Pak Syaiful dan teman2,
Sebagaimana biasa jawaban Pak Wirawan dapat membantu pemahaman kita semua.
Untuk menjawab pertanyaan ke-2: "Mengapa, sih, advokasi obat untuk Odha
sangat gencar?"
(yang bertanya memberikan alasan obat penyakit lain juga muahal)
perkenankan saya menambahkan pada jawaban Pak Wirawan:
1. Aspek HAM: setiap orang tanpa diskriminasi (termasuk odha), berhak
untuk mendapat derajat kesehatan yang se-tinggi2 nya - untuk itu dia berhak
mendapat informasi dan pelayanan (the right to information and services)
untuk mencapainya. Setiap orang berhak untuk hidup sebagai manusia yang
berharkat dan bermartabat tinggi, dengan "reasonable standard of living".
Aspek HAM yang juga sangat penting adalah "the right to free association" -
yang merupakan prinsip dasar GIPA. GIPA telah membuktikan, bahwa
keterlibatan penuh Odha berdampak positif pada seluruh upaya pencegahan dan
penanggulangan HIV/AIDS -- karena Odha mau dan mampu membagi tanggung
jawab dan bekerja sama dengan semua stakeholders yang lain dalam memerangi
HIV/AIDS.
2. Aspek Epidemiologis: disamping butir 1 tsb diatas, pengobatan yang
baik dan konsisten, menyebabkan jumlah virus dalam darah (viral load) akan
berkurang, sehingga risiko penularan juga akan berkurang (contoh jelas:
pencegahan penularan dari ibu ke bayinya - PMTCT).
3. Aspek Pelayanan: Commitment "3 by 5" yang disponsori WHO, tidak hanya
terbatas pada penyediaan ARV saja, tetapi mewajibkan pemerintah untuk
meningkatkan jumlah dan mutu pelayanan kesehatan : dari diagnosa dengan
Konseling dan Testing secara Sukarela sampai kepada perawatan dan dukungan
yang berkesinambungan (RS, Puskesmas, masyarakat dan keluarga) secara
profesional dan masusiawi, tanpa diskriminasi yang juga akan berdampak
positif bagi upaya penanggulangan HIV/AIDS secara menyeluruh.
4. Aspek sos-ek: bila advokasi pengobatan disertai peningkatan jumlah
dan mutu pelayanan (termasuk perawatan, pengobatan, konseling , dan dukungan
psiko sosial serta ekonomi) yang memadai, maka dampaknya akan positif bagi
odha, masyarakat bahkan pemerintah: jumlah kesakitan dan kematian berkurang,
odha bisa produktif, biaya pengobatan menurun. Sering dilupakan, bahwa bila
HIV/AIDS dibiarkan merajalela, maka biaya pengobatan untuk infeksi
oportunistik seperti TBC, penyakit paru2, diare kronis, kanker , dan
berbagai penyakit lainnya juga akan meningkat yang akan merupakan beban
sos-ek yang sangat besar bagi perorangan, masyarakat dan pemerintah.
Dalam jangka lebih panjang, akses pada pengobatan, rawatan dan dukungan yang
memadai Insya Allah akan mencegah peningkatan jumlah anak yatim piatu yang
orang tuanya meninggal karena AIDS yang merupakan masalah sosial-ekonomis
yang telah menimpa banyak negara di Afrika.
Sekian dulu, semoga bermanfaat.
Salam,
Nafsiah Mboi
KPA Nasional
----- Original Message -----
From: "Dr. D.N. Wirawan" <ykpdps@...>
To: "infokespro" <infokespro@...>; <aids-ina@yahoogroups.com>;
<wartaaids@yahoogroups.com>
Sent: Thursday, October 07, 2004 14:18
Subject: [WartaAIDS] Re: [aids-ina] Pertanyaan tentang AIDS
>
> Pak Syaiful dan teman-teman pemerhati masalah HIV/AIDS Yth:
>
>
> Betul Pak, dalam seminar, lokakarya, dll, banyak juga muncul pertanyaan
> serupa bahkan juga dari anggota-anggota KPAD beberapa provinsi termasuk
> Bali.
>
> Penjelasan saya dibawah ini mungkin tidak sistematis dan tidak komplit.
> Saya yakin akan ada penjelasan juga dari teman-teman lain.
>
> Pertama, dari segi BIOMEDIS
>
> AIDS disebabkan oleh virus yang sampai saat ini belum ada vaksinnya.
> Obatnya baru tersedia, tetapi juga belum bisa memusnahkan virus ini dari
> tubuh manusia sehingga obat harus diminum seumur hidup. Pengalaman
> menunjukkan bahwa obat TBC yang hanya diminum 6 bulan saja, sekitar 50%
> dari pemakai obat drop-out, padahal obatnya cuma-cuma.
>
> Perjalanan penyakit yang amat panjang (khronis) yang amat berbeda dengan
> penyakit-penyakit lain seperti SARS, demam berdarah, dan penyakit akut
> lainnya. Masa infeksi SARS hanya sekitar 10 hari. Karena itu, penderita
> cukup diisolasi 10 hari (di RS atau di rumahnya), dan setelah itu tidak
> menular lagi. Orang yang terinfeksi HIV tampak sehat bertahun-tahun dan
> bisa menularkan virusnya pada orang lain selama puluhan tahun.
>
> Saya sering menjelaskan hal ini IBARATNYA PERANG DI IRAK. SARS saya
> ibaratkan ketika Amerika menjatuhkan Irak hanya dalam waktu 1 bulan.
> HIV/AIDS saya ibaratkan seperti yang dialami oleh Amerika setelah 1
> bulan tersebut sampai detik ini. SARS ibaratnya perang frontal di gurun
> pasir, HIV/AIDS ibaratnya perang grilya yang memakan waktu
> bertahun-tahun dan ..... Amerika pun sering kalah (Irak, Vietnam).
>
> Dari segi EPIDEMIOLOGI
>
> Penularan HIV berbeda dengan virus lain. Dia bisa menular melalui
> seksual, melalui darah, dan dari ibu hamil ke bayi. Jarang ada kuman
> yang menularnya seperti ini.
>
> Angka prevalen (jumlah penduduk) dunia yang saat ini mengidap HIV
> sekitar 40 juta dan setiap hari ada jutaan infeksi baru (angka insiden).
> Mortalitasnya juga bisa dikatakan 100%, dan matinya pelan-pelan dimana
> selama itu virus terus bisa ditularkan. Seandainya sekarang tertular HIV
> lalu 3 hari setelah itu langsung meninggal, maka angka prevalennya tidak
> akan sampai 40 juta karena masa penularannya pendek.
>
> Dari segi SOSIAL
>
> Karena menular melalui seksual (pekerja seks/pelanggan, dll) dan jarum
> suntik (terutama pemakai narkotika), maka penanggulangannya menjadi amat
> sulit karena pasti akan pro-kontra, karena menyangkut aspek legal,
> moral, dll. Akhirnya mereka juga akan menjauhkan diri dan dijauhkan oleh
> masyarakat lain. Ini tambah mempersulit. Dengan demikian, penularan
> terus berjalan. Kalau pada SARS tidak ada issue moral, agama, dll.
>
> Dari segi EKONOMI
>
> Wabah HIV/AIDS mencuat pertama kali di Amerika dan negara-negara kaya
> lainnya. Tetapi di negara-negara tersebut, jumlah infeksi baru terus
> menurun. Bagaimana dengan Afrika dan negara-negara miskin lainnya? Amat
> susah, karena amat erat dengan kemiskinan dan tingkat pendidikan
> penduduknya. Jumlah pekerja seks di Thailand baru bisa berkurang setelah
> lapangan kerja di desa-desa yang amat miskin ditingkatkan oleh
> pemerintahnya terutama melalui program agrobisnisnya.
>
> MENGAPA ADVOKASI PADA ODHA AMAT GENCAR?
>
> Pertanyaan ini juga banyak muncul kalau saya menghadiri pertemuan,
> lokakarya, dll. Biasanya saya menjawab dengan pendek, "untuk membongkar
> dasar gunung es-nya", agar mereka "mau muncul ke permukaan". Agar
> penduduk yang perang grilya dan sembunyi di hutan-hutan mau muncul. Agar
> mereka mau (tidak takut) untuk mengikuti VCT.
>
> Salah satu tujuan VCT adalah untuk melakukan perubahan perilaku mereka.
> Dari nyuntik narkoba menjadi berhenti nyuntik atau agar tidak berbagi
> jarum dengan orang lain. Agar mereka "mau turun gunung", maka mereka
> harus merasakan apa manfaatnya, atau dengan kata lain ... tujuan VCT
> yang kedua adalah untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Ini timbal
> balik. Mereka mau VCT kalau dirasakan ada manfaatnya atau dengan kata
> lain kualitas hidup mereka akan membaik (ada layanan medis, dll). Kalau
> kualitas hidupnya bertambah baik ... akan lebih mudah untuk melakukan
> behavior change pada mereka.
>
> Dengan kalimat pendek ... agar pengidap HIV yang kita tidak tahu entah
> siapa .... mau "turun gunung". Setelah turun gunung lalu diajak bicara.
> Kalau setelah turun gunung lalu ditembak, ya ... mereka perang grilya
> lagi.
>
> Wah .....penjelasan saya terlalu panjang dan mungkin simpang siur. Teman
> lain pasti punya penjelasan yang pendek tapi pas.
>
> Salam hormat,
> Wirawan
> Denpasar, Bali
>
>
> infokespro wrote:
> >
> > Saya sering berhadapan dengan orang-orang yang bertanya:
> >
> > 1. "Mengapa, sih, begitu banyak perhatian terhadap HIV/AIDS?"
> > (yang bertanya memberikan alasan penyakit lain juga perlu
> > diprehatikan)
> >
> > 2. "Mengapa, sih, advokasi obat untuk Odha sangat gencar?"
> > (yang bertanya memberikan alasan obat penyakit lain juga muahal)
> >
> > Agar jawaban saya bisa cespleng, tolong, dong, rekan-rekan di milis
> > ini memberikan alasan yang bernalar agar dapat ditangkap semua orang
> > dengan lapang dada.
> >
> > Salam takzim,
> > Syaiful W. Harahap
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>
>
>