year |
RHRealityCheck.org
http://www.rhrealitycheck.org/blog/2008/12/19/rh-reality-check-read...

Peer education manuals for adolescents help them make informed decisions
about their sexual lives.
You, Your Life, Your Dreams can be downloaded at www.familycareintl.org, in
the following editions: English- speaking Africa (2000), French (2003),
Spanish (2007), English-speaking Caribbean (2008).

JOBS

Gender Senior Technical Advisor re HIV/AIDS/ EngenderHealth / Mozambique.
http://www.awid.org/eng/Jobs/Jobs-Around-the-World/Gender-Senior-Technical-Advis\
or

Sexual & Gender Based Violance (SGBV) Focal Point, Rule of Law, Darfur
Project / UNDP / Nyala, El Geneina and El Fasher, Sudan / Closing date:
January 05, 2009.
http://www.awid.org/eng/Jobs/Jobs-Around-the-World/Sexual-Gender-Based-Violance-\
SGBV-Focal-Point-Rule-of-Law-Darfur-Project

Human Rights Specialist / UNIFEM / New York, NY, USA / Closing date: January
09, 2009.
http://www.awid.org/eng/Jobs/Jobs-Around-the-World/Human-Rights-Specialist

Advocacy Consultant / UNIFEM / Belgrade, Serbia / Closing date: January 08,
2009.
http://www.awid.org/eng/Jobs/Jobs-Around-the-World/Advocacy-Consultant

Deputy Director, Head of Research & Policy Unit / The Canadian HIV/AIDS
Legal Network / Toronto, Ontario, Canada / Closing date: January 09, 2009.
http://www.awid.org/eng/Jobs/Jobs-Around-the-World/Deputy-Director2

Regional Coordinator, JASS Southern Africa / JASS (Just Associates) /
Location: Southern Africa / Closing date:  January 26, 2009.
http://www.awid.org/eng/Jobs/Jobs-Around-the-World/Regional-Coordinator-JASS-Sou\
thern-Africa

Many non-legal-oriented jobs regarding Women in Development can be emailed
to you weekly by AWID.  Sign up here:
http://www.awid.org/eng/Women-in-Action/Newsletters-Sign-Up

Other development oriented jobs are online at:
http://www.devex.com

---------------
Compiled by the Coordinator of the International Reproductive and Sexual
Health Law Programme, reprohealth.law@...
Our Website at: http://www.law.utoronto.ca/programs/reprohealth.html now
features a photo of Flavelle House in winter.

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

-www.youthaidscoalition.org-

E-Group Webpage (manage your settings, see message archives, etc):
http://groups.takingitglobal.org/gyca
Send a message: gyca@...
Subscribe: gyca-subscribe@...
Unsubscribe: gyca-unsubscribe@...


-------------------------------------------

* Powered By TIG Groups http://groups.takingitglobal.org/
* Group Archives: http://groups.takingitglobal.org/GYCA/messages/
* To unsubscribe, email GYCA-unsubscribe@...
* My subscription settings, GYCA-settings@...


[Non-text portions of this message have been removed]

#2980 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Mon Jan 12, 2009 12:00 am
Subject: ART sekali sehari; cocok untuk bulan puasa?
wartaaids
Send Email Send Email
 
Seperti kita mengetahui, saat ini ada beberapa rejimen terapi
antiretroviral yang dapat dipakai sekali sehari. Rejimen ini termasuk
yang mengandung tenofovir, 3TC, efavirenz, Kaletra/Aluvia (untuk yang
PI-naif), dan ddI. Rejimen tersebut dapat dibentuk dengan ARV yang
sudah tersedia di Indonesia, walau sebagian obat tersebut disediakan
sebagai bagian dari rejimen lini kedua.

Tambahan lagi, sudah disediakan fixed dose combination (FDC) yang
menyediakan ART satu pil sekali sehari. Yang terkenal adalah Atripla
(tenofovir + emtricitabine + efavirenz) versi paten, dan kombinasi yang
sama dari produsen generik di India, serta juga FDC mengandung
tenofovir, 3TC dan efavirenz, juga dari produsen generik di India.
Kemanjuran kombinasi ini hampir sama dengan Atripla. Harga FDC ini
melalui Clinton Foundation di bawah 300 dolar AS per pasien per tahun.

Jelas ART sekali sehari sangat penting buat kita pada bulan puasa.
Dengan penggunaan sekali sehari, teman-teman tidak harus ragu mengenai
perubahan jadwal penggunaan obat untuk menyesuaikannya dengan jadwal
puasa. Setiap tahun sebelum bulan Ramadhan, muncul keraguan antara Odha
yang beragama Islam. Sebagian besar ingin ikut puasa, tetapi takut akan
muncul resistansi bila mereka tidak memakai obat per 12 jam. Walau
kemungkinan besar, mereka tidak akan mengalami masalah, kita belum
mempunyai dasar bukti untuk menganjurkan jadwal obat yang sesuai dengan
jadwal puasa, dan tidak di luar kemungkinan akan muncul resistansi pada
sebagian kecil orang yang melakukan perubahan ini, karena perbedaan
metabolisme atau masalah lain. Yang lebih berbahaya lagi, ada
kemungkinan akan ada pengaruh pada kepatuhan saat kembali pada jadwal
semula pada Lebaran, apa lagi bila mudik.

Dengan ART sekali hari, semua keraguan ini dapat dilupakan. Obat ini
tidak harus dipakai per 24 jam, tetapi pas sebelum tidur, tidak
tergantung pada pukul berapa tidur.

Sebagai negara dengan populasi orang Islam yang terbesar di dunia, dan
mungkin dengan populasi orang Islam dengan HIV yang terbesar di dunia,
bukankah kita mempunyai peluang serta juga kewajiban untuk memelopori
solusi ini pada masalah yang dihadapi oleh warga beragama Islam ini?
Memang ada beberapa tantangan, tetapi dengan bantuan oleh Yang Maha
Kuasa, saya yakin kita dapat mencari solusi. Oleh karena itu, saya
memberanikan diri untuk mengangkat hal ini, agar dapat dibahas secara
lebih dalam, dengan harapan mungkin dapat ditawarkan pilihan ART sekali
sehari sebelum bulan puasa pada 2009.

Saya sudah menyebarkan gagasan ini kepada sejumlah orang pakar yang
terbatas, tetapi sayangnya hanya ada satu yang menyikapinya...

Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163  Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>

#2981 From: "Pengelola www.aids-ina.org" <administrator@...>
Date: Mon Jan 12, 2009 1:39 am
Subject: Kliping Media Masa Terbaru di www.aids-ina.org
komunitasaid...
Send Email Send Email
 
Kumpulan Berita Media Massa
HIV-AIDS dan Narkoba
Dari Tanggal: 5 January 2009 Sampai Tanggal: 12 January 2009

   _____





1. Penderita HIV Meregang Nyawa

Jawa Pos, 8 Januari 2009
DENPASAR - Memasuki tahun 2009, korban HIV/AIDS muncul di RSUP Sanglah.
Seorang warga Denpasar yang tinggal di Jalan Pulau Lingga, berinisial ML,
25, didiagnosa positif suspect HIV/AIDS.

Selengkapnya:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=876>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=876

   _____


2. Anggaran untuk Penderita HIV/AIDS Membengkak

Jawa Pos, 7 Januari 2009
SEMARANG - Jumlah penderita HIV/AIDS yang terus meningkat menimbulkan
implikasi sosial yang luas. Penderita yang makin bertambah dikhawatirkan
menimbulkan beban anggaran negara yang cukup besar untuk biaya
pengobatannya. Setidaknya, butuh dana hingga Rp 103 miliar untuk biaya
pengobatan sekitar 8.056 penderita HIV/AIDS di Jateng.

Selengkapnya:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=875>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=875

   _____


3. Soap opera lesson to fight AIDS

The Jakarta Post, 7 January, 2009
"Hey baby, you OK?" Mike asks his girlfriend as she sits down next to him.

Selengkapnya:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=874>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=874

   _____

Pengelola aids-ina.org

A better way in strengthening strategic information to guide a more
effecctive

Dukung dan kunjungi terus  <http://www.aids-ina.org/>
<http://www.aids-ina.org/> www.aids-ina.org





[Non-text portions of this message have been removed]

#2982 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Mon Jan 12, 2009 4:33 am
Subject: Pembuatan abstrak untuk ICAAP ke-9
wartaaids
Send Email Send Email
 
Kami baru membuat dan mengupload dua dokumen terkait ICAAP:

Kongres Internasional AIDS di Asia dan Pasifik ke-9: Pengajuan
abstrak</a> diterjemahkan dari situs web ICAAP ke-9 - klik
<http://spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=1066>

dan

Pedoman pembuatan abstrak - Petunjuk untuk membuat abstrak, terutama
untuk ICAAP ke-9 - klik
<http://spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=1067>
Pedoman ini juga lengkap dengan presentasi PowerPoint untuk
lembaga/kelompok yang berencana membuat pelatihan pembuatan abstrak
untuk anggotanya.

Semoga dokumen ini akan membantu teman-teman yang ingin mengikuti
ICAAP...

Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163  Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>

#2983 From: RICK PARRY <indah737@...>
Date: Wed Jan 14, 2009 1:00 am
Subject: Bls: [aids-ina] Forward Berita
indah737
Send Email Send Email
 
sebenernya permasalahannya lebih dalam dari itu. pernah dibahas di milisnya ini
sebelumnya. tapi kayaknya belum ada solusinya. belum menghasilkan sistem yg
solid buat PMI untuk mendeteksi darah yg terkontaminasi. PMI menskrening semua
darah. tapi masalahnya gimana dengan pendonor yag hiv+  yg masih dalam window
period?, hivnya belum terdeteksi dengan test. itu yg berbahaya sebenarnya.  ada
yang tau gak, penanganan darah di negara2 maju seperti AS dan eropa gimana?
bagaimana mereka menangani masalah darah dari pendonor darah  hiv+ yg masih
dalam window period? ada makalah /jurnal ilmiah tentang masalah ini? yg punya
bisa dikirim ke milis. ini masalah yg krusial. kalo ini diatasi, penularan lewat
tranfusi bisa ditekan hingga nol.

--- Pada Ming, 11/1/09, Rico Gustav <rico.gustav@...> menulis:
Dari: Rico Gustav <rico.gustav@...>
Topik: [aids-ina] Forward Berita
Kepada: "AIDS INA" <aids-ina@yahoogroups.com>, "WARTA AIDS"
<wartaaids@yahoogroups.com>
Tanggal: Minggu, 11 Januari, 2009, 3:45 PM











             Hi semua,



Hanya ingin mem-forward sedikit berita saja. Dari Kompas Online. Mudah

mudahan bisa menjadi perhatian ­ terutama pada pernyataan ³ada juga pendonor

atau penderita HIV yang memang sengaja ingin menularkan virus HIV dengan

mendonor darahnya²



Cheers,



Rico Gustav



------------ --------- --------- --------- --------- --------- -



JAKARTA, RABU - Kepala Humas PMI Jakarta Timur  Eki Komala Sari, di Jakarta,

Rabu (31/12) mengatakan, banyak darah yang disumbangkan pendonor terindikasi

virus HIV dan angkanya cenderung meningkat satu persen per tahun.



"Kebanyakan para pendonor tidak mengetahui bahwa mereka terindikasi virus

HIV. Maka, kami selalu membuat surat rujukan ke rumah sakit untuk memeriksa

lebih lanjut dan darah yang disumbangkan langsung dimusnahkan. "



"Tetapi ada juga pendonor atau penderita HIV yang memang sengaja ingin

menularkan virus HIV dengan mendonor darahnya. Bagusnya, petugas sudah

mengetahui hal ini, sehingga bisa dilakukan pencegahan," katanya.



Menurut Eki, saat ini PMI DKI Jakarta khususnya Jakarta Timur terus

melakukan pengawasan ketat terhadap darah yang masuk dengan alat pendeteksi

virus penyakit serta memeriksa kesehatan pendonor.



"Sebelum menyumbang darah, pendonor harus mengisi formulir dan memeriksa

kesehatan yang telah disediakan oleh PMI, dan jika darahnya terindikasi

penyakit, kami terpaksa menolaknya dan manfaat dari pendataan itu agar

sewaktu-waktu jika ingin mendonor darah lagi terlihat dari data sistem bahwa

ia mempunyai penyakit, dan kami akan menolaknya," tambahnya.



Ia menambahkan, selain virus HIV, penyakit lain yang perlu diwaspadai adalah

sifilis serta Hepatitis B dan C yang kerap ditemukan petugas, namun

frekuensinya lebih kecil dibandingkan terindikasi HIV.



Sementara itu, mengenai stok darah yang tersedia pada liburan panjang kali

ini, ia mengatakan stok darah masih cukup dan aman. Menurut dia, PMI

kekurangan darah pada saat bulan puasa dan permintaan darah meningkat saat

pascamusim hujan terutama ketika wabah demam berdarah dengue (DBD) meningkat.



[Non-text portions of this message have been removed]



























       Apa dia selingkuh? Temukan jawabannya di Yahoo! Answers.
http://id.answers.yahoo.com

[Non-text portions of this message have been removed]

#2984 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Wed Jan 14, 2009 2:36 pm
Subject: Laporan Simposium HIV Internasional Bangkok ke-12 hari pertama
wartaaids
Send Email Send Email
 
Saya saat ini mengikuti Simposium Bangkok HIV HIV-NAT ke-12 di Bangkok.
Seperti biasa, saya akan melaporkan kesan utama saya secara langsung
setiap hari pada milis ini. Jadi ini laporan dari hari pertama.

1. Patogenesis HIV. Presentasi pertama oleh Prof. Richard Koup dari
NIH, AS, agak sulit dipahami oleh saya. Salah satu pertanyaan yang
diangkat adalah mengapa ada OI yang dapat muncul dengan jumlah CD4 yang
tinggi (mis. TB), sementara yang lain hanya muncul dengan CD4 rendah
(mis. CMV). Koup juga membahas alasan sel CD4 di usus hilang lebih
cepat daripada sel CD4 di tempat lain di tubuh.

