Pak Syaiful dan teman-teman pemerhati masalah HIV/AIDS Yth:
Betul Pak, dalam seminar, lokakarya, dll, banyak juga muncul pertanyaan
serupa bahkan juga dari anggota-anggota KPAD beberapa provinsi termasuk
Bali.
Penjelasan saya dibawah ini mungkin tidak sistematis dan tidak komplit.
Saya yakin akan ada penjelasan juga dari teman-teman lain.
Pertama, dari segi BIOMEDIS
AIDS disebabkan oleh virus yang sampai saat ini belum ada vaksinnya.
Obatnya baru tersedia, tetapi juga belum bisa memusnahkan virus ini dari
tubuh manusia sehingga obat harus diminum seumur hidup. Pengalaman
menunjukkan bahwa obat TBC yang hanya diminum 6 bulan saja, sekitar 50%
dari pemakai obat drop-out, padahal obatnya cuma-cuma.
Perjalanan penyakit yang amat panjang (khronis) yang amat berbeda dengan
penyakit-penyakit lain seperti SARS, demam berdarah, dan penyakit akut
lainnya. Masa infeksi SARS hanya sekitar 10 hari. Karena itu, penderita
cukup diisolasi 10 hari (di RS atau di rumahnya), dan setelah itu tidak
menular lagi. Orang yang terinfeksi HIV tampak sehat bertahun-tahun dan
bisa menularkan virusnya pada orang lain selama puluhan tahun.
Saya sering menjelaskan hal ini IBARATNYA PERANG DI IRAK. SARS saya
ibaratkan ketika Amerika menjatuhkan Irak hanya dalam waktu 1 bulan.
HIV/AIDS saya ibaratkan seperti yang dialami oleh Amerika setelah 1
bulan tersebut sampai detik ini. SARS ibaratnya perang frontal di gurun
pasir, HIV/AIDS ibaratnya perang grilya yang memakan waktu
bertahun-tahun dan ..... Amerika pun sering kalah (Irak, Vietnam).
Dari segi EPIDEMIOLOGI
Penularan HIV berbeda dengan virus lain. Dia bisa menular melalui
seksual, melalui darah, dan dari ibu hamil ke bayi. Jarang ada kuman
yang menularnya seperti ini.
Angka prevalen (jumlah penduduk) dunia yang saat ini mengidap HIV
sekitar 40 juta dan setiap hari ada jutaan infeksi baru (angka insiden).
Mortalitasnya juga bisa dikatakan 100%, dan matinya pelan-pelan dimana
selama itu virus terus bisa ditularkan. Seandainya sekarang tertular HIV
lalu 3 hari setelah itu langsung meninggal, maka angka prevalennya tidak
akan sampai 40 juta karena masa penularannya pendek.
Dari segi SOSIAL
Karena menular melalui seksual (pekerja seks/pelanggan, dll) dan jarum
suntik (terutama pemakai narkotika), maka penanggulangannya menjadi amat
sulit karena pasti akan pro-kontra, karena menyangkut aspek legal,
moral, dll. Akhirnya mereka juga akan menjauhkan diri dan dijauhkan oleh
masyarakat lain. Ini tambah mempersulit. Dengan demikian, penularan
terus berjalan. Kalau pada SARS tidak ada issue moral, agama, dll.
Dari segi EKONOMI
Wabah HIV/AIDS mencuat pertama kali di Amerika dan negara-negara kaya
lainnya. Tetapi di negara-negara tersebut, jumlah infeksi baru terus
menurun. Bagaimana dengan Afrika dan negara-negara miskin lainnya? Amat
susah, karena amat erat dengan kemiskinan dan tingkat pendidikan
penduduknya. Jumlah pekerja seks di Thailand baru bisa berkurang setelah
lapangan kerja di desa-desa yang amat miskin ditingkatkan oleh
pemerintahnya terutama melalui program agrobisnisnya.
MENGAPA ADVOKASI PADA ODHA AMAT GENCAR?
Pertanyaan ini juga banyak muncul kalau saya menghadiri pertemuan,
lokakarya, dll. Biasanya saya menjawab dengan pendek, "untuk membongkar
dasar gunung es-nya", agar mereka "mau muncul ke permukaan". Agar
penduduk yang perang grilya dan sembunyi di hutan-hutan mau muncul. Agar
mereka mau (tidak takut) untuk mengikuti VCT.
Salah satu tujuan VCT adalah untuk melakukan perubahan perilaku mereka.
Dari nyuntik narkoba menjadi berhenti nyuntik atau agar tidak berbagi
jarum dengan orang lain. Agar mereka "mau turun gunung", maka mereka
harus merasakan apa manfaatnya, atau dengan kata lain ... tujuan VCT
yang kedua adalah untuk meningkatkan kualitas hidup mereka. Ini timbal
balik. Mereka mau VCT kalau dirasakan ada manfaatnya atau dengan kata
lain kualitas hidup mereka akan membaik (ada layanan medis, dll). Kalau
kualitas hidupnya bertambah baik ... akan lebih mudah untuk melakukan
behavior change pada mereka.
Dengan kalimat pendek ... agar pengidap HIV yang kita tidak tahu entah
siapa .... mau "turun gunung". Setelah turun gunung lalu diajak bicara.
Kalau setelah turun gunung lalu ditembak, ya ... mereka perang grilya
lagi.
Wah .....penjelasan saya terlalu panjang dan mungkin simpang siur. Teman
lain pasti punya penjelasan yang pendek tapi pas.
Salam hormat,
Wirawan
Denpasar, Bali
infokespro wrote:
>
> Saya sering berhadapan dengan orang-orang yang bertanya:
>
> 1. "Mengapa, sih, begitu banyak perhatian terhadap HIV/AIDS?"
> (yang bertanya memberikan alasan penyakit lain juga perlu
> diprehatikan)
>
> 2. "Mengapa, sih, advokasi obat untuk Odha sangat gencar?"
> (yang bertanya memberikan alasan obat penyakit lain juga muahal)
>
> Agar jawaban saya bisa cespleng, tolong, dong, rekan-rekan di milis
> ini memberikan alasan yang bernalar agar dapat ditangkap semua orang
> dengan lapang dada.
>
> Salam takzim,
> Syaiful W. Harahap