Teman-teman pemerhati masalah HIV/AIDS Yth:
Betul, beberapa bulan yang lalu BKKBN Pusat menyerahkan bantuan satu
buah mesin kondom kepada Gubernur Bali. Agak lama mesin tersebut
tergeletak di kantor KPAD.
KPAD Provinsi Bali telah berulang kali menghubungi KPAD Kota/Kabupaten,
Dinas Kesehatan, LSM dan instansi lainnya, untuk menawarkan siapa mau
memanfaatkan mesin kondom tersebut. Karena tidak ada respons, akhirnya
ditaruh di Klinik PKBI. Sampai sekarang, belum ada konsumen kondom yang
membeli kondom dari mesin tersebut.
Walikota/Bupati, Dinas Kesehatan, dll, DAN JUGA BKKBN DAERAH, tidak
berani menaruh mesin tersebut di lokasi prostitusi karena takut dihujat
masyarakat. Mereka bilang, "kalau kami taruh mesin disana berarti kami
dianggap merestui prostitusi". Apalagi sekarang PILKADA langsung,
bisa-bisa mereka tidak terpilih menjadi walikota atau bupati (setidaknya
untuk di Bali). Jadi, membeli mesin memang gampang ..... tinggal tender,
tapi operasionalnya ...............?
Kami sudah sampaikan berulang kali kepada BKKBN di daerah, bahwa mesin
kondom untuk Bali tidak tepat dengan alasan-alasan sbb:
1. Konon, ide mesin kondom muncul dengan hasil penilaian (assessment)
bahwa orang laki tidak memakai kondom karena MALU membeli. Tampaknya,
penilaiannya agak BIAS. Mungkin sebagian kecil betul (bagi anak-anak
muda yang hubungan seks dengan pacarnya). Tetapi SEBAGAIN BESAR BIAS,
sebab sejak tahun 1994 sampai tahun 2000 (6 tahun) LSM di Bali setiap
hari menaruh kondom diatas meja di setiap kamar PSK bekerja. Toh
sebagian besar pelanggan (sekitar 60% dari mereka) tidak mau memakai
kondom. JADI TIDAK MUNGKIN MALU MEMBELI, KARENAS KONDOM SUDAH DISEDIAKAN
DI ATAS MEJA. INI FAKTA SELAMA 6 TAHUN NON-STOP. Mereka tidak mau pakai
kondom BUKAN KARENA MALU membeli tetapi karena TIDAK SENANG MEMAKAI
KONDOM.
2. Untuk mendapatkan kondom dari mesin kondom harus memakai koin. Ini
masalah, karena harus selalu ada penukaran koin di dekat mesin. Siapa
mau ngurus?
3. Pada mesin kondom yang disumbangkan di Bali, pada mesin tercantum
pilihan AROMA KONDOM (stroberi, jeruk, dll). Berarti mesin harus diisi
kondom yang beraroma yang biasa dipakai oral seks. Ini harganya cukup
mahal. Pengalaman kami di Bali, PSK "low price" amat jarang seks oral.
Hanya yang "mid price" lebih sering melayani seks oral. JADI, PENEMPATAN
MESIN HARUS TEPAT. Ini juga BIAS sebab kalau kondom beraroma biasanya
dibeli oleh ceweknya bukan oleh lakinya.
4. Mesin yang disumbangkan di Bali amat rentan rusak. Sebelum dipasang,
sempat dipamerkan (UNTUK PAMER SAJA) di pameran pembangunan 17 Agustus.
Eh ..., baru ditekan beberapa kali saja oleh pengunjung pameran .. sudah
macet. Tehnisinya datang, baik sebentar...... dan setelah itu macet
lagi. Nah bisa dibayangkan bila mesin semacam itu ditaruh di lokasi
prostitusi atau di terminal angkot, dimana banyak orang mabuk, orang
usil, orang macem-macem. KULTUR KITA BELUM SESUAI DENGAN MESIN TERSEBUT.
Mirip dengan telepon umum yang sebagian besar hilang diangkut maling
atau orang usil. Mungkin di negara-negara maju sudah lebih sesuai.
Dari 4 hal di atas, fakta nomer 1 yang paling kuat bagi kami di Bali
untuk merekomendasikan kepada Pak Gubernur bahwa MESIN KONDOM TIDAK
TEPAT DI BALI.
Salam,
Wirawan
KPAD Bali
kalandara semarang wrote:
>
> Salam...Hangat...
>
> agama atau yang lain) negatif! Menolak fasilitas tersebut! Wah repot dong!
Kabar bagusnya pemerintah daerah JAtim, tampaknya juga bersungguh untuk perang
terhadap IMS-HIV/AIDS ini terbukti dari sudah adanya Perda No 5/2004 tentang
Pencegahan dan Penanggulanan HIV/AIDS di Jatim.yang pada salah satu pasalnya
terulis: Risiko tinggi infeksi menular seksual dan HIV AIDS wajib menggunakan
kondom 100 persen. Wah...keren! (hukumnya wajib lho!) Tapi siapa yang memantau?
>
> Untuk daerah yang lain, BKKBN harusnya dimulai perancangan strategi
menyangkut:lokasi penempatan, penanggungjawab, regulasi hingga dukungan
komunitas setempat. (syukur lagi jika "community empowerment"nya berjalan!)