Pesan: sel CD4 sangat beraneka ragam, dan tanggapannya pada HIV juga
berbeda. Penelitian ke depan harus lebih fokus pada perbedaan ini.

2. Strategi untuk mulai ART. Presentasi ini oleh Prof. Kiat sangat
luas. Pedoman mengenai kapan sebaiknya mulai ART berdasarkan penelitian
kohort, bukan uji coba klinis terkontrol. Namun penelitian di HIVNAT
didukung oleh 3.983 pasien-tahun pemantauan menunjukkan bahwa tidak ada
manfaat yang bermakna bila mulai ART dengan CD4 250 dibandingkan 200.
Yang penting, rejimen lini pertama harus rejimen yang terbaik, serta
juga dukungan untuk kepatuhan pada rejimen itu. Tes viral load harus
lebih terjangkau sehingga semua pengguna ART dapat dipantau secara
berkala. Antara lain, dengan laporan berkala mengenai jumlah pasien
dengan viral load tidak terdeteksi, keberhasilan dukungan kepatuhan
oleh masing-masing rumah sakit dapat dibandingkan dan diurutkan.

Prof Kiat juga membahas takaran khusus untuk orang Asia. Misalnya,
HIVNAT sudah membuktikan bahwa 50mg ritonavir (separuh dari yang baku)
adalah cukup untuk menguatkan PI untuk orang Thai, Ternyata juga,
takaran AZT berdasarkan pedoman di Thailand ada 200mg, dibandingkan
300mg yang baku. Dibutuhkan lebih banyak penelitian terhadap takaran
ARV lain untuk orang Asia, untuk mengurangi efek samping dan biaya.

3. Gelombang kedua: Bagaimana menangani kegagalan lini pertama. Prof.
David Cooper menyatakan bahwa lini kedua sangat penting, karena tidak
mungkin ada lini ketiga dalam pendekatan kesehatan masyarakat - setelah
lini kedua, rejimen harus dirancang secara khusus berdasarkan pola
resistansi, dan pasti akan sangat mahal, dengan memakai ARV yang belum
tersedia di kebanyakan negara. Namun pasien sering tetap memakai
rejimen lini pertama yang gagal untuk jangka waktu yang lama, dengan
akibat pasien mengalih pada lini kedua dengan tingkat resistansi
terhadap NRTI yang tinggi - lebih dua tiga mutasi terhadap NRTI (NAM)
akan memperburuk kemanjuran semua NRTI lain. Umumnya ini berarti lini
kedua secara efektif adalah monoterapi. Dalam hal ini, tidak ada
manfaat terus memakai NRTI pada lini kedua; hanya menambah biaya dan
toksisitas.

Oleh karena itu, Prof Cooper mengusulkan dirancang rejimen lini kedua
dari PI yang dikuatkan plus raltegravir (integrase inhibitor baru).
Rejimen ini mudah dipakai, tidak rumit, dan lebih cocok untuk
pendekatan kesehatan masyarakat. Saat ini dirancang uji coba klinis
terhadap rejimen ini, dengan 90% peserta diharapkan dari negara
berkembang - apakah ada kemungkinan Indonesia dapat terlibat?

Selain itu, juga penting rejimen lini pertama diubah untuk menjadi
lebih efektif jangka panjang dan lebih mudah ditahan, bukan hanya yang
termurah. Pasti ini termasuk AZT/d4T diganti dengan tenofovir/abacavir.

4. Merancang rejimen dan memakai golongan ARV baru pada pasien yang
sangat berpengalaman ART. Prof Bernard Herschel, pendorong 'terapi
adalah pencegahan', membahas penggunaan darunavir (PI baru), etravirine
(NNRTI baru), raltegravir (integrasi inhibitor baru) dan Maraviroc
(CCR5 inhibitor baru). Maraviroc ternyata tidak akan memberi manfaat
seperti diharapkan, karena obat lain lebih baik, lebih mudah dipakai,
efektif terhadap semua virus (maraviroc hanya efektif terhadap virus
yang memakai koreseptor CCR5) dan membutuhkan tes Trofile yang mahal
untuk memastikan apakah virus cocok sebelum ARV ini dipakai.
Sebaliknya, darunavir + etravirine sangat efektif terhadap virus yang
sangat resistan terhadap ARV lain, sementara bila ditambah raltegravir,
lebih dari 90% pengguna, walau dengan virus yang sangat resistan,
mencapai viral load tidak terdeteksi. Apakah ini rejimen lini ketiga
yang dicari oleh Prof Cooper? Prof Herschel berpendapat begitu, dan
meramalkan harganya dapat terjangkau.

5. Tantangan perawatan HIV untuk anak dan remaja. Annette Sohn dari
Treat Asia mengingatkan kami mengenai usulan dari WHO agar semua bayi
terinfeksi HIV berusia di bawah 12 bulan diberi ART, berdasarkan tes
PCR yang dilakukan pada usia 4-6 minggu. Tetapi hanya sedikit negara
melakukan tes itu (walau sekarang dapat dilakukan dengan dried blood
spot). Mungkin masalah terbesar adalah kemampuan untuk memberi
perawatan pediatrik. Tetapi juga jangkau PMTCT di hampir semua negara
di Asia (termasuk Indonesia) di bawah 25%. Dibutuhkan jauh lebih banyak
perhatian pada masalah TB pada anak - di Afrika Selatan ada hampir
1.600 kasus TB per 100.000 anak dengan HIV dibandingkan 60 untuk yang
HIV-negatif. Juga anak di Asia yang sudah memakai ART juga mulai gagal
terapi lini pertama - harus ada lebih banyak perhatian pada menentukan
kegagalan ART pada anak serta mengusulkan lini kedua - usulan dipakai
abacavir sulit diterapkan karena umumnya ARV itu tidak terjangkau. Oleh
karena itu, efektifnya NRTI dari lini pertama tetap dipakai pada lini
kedua.

Masalahnya adalah ada keraguan dengan penggunaan tenofovir (TDF) pada
anak, akibat risiko masalah ginjal dan tulang. Hanya ada sedikit
pengalaman dengan penggunaan TDF pada anak, tetapi ternyata yang
memakainya tampaknya tidak mengalami masalah ginjal. Tampaknya mungkin
manfaat TDF lebih besar daripada masalahnya. Alternatif yang
ditelitikan di Thailand adalah penggunaan dua PI yang dikuatkan, yaitu
LPV/r + saquinavir. Hasilnya cukup baik, dan efek samping tampaknya
tidak terlalu berat.

Semakin banyak anak terinfeksi HIV dari ibu di Asia menjadi semakin
tua, dan masuk masa remaja. Akan muncul semakin banyak dukungan
sebagaimana anak transisi ini, yang sampai saat ini belum begitu
diperhatikan. Proporsi anak lebih tua dengan HIV akan meningkat, dan
kepatuhan cenderung menurun pada masa remaja. Kapan saat terbaik untuk
menyampaikan status? Dr Sohn mengusulkan harus ada pengungkapan
sebagian mulai pada usia enam tahun, dengan penuh pada 14 tahun.
(Setelah presentasi, saya ngobrol dengan Dr Sohn, dan dia setuju agar
pengungkapan lebih cepat, khususnya dalam keadaan ada risiko penggunaan
narkoba.) Thailand sudah membuat Disclosure Toolkit, yang sedang
diterjemahkan menjadi bahasa Inggris dengan bantuan MSF - mungkin ini
dibutuhkan buat kita di Indonesia. Yang jelas, masalah remaja
terinfeksi HIV dari ibu akan menjadi tantangan yang semakin besar di
Indonesia.

6. Membongkar mitos. Mark Boyd membahas lima 'mitos' terkait dengan
ART: PI bertanggung jawab untuk dislipidemia; PI bertanggung jawab
untuk resistansi insulin; PI bertanggung jawab untuk risiko masalah
jantung; analog timidin menyebabkan lipodistrofi; dan analog timidin
lebih mungkin terkait dengan masalah jantung daripada non-timidin
analog NRTI. Ternyata walau mitos ini tidak semuanya 'salah',
masalahnya lebih rumit. Sedikitnya sebagian dari semua masalah ini
disebabkan oleh HIV sendiri. Sebagian karena penuaan Odha. Sedikitnya
sebagian bukan terkait golongan melainkan obat tertentu dalam golongan.
Banyak yang dianggap 'benar' beberapa tahun yang lalu sekarang
diketahui salah. Penting kita menafsir hasil penelitian secara kritis
dan dengan otak terbuka.

7. Tenofovir. Tahun lalu ada sesi makan siang yang membahas penggunaan
tenofovir. Tahun ini ada sesi serupa, sekali lagi didukung oleh Gilead
(produsen obat itu), tetapi tahun ini dengan presentasi oleh Prof David
Cooper dan Lektor Jintanat. Sekali lagi, masalah toksisitas ginjal
akibat tenofovir dibahas, tetapi tahun ini agak diabaikan. Walau
begitu, Jintanat menyetujui bahwa tes fungsi ginjal, termasuk
(terpenting) creatinine clearance dan eGFR HARUS dilakukan sebelum
tenofivir dimulai dan setiap tiga bulan setelahnya - sama dengan yang
saya laporkan tahun lalu - apakah sudah diterapkan di Indonesia?
(Setelah sesi dalam ngobrolan dengan Chris Duncombe dan Phillipe Seur.
Mereka melaporkan kasus toksisitas ginjal, walau jarang, tetapi yang
dapat gawat, termasuk dua kasus yang menimbulkan kegagalan ginjal
sehingga harus cuci darah terus-menerus. Juga ada semakin banyak kasus
orang dengan fungsi ginjal kurang pada awal sehingga takaran ARV harus
dikurangi. Sebaiknya kita tidak mengabaikan masalah ini!)

8. Studi kasus. Sesi setelah makan siang mempresentasi beberapa studi
kasus. Pada setiap langkah, peserta diminta memilih satu dari beberapa
jawaban pilihan pada pertanyaan, dengan memakai alat 'voting'
elektronik. Saya ikut sesi mengenai manajemen kasus pediatrik, dengan
empat kasus disampaikan. Pada kasus mengenai TB pada anak berusia 14
bulan dengan HIV, dibahas masalah ARV apa yang dapat dipakai bersama
dengan rifampisin. Nevirapine sebaiknya tidak dipakai karena interaksi,
tetapi saat ini efavirenz tidak disetujui untuk anak berusia di bawah 3
tahun atau dengan berat bada di bawah 10kg. Namun alternatif yang
diusulkan oleh WHO (abacavir) jarang terjangkau, dan mungkin kurang
manjur. Dalam kasus nyata ini, solusi adalah untuk memakai efavirenz,
dan ternyata ada beberapa peserta yang melaporkan pernah memakainya
'off-label' untuk anak berusai di bawah tiga tahun. dengan tablet
dibuat puyer (diusulkan jangan pakai sirop) dengan takaran 15-20mg/kg.
Satu alternatif lain yang juga dipakai adalah untuk mengganti
rifampisin dengan ofloksasin (10mg/kg, 1x/hari) pada fase intensif dan
lanjutan.

Pada kasus yang membahas rejimen lini kedua pada anak usia 10 tahun,
dengan dilakukan genotipe yang membukitkan ada empat NAM dan banyak
mutasi lain (akibat penggunaan AZT/3TC) dual terapi selama lebih dari
lima tahun, ditambah efavirenz (yang langsung gagal), ada usulan untuk
memakai Aluvia + 3TC + AZT + TDF - tetap memaki AZT karena membuat
virus lebih rentan terhadap TDF.

Jelas, walau agak panjang, laporan hanya membahas sebagian kecil dari
apa yang dibahas hari ini. Ada juga sesi studi kasus paralel mengenai
manajemen kasus orang dewasa, yang diikuti oleh Caroline dan Rika,
dengan laporan yang menyusul.

Besok ada sesi mengenai obat generik, kesehatan reproduksi, kanker AIDS
dan non-AIDS, HIV dan TB, serta debat mengenai kapan mulai ART.. Saya
mencoba laporkan lagi besok malam. Sementara, bila ada pertanyaan atau
laporan ini tidak jelas, silakan minta penjelasan...

Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163  Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>

#2985 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Thu Jan 15, 2009 12:20 am
Subject: Laporan Penggunaan ART sd Desember 2008
wartaaids
Send Email Send Email
 
Laporan berikut diperoleh dari Depkes - terima kasih Drg. Dyah

Situasi Pengobatan ARV di Indonesia - laporan yang disahihkan dari
150 rumah sakit, Desember 2008 (angka dalam kurung dari 90/124 rumah
sakit: laporan 31 Desember 2007):

Masuk dalam perawatan HIV             36.628 100%    (24.238 100%)
Belum memenuhi syarat medis           13.268  36,2%  ( 9.151  37,8%)
                                      -------
Memenuhi syarat medis                 23.360  63.8%  (15.087  62.2%)
Belum mendapat terapi ARV              5.480  23.5%  ( 3.517  23,3%)
                                       ------
Pernah menerima ART                   17.880  76,5%  (11.570  76,7%)

Meninggal                              3.612  20,2%  ( 2.642  22,8%)
Mangkir                                2.005  11,2%  ( 1.250  10,8%)
Berhenti                                 649   3,6%  (   322   2.8%)
Transfer ke luar                         998   5,6%  (   703   6,1%)
                                        -----
Masih menerima ART                    10.616  59,4%  ( 6.653  57,5%)

Terapi ARV Lini 1 Orisinal             8.444  79,5%  ( 5.302  79,7%)
Terapi ARV Substitusi dari Lini 1      1.994  18,8%  ( 1.309  19,7%)
Switch [Pengalihan ke lini 2]            178   1,7%  (    41   0,6%)

--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163  Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>

#2986 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Thu Jan 15, 2009 1:59 pm
Subject: Laporan Simposium HIV Internasional Bangkok ke-12 hari kedua
wartaaids
Send Email Send Email
 
Saya saat ini mengikuti Simposium Bangkok HIV HIV-NAT ke-12 di Bangkok.
Saya akan melaporkan kesan utama saya secara langsung setiap hari pada
milis ini. Jadi ini laporan dari hari kedua.

