Suplemen Multivitamin Menunda Lajunya Penyakit HIV
Hasil dari penelitian pengamatan memberi kesan bahwa status mikrogizi
(micronutrient) mempengaruhi lajunya penyakit HIV. Untuk menilai
kesimpulan ini, peneliti melibatkan 1078 perempuan hamil terinfeksi HIV
dalam penelitian 'double-blind' dikontrol dengan plasebo* di Dar es
Salaam, Tanzania. Tujuan penelitian tersebut adalah untuk menyelidiki
dampak dari suplemen harian vitamin A (vitamin A prabentuk dan beta
karotin), multivitamin (vitamin B, C dan E), atau keduanya pada laju
penyakit HIV, dengan memakai model ketahanan hidup.
Pemantauan rata-rata terkait dengan ketahanan hidup dalah 71 bulan.
Hasil
Hasil penelitian ini diterbitkan di New England Journal of Medicine
edisi 1 Juli 2004.
Dari 271 perempuan yang diberikan multivitamin, 67 menimbulkan penyakit
tahap 4 berdasarkan tahapan WHO atau meninggal dunia - hasil primer -
dibandingkan dengan 83 dari 267 perempuan yang menerima plasebo
(p=0,04).
Regimen ini juga dikaitkan dengan penurunan pada risiko relatif
kematian akibat AIDS (p=0,09), lajunya pada penyakit tahap 4 (p=0,02),
atau lajunya pada penyakit tahap 3 atau 4 (p=0,003).
Multivitamin juga menghasilkan jumlah CD4 dan CD8 yang lebih tinggi
secara bermakna dan viral load yang lebih rendah secara bermakna.
Dampak penerimaan vitamin A secara sendiri adalah lebih kecil dan
sebagian besar tidak berbeda secara bermakna dari yang dihasilan oleh
yang menerima plasebo. Bila multivitamin disertai dengan vitamin A,
manfaatnya lebih rendah berhubungan dengan beberap hasil akhir yang
diteliti.
Para penulis menyimpulkan, "Suplemen multivitamin menunda lajunya
penyakit HIV dan memberi cara yang efektif dan murah untuk menunda
mulainya terapi antiretroviral pada perempuan yang terinfeksi HIV."
Pada tajuk rencana New England Journal of Medicine yang menyertai
artikel, Dr. Barbara Marston and Kevin De Cock dari Pusat
Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit di Kenya mendesak dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk mendukung penemuan, Sehingga saat itu,
para dokter sebaiknya meresepkan multivitamin sebagai dukungan gizi
secara berkala, karena hal ini mungkin memberi manfaat dan tidak
menimbulkan dampak buruk.
* Plasebo: Zat atau obat yang tidak menimbulkan efek pada tubuh (sering
kali pil berisi gula). Zat ini diberikan pada salah satu kelompok
sebagai pembanding dalam sebuha uji coba klinis, sementara kelompok
lain diberikan obat sebenarnya. Hasil dari kedua kelompok itu kemudian
dibandingkan.
Referensi:
W W Fawzi and others. Randomized Trial of Multivitamin Supplements and
HIV Disease Progression and Mortality. New England Journal of Medicine
351(1): 23-32. July 1, 2004.
B Marston and K M De Cock. Multivitamins, Nutrition, and Antiretroviral
Therapy for HIV Disease in Africa (Editorial). New England Journal of
Medicine 351(1): 78-80. July 1, 2004.
URL: http://www.hivandhepatitis.com/recent/women/070204_a.html