Semoga Sukses!!!
>
> Ini file mengenai berita "mesin kondom" tersebut diambil dari
http:jawapost.com
>
> Wassalam
>
> Agus Aribowo
> kalandara-semarang
>
>
>
>
> Kamis, 02 Des 2004
> Mesin Penjual Kondom Otomat BKKBN Jatim
>
> Terobosan Baru, Bingung Cari Lokasi Penempatan
> Banyak orang malu-malu membeli kondom. Termasuk yang sudah berkeluarga. Untuk
menyiasati itu, Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jatim punya
terobosan. Membuat mesin vending kondom. Dengan demikian, pembeli kondom tak
usah berhadapan dengan penjualnya karena mesin ini mampu melayani secara
otomatis.
> -----------------
> KONDOM sudah lama dikenal sebagai salah satu alat kontrasepsi. Alat berbahan
dasar lateks (sejenis karet) itu punya tingkat efektifitas tinggi dalam mencegah
kehamilan. Selain itu, kondom juga menjadi sarana alternatif mencegah penularan
penyakit menular seksual.
>
> "Tapi, sosialisasi penggunaan kondom ternyata masih sulit," ujar Kepala Seksi
Partisipasi Pria BKKBN Jatim David Hoetapea. Masyarakat tidak hanya enggan
memakai kondom. "Bahkan, membelinya pun masih malu-malu," lanjut dia.
>
> Termasuk yang sudah berkeluarga. Ada pasangan suami istri (pasutri) yang tak
jadi beli kondom karena saling ngotot. "Yang pria menyuruh istrinya, sementara
yang wanita menyuruh suaminya," katanya.
>
> Yang lucu, jarang ada pasutri yang langsung ngomong beli kondom saat di toko.
"Biasanya, mereka pura-pura membeli barang lain dulu," cerita David. Saat di
apotek, misalnya. Mereka pura-pura beli obat flu. Setelah dilayani, baru bilang,
"Kondomnya sekalian juga ah," lanjutnya.
>
> Mempelajari pengalaman seperti itu, BKKBN membuat terobosan. Mereka mencoba
menggunakan mesin vending kondom. Yakni, mesin yang mampu menjual kondom secara
otomatis. Alat ini kemarin dipamerkan di Peringatan Hari AIDS sedunia, di Jalan
Jarak.
>
> Bentuk mesin penjual kondom itu sederhana saja. Mirip boks telepon umum. Ada
tempat untuk memasukkan koin, ada tempat keluarnya kondom.
>
> Cara membelinya pun mudah. Pembeli tinggal memasukkan tiga koin Rp 500-an.
"Yang bisa koin berwarna putih," kata Kamari, salah satu staf BKKBN Jatim.
Setelah itu, pembeli langsung menekan jenis kondom yang diinginkan. Maka,
keluarlah kondom itu dari lubang yang tersedia.
>
> Ada tiga pilihan kondom yang disediakan. Beraroma chocolate, vanilla, dan
strawberry. Tapi, sebenarnya mesin buatan Tangerang itu mampu menampung hingga
lima jenis kondom. Tiap jenis, bisa mencapai 20 buah. Artinya, dalam satu mesin
bisa dijual sampai 100 kondom. Menurut Kamari, BKKBN Jatim adalah instansi
pertama yang mempergunakan mesin itu. "Ini terobosan baru," ujarnya.
>
> Hanya, penempatan mesin itu ternyata bukan perkara mudah. Hingga kini, pihak
BKKBN Jatim masih mensurvei tempat-tempat yang memungkinkan untuk ditempati
mesin itu. "Jangan sampai mesin ini malah disalah gunakan. Misalnya, oleh
anak-anak di bawah umur," imbuh David Hoetapea.
>
> Karena itu, pihak BKKBN akan melakukan sosialisasi dan koordinasi dengan
ulama. "Sebab, masalah kondom ini juga termasuk sensitif. Ada yang bilang tabu,"
lanjutnya.
>
> Kemarin, Pemprov Jatim juga mencanangkannya sebagai hari Penanggulangan Napza
dan AIDS di Jatim. Salah satunya adalah sosialisasi penggunaan kondom. Hadir
juga Ketua Penanggulangan HIV AIDS Nasional, Napsiah Mboi.
>
> Pada pameran itu, Napsiah sempat mempraktekkan cara pemakaian kondom yang
benar dengan menggunakan media penis mainan dari kayu. Dia dibantu Mbak Vera
dari Yayasan Abdi Asih.
>
> Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Jatim Bambang Giatno menyosialisasikan
Perna No 5/2004 tentang Pencegahan dan Penanggulanan HIV/AIDS di Jatim. Pada
pasal 3 (3c) perda ini terulis: Risiko tinggi infeksi menular seksual dan HIV
AIDS wajib menggunakan kondom 100 persen.
>
> "Tapi, penggunaan kondom bukan untuk melegalkan seks bebas. Itu untuk
melindungi masyarakat," kata Bambang. Salah satu pencegahan HIV/AIDS paling
ampuh adalah tidak melakukan hubungan seksual dan setia terhadap pasangan. (doan
widhiandono/nur aini roosilawati)