1. Obat generik: akses, kemanjuran dan mutu. Andrew Hill dari Liverpool
University menyatakan bahwa saat ini kurang lebih 3 juga orang dengan
HIV memakai ARV generik, lebih dari 75% dari ARV yang dipakai di dunia.
Oleh karena itu, adalah penting membuktikan bahwa semua ARV generik
menyediakan tingkat farmakokinetik (PK) yang benar - bila rendah,
kemungkinan akan muncul resistansi, Saat ini ada 91 produsen ARV
generik yang disetujui oleh WHO, dan banyak [termasuk Kimia Farma (KF)]
yang tidak. ARV yang paling laku adalah kombinasi tetap (FDC)
d4T/3TC/nevirapine, yang sekarang tersedia dengan harga 87 dolar AS per
pasien per tahun.

Hill menjelaskan konsep "PK bridge (jembatan PK)" yang menghubungkan
kemanjuran obat generik dengan kemanjuran obat asli yang disetujui
berdasarkan uji coba klinis. Dengan PK bridge, tidak harus dilakukan
uji coba lagi; persetujuan asli dipakai untuk membuktikan kemanjuran
obat generik, asal obat generik persis sama (bioequivalent) dengan obat
paten. Produsen generik harus mendapat persetujuan dari FDA AS atau
WHO. Namun ada beberapa produsen yang tidak mendapatkan persetujuan
tersebut, dan muncul keraguan mengenai kemanjurannya. Ada beberapa
masalah yang dapat muncul, termasuk uji coba PK yang tidak diterbitkan,
dll. [Muncul pertanyaan: apakah semua persyaratan diikuti oleh KF, dan
kalau ya, apakah dapat dibuktikan, serta dokumen dapat diakses oleh
kita?]

NRTI/NNRTI agak mudah dibuat dibandingkan PI, dan ini alasan harga PI
generik masih tinggi. Yang menarik, pembuatan raltegravir (integrase
inhibitor baru) sangat mudah, sehingga biaya pembuatan seharusnya
sangat murah, paling 1 dolar per hari!

Ada beberapa ARV yang disetujui dengan takaran sangat tinggi, dan ada
bukti bahwa takaran yang jauh lebih rendah cukup, khusus untuk orang
Asia dengan berat badan rendah. Misalnya, raltegravir disetujui dengan
400mg dua kali sehari, tetap dalam uji coba, 100mg cukup, jadi harga
kemungkinan dapat ditekankan di bawah 100 dolar per tahun.

2. Kesehatan reproduksi sebelum dan sesudah infeksi HIV. Helen Rees
dari Afrika Selatan meninjau topik yang sangat luas ini, dan laporan
saya tidak dapat membahas semuanya. Antara lain, ada harapan baru untuk
kondom perempuan: penelitian menunjukkan bahwa kondom itu diterima
cukup luas, hanya harganya terlalu tinggi. Tetapi pada Desember 2008
FDA AS menyetujui versi FC2 yang jauh lebih murah.

Kebanyakan penelitian tidak menunjukkan penularan HIV yang lebih tinggi
akibat penggunaan kontraseptif hormon, kecuali di populasi berisiko
tinggi mis. pekerja seks, dan juga menyamankan mengenai penggunaannya
oleh perempuan HIV-positif,

Rees membahas masalah pasangan diskordan (satu HIV-positif, satu
negatif) yang ingin mendapatkan anak. Alternatif bila laki-laki yang
positif dengan melakukan hubungan seks tanpa kondom pada saat perempuan
paling subur adalah "relatif aman dan efektif biaya", asal viral load
laki-laki tidak terdeteksi dan jumlah CD4 di atas 400. Tetapi penting
pasangan diberi konseling mengenai pilihan, dengan layanan sesuai
diberi pada perempuan yang ingin menjadi hamil bahkan di rangkaian
sumber daya terbatas.

3. Kanker AIDS dan non-AIDS di era ART. Andrew Grulich menyatakan bahwa
ada dua penyebab mungkin mengapa banyak jenis kanker terjadi dengan
tingkat lebih tinggi pada Odha, termasuk kanker bibir, perut, hati,
anal, dan kulit). Apakah hal ini disebabkan langsung oleh kerusakan
kekebalan, atau oleh pola hidup Odha (yang cenderung merokok, konsumsi
alkohol berlebihan, dan terpajan IMS dan virus diangkat darah lain)?
Orang yang dicangkok ginjal harus memakai obat menekan kekebalan terus-
menerus agar ginjal baru tidak ditolak oleh sistem kekebalan, jadi
mereka serupa dengan Odha dalam hal kekebalan, tetapi biasanya tidak
dalam hal pola hidup. Ternyata mereka juga menjadi lebih rentan
terhadap beberapa jenis kanker, serupa dengan Odha. Oleh karena itu,
diambil kesimpulan bahwa beberapa jenis kanker 'non-AIDS' memang
dibiarkan oleh kerusakan kekebalan.

Tetapi tidak semua, dan tidak dengan cara yang sama. Ada yang jauh
lebih sering terjadi dengan CD4 yang sangat rendah, mis. NHL dan KS.
Ada juga yang lebih sering terjadi dengan CD4 yang lebih tinggi, mis.
limfoma Hodgkin. Dan yang lain tidak terpengaruh oleh CD4, mis. kanker
dubur. Sebaliknya, risiko munculnya beberapa jenis kanker berkurang
sebagaimana jumlah CD4 naik dengan penggunaan ART, tetapi tidak semua.
Misalnya, kanker dubur tetap terjadi. Tidak jelas ada manfaat melakukan
tes Pap pada dubur, karena hasil sering salah sehingga biaya untuk tes
lanjutan bengkak, dan juga karena sayangnya tidak ada terapi yang
berhasil untuk pra-kanker dubur.

4. Peluang dan tantangan untuk perawatan HIV dalam epidemi HIV dan TB
yang tumpang tindih. Prof Diane Havlir pertama membahas terapi
pencegahan isoniazid (IPT), yang diusulkan oleh WHO untuk Odha tetapi
hanya dipakai oleh 25.000 Odha sejak 2005. Ada banyak alasan:
menyingkirkan TB aktif; kekhawatiran meningkatkan resistansi; TB laten
yang resistan terhadap isoniazid; toksisitas; petugas layanan kesehatan
yang terlalu sibuk; kepercayaan dokter; dan isoniazid hanya tersedia
melalui program TB. Ada beberapa tes baru yang dapat menentukan TB
aktif, terutama beberapa macam Nucleic Acid Amplification Test (NAAT),
yang mampu deteksi TB dan menentukan mutasi yang umum, serta mengurangi
risiko penularan TB pada petugas. Havlir juga membahas pengendalian
infeksi - infeksi TB ditularkan dalam sarana kesehatan dari pasien ke
pasien - dan hal ini "tidak boleh diterima". Petugas layanan kesehatan
lima kali lebih mungkin tertular TB dibandingkan masyarakat umum.
"Semua orang harus mengadvokasikan mengenai pengendalian infeksi."

Terkait interaksi antara rifampisin dengan NNRTI, penelitian tidak
mendukung peningkatan takaran efavirenz atau nevirapine bila dipakai
bersamaan dengan rifampisin, tetapi mungkin sebaiknya nevirapine
dimulai dengan takaran penuh daripada separuh untuk dua minggu pertama
seperti biasa.

Havlir menyimpulkan: penggunaan IPT, ART dan pengendalian infeksi dapat
mengurangi beban TB pada Odha; ART dengan efavirenz tetap rejimen
terbaik untuk dipakai bersama dengan obat TB, tetapi ada manfaat mulai
ART lebih dini; penelitian dibutuhkan terhadap pilihan ART lini
kedua/ketiga untuk dipakai dengan obat TB; dan TB-MDR dan XDR mengancam
keberhasilan ART.

5. Debat heboh: "Apakah sebaiknya ART dimulai lebih dini pada pasien
tanpa gejala", dengan Bernard Hirschel/Diane Havilir mendukung dan Sean
Emery/Andrew Hill melawan. Tim mendukung mengangkat bahwa sekarang
terapi HIV lebih sederhana, lebih mudah dipakai dan kurang toksik. Bila
dimulai lebih dini, dengan CD4 di atas 250 walau tidak bergejala,
kematian dicegah; komplikasi AIDS dicegah; TB dicegah; kesehatan
dilindungi (mengurangi risiko hati, jantung, ginjal, kanker); dan
masalah kognitif dikurangi. Dari sisi kesehatan masyarakat, ART adalah
upaya pencegahan, sebagaimana Hirschel dkk menunjukkan pada 'Pernyataan
Swiss', dengan hasil mengurangi biaya kesehatan jangka panjang, dan
berpotensi memberantas epidemi HIV dalam dua atau tiga generasi.

Tim melawan beranggapan bahwa biaya saat ini pasti terlalu besar dan
tidak akan didanai, bahwa tidak mungkin layanan kesehatan di negara
berkembang dapat ditingkatkan begitu cepat, dan usulan untuk mulai
lebih dini tidak relevan, karena saat ini, walau dengan usulan dimulai
saat CD4 di bawah 200, kebanyakan orang di negara berkembang baru mulai
rata-rata dengan CD4 80. Yang lebih penting adalah mendorong orang
untuk mulai sesuai dengan pedoman.

Sebelum debat, berdasarkan voting elektronik,, lebih banyak peserta
mendukung pernyataan. Tetapi setelah debat, ternyata lebih banyak
setuju untuk tidak mengubah kebijakan untuk mulai dengan CD4 di bawah
200.

6. Terapi PI. Sesi makan siang, didukung oleh BMS, dipresentasikan oleh
Prof David Cooper (lagi! kemarin dia didukung oleh Gilead untuk
mendorong penggunaan tenofovir; hari ini mendorong penggunaan
atazanavir). Ternyata atazanavir lebih baik daripada Kaletra (dibuat
oleh Abbott), tetapi kesimpulan adalah PI dikuatkan ritonavir
(sayangnya, dibuat Abbott!) adalah manjur dalam kombinasi dengan dua
NRTI untuk lini pertama, dan dengan obat lain untuk terapi selamatan.
Tidak ada berita yang benar-benar baru.

7. Lokakarya: Masalah pengobatan di rangkaian terbatas sumber daya.
Studi kasus mengenai meningitis kriptokokus agak rumit. Pungsi lumbal
sering dibutuhkan baik untuk diagnosis, maupun untuk mengurangi tekanan
cairan tulang belakang (CSF) - apakah kita umumnya lakukan di
Indonesia?

Kasus kedua diberi judul 'Apakah d4T aman?'. Dibahas masalah neuropati
(PN), lipoatrofi dan toksisitas mitokondria. PN dapat disebabkan oleh
HIV sendiri, serta juga oleh obat, terjadi lebih tinggi dengan CD4 yang
semakin rendah, sehingga kasus hampir sama pada orang yang belum mulai
ART dan yang memakai ART dengan d4T. Penelitian menunjukkan PN paling
mungkin terjadi dalam enam bulan pertama penggunaan d4T, walau
tampaknya kita lebih sering mengalami setelah satu tahun. Lipoatrofi
(kehilangan lemak dari pipi dan kaki) juga lebih sering terjadi dengan
CD4 rendah, tetapi jelas dipicu terutama oleh d4T, dan sulit
dipulihkan. AZT juga menyebabkan lipoatrofi tetapi dengan tingkat yang
jauh lebih rendah. Namun mengganti d4T dengan AZT tidak akan
memulihkannya - yang berhasil untuk memulihkan adalah tenofovir. Apakah
ada manfaat mulai ART dengan d4T (yang cenderung lebih nyaman pada
awal), terus menggantinya dengan AZT setelah enam bulan, setelah CD4
sudah mulai meningkat? Baru dimulai uji coba oleh HIVNAT (SEARCH003)
yang diharapkan akan memberi jawaban. Menarik satu peserta dari Kamboja
menunjukkan bahwa, walau d4T baru diganti dengan AZT setelah 18 bulan,
tetap ada banyak kasus anemia di antara orang ini setelah mulai AZT.

[Terkait dengan ini: muncul pertanyaan yang diangakt tahun lalu:
mengapa kita TETAP memakai takaran AZT 300mg? AZT diseteujui oleh WHO
dengan takaran 250mg, dan di Thailand dipakai 200mg, sesuai dengan
pedoman nasionalnya. Dengan menurunkan takaran kita dapat mengurangi
kejadian anemia, sekaligus mengurangi biaya - kok ini tidak masuk
akal?]

Kasus ketiga diberi judul 'Apakah pasien ini TB atau MAC? Apakah
penting?'. Sekali lagi agak rumit, dan menekankan kebutuhan akan biakan
darah untuk diagnosis MAC - BTA tidak membedakannya dari TB. Dibilang
MAC jarang terjadi di Asia [apakah ini pengalaman di Indonesia? Memang
tidak ada di daftar IO dari Depkes. Atau hanya sulit didiagnosis?].
Diusulkan kasusnya diobati seolah TB, tetapi bila terapi tidak berhasil
setelah 2-3 minggu, masih ada anemia, demam, diare, menambahkan
klaritromisin untuk mengobati MAC.

Akhirnya ada sesi mengenai PMTCT oleh Nittaya Phanuphak dari Palang
Merah Thailand. Dia membahas berbagai pedoman mengenai penggunaan ARV
untuk mencegah penularan HIV dari ibu-ke-bayi, tetapi mendorong secara
kuat penggunaan ART penuh daripada AZT tunggal dengan nevirapine dosis
tunggal - bila belum memenuhi kriteria untuk mulai, ART dihentikan
setelah lahir. Bila jumlah CD4 di atas 250(-350, kayaknya ada
kelonggaran), nevirapine tidak boleh dipakai, dan efavirenz juga tidak
boleh pada triwulan pertama, jadi kemungkinan harus memakai Aluvia.
Diangkat bahwa walau dipakai AZT+3TC untuk satu minggu setelah
melahirkan/penggunaan nevirapine dosis tunggal, virus tetap menjadi
resistan terhadap nevirapine pada 10% perempuan.

Dengan kebijakan ini di Thailand, dalam kohort Palang Merah Thailand,
hanya 2,4% bayi terinfeksi, dengan 20% kohort mempunyai CD4 di bawah
200. Tidak ada data mengenai berapa melahirkan dengan sesar, tetapi
kemungkinan hanya sedikit, karena pedomannya tidak mendukung sesar
pilihan untuk PMTCT.

Pedoman Palang Merah Thailand mengusulkan perempuan hamil dengan CD4 di
bawah 250 mulai AZT+3TC+NVP pada minggu ke-12, dan diteruskan setelah
melahirkan. Bila CD4-nya 250-350, rejimen yang sama atau dengan EFV
dimulai pada minggu ke-24, dan dihentikan setelah melahirkan bila
perempuan tidak bergejala. Dengan CD4 di atas 350, ART AZT+3TC+EFV atau
Aluvia dimulai pada minggu ke-24 dan dihentikan setelah melahirkan.

Besok ada sesi mengenai pencegahan, hepatotoksisitas, malaria, vaksin
farmakologi dan penutupan oleh Joep Lange. Saya mencoba laporkan lagi
besok malam atau setelah kembali ke Jakarta. Sementara, bila ada
pertanyaan atau laporan ini tidak jelas, silakan minta penjelasan...

Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163  Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>

#2987 From: KPA News <kpa.news@...>
Date: Fri Jan 16, 2009 2:49 am
Subject: Lokakarya Nasional Penelitian HIV AIDS 2008
tary_angga
Send Email Send Email
 
KEMITRAAN DALAM RANGKA PENINGKATAN
KAPASITAS<http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?option=com_content&task=view&\
id=3057>
  Lokakarya
Nasional Penelitian HIV AIDS
2008<http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?option=com_content&task=category&s\
ectionid=12&id=76>

    *DALAM BIDANG PENELITIAN HIV KLINIS DAN KESEHATAN MASYARAKAT DI INDONESIA
*

*Call for Expressions of Interest*
Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Indonesia bermitra dengan *National
Centre in HIV Epidemiology and Clinical Research* (NCHECR) dari Australia
yang berkedudukan di *University of New South Wales (UNSW)* serta Jaringan
Epidemiologi Nasional (JEN), menawarkan instansi penelitian maupun instansi
akademik untuk berpartispasi dalam *field-research training program* (FRTP)-
Program Pelatihan Penelitian Lapangan. Bersama dengan NCHECR, program ini
bertujuan meningkatkan kemampuan para peneliti dan membangun kapasitas dalam
bidang metolodgi riset di isu HIV.

Selengkapnya<http://www.aidsindonesia.or.id/index.php?option=com_content&task=vi\
ew&id=3057>




Komisi Penanggulangan AIDS Nasional
(National AIDS Commision)
Surya Building 9th Floor
Jl. M.H Thamrin Kav 9 Jakarta 10350
Telp. 62 21 3901758, Fax 62 21 3902665


[Non-text portions of this message have been removed]

#2988 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Sat Jan 17, 2009 4:31 am
Subject: Laporan Simposium HIV Internasional Bangkok ke-12 hari terakhir
wartaaids
Send Email Send Email
 
Saya baru pulang dari Simposium Bangkok HIV HIV-NAT ke-12 di Bangkok.
Saya janji akan melaporkan kesan utama saya secara langsung setiap hari
pada milis ini. Jadi ini laporan dari hari terakhir.

1. Apakah pencegahan berhasil? Frits van Griensven mengajukan
pertanyaan ini. Dia menggambarkan rangkaian pencegahan dari yang tidak
terpajan, prapajan, pascapajan dan terinfeksi, tetapi hanya membahas
pertama dan terakhir, terutama dengan contoh laki-laki yang suka seks
dengan laki-laki (LSL) di Thailand. Gambarnya tidak begitu optimis.
Menurut uji coba secara acak (RCT), intervensi perubahan perilaku tidak
berhasil. Tetapi mengetahui dirinya terinfeksi HIV meningkatkan
perilaku pencegahan, sehingga pencegahan untuk positif ('HIV Stop di
Sini') dapat efektif, tetapi dia tidak membahas strategi untuk
mendorong orang berisiko untuk dites, atau strategi untuk PICT.

Ada konsep baru disebut 'sindemi', yaitu berbagai epidemi yang terjadi
bersamaan. Dalam hal LSL, epidemi ini termasuk penggunaan alkohol
berlebihan ('binge drinking'): 13% di Bangkok; penggunaan narkoba: 24%;
pengasingan sosial: 58%; ingin bunuh diri: 28%; riwayat seks paksa:
19%; dan jual seks: 20%. Semakin banyak kondisi ini yang dialami oleh
seseorang, semakin rendah penggunaan kondom. Hal ini berarti kita harus
melakukan intervensi terhadap semua sindemi ini; kalau hanya satu atau
dua, pasti intervensi tidak berhasil.

2. Pencegahan dan penanganan hepatotoksisitas. Gail Matthews meninjau
definisi hepatotoksisitas (HT); frekuensi dan prediktor HT; HT dan ARV;
pencegahan HT dan penanganan HT. Berbagai penelitian menunjukkan
kejadian HT setelah mulai ART antara 5-10%. Faktor risiko terutama
adalah infeksi HBV, penggunaan nevirapine dan penggunaan ritonavir.
"ddI obat yang tidak bersahabat dengan hati", dilibatkan sebagai
penyebab hipertensi portal non-sirotik. Walau nevirapine sering
dikaitkan dengan HT, sebetulnya dalam jangka panjang, ARV ini
bermanfaat untuk mencegah fibrosis. Darunavir menyebabkan HT pada uji
coba klinis, dan ada peringatan pada etiketnya. Namun setelah
disetujui, tidak dialami HT yang dikaitkan dengan darunavir.

Koinfeksi HBV atau HCV jelas mempengaruhi, tetapi tampaknya ART tidak
memperburuknya. Namun risiko HT meningkat 2-6 kali bila ada koinfeksi.
HT terkait HBV akan memburuk bila ART yang mengandung obat anti-HBV
(mis. 3TC atau tenofovir) dihentikan. HCV genotipe dapat menimbulkan
resistansi insulin yang mengarah ke steatosis hati.

Peningkatan ALT tidak menimbulkan gejala pada lebih dari 80% kasus, dan
kebanyakan akan pulih kembali bila ART diteruskan. Sebaliknya berhenti
ART dapat merugikan pasien. Jadi kita harus pikir dulu sebelum
menghentikan ART. Yang paling bahaya adalah HT yang bergejala, jadi
pasien harus dibimbing mengenai gejala dan diminta segera melaporkannya
bila terjadi. Matthews menunjukkan algoritme untuk penanganan HT; nanti
kami akan sediakan di situs web.

3. Malaria, penyakit tropis dan HIV. Karena ada daerah Indonesia dengan
epidemi malaria yang stabil (mis. Papua) dan juga yang tidak stabil
(kebanyakan daerah lain), sesi ini oleh David Lalloo menarik buat kita,
apa lagi karena kaitan antara malaria dan HIV jarang diangkat. Menurut
Lalloo, penyakit berat dan kematian umumnya disebabkan oleh
P.falciparum [apakah ini parasit yang umumnya ditemakan di Indonesia?
Saya dengar tidak], tetapi penyakit berat di daerah epidemi stabil
terbatas pada anak kecil, ibu hamil dan pengunjung. Sementara, di
daerah epidemi tidak stabil, penyakit dapat terjadi pada usia apa saja,
dan parasitemia selalu bergejala.

Untuk Odha, viral load meningkat bersifat sementara saat peristiwa
malaria, tetapi kembali ke tingkat semula dalam delapan minggu. Ada
peningkatan lebih besar bila ada demam, parasitemia tinggi atau jumlah
CD4 di bawah 300. Implikasi pada penularan dan kelanjutan infeksi atau
kematian belum jelas. Malaria plasenta lebih umum pada Odha, dan ada
bukti bahwa penularan HIV dari ibu-ke-bayi lebih tinggi dengan malaria
plasenta.

Di daerah epidemi malaria stabil, ada bukti bahwa Odha lebih mungkin
terinfeksi malaria dan mendapatkan parasitemia, dengan risiko meningkat
dengan CD4 semakin rendah. Di daerah epidemi tidak stabil, malaria
lebih berat, lebih sering menimbulkan kematian pada Odha. Kotrimoksazol
mengurangi risiko terinfeksi, walau belum ada bukti dari Asia. Untuk
Odha hamil, diagnosis dini dan pengobatan sangat penting, dan juga
penting dipakai kelambu. Walau hanya ada sedikit penelitian mengenai
interaksi antara ARV dan obat malaria, kemungkinan tidak ada masalah,
dan sebaliknya ada bukti bahwa ARV mempunyai efektivitas untuk mencegah
atau mengobati malaria.

4. Vaksin AIDS: langkah maju. Sesi ini oleh Prof Koup, sekali lagi
sangat ilmiah, dan banyak saya tidak mengerti. Tetapi pesan utama
adalah agar kita tidak putus asa mengenai vaksin, walau beberapa bakal
vaksin gagal pada 2008. Analisis terhadap penelitian itu mulai
menjelaskan masalah, dan mengubah beberapa asumsi yang diambil terlalu
cepat, termasuk bahwa pasti adenovirus tidak dapat dipakai sebagai
vektor - yang gagal ternyata orang yang mempunyai antibodi terhadap
adenovirus.

Masih ada satu penelitian yang berlanjut, yaitu RV144, yang akan lapor
tahun ini - semoga tidak gagal; "kita tidak membutuhkan satu lagi bakal
vaksin yang tidak bekerja." Akhirnya, kita harus realistis; dibutuhkan
105 tahun untuk mengembangkan vaksin terhadap tifoid, 47 tahun untuk
polio. Memang upaya untuk cari vaksin untuk HIV sudah berjalan 25
tahun, tetapi...

5. Farmakologi ARV. Presentasi ini oleh Lektor David Burger, terutama
memberi jawaban mengenai penggunaan ART dalam keadaan kerusakan ginjal.
Dia mulai dengan menyatakan bahwa banyak hadirin mungkin mempunyai
satu-dua pasien yang memakai dialisis, karena frekuensi kerusakan
ginjal yang relatif tinggi di antara Odha, nefropati terkait HIV,
toksisitas ginjal akibat obat - terutama tenofovir, serta kegagalan
ginjal. Seperti kita tahu (tetapi jarang saya dengar dibahas) ada
takaran beberapa ARV yang khusus untuk orang dengan pengeluaran
kreatinin antara 10-50ml/menit dan di bawah 10ml/menit, terutama untuk
hampir semua NRTI. Misalnya takaran tenofovir (yang biasanya
300mg/hari) menurun menjadi 245mg per 2-4 hari dengan 10-50 dan
245mg/minggu bila di bawah 10, sementara untuk AZT dan 3TC, takaran
juga jauh lebih rendah. [Apakah ada perhatian pada masalah ini di
Indonesia? Saya hanya dengar satu kasus...]

Burger juga membahas dampak farmakologi pada ARV waktu hamil. Beberapa
faktor pada ibu hamil, termasuk pH di perut-usus, dan aliran darah
dalam hati cenderung mengurangi tingkat ARV dalam darah. Ada keraguan
mengenai penggunaan Aluvia pada triwulan ketiga; saat ini diusulkan
tidak harus mengubah takaran, tetapi menurut Burger, Cmin turun cukup
banyak, dan mungkin ada risiko tingkatnya terlalu rendah. Seperti kita
juga tahu, tingkat nevirapine sangat beragam pada semua orang, jadi
bila ada dampak dari kehamilan, mungkin sebagian orang berisiko (sama
seperti bila nevirapine dipakai bersamaan dengan rifampisin untuk TB).

Terkait dengan perbedaan antarorang, Burger menyampaikan bahwa walau
ada perbedaan berdasarkan ras (dan belum ada banyak penelitian terhadap
ras di Asia), dipakai istilah variasi 'ras' atau 'etnik' mungkin salah;
masalahnya adalah 'variasi genom manusia.'

6. Presentasi penutupan. Pada presentasi ini, Prof Joep Lange meninjau
sejarah upaya pencegahan sejak awal epidemi. Kita untung epidemi
pertama diketahui pada laki-laki gay di AS; mereka sangat kompak dan
sangat kuat dalam advokasi, sehingga tanggapan oleh dunia ilmiah dan
pemerintah sangat cepat dan efektif. Bayangkan bila epidemi pertama
diketahui di Afrika...

Lange menekankan konsep 'pengobatan sebagai pencegahan', yang pertama
diusulkan oleh Prof Montaner pada 2006. Pada waktu itu, konsep dianggap
'gila' tetapi sekarang ada semakin banyak bukti bahwa konsep ini masuk
akal, dan pada jangka panjang jauh lebih murah - dan mempunyai potensi
untuk menghentikan epidemi HIV sebelum 2050. Memang banyak tantangan,
dan ada yang menganggap mustahil melakukan tes dan pengobatan universal
(seperti baru diangkat - dan juga dianggap 'gila' - di artikel di
Lancet). Namun Lange mengingatkan kita bahwa ada yang bilang prakarsa
'3 by 5' adalah 'gila' dan mustahil diterapkan - walau sasaran baru
dicapai pada 2007, tanpa '3 by 5', kita di negara berkembang mungkin
masih menunggu ketersediaan ART. Jadi (walau dia tidak ikut debat
kemarin), jelas dia sangat mendukung terapi dimulai dengan CD4 lebih
tinggi...

7. Kesimpulan. Kesan dari simposium ini baik sekali, tetap sangat
praktis, dan relevan pada keadaan kita. Sekali lagi keterlibatan oleh
peserta masih agak kurang (atau mungkin saya terlalu cerewet!), tetapi
dengan penggunaan voting elektronik, sedikitnya suara semua peserta
'didengar'. Memang (seperti saya laporkan), ada beberapa topik yang
sulit ditangkap oleh saya, tetapi walau begitu, sering kali pesan utama
dapat dipahami, dan kesimpulan membantu menjelaskan.

Panitia berjanji semua presentasi akan tersedia pada situs web HIVNAT
<http://www.hivnat.org/> paling lambat 26 Januari nanti. Untuk yang
cari informasi lebih dalam, coba akses di situ.

Pak Pandu minta informasi mengenai peserta. Daftar peserta yang
diterima sebelum simposium mulai dapat dilihat di
<http://www.hivnat.org/bangkoksymposium/par.html>, dan jumlah di situ
adalah 533. Tetapi tampaknya ada beberapa lagi yang mendaftarkan
setelah mulai. Sayangnya daftar ini tidak menunjukkan negara asal atau
latar belakang, tetapi hitungan saya ada sekitar sepuluh peserta dari
Indonesia; selain kita bertiga dari Spiritia, ada rombongan FHI Jawa
Timur dengan Dr James Sinaya, dan rombongan dari Papua (didukung oleh
Clinton Foundation) dengan Dr. Samuel Baso. Juga saya lihat Dr Dyah
dari IDI. Tampaknya hampir semua peserta adalah dokter atau profesional
kesehatan; sayangnya kami tidak lihat orang lain dari 'komunitas'.
Sayangnya, karena simposium ini cukup praktis dan menarik untuk memberi
manfaat buat orang dari komunitas, dan menurut saya, suara komunitas
harus didengar.

Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163  Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>

#2989 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Sat Jan 17, 2009 4:38 am
Subject: (Fwd) [aids-ina] Lowongan: Koordinator Teknis Proyek HIV-AIDS
wartaaids
Send Email Send Email
 
From:            "Pandu Riono" <panduriono@...>
Date sent:       Fri, 16 Jan 2009 04:19:50 -0000
Subject:        Lowongan: Koordinator Teknis Proyek HIV-AIDS PB IDI

DIBUTUHKAN
KOORDINATOR TEKNIS DI PROYEK HIV/AIDS
PB IDI

Kualifikasi:
Seorang dokter, mampu berorganisasi dan mampu menyelesaikan berbagai
tugas, dapat berkomunikasi dan menulis yang baik, dapat berbahasa
Inggris yang baik & aktif, mampu menyelesaikan tugas sesuai waktu yang
telah di tetapkan, dapat bekerja sama baik dengan tim, bersedia bekerja
keras dan menyelesaikan setiap tugas tepat waktu, memahami tentang
masalah HIV/AIDS dan penyakit lain yang terkait.

Persyaratan :
1. CV menggunakan Bahasa Inggris
2. Pengalaman kerja
3. Ada referensi
4. Alasan saudara menginginkan pekerja sebagai Technical Coordinator
(English) 5. Persyaratan bersedia bekerja penuh waktu 6. Jika terpilih
3
bersedia di wawancara oleh tim IDI dan membuat karangan dalam Bahasa
Inggris & Bahasa Indonesia. 7. Lamaran paling lambat kami terima tgl 26
Januari 2009 8. Lamaran dikirim via email ke aidspbidi@... atau
kirim ke: Sekretariat HIV/AIDS PB IDI Jl. Dr.G.S.S.Y. Ratulangie No.29
Jakarta Pusat 10350

Akan diumumkan 3 kandidat oleh tim PB IDI, kemudian diminta membuat
karangan mengenai HIV/AIDS dalam Bahasa Inggris dan di wawancarai oleh
Tim PB IDI
--

#2990 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Sat Jan 17, 2009 5:42 am
Subject: Re: [aids-ina] Laporan Simposium HIV Internasional Bangkok ke-12 hari pertama
wartaaids
Send Email Send Email
 
Rizal

On 14 Jan 2009 at 18:25, Muhammad Rizal wrote:

> Teriama kasih atas pemutakhiran informasinya, kalo ga keberatan saya mo
> titip pertanyaan nih..Bagaimana ART pada pasien yang mengalami gagal
> ginjal stadium 3???

Dokter memang harus menyesuaikan takaran semua obat pada orang dengan
kerusakan ginjal, berdasarkan stadium kerusakan. Stadium kerusakan
sekarang lebih sering didefinsi berdasarkan eGFR, yang dihitung dari
pengeluaran kreatinin (creatinine clearance). Penyesuaian diatur dalam
etiket masing-masing obat, tetapi cenderung berdasarkan pengeluaran
kreatinin. Misalnya, untuk tenofovir, etiket mengatur seperti berikut:

Pengeluaran kreatinin >50mL/menit: 300mg setiap 24 jam
Pengeluaran kreatinin 30-49mL/menit: 300mg setiap 48 jam
Pengeluaran kreatinin 10-29mL/menit: 300mg dua kali seminggu
Hemodialisis: 300mg setiap 7 hari atau setelah kurang leihb 12 jam
dialisis

Stadium 3 kurang lebih setara dengan pengeluaran kreatinin 30-
59ml/menit.

Etiket untuk obat lain yang dipakai jelas harus dicek. Tidak semua obat
membutuhkan penyesuaian takaran - umumnya NRTI di antara ARV yang
membutuhkan penyesuaian takaran.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai ginjal dan cara kerjanya, klik
<http://spiritia.or.id/cst/bacacst.php?artno=1097>

Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163  Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>

#2991 From: Rico Gustav <rico.gustav@...>
Date: Sat Jan 17, 2009 5:27 pm
Subject: Re: [WartaAIDS] Laporan Simposium HIV Internasional Bangkok ke-12 hari terakhir
rico_gustav
Send Email Send Email
 
Dear Babe,

Terima kasih atas laporannya yang sangat lengkap.

Cheers,

Rico Gustav

On 1/17/09 11:31 AM, "Chris W. Green" <chrisg@...> wrote:

>
>
>
> Saya baru pulang dari Simposium Bangkok HIV HIV-NAT ke-12 di Bangkok.
> Saya janji akan melaporkan kesan utama saya secara langsung setiap hari
> pada milis ini. Jadi ini laporan dari hari terakhir.
>
> 1. Apakah pencegahan berhasil? Frits van Griensven mengajukan
> pertanyaan ini. Dia menggambarkan rangkaian pencegahan dari yang tidak
> terpajan, prapajan, pascapajan dan terinfeksi, tetapi hanya membahas
> pertama dan terakhir, terutama dengan contoh laki-laki yang suka seks
> dengan laki-laki (LSL) di Thailand. Gambarnya tidak begitu optimis.
> Menurut uji coba secara acak (RCT), intervensi perubahan perilaku tidak
> berhasil. Tetapi mengetahui dirinya terinfeksi HIV meningkatkan
> perilaku pencegahan, sehingga pencegahan untuk positif ('HIV Stop di
> Sini') dapat efektif, tetapi dia tidak membahas strategi untuk
> mendorong orang berisiko untuk dites, atau strategi untuk PICT.
>
> Ada konsep baru disebut 'sindemi', yaitu berbagai epidemi yang terjadi
> bersamaan. Dalam hal LSL, epidemi ini termasuk penggunaan alkohol
> berlebihan ('binge drinking'): 13% di Bangkok; penggunaan narkoba: 24%;
> pengasingan sosial: 58%; ingin bunuh diri: 28%; riwayat seks paksa:
> 19%; dan jual seks: 20%. Semakin banyak kondisi ini yang dialami oleh
> seseorang, semakin rendah penggunaan kondom. Hal ini berarti kita harus
> melakukan intervensi terhadap semua sindemi ini; kalau hanya satu atau
> dua, pasti intervensi tidak berhasil.
>
> 2. Pencegahan dan penanganan hepatotoksisitas. Gail Matthews meninjau
> definisi hepatotoksisitas (HT); frekuensi dan prediktor HT; HT dan ARV;
> pencegahan HT dan penanganan HT. Berbagai penelitian menunjukkan
> kejadian HT setelah mulai ART antara 5-10%. Faktor risiko terutama
> adalah infeksi HBV, penggunaan nevirapine dan penggunaan ritonavir.
> "ddI obat yang tidak bersahabat dengan hati", dilibatkan sebagai
> penyebab hipertensi portal non-sirotik. Walau nevirapine sering
> dikaitkan dengan HT, sebetulnya dalam jangka panjang, ARV ini
> bermanfaat untuk mencegah fibrosis. Darunavir menyebabkan HT pada uji
> coba klinis, dan ada peringatan pada etiketnya. Namun setelah
> disetujui, tidak dialami HT yang dikaitkan dengan darunavir.
>
> Koinfeksi HBV atau HCV jelas mempengaruhi, tetapi tampaknya ART tidak
> memperburuknya. Namun risiko HT meningkat 2-6 kali bila ada koinfeksi.
> HT terkait HBV akan memburuk bila ART yang mengandung obat anti-HBV
> (mis. 3TC atau tenofovir) dihentikan. HCV genotipe dapat menimbulkan
> resistansi insulin yang mengarah ke steatosis hati.
>
> Peningkatan ALT tidak menimbulkan gejala pada lebih dari 80% kasus, dan
> kebanyakan akan pulih kembali bila ART diteruskan. Sebaliknya berhenti
> ART dapat merugikan pasien. Jadi kita harus pikir dulu sebelum
> menghentikan ART. Yang paling bahaya adalah HT yang bergejala, jadi
> pasien harus dibimbing mengenai gejala dan diminta segera melaporkannya
> bila terjadi. Matthews menunjukkan algoritme untuk penanganan HT; nanti
> kami akan sediakan di situs web.
>
> 3. Malaria, penyakit tropis dan HIV. Karena ada daerah Indonesia dengan
> epidemi malaria yang stabil (mis. Papua) dan juga yang tidak stabil
> (kebanyakan daerah lain), sesi ini oleh David Lalloo menarik buat kita,
> apa lagi karena kaitan antara malaria dan HIV jarang diangkat. Menurut
> Lalloo, penyakit berat dan kematian umumnya disebabkan oleh
> P.falciparum [apakah ini parasit yang umumnya ditemakan di Indonesia?
> Saya dengar tidak], tetapi penyakit berat di daerah epidemi stabil
> terbatas pada anak kecil, ibu hamil dan pengunjung. Sementara, di
> daerah epidemi tidak stabil, penyakit dapat terjadi pada usia apa saja,
> dan parasitemia selalu bergejala.
>
> Untuk Odha, viral load meningkat bersifat sementara saat peristiwa
> malaria, tetapi kembali ke tingkat semula dalam delapan minggu. Ada
> peningkatan lebih besar bila ada demam, parasitemia tinggi atau jumlah
> CD4 di bawah 300. Implikasi pada penularan dan kelanjutan infeksi atau
> kematian belum jelas. Malaria plasenta lebih umum pada Odha, dan ada
> bukti bahwa penularan HIV dari ibu-ke-bayi lebih tinggi dengan malaria
> plasenta.
>
> Di daerah epidemi malaria stabil, ada bukti bahwa Odha lebih mungkin
> terinfeksi malaria dan mendapatkan parasitemia, dengan risiko meningkat
> dengan CD4 semakin rendah. Di daerah epidemi tidak stabil, malaria
> lebih berat, lebih sering menimbulkan kematian pada Odha. Kotrimoksazol
> mengurangi risiko terinfeksi, walau belum ada bukti dari Asia. Untuk
> Odha hamil, diagnosis dini dan pengobatan sangat penting, dan juga
> penting dipakai kelambu. Walau hanya ada sedikit penelitian mengenai
> interaksi antara ARV dan obat malaria, kemungkinan tidak ada masalah,
> dan sebaliknya ada bukti bahwa ARV mempunyai efektivitas untuk mencegah
> atau mengobati malaria.
>
> 4. Vaksin AIDS: langkah maju. Sesi ini oleh Prof Koup, sekali lagi
> sangat ilmiah, dan banyak saya tidak mengerti. Tetapi pesan utama
> adalah agar kita tidak putus asa mengenai vaksin, walau beberapa bakal
> vaksin gagal pada 2008. Analisis terhadap penelitian itu mulai
> menjelaskan masalah, dan mengubah beberapa asumsi yang diambil terlalu
> cepat, termasuk bahwa pasti adenovirus tidak dapat dipakai sebagai
> vektor - yang gagal ternyata orang yang mempunyai antibodi terhadap
> adenovirus.
>
> Masih ada satu penelitian yang berlanjut, yaitu RV144, yang akan lapor
> tahun ini - semoga tidak gagal; "kita tidak membutuhkan satu lagi bakal
> vaksin yang tidak bekerja." Akhirnya, kita harus realistis; dibutuhkan
> 105 tahun untuk mengembangkan vaksin terhadap tifoid, 47 tahun untuk
> polio. Memang upaya untuk cari vaksin untuk HIV sudah berjalan 25
> tahun, tetapi...
>
> 5. Farmakologi ARV. Presentasi ini oleh Lektor David Burger, terutama
> memberi jawaban mengenai penggunaan ART dalam keadaan kerusakan ginjal.
> Dia mulai dengan menyatakan bahwa banyak hadirin mungkin mempunyai
> satu-dua pasien yang memakai dialisis, karena frekuensi kerusakan
> ginjal yang relatif tinggi di antara Odha, nefropati terkait HIV,
> toksisitas ginjal akibat obat - terutama tenofovir, serta kegagalan
> ginjal. Seperti kita tahu (tetapi jarang saya dengar dibahas) ada
> takaran beberapa ARV yang khusus untuk orang dengan pengeluaran
> kreatinin antara 10-50ml/menit dan di bawah 10ml/menit, terutama untuk
> hampir semua NRTI. Misalnya takaran tenofovir (yang biasanya
> 300mg/hari) menurun menjadi 245mg per 2-4 hari dengan 10-50 dan
> 245mg/minggu bila di bawah 10, sementara untuk AZT dan 3TC, takaran
> juga jauh lebih rendah. [Apakah ada perhatian pada masalah ini di
> Indonesia? Saya hanya dengar satu kasus...]
>
> Burger juga membahas dampak farmakologi pada ARV waktu hamil. Beberapa
> faktor pada ibu hamil, termasuk pH di perut-usus, dan aliran darah
> dalam hati cenderung mengurangi tingkat ARV dalam darah. Ada keraguan
> mengenai penggunaan Aluvia pada triwulan ketiga; saat ini diusulkan
> tidak harus mengubah takaran, tetapi menurut Burger, Cmin turun cukup
> banyak, dan mungkin ada risiko tingkatnya terlalu rendah. Seperti kita
> juga tahu, tingkat nevirapine sangat beragam pada semua orang, jadi
> bila ada dampak dari kehamilan, mungkin sebagian orang berisiko (sama
> seperti bila nevirapine dipakai bersamaan dengan rifampisin untuk TB).
>
> Terkait dengan perbedaan antarorang, Burger menyampaikan bahwa walau
> ada perbedaan berdasarkan ras (dan belum ada banyak penelitian terhadap
> ras di Asia), dipakai istilah variasi 'ras' atau 'etnik' mungkin salah;
> masalahnya adalah 'variasi genom manusia.'
>
> 6. Presentasi penutupan. Pada presentasi ini, Prof Joep Lange meninjau
> sejarah upaya pencegahan sejak awal epidemi. Kita untung epidemi
> pertama diketahui pada laki-laki gay di AS; mereka sangat kompak dan
> sangat kuat dalam advokasi, sehingga tanggapan oleh dunia ilmiah dan
> pemerintah sangat cepat dan efektif. Bayangkan bila epidemi pertama
> diketahui di Afrika...
>
> Lange menekankan konsep 'pengobatan sebagai pencegahan', yang pertama
> diusulkan oleh Prof Montaner pada 2006. Pada waktu itu, konsep dianggap
> 'gila' tetapi sekarang ada semakin banyak bukti bahwa konsep ini masuk
> akal, dan pada jangka panjang jauh lebih murah - dan mempunyai potensi
> untuk menghentikan epidemi HIV sebelum 2050. Memang banyak tantangan,
> dan ada yang menganggap mustahil melakukan tes dan pengobatan universal
> (seperti baru diangkat - dan juga dianggap 'gila' - di artikel di
> Lancet). Namun Lange mengingatkan kita bahwa ada yang bilang prakarsa
> '3 by 5' adalah 'gila' dan mustahil diterapkan - walau sasaran baru
> dicapai pada 2007, tanpa '3 by 5', kita di negara berkembang mungkin
> masih menunggu ketersediaan ART. Jadi (walau dia tidak ikut debat
> kemarin), jelas dia sangat mendukung terapi dimulai dengan CD4 lebih
> tinggi...
>
> 7. Kesimpulan. Kesan dari simposium ini baik sekali, tetap sangat
> praktis, dan relevan pada keadaan kita. Sekali lagi keterlibatan oleh
> peserta masih agak kurang (atau mungkin saya terlalu cerewet!), tetapi
> dengan penggunaan voting elektronik, sedikitnya suara semua peserta
> 'didengar'. Memang (seperti saya laporkan), ada beberapa topik yang
> sulit ditangkap oleh saya, tetapi walau begitu, sering kali pesan utama
> dapat dipahami, dan kesimpulan membantu menjelaskan.
>
> Panitia berjanji semua presentasi akan tersedia pada situs web HIVNAT
> <http://www.hivnat.org/> paling lambat 26 Januari nanti. Untuk yang
> cari informasi lebih dalam, coba akses di situ.
>
> Pak Pandu minta informasi mengenai peserta. Daftar peserta yang
> diterima sebelum simposium mulai dapat dilihat di
> <http://www.hivnat.org/bangkoksymposium/par.html>, dan jumlah di situ
> adalah 533. Tetapi tampaknya ada beberapa lagi yang mendaftarkan
> setelah mulai. Sayangnya daftar ini tidak menunjukkan negara asal atau
> latar belakang, tetapi hitungan saya ada sekitar sepuluh peserta dari
> Indonesia; selain kita bertiga dari Spiritia, ada rombongan FHI Jawa
> Timur dengan Dr James Sinaya, dan rombongan dari Papua (didukung oleh
> Clinton Foundation) dengan Dr. Samuel Baso. Juga saya lihat Dr Dyah
> dari IDI. Tampaknya hampir semua peserta adalah dokter atau profesional
> kesehatan; sayangnya kami tidak lihat orang lain dari 'komunitas'.
> Sayangnya, karena simposium ini cukup praktis dan menarik untuk memberi
> manfaat buat orang dari komunitas, dan menurut saya, suara komunitas
> harus didengar.
>
> Babe



[Non-text portions of this message have been removed]

#2992 From: "Pengelola www.aids-ina.org" <administrator@...>
Date: Mon Jan 19, 2009 12:48 am
Subject: Content terbaru di www.aids-ina.org
komunitasaid...
Send Email Send Email
 
Daftar Data Terbaru
Dari Tanggal: 4 January 2009 Sampai Tanggal: 19 January 2009





   _____

News

1.       SATU DARI 1.241 PENDUDUK KOTA CIREBON POSITIF HIV

o        Tampilkan:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=873>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=News&file=article&sid=873

   _____

LSM-Institusi

1.       Sathivic

o        Tampilkan:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Networking&file=address&lbg_id=126
9>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Networking&file=address&lbg_id=1269

2.       CARE Xtreme Ministry

o        Tampilkan:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Networking&file=address&lbg_id=127
1>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Networking&file=address&lbg_id=1271

3.       DIMAS SUPPORT

o        Tampilkan:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Networking&file=address&lbg_id=124
2>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Networking&file=address&lbg_id=1242

   _____

Layanan AIDS

1.       CARE Xtreme Ministry

o        Tampilkan:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Networking&file=services&lbg_id=12
71>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Networking&file=services&lbg_id=127
1

   _____

Individu

1.       Nico

o        Tampilkan:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1359>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1359

2.       Irfan

o        Tampilkan:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1358>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1358

3.       Tony

o        Tampilkan:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1357>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1357

4.       Herialsyah, S.Kom

o        Tampilkan:
<http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1356>
http://www.aids-ina.org/modules.php?name=Individu&file=contact&ctc_id=1356

  Pengelola aids-ina.org

A better way in strengthening strategic information to guide a more
effecctive

Dukung dan kunjungi terus  <http://www.aids-ina.org/>
<http://www.aids-ina.org/> www.aids-ina.org





[Non-text portions of this message have been removed]

#2993 From: "Adi Sasongko" <adi.sasongko@...>
Date: Mon Jan 19, 2009 4:49 am
Subject: Tidak ada kasus AIDS di Kab Indramayu?
adi.sasongko@...
Send Email Send Email
 
Rekan2 semua,

Saya baru saja membaca-baca lagi Laporan triwulanan HIV/AIDS dari
Depkes (September 2008) dan di dalamnya ada laporan jumlah kasus AIDS
yang dilaporkan dari kabupaten/kota se Indonesia.

Saya lihat bahwa s.d September 2008, dari Kabupaten Indramayu
dilaporkan tidak pernah ada kasus AIDS.

Kami di Yayasan Kusuma Buana sudah bekerja di salah satu kecamatan di
Kab. Indramayu selama 5 tahun terakhir dan melihat dengan mata kepala
sendiri tentang betapa luasnya praktek perilaku berisiko tinggi baik
dari mereka yang tinggal di wilayah ini maupun para perantau dari
sini. Dari pengalaman kami bekerja di Kramat Tunggak (1993-1999) dan
di Mangga Besar-Hayam Wuruk (sejak tahun 2000), maka banyak sekali
penjaja seks yang berasal dari wilayah Indramayu. Selama kami bekerja
di salah satu kecamatan di Indramayu kami juga melihat sendiri
sejumlah pekerja seks yang pulang kampung setelah merantau ke luar
Indramayu dan pulang dalam keadaan sakit dan akhirnya meninggal karena
AIDS.

Setelah bertanya kepada sejumlah teman aktivis AIDS saya mendapat info
bahwa para petinggi Pemda Kab Indramayu rupanya menyangkal keberadaan
AIDS di wilayahnya. Sebuah info bahkan menyatakan bahwa jumlah
kumulatif kasus HIV/AIDS di Indramayu sebetulnya sudah jelas lebih
dari 150 kasus.

Menjadi tanda tanya besar kenapa dalam Laporan Triwulanan Depkes s.d
September 2008 dinyatakan tidak ada kasus AIDS di Indramayu? Apakah
karena KPAD setempat tidak melaporkan ke Depkes Pusat? Jika ya,
kenapa? Atau ada tekanan sehingga jumlah kasus yang ada tidak
dilaporkan? Apakah KPA Propinsi Jawa Barat selama ini tidak pernah
meneliti laporan dari KPAD Indramayu? Jika begitu halnya, maka buat
apa ada KPAD Propinsi Jawa Barat?

Sungguh mengherankan bahwa setelah lebih dari 20 tahun ada HIV/AIDS di
Indonesia masih ada penolakan terhadap kenyataan bahwa HIV/AIDS sudah
ada di sekitar kita. Tidakkah mereka menyadari bahwa sikap penolakan
dan menutup mata seperti ini dari pejabat publik justru akan membuat
upaya penanggulangan AIDS menjadi terhambat dan malah menjadi salah
satu penyebab semakin bertambahnya orang yang tertular HIV? Dalam
pandangan saya sikap pejabat publik seperti ini sudah termasuk
kategori kriminal karena secara tidak langsung sudah membiarkan orang
lain menjadi tertular HIV.

Mohon info dari teman2 yang juga bekerja di wilayah ini mengenai
situasi HIV/AIDS yang ada di Indramayu.

Salam,

Adi Sasongko
Yayasan Kusuma Buana
Jakarta, Indonesia
Tel. (62-21) 831 4764, 829 6337
Fx.  (62-21) 831 4764
Website: www.kusumabuana.or.id

#2994 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Tue Jan 20, 2009 7:26 am
Subject: Rencana Obama-Biden untuk memerangi HIV/AIDS sedunia
wartaaids
Send Email Send Email
 
Rencana Obama-Biden untuk memerangi HIV/AIDS sedunia

Diperkirakan ada 33 juta orang di seluruh dunia yang hidup dengan
HIV/AIDS, termasuk lebih dari satu juta orang di AS. Hampir 6.000 orang
meninggal karena AIDS setiap hari. Walau pengetahuan tentang HIV dan
pilihan antiretroviral (ARV) telah mengalami kemajuan, tingkat infeksi
HIV belum menurun, dan justru meningkat secara drastis pada beberapa
kelompok ras dan etnis. Presiden terpilih Barack Obama dan wakil
presiden terpilih Joe Biden berpendapat bahwa kita harus berbuat lebih
untuk melawan pandemi HIV/AIDS di dunia, begitu juga dengan malaria dan
TB. Pada 2006 Obama berkunjung ke Kenya dan bersama Michelle istrinya,
mereka dites HIV/AIDS untuk mendorong perempuan Afrika untuk dites HIV.
Obama dan Biden mendukung upaya seluruh partai untuk memerangi epidemi
tersebut. Obama pernah bekerja di Illinois dan Dewan Majelis Tinggi AS
untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong investasi yang lebih besar
untuk HIV/AIDS di AS dan luar negeri. Sebagai presiden, Barack Obama
akan terus menjadi pemimpin dunia untuk melawan AIDS.

[Catatan: bagian `HIV/AIDS di Amerika´ dipotong]

HIV/AIDS GLOBAL

Menyediakan akses universal untuk melawan HIV/AIDS sedunia: Obama dan
Biden paham bahwa di abad ke 21, kemajuan tidak boleh hanya berarti
kebebasan politik - kemajuan harus berarti kebebasan dari ketakutan dan
kebebasan kehendak. Obama dan Biden yakin bahwa pendekatan jangka
panjang dan secara menyeluruh untuk memerangi HIV/AIDS merupakan
investasi penting untuk keamanan kita bersama dan kemanusiaan. Mereka
menjanjikan menyediakan paling sedikit 50 miliar dolar AS pada 2013
untuk melawan HIV/AIDS sedunia, termasuk dukungan AS pada Global Fund,
bertujuan meningkatkan paling sedikit dua kali lipat jumlah Odha yang
memakai pengobatan dan terus menyediakan pengobatan kepada sepertiga
orang yang membutuhkannya secara mendesak. Dana itu akan memungkinan AS
memenuhi janjinya yang selama ini ditekan oleh pemerintahan Bush,
termasuk memperluas program yang sudah ada untuk menolong jutaan anak
yang menjadi yatim piatu dan menderita karena AIDS, meningkatkan jumlah
petugas kesehatan sejumlah paling sedikti satu juta, mencegah kekerasan
terhadap perempuan dewasa dan anak, serta memperbaiki sistem layanan
kesehatan sehingga bantuan AS dapat dimanfaatkan secara penuh dan
efektif.

Menugaskan dan Meninjau kembali PEPFAR: AS telah meningkatkan dana
secara bermakna untuk program HIV dan AIDS sedunia melalui President´s
Emergency Program for AIDS Relief (PEPFAR), tetapi program tersebut
menghadapi pertentangan. Obama berpendapat bahwa prioritas utama AS
seharusnya adalah menerapkan PEPFAR yang baru-baru ini ditandatangani,
yang selama ini didukung pemerintahan Obama, untuk memastikan bahwa
tindakan terbaik - bukan ideologi - untuk menggalang dana program
HIV/AIDS.

Memperkuat prasarana layanan kesehatan: Obama dan Biden berjanji
meningkatkan investasi AS pada peningkatan kemampuan untuk memastikan
negara miskin mampu mengembangkan prasarana layanan kesehatan yang
diperlukan untuk mencegah dan mengobati HIV/AIDS, mempromosikan layanan
kesehatan dasar, mengurangi dan mencegah penyebaran malaria dan TB,
apabila diperlukan, termasuk pencegahan flu burung dan pandemi lain.

Meningkatkan dukungan pada Global Fund: Obama dan Biden mendukung
peningkatan kontribusi AS pada Global Fund for AIDS, malaria, and TB,
agar supaya dukungan AS dikoordinasikan dengan bantuan yang disediakan
oleh pemerintah dan lembaga donor lain sehingga beban negara miskin
menjadi berkurang.

Meningkatkan akses pada obat yang terjangkau: Obama dan Biden
berpendapat bahwa Odha di negara berkembang harus memiliki akses pada
obat generik yang aman dan terjangkau untuk mengobati HIV/AIDS. Mereka
membuka ikatan yang dibuat oleh sedikit perusahaan obat besar dan
asuransi terhadap obat penyelamat jiwa ini. Mereka mendukung hak bangsa
yang berdaulat untuk mengakses obat generik yang murah dan terjamin
mutunya untuk memenuhi tuntutan kebutuhan kesehatan masyarakat
berdasarkan Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights
(TRIPS) deklarasi WTO. Obama dan Biden juga mendukung memberlakukan
kebijakan lisensi berdasarkan kemanusiaan yang memastikan obat yang
dikembangkan oleh pembayar pajak di AS tersedia di negara berkembang
tanpa hak paten.

Investasi pada air bersih: Sebagaimana kian banyak orang yang memiliki
akses pada obat yang terjangkau, negara maju juga harus berinvestasi
pada air bersih yang diperlukan untuk memastikan bahwa obat yang
menyelamatkan jiwa dapat dipakai. Lebih dari satu miliar orang tidak
memiliki akses pada air bersih, dan bahwa angka itu akan meningkat
karena dampak perubahan iklim. Melalui peningkatan dana hingga 1,3
miliar dolar per tahun dan program yang inovatif misalnya "play pumps,"
Obama dan Biden akan memperluas akses air bersih dan sanitasi. Menutupi
kekurangan anggaran pendidikan: Di seluruh dunia, diperkirakan 100 juta
anak - termasuk hampir 60 juta anak perempuan - tidak bersekolah. Pada
2010, menyekolahkan anak-anak itu memerlukan 10 miliar dolar per tahun.
Untuk memenuhi bagian AS pada jumlah tersebut, Obama dan Biden akan
menanam modal paling sedikit dua miliar dolar pada Global Education
Fund.

Mencapai Sasaran Pembangunan Milenium: Sebagai presiden, Obama akan
melipatgandakan bantuan luar negeri AS dari 25 miliar dolar per tahun
menjadi 50 miliar dolar per tahun, untuk memastikan AS turut ambil
bagian dalam Sasaran Pembangunan Milenium, termasuk mengurangi hingga
separuh jumlah orang yang meninggal akibat TB dan/atau terdampak oleh
malaria. Pada 2005, Obama turut menyokong International Cooperation to
Meet the Millennium Development Goals Act. Obama akan menyasarkan
pengeluaran tersebut untuk mencapai sasaran strategis, termasuk
membantu negara terlemah di dunia membangun komunitas yang sehat dan
berpendidikan, mengurangi kemiskinan, mengembangkan pasar dan
menghasilkan kekayaan. Dia juga akan membantu negara lemah melawan
terorisme, mencegah penyebaran senjata yang mematikan dan membangun
prasarana layanan kesehatan yang dibutuhkan untuk mencegah dan
mengobati HIV/AIDS serta mendeteksi dan menahan jangkitan flu burung.

Investasi pada pengurangan kemiskinan secara menyeluruh untuk membantu
melawan seluruh penyakit yang mematikan: Selain malapetaka yang
disebabkan oleh HIV/AIDS, TB dan malaria terus membunuh jutaan orang
dan memangkas produktivitas ekonomi negara berkembang. Investasi untuk
melawan HIV/AIDS tidak dapat diperoleh dengan mengurangi investasi pada
tantangan pengembangan kunci lain, misalnya mencegah penyakit dan
memperbaiki kesehatan serta ketahanan hidup anak. Obama dan Biden
memastikan AS akan memegang komitmennya pada program anti kemiskinan
secara menyeluruh.

Mengurangi hutang negara berkembang: Negara berkembang memiliki jumlah
hutang luar negeri yang begitu besar sehingga membatasi perkembangan
ekonomi mereka serta membuat investasi pada kesehatan masyarakat,
pendidikan serta prasarana menjadi sangat sulit. Hutang di Afrika sub-
Sahara mencapai 235 miliar dolar, 44% GNP wilayah tersebut dan
meningkat 33% sejak 1990. Obama dan Biden akan bekerja sama dengan
negara maju lain dan lembaga pemberi pinjaman untuk membatalkan sisa
hutang yang begitu berat sambil mendorong reformasi untuk menjaga agar
negara berkembang tidak jatuh dalam keruntuhan keuangan. Obama dan
Biden juga akan mengoordinasi kebijakan perdagangan dan pembangunan
untuk memakai seluruh rangkaian kekuatan ekonomi AS untuk membantu
negara berkembang memperoleh keuntungan dari sistem perdagangan dunia.
Obama turut mendukung Multilateral Debt Relief Act 2005 yang
menyediakan penghapusan hutang untuk negara miskin dengan beban hutang
yang sangat berat.

Artikel asli: The Obama-Biden plan to combat global HIV/AIDS
<http://change.gov/agenda/the_obama_biden_plan_to_combat_global_hiv_aids
/>

--

#2995 From: "hivaidsmanado" <hivaidsmanado@...>
Date: Mon Jan 19, 2009 9:15 am
Subject: ADA APA DIBALIK DINAS KESEHATAN PROPINSI SULAWESI UTARA DALAM MENANGANI HIV AIDS
hivaidsmanado
Send Email Send Email
 
Sebetulnya saya agak riskan untuk menulis di forum ini tetapi apa
boleh buat, kekuasaan mafia program, dendam pribadi (mungkin) ataupun
persaingan untuk mendapatkan "nama"  dan jabatan dalam Dinas Kesehatan
begitu mencolok dan membabi buta dan membuat saya sebagai ODHA merasa
semakin saja kami dijadikan objek untuk menambah uang saku mereka dan
benar adanya saya tergerak untuk menyampaikan ini. Malah saya sudah
diberitahukan untuk tidak memperpanjang masalah, tetapi jika saya
tidak utarakan hal ini malah justru menurut saya akan lebih
memperpanjang masalah itu sendiri. Dan kepada siapa lagi kami mengadu
jika dalam lingkaran setan mereka sudah tidak ada yang dipercaya lagi?
Beberapa saat lalu kami agak dibingungkan dengan pergantian personil
dalam struktur Global Fund Propinsi Manado. Yang mungkin menurut saya
funding tidak bisa diobok-obok oleh dinas setempat. Dan permasalahan
ini agak rancu serta membingungkan, walaupun saya tahu sedikit konflik
yang selama ini ada dalam Dinas, yang mungkin bisa dibilang
menyabotase pekerjaanlah dengan cara cari mukalah, dendam pribadi yang
sudah lama terpendamlah, inginnya jabatanlah walaupun dapatnya dengan
cara yang licik, saling kongsilah, terus terang saja saya merasa ada
sesuatu dibalik ini semua dan toh dari pergantian tersebut tidak
banyak yang bisa dirubah malah makin merepotkan saja dalam hal
pelaporan dan lain-lain yang menurut saya memang aneh dan bertele-tele
dengan alasan itu dari pusatlah, dan sebagainya yang menurut saya
tidak masuk akal. Toh buntut-buntutnya juga setelah ditelusuri ada
unsur dendam pribadi dan sayangnya dilirik oleh oknum-oknum yang
(menurut saya) pasti memakai keadaan ini menjadi jembatan jalan tol
untuk memperoleh pekerjaannya. Walaupun harus melengserkan
personil-personil yang paling berkompeten untuk permasalahan HIV AIDS
dan yang paling penting bahwa dari mereka-mereka yang terlengser
adalah orang-orang yang begitu pedulinya tanpa pamrih terhadap kami
(ODHA). Sudah sering saya saling sharing terhadap teman-teman kami
yang terlengser dan tanggapannya apa? mereka bilang "ya udah gak
papa.." hah?? begitu tabahnya mereka dan yang mebuat kami miris adalah
mereka tidak bisa berbuat banyak karena sudah diatur oleh dinas.
Sebegitu "Dewa"kah mereka ini? Apa yang mereka inginkan dari
perombakan-perombakan yang makin lama makin tidak jelas arahnya ini?.
Atau bagi-bagi proyek? Kayak Soeharto aja atau muridnya ya?.
Hal ini sudah dapat dilihat pada awal pelatihan-pelatihan yang Dinas
lakukan dan Dinas tunjuk pesertanya yang menurut saya tidak tepat
sasaran, apa yang terjadi? Setelah pelatihan-pelatihan apa yang mereka
lakukan? Ya ya ya sudah jelas tidak ada! Kebiasan buruk orang dinas
dalam penyeleksi peserta pelatihan. Hm ya ya ya mereka hanya tahu
berangkat, duduk, dan dapat perdiem….bukankah itu sangat ironis?
Setelah pulang apa yang diberikan? Toh mereka sudah lupa apa yang
mereka pelajari……..mungkin kalo daftar belanjaan dari daerah yang
didatangi mungkin saja masih ingat hehehe.
Sistem apalagi yang akan diberlakukan untuk terus mengobjekan ODHA?
Jika orang yang peduli tampil di umum pun dicekal, bahkan dihalangi
dan dimarahi dengan alasan yang tidak begitu masuk diakal
yaitu…."andakan hanya bisa duduk dikantor, kalo kegiatan diluar hanya
orang dinas ya…" padahal tampil tanpa mengharapkan imbalan/jasa dan
untuk mensosialisasikan program penanggulangan adalah baik adanya??
Justru beban sama-sama dipikul kan? Toh permasalahan HIV itu sendiri
bukan hanya permasalahan Dinas Kesehatan kan? bukankah ini pemikiran
yang picik dari para petinggi yang "katanya" pinter dan sering
melakukan pelatihan-pelatihan?? Mana implementasinya?? Katanya
menanggulangi permasalahan HIV AIDS bersama-sama? Kok yang lain mau
kerja malah dihalangi? Atau malah ingin ngerasa dihormati dan ingin
selalu tampil ke masyarakat tapi setelah itu apa implementasinya? NOL
BESAR!!!!! Bukankah jika kita bersama-sama ingin menanggulangi kitapun
juga harus bekerja sama? Bukan sama-sama kerja kan? Inikan
birokrasi-birokrasi yang nggak jelas namanya. Saya terus terang ingin
tahu apakah Dinas Kesehatan Propinsi begitu serakahnya dalam
penanganan program ini sampai intervensi yang keterlaluan dan begitu
mendalam untuk mencampuri Funding itu sendiri. Dan ujung-ujungnya
pasti malah nantinya kami (ODHA) yang jadi korban………kan sangat aneh
jika SK yang dikeluarkan tidak diindahkan (kalo SK sudah keluar ya
nurut kek kok maunya jaga kandang?--> akhirnya nurut juga ya),
busuknya lagi orang yang lebih tinggi jabatannya tidak bisa menangani
ini dan ini sudah lama terjadi. Malah setelah dia naik lagi menjadi
lebih tinggi malah dirombak abis-abisan. Ada apa dibalik semua ini?
Dendam ya? yang kemaren-kemaren nggak bisa ngelengserin seseorang dan
malah tidak berkutik? Dekingan yang baguskah? Takutkah? Atau ada mafia
dibalik semua ini? Ya tentunya mafia yang tidak begitu peduli dalam
penanganan HIV AIDS dan hanya memikirkan honornya saja……hm ironis
ya……..kalo permasalahan pribadi mbok ya tolong jangan bawa-bawa ke
kantor katanya professional, katanya dokter, kok malah nggak ada
bedanya ama anak masih TK yang memperebutkan jajanan?
Dan yang lebih anehnya kejadian seperti ini terulang kembali, malah
orang yang begitu pedulinya dalam permasalahan ini dilengserkan dengan
kekuatan – kekuatan para penguasa yang haus akan proyek dan uang atau
jabatan atau bahkan karena hubungan yang begitu erat (bisa jadi
hubungan khusus bisexual?homo?) dijadikan alasan yang terselubung
untuk menggantikan posisi yang tersingkirkan. Begitu saya mendengar
akan hal ini saya sempat tak percaya mengapa teman kami yang begitu
jor-joran dalam memperjuangkan dan membela serta sudah lama menjadi
sahabat ODHA didempak oleh tokoh-tokoh "kesehatan" yang saya rasa
mereka tidak sehat dalam pemikiran bahkan jiwanya.
Kenapa orang yang begitu pedulinya terhadap epidemik HIV ini sendiri
dilengserkan dengan berbagai alasan yang tidak masuk akal? Padahal
sudah banyak yang diberikan oleh orang-orang yang peduli dan yang
merebut semuanya apakah nanti kedepannya akan peduli terhadap kami
(ODHA)??? Saya rasa tunggu ayam kencing!!!!. Intervensi-intervensi
yang berlebihan malah membuat kami (ODHA) menjadi "lagi-lagi" korban
kebusukan mereka! Apalagi yang mereka inginkan dari kami??!!
Konspirasi-konspirasi kotor yang terbentuk oleh mental – mental
petinggi Dinas Kesehatan yang tidak bertanggung jawab akan terus
berlangsung jika kita sebagai ODHA yang sudah tidak merasa "nyaman"
lagi hanya diam saja.
Jika mereka bisa mengerti akan hal ini, dan jika memang mereka adalah
manusia yang beradab tentunya mereka akan merasa sangat bersalah (tapi
apa mereka berfikiran seperti itu ya?) ke"peduli"an yang mereka
dapatkan hanya peduli terhadap teman/rekan kerjanya yang bersama-sama
mengeruk untung dari peng-Objek-an ODHA. Seandainya ODHA bukan manusia
silahkan saja, tapi jika saudara dari para Petinggi itu adalah ODHA
apa yang akan mereka perbuat?? Tetap meng-objek-an mereka? Jikapun
mereka tetap akan seperti ini, tidak ada salahnya jika saudara dari
mereka pun merasakan hal yang sama dengan kami. Supaya mereka lebih
mengerti?
Kemiskinan akan kepedulian penanggulangan HIV AIDS dari pihak Dinas
Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara jelas-jelas sudah mulai terbukti dan
terkuak yang semakin lama semakin menghambat program dukungan dan ini
menjadi acuan untuk kami dalam bertindak!! Kami sudah muak untuk
selalu dijadikan objek dan angka-angka mereka dan kami inginkan
kenyamanan dalam mengakses pelayanan kesehatan. Bukan kenyamanan bagi
mereka yang haus akan jumlah kasus bahkan haus akan uang dan
jabatan!!! Dan kami akan terus memperjuangkan kenyamanan kami dengan
berbagai cara seperti halnya para petinggi di Dinas Kesehatan dalam
menempuh berbagai cara untuk melengserkan teman-teman kami yang peduli!!
Dibalik keserakahan Dinas Kesehatan Propinsi yang terus terusan
merajalela, kami mengharapkan dari pihak Global Fund juga bisa tegas
dalam penentuan personilnya yang bertugas jika tidak pasti akan di
manfaatkan oleh oknum-oknum Dinas Kesehatan yang sekarang benar-benar
sudah mengintervensi terlalu dalam. Dan mudah-mudahan Funding funding
yang lain agar dapat mulai waspada untuk bekerja sama dengan para
"mafia" ini.
Terima kasih atas kebijaksanaan sepihak dan kearoganannya oleh Dinas
Kesehatan Propinsi Sulawesi Utara yang mengilhami penulisan saya pada
kali ini dan semoga usaha-usaha jahat yang lainnya dapat kami temui di
lapangan dan kami bisa sharing di teman teman kami seluruh Indonesia
dan mengetahui usaha jahat dari kalian selanjutnya.

salam hangat untuk semua

#2996 From: "eka prahadian" <eprahadian@...>
Date: Mon Jan 19, 2009 8:55 am
Subject: Fwd: [GYCA-AsiaPacific] Re: [sea-aids] Action: GFATM call for NGO Delegation nominations to board
eprahadian@...
Send Email Send Email
 
Dari milis tetangga,

semoga bermanfaat

Salam

Ewok

---------- Forwarded message ----------
From: Toma <tsutomu@...>
Date: Mon, Jan 19, 2009 at 3:43 PM
Subject: [GYCA-AsiaPacific] Re: [sea-aids] Action: GFATM call for NGO
Delegation nominations to board
To: eka prahadian <eprahadian@...>


Dear GYCA AP friends,

Just for your information.

