Efavirenz Dapat Dipakai dengan Dosis Normal Bersama Rifampisin
Oleh Keith Alcorn, 12 Juli 2004
Pada orang dengan berat badan yang rendah, bila efavirenz dipakai
dengan dosis normal yaitu 600mg bersama dengan obat TB rifampisin,
tampaknya tingkat efavirenz dalam darah adalah rendah dengan akibat
kegagalan terapi HIV. Ini menurut hasil awal dari penelitian secara
acak di Thailand yang baru ini dipresentasi di Konferensi AIDS
Internasional di Bangkok.
Rifampisin mengurangi 'total exposure' (AUC--satu ukuran jumlah obat
yang masuk aliran darah) efavirenz rata-rata 26 persen. Dengan adanya
variasi yang sangat besar dalam tingkat efavirenz di plasma (darah)
dalam populasi, interaksi obat ini dapat menempatkan sejumlah pasien
yang cukup bermakna pada risiko kegagalan terapi HIV.
Pedoman pengobatan WHO untuk rangkaian terbatas sumber daya mengusulkan
efavirenz sebagai pengobatan pilihan pertama untuk orang yang
terinfeksi HIV dan TB bersama, karena efek rifampisin pada obat pilihan
lain seperti nevirapine adalah lebih besar. Namun pedoman tersebut
mencatat bahwa mungkin harus ditingkatkan dosis efavirenz menjadi 800mg
per hari. Dampaknya ini adalah peningkatan pada biaya pengobatan dan
pada jumlah pil yang harus diminum.
Penelitian ini melibatkan 84 pasien yang didiagnosis TB dan sudah
memakai pengobatan TB yang mengandung rifampisin selama sedikitnya satu
bulan. Pasien dibagi secara acak untuk menerima efavirenz 600mg
(kelompok A) atau 800mg (kelompok B).
Penelitian dirancang untuk menentukan apakah pasien yang memakai dosis
efavirenz lebih rendah mencapai tingkat obat dalam plasma yang cukup,
diukur sebagai waktu untuk mencapai viral load di bawah 50 kopi dan
perubahan jumlah CD4 dari awal.
Berat badan rata-rata untuk kedua kelompok kurang lebih 50kg dan indeks
massa tubuh (body mass index) adalah rendah (19kg/m2). Jumlah CD4
rata-rata pada awal adalah 29 (berkisar 1-224) pada kelompok A dan 46
(0-384) pada kelompok B. Tidak ada perbedaan yang bermakna pada
karakteristik pada awal antara kedua kelompok.
Pemantauan jumlah obat dalam darah (therapeutic drug monitoring)
dilakukan pada hari ke-14, 12 jam setelah obat diminum. Tingkat
efavirenz rata-rata adalah 3,02mg/l pada kelompok A dan 3,39mg/l pada
kelompok B. Tiga pasien di kelompok A mempunyai tingkat efavirenz di
bawah 1 mg/l, sedangkan tidak ada satu pun di kelompok B dengan tingkat
serendah ini (p=0,347). Waktu rata-rata sampai sukses virologis (viral
load di bawah 50) adalah 16 minggu pada kelompok A dan 19 di kelompok B
(p=0,960). Perubahan jumlah CD4 dari awal sampai minggu 16 rata-rata
adalah 87,5 di kelompok A dan 88,0 di kelompok B (p=0,978). Toksisistas
pada susunan saraf pusat (SSP) ditemukan pada 13 pasien dari kelompok A
dan 11 dari kelompok B (p=0,675), tetapi hanya pada satu pasien, di
kelompok A, efeknya cukup berat sehingga efavirenz harus dihentikan.
Penelitian ini akan dilanjutkan selama 48 minggu, tetapi para peneliti
dari Rumah Sakit Ramathibodi di Bangkok menyampaikan pada konferensi
bahwa hasil penelitian awal memberi harapan. Namun para ahli yang
mendengar mengingatkan bahwa ada satu masalah dengan penelitian ini
yang membutuhkan penyidikan lebih lanjut, yaitu rendahnya berat badan
peserta. Beberapa penelