Liburan Akhir Minggu dari ART?
Oleh Edwin J. Bernard, 14 Juli 2004
Sebuah penelitian yang sangat menarik dipresentasikan pada Konferensi
AIDS Internasional. Penelitian tersebut menelitikan hasil dari terapi
yang diminum lima hari seminggu diikuti dua hari berurutan 'libur'
(obat tidak diminum). Ditemukan bahwa ini mungkin pilihan untuk mereka
yang memakai ART dengan NNRTI (efavirenz atau nevirapine). Strategi ini
tampaknya lebih berisiko untuk mereka yang memakai protease inhibitor
(PI). Namun para peneliti menekankan bahwa hasilnya masih awal dan
strategi ini tidak boleh dicoba kecuali ada pembahasan yang
berhati-hati antara pasien dan dokter.
Para peneliti dari Community Research Initiative of New England
mengevaluasi penguasaan virologis, jumlah CD4, dan pilihan pasien pada
30 orang HIV-positif. Semuanya mempunyai viral load yang rendah. Mereka
mengganti jadwal antiretroviral harian yang baku dengan jadwal terapi
lima hari pakai/dua hari tidak pakai. Penelitian diberi nama FOTO:
'Five days On, Two days Off' (lima hari pakai/dua hari tidak). "Jadwal
ini," katanya, "dipilih untuk meminimalkan risiko virus dapat 'lepas'
dengan penghentian singkat, sementara memaksimalkan kepatuhan dengan
meniru minggu kerja lima hari yang biasa, diikuti liburan dua
hari...dan juga mengurangi jumlah obat yang dipakai dan biaya 28
persen."
Data 24 minggu tersedia untuk 27 dari ke-30 peserta, 23 di antaranya
laki-laki, 19 berkulit putih, dan dengan usia rata-rata 41 (28-58).
Semua peserta mempunyai viral load pada awal di bawah 75 kopi selama
sedikitnya tiga bulan, viral load rata-rata pada awal 50 (50-516) dan
jumlah CD4 rata-rata 542 (221-1162). Sepuluh memakai ART dengan
efavirenz, dengan dua (n=8) atau tiga (n=2) analog
nukleosida/nukleotida (NRTI). Tujuh memakai ART dengan nevirapine,
dengan dua (n=6) atau tiga (n=1) NRTI.
Sepuluh memakai ART dengan PI, lima di antaranya yang memakai Kaletra
dan saquinavir tanpa NRTI, dan tiga yang sudah menambah dua NRTI pada
regimen dua PI yang terdorong ('boosted') ini. Dari sisa dua, satu
memakai nelfinavir dengan dua NRTI dan satu nelfinavir, saquinavir dan
nevirapine. NRTI yang dipakai temasuk tenofovir, 3TC, abacavir, ddI dan
d4T. Harus dicatat bawah semua peserta masuk penelitian waktu sudah
memakai terapi yang dipilih oleh mereka sendiri dan/atau oleh
dokternya.
Data dari pemantauan lanjutan berkisar dari 24-48 minggu. Dari sepuluh
peserta pada kelompok efavirenz, semuanya tetap menekankan virus (bi
bawah 50 kopi) selama 24 minggu. Semua pada kelompok ini dengan data 48
minggu (enam peserta) viral load tetap di bawah 50, sementara dua
dengan data 36 minggu tetap sama. Dua mengundurkan diri sebelum minggu
48, sata setelah 44 minggu (karena pindah tempat) waktu viral load
masih tertekan, dan satu lagi pada minggu 26 akibat efek samping yang
tidak disebut, walaupun viral loadnya masih tertekan. Dari tujuh yang
memakai ART dengan nevirapine, semua tetap tertekan virusnya pada
minggu 26. Tingkat efavirenz yang terendah ('trough concentration')
diukur pada tujuh peserta, dan hanya satu di luar kisaran terapeutik
pada akhir hari kedua 'libur' ART.
Namun kelompok yang memakai PI mempunyai dua orang yang mengalami
peningkatan kembali ('rebound') pada viral load pada minggu ke-24 dan
seorang yang dropout karena masalah penyalahgunaan zat. Namun sisanya
tujuh tetap menekankan virus pada minggu 48. Satu orang yang mengalami
peningkatan viral load memakai Kaletra dan saquinavir, dan pernah
diobati dengan terapi kombinasi dua obat, yaitu ddI dan 3TC. Viral load
setelah peningkatan adalah 3300 kopi, dan sepuluh hari kemudian turun
lagi menjadi 526. Tes resistansi genotipe menemukan mutasi PI baru
walaupun tes fenotipe tidak menemukan perubahan dalam kepekaannya virus
pada Kaletra atau pun saquinavir, dan kemudian viral loadnya turun lagi
menjadi di bawah 50 kopi dengan terapi harian.
Orang kedua mempunyai HIV yang resistan terhadap berbagai obat
('multi-drug resistant') sebelum mulai terapi akhirnya dengan Kaletra,
saquinavir, ddI dan abacavir. Pada minggu 16 dan 18, dia mengalami
peningkatan sementara ('blip') menjadi 116 dan 202 kopi tetapi virusnya
ditekan kembali secara penuh dengan ART setiap hari. Dia kembali pada
jadwal FOTO untuk tiga minggu tetapi pada minggu 24 mengalami
peningkatan menjadi 1300 kopi. Satu mutasi timidin analog (TAM) baru
ditemukan dengan tes genotipe. Kemudian di menekankan virusnya secara
penuh dengan terapi harian.
Enam orang yang memakai Kaletra dan saquinavir dites tingkat obat dalam
darah dan lima dari enam ditemukan dengan tingkat lopinavir di bawah
terapeutik, sedangkan empat dari enam ditemukan tingkat saquinavir di
bawah terapeutik pada hari kedua penghentian terapi, yang memberi kesan
bahwa strategi FOTO jauh lebih berisiko untuk mereka yang memakai PI,
bahkan diboost dengan ritonavir dosis rendah.
Kepatuhan dilaporan sendiri sebagai 100 persen dan survei mutu hidup
melaporkan lebih disukai jadwal FOTO dibandingkan dengan terapi tetap
setiap hari. Tidak ada efek samping yang parah dilaporkan, walaupun ada
beberapa efek samping dialami saat mulai kembali penggunaan ART setelah
penghentian dua hari. Empat orang yang memakai efavirenz melaporkan
impian jelas, kelelahan, insomnia (gangguan tidur) atau sakit kepala;
satu dengan nevirapine melaporkan rasa mual; dan empat dengan PI apa
pun melaporkan diare atau kelelahan. Tidak ada perbedaan bermakna pada
ukuran lipid setelah puasa pada awal, dan pada minggu 24 dan 48.
Karena penelitian ini kecil, implikasi peningkatan viral load yang
dilihat pada orang yang memakai terapi PI harus ditafsirkan dengan
hati-hati. Namum tampaknya strategi 'lima hari pakai, dua hari tidak'
sukses untuk semua peserta yang memakai ART dengan NNRTI untuk
sedikitnya 24 minggu, dan karena pasien jauh lebih suka strategi ini,
terapi berdenyut yang inovatif ini memerlukan penelitian lebih lanjut.
Referensi: Cohen CJ et al. The FOTO Study: A pilot study of short-cycle
treatment interruption, taking antiretroviral medications for Five days
On, Two days Off (FOTO), for those with viral load suppression. XV
International AIDS Conference, Bangkok, abstract TuPeB4575, 2004.
URL:
http://www.aidsmap.com/en/news/F6AFF423-32AD-4CF9-9078-F3BFA5E2F385.asp