Thanks and best,
Toma


On Mon, Jan 19, 2009 at 5:00 PM, SEA-AIDS
  wrote:
> Action: GFATM call for NGO Delegation nominations to board
> The Global Fund
> ******************
>
> Dear SEA-AIDS members,
>
> This is to inform you that the Developing Country NGOs Delegation to the
GF board is seeking delegates to seat in the delegation, starting April
2009. The Delegation members selected will serve two years renewable once,
based on an assessment process convened by the delegation leadership.
>
> *Delegation's Mission Statement*
>
> The developing country NGO delegation represents the diverse NGO/CBOs
response of the global south to AIDS, TB and Malaria on the GFATM Board.
Based on the knowledge and experience of NGOs/CBOs and their constituencies,
this delegation aims to contribute to and influence Global Fund policies and
practices to be continually and appropriately responsive to the needs of
those affected by AIDS, TB and Malaria and NGOs/CBOs themselves; one of the
defining features of this is the unique ability to bring the perspectives of
both recipients and implementers to the GFATM processes.
>
> *Objectives*
>
> The delegations objectives are to;
>   1. Build and strengthen the capacity of the Developing Country NGO
Delegation to execute its functions on the GFATM Board in a strategic and
consultative manner.
>   2. Develop and implement systems and procedures which make the work of
the Developing Country NGO Delegation more cohesive, efficient and effective
>
> *We are therefore now soliciting nominations for the year 2009-2011. *
>
> Nominated individuals need to prepare and submit a four page application
and attach 3 letters of reference.  The *CLOSING DATE* for nominations is*
January 30, 2009*.  It will not be possible to consider applications
received past this date.
>
> Please send all enquiries for application forms and information to:
gfngoapplication@...
>
> Or contact Dr. Cheikh Tidiane Tall at cttall@... or
africaso@...
>
> ---------
> Stay Connected - Speak your world!
>
> A posting from SEA-AIDS (sea-aids@...)
>
> To submit a posting, send to sea-aids@...
> For anonymous postings, add the word "anon" to the subject line
> To join, send a blank message to join-sea-aids@...
> To leave, send a blank email to leave-sea-aids@...
>
> For details of how to access discussion archives:
http://www.healthdev.org/eforums/sea-aids
>
> You are currently subscribed to SEA-AIDS as: tsutomu.nemoto@...
>
> ---------
>
> SEA-AIDS is a regional eForum focused on AIDS, and other health and
development issues in Asia and the Pacific.
>
> SEA-AIDS is coordinated by the Health & Development Networks eForums Team
(HDN, www.hdnet.org) with the support of Irish Aid (www.irishaid.gov.ie).
>
> The views expressed in this forum do not necessarily reflect those of HDN
or Irish Aid.
>
> Reproduction welcomed provided HDN is informed of usage and source is
cited as follows: SEA-AIDS eForum 2009: sea-aids@...
>



--
-----------------------+++---
Tsutomu Nemoto  $B$M$b$H$D$H$` (B

Master Programme
Department of International Community Health
Graduate School of Medicine
The University of Tokyo
tsutomu.nemoto@...

Regional Focal Point for Asia and Pacific
Global Youth Coalition on HIV/AIDS (GYCA)
toma@...
www.iAIDS.org | www.youthaidscoalition.org


-------------------------------------------

* Powered By TIG Groups http://groups.takingitglobal.org/
* Group Archives:
http://groups.takingitglobal.org/GYCA-AsiaPacific/messages/
* To unsubscribe, email
GYCA-AsiaPacific-unsubscribe@...
* My subscription settings,
GYCA-AsiaPacific-settings@...


[Non-text portions of this message have been removed]

#2997 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Tue Jan 20, 2009 11:23 am
Subject: Laporan Kasus HIV/AIDS s.d. Desember 2008
wartaaids
Send Email Send Email
 
Berikut adalah laporan pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS yang
diterima oleh Ditjen PP & PL dari provinsi periode bulan Oktober sd
Desember 2008, berdasarkan surat Direktur Jenderal P2PL, Dr. Tjandra Y
Aditama, SpP(K), DTM&H, tertanggal 9 Januari 2009:

Kumulatif Kasus AIDS sd 31 Desember 2008

    a. Sampai dengan 31 Desember 2008 secara kumulatif jumlah kasus
       AIDS yang dilaporkan adalah sebagai berikut:

       Kasus AIDS : 16110
       Provinsi yang melaporkan AIDS: 32 provinsi
       Kabupaten/Kota yang melaporkan AIDS: 214 kab/kota

    b. Ratio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 3,04:1

    c. Cara penularan kasus AIDS kumulatif yang dilaporkan melalui IDU
       48%, Heteroseksual 42,3%, dan Homoseksual 3,8%.

    d. Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok
       umum 20-30 tahun (50,82%), disusul kelompok umur 30-39 tahun
       (29,36%) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,5%).

    e. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Barat, DKI Jakarta,
       Jawa Timur, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera
       Utara, Riau, Kepulauan Riau.

    f. Rate kumulatif kasus AIDS Nasional sampai dengan 31 Desember 2008
       adalah 7,12 per 100,000 penduduk (berdasarkan data BPS 2005,
       jumlah penduduk Indonesia 227.132.350 jiwa).

    g. Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari provinsi
       Papua (18,16 kali angka nasional), Bali (4,7 kali angka
       nasional), DKI Jakarta (4,3 kali angka nasional), Kep. Riau (3,2
       kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,5 kali angka nasional),
       Maluku (2 kali angka nasional), Papua Barat (1,4 kali angka
       nasional), Bangka Belitung (1,3 kali angka nasional), Riau (1,1
       kali angka nasional), DI Yogykarta dan Sulawesi Utara (1,05 kali
       angka nasional), dan Jawa Barat (1,04 kali angka nasional).

    h. Proporsi kasus AIDS yag dilaporkan telah meninggal adalah 20,9%.

    i. Infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah:
       * TBC: 8986
       * Diare kronis: 4542
       * Kandidiasis oro-faringeal: 4479
       * Dermatitis generalisata: 1146
       * Limfadenopati generalisata: 603

    j. Pada triwulan ini penambahan kasus AIDS adalah sebanyak 974
       kasus.

    k. Pada laporan ini ada beberapa provinsi yang jumlah kasus AIDSnya
       berkurang atau bertambah secara signifikan dibandingkan laporan
       triwulan sebelumnya. Hal ini disebabkan verifikasi dengan data
       provinsi.

[Catatan:

1. Terkait dengan komentar di (k) di atas, Provinsi  melaporkan
    perubahan kasus AIDS sebagaimana berikut:

    NAD: +4
    Sumatera Utara: -183
    Sumatera Barat: +20
    Sumatera Selatan: +29
    Bengkulu: +13
    Bangka Belitung: +28
    Kepulauan Riau: +6
    DKI Jakarta: +54
    Banten: +3
    Jawa Barat: +285
    Jawa Tengah: +121
    DI Yogykarta: +117
    Jawa Timur: +66
    Bali: +308
    Nusa Tenggara Barat: -34
    Kalimantan Tengah: +2
    Sulawesi Utara: +44
    Sulawesi Tenggara: +2
    Maluku: +1
    Papua: +88

2. Laporan mengenai faktor risiko tidak mencatat jumlah mutlak,
    melainkan hanya mencatat persentase kasus AIDS yang dilaporkan
    berasal dari masing-masing faktor risiko. Namun untuk Transfusi
    Darah/Hemofila, persentase dicatat dalam laporan adalah 0,0%, jadi
    saya bingung mengenai kasus ini. Pada laporan sd September 2008,
    persentase untuk faktor risiko ini 0,3%, atau kurang lebih sama
    dengan 46 kasus.

3. File statistik lengkap dalam format HTML, MS-Excel dan PDF sudah
    diupload ke bagian Statistik di situs web Spiritia
    <http://spiritia.or.id/Stats/Statistik.php>]

--

#2998 From: Wati Darwisyah <watidarwis_wpf@...>
Date: Tue Jan 20, 2009 11:05 am
Subject: Vacancy at WPF Indonesia - Country Representative
watidarwis_wpf
Send Email Send Email
 
COUNTRY REPRESENTATIVE, INDONESIA

 

World
Population Foundation  (WPF) seeks a
dynamic, committed  individual  to 
lead  its Indonesia  programme. 
This  position  is 
based  in  Jakarta, 
Indonesia.  In the third  and fourth week of February 2009 interviews
with shortlisted candidates will take place. The new appointee is expected  to
commence duties on 1 July 2009,  for an 
initial one-year period.

 

The organisation: WPF, a Dutch NGO,
promotes reproductive health and reproductive rights in developing countries.
WPF implements programmes in Asia and Africa. We are a small, but rapidly
evolving  organisation. 
WPF  believes  in  a  non-hierarchical  and transparent team approach in its
work and
decision-making. Our overseas programmes are exciting and innovative, and
individuals joining our team will further shape the global programme direction.


 

The Indonesia programme: Since 2005 WPF has a
field office in Indonesia and put in place 
a  team  to manage 
and  expand  its 
portfolio.  The  team 
currently  consists  of  8 national
staff and a Country Representative. The Country Representative  is ultimately
accountable  for 
all  programme  operations, 
quality  of  technical 
work,  and  resources allocated  to 
the  Indonesia  office. 
The Country Programme's 
overall  goal  is 
to  ensure reproductive  rights 
and  reproductive  health 
for  all  with 
special  emphasis  to 
children, young people and (sexually) abused girls and women. WPF aims
to reach that goal by providing 
technical assistance  in  the 
field of sexual and  reproductive
health and  rights and strengthening
institutional development of Indonesian NGOs and institutions.  

 

The position: You will be responsible
for  leading, strategizing, and guiding
all aspects of  the  Indonesia 
programme,  from  country 
strategic  plan  refinement 
to  project development  to 
program  implementation  and 
evaluation.  We  are 
looking  for  an individual 
with  five  to 
seven  years'  experience 
with  developing  and 
managing reproductive  and  sexual 
health  programmes,  preferably 
in South-East Asian  settings. You  will 
have  a  Masters' 
degree  in  Public 
Health  or  a 
relevant  field  and 
a  strong technical knowledge  in 
reproductive health and a 
reproductive  rights approach  in your

work.
Demonstrated fundraising experience is a preference will be highly regarded.

 

You will  be 
an  experienced  team 
player  and manager, with  proven 
leadership,  team building verbal
and written communication, networking and interpersonal skills. You are a
problem solver,  flexible, pragmatic, and
patient. You have a good sense of humour. You must be sensitive to gender
issues and cross-cultural settings. 

 

Individuals  interested 
in applying  for  the position are  requested 
to send a cover  letter stating  why 
they  are  interested 
in  the  position,  a 
detailed  CV,  names 
and  contact information of three
referees to: 

 

Mr. Gert Jan
Geertsema 

World
Population Foundation

Vinkenburgstraat
2 A  3512 AB Utrecht 

The
Netherlands 

Tel: +31
(0)30 23 93 888office@... (e-mail) 

 

WPF offers a
salary and benefits package comparable with other European NGOs. The closing
date  for applications  is Friday 6 February 2009. Short-listed
applicants will be invited for an interview in the third and fourth week of
February 2009. We regret that we are 
not  able  to 
respond  to  every 
application  and  individuals 
who  do  not 
receive  a response within this
timeframe should assume that they were not short-listed.

 

Additional  information about WPF  in general and  this employment opportunity,
can be found at
our website: http://www.wpf.org






[Non-text portions of this message have been removed]

#2999 From: "Chris W. Green" <chrisg@...>
Date: Wed Jan 21, 2009 2:07 am
Subject: Infeksi Oportunistik yang dilaporkan kepada Depkes
wartaaids
Send Email Send Email
 
Di antara informasi yang disediakan pada laporan triwulan Depkes ada
tabel "Infeksi Oportunistik yang dilaporkan sd 31 Desember 2008"
(angka pada 31 Desember 2007 dalam kurung):

TB                          8986 (5975)
Diare kronis                4542 (3605)
Kandidiasis                 4479 (3459)
Dermatitis                  1146  (958)
Limfadenopati Generalisata   603  (504)
PCP                          474  (294)
Ensefalopati                 386  (252)
Herpes Zoster                299  (225)
Herpes Simpleks              141  (105)
Toxoplasmosis                104   (56)
Sarkoma Kaposi                79   (78)
Wasting syndrome              59   (59)
Koksidiomikosis               34   (34)
Histoplasmosis                14    (2)
PML                            6    (-)
CMV                            4    (1)
Kriptosporidiosis              1    (1)

Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163  Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>

Messages 2970 - 2999 of 3526   Oldest  |  < Older  |  Newer >  |  Newest
Add to My Yahoo!      XML What's This?

Copyright © 2010 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines NEW - Help