Pak Nadiar dan teman-teman lain Yth:
Sebenarnya kami sangaaaatt mendambakan agar BKKBN Pusat dan Daerah ikut
bersama-sama KPAD, LSM dan instansi lain untuk melakukan kampanye serta
desensitisasi kondom.
Ini "kekeliruan" BKKBN juga dimasa lalu dimana di tahun 1980-1990 mereka
hanya fokus pada KONTAP (kontrasepsi mantap) saja. Saat itu kondom kan
tidak dianggap sebagai KONTAP. Sehingga sampai saat inipun orang masih
"risih" dengan kondom. Konon membeli kondom saja masih malu-malu.
Beda dengan Thailand yang sudah melaksanakan desensitisasi kondom sejak
tahun 1975.
Kalau mereka mau, PLKB (petugas lapangan KB) yang jumlahnya puluhan ribu
di seluruh Indonesia dan hampir semuanya pegawai negeri (terus terima
gaji), sekarang kan bisa dialihkan agar penduduk sasarannya juga PSK
atau laki-laki yang perilakunya lebih berisiko.
Sebenarnya ini akan lebih berlanjut karena mereka sudah pegawai negeri.
Beda dengan petugas lapangan dari LSM yang amat tergantung dari donor.
Selain itu, konon mereka kan sudah amat berpengalaman melaksanakan KIE.
Setahu saya pekerjaan PLKB saat ini hanya sensus KK miskin setiap tahun.
Selebihnya saya kurang tahu ........ entah apa yang dikerjakan. Atau di
daerah (karena desentralisasi) mungkin sudah banyak yang dipindahkan ke
instansi lain.
Kami di daerah sudah berusaha advokasi pada BKKBN Prov dan Kabupaten
untuk melaksanakan hal di atas, tetapi tampaknya mereka amat memerlukan
"PETUNJUK DARI ATAS". Mereka bilang ...... "aduhhh pikiran kami BUNTU".
Ini kan sudah kebiasaan mereka dari tahun 1970, segalanya dari atas.
BKKBN Prov dan Kab hanya pelaksana saja. Begitu "PETUNJUK" dari atas
putus, yang dibawah lansung kolaps. Karena bupati melihat BKKBN tidak
lagi ada pekerjaannya, ya ...... di beberapa daerah lembaganya
dibubarkan, antara lain di Kab. Badung (di Bali).
Pak Nadiar, kalau rapat-rapat lagi dengan BKKBN di Pusat, bisa diusulkan
agar PLKB dimanfaatkan untuk itu. Kan STI, HIV/AIDS, KONDOM masih
KESEHATAN REPRODUKSI. Dibanding ngurus KUKESRA yang tidak jelas
hasilnya. Dan ..... tolong sampaikan juga bahwa BKKBN Daerah perlu
"PETUNJUK" dari BKKBN Pusat.
Salam,
Wirawan
Nadiar wrote:
>
> Pak Wirawan,
> Tadi waktu rapat Pokja KS, wakil BKKBN menginformasikan bahwa dalam waktu
> dekat akan menyerahkan 7 (tujuh) condom vending machine ke Prop. Papua. lalu
> saya informasikan pada beliau tentang pengamatan di Bali itu. Sulit juga
> beliau menjawab. Bu Abby sarankan agar hasil pengamatan itu diemailkan saja
> ke BKKBN.
> Wassalam.
> Nadiar
> ----- Original Message -----
> From: "Dr. D.N. Wirawan" <ykpdps@...>
> To: <ykb-jkt@...>; <dr.suharto@...>
> Cc: <forumaids_semarang@yahoogroups.com>; <kalandara_org@...>;
> <aids-ina@yahoogroups.com>; <wartaaids@yahoogroups.com>;
> <nmboi@...>; <ndiar@...>; <aruddick@...>;
> <episani@...>; <swignall@...>; <pcbali@...>;
> <dogi@...>; <tuti@...>;
> <partha@...>; <nurlan_silitonga@...>;
> <mkarmaya@...>
> Sent: Thursday, December 09, 2004 10:46 PM
> Subject: Re: [WartaAIDS] Re: Mesin kondom yang di Bali belum berfungsi
> (tarohan hayooo...)
>
> > Pak dr. Suharto,
> >
> > Agar saya berani tarohan dengan dr. Adi Sasongko (lihat tantangan beliau
> > di bawah ini), apakah Pak Suharto bisa bantu saya?
> >
> > Teman-teman di KPA mohon print e-mail saya tentang hasil pengamatan kami
> > di Bali thd mesin kondom tersebut, lalu bagikan ketika rapat (di KPA
> > dengan BKKBN) atau kalau tidak ada acara rapat boleh juga titipkan ke
> > BKKBN.
> >
> > Siapa tahu saya menang ........ tapi kemungkinannya amatttt tipis karena
> > mesin kondomnya mungkin sudah kadong dibeli.
> >
> > Kalau saya menang, saya tidak perlu ke Jakarta tetapi Pak Suharto yang
> > akan ditraktir oleh Pak Adi. Kalau saya kalah, tolong Pak Suharto yang
> > traktir Pak Adi .... he.....he.
> >
> > Sebenarnya BKKBN ... BISA, AMAT POTENSIAL, PERLU dan HARUS ikut kampanye
> > dan desensitisasi kondom, tetapi jangan mesin yang dibeli. Tiru saja
> > cara-cara yang ditempuh oleh Mechai (di Thailand).
> >
> >
> > Wirawan
> >
> >
> > ykb-jkt@... wrote:
> > >
> > > Halo Pak Wirawan,
> > >
> > > Saya mau ngajak tarohan nih
> > >
> > > Kalau himbauan Pak Wirawan untuk menghentikan pengiriman mesin kondom
> > > tersebut didengar oleh aparat yang bersangkutan dan kemudian dibatalkan,
> > > maka Pak Wirawan akan saya traktir makan enak di Jakarta dengan catatan
> > > biaya Denpasar - Jakarta tidak saya tanggung :)
> > >
> > > Tetapi kalau himbauan Pak Wirawan tidak di dengar dan mesin kondom tetap
> > > dikirim ke Papua, maka Pak Wirawan yang harus nraktir saya di Bali
> dengan
> > > catatan biaya transpor Jakarta - Denpasar pp ditanggung ya :)
> > >
> > > Gimana hayoooo?
> > >
> > > Adi Sasongko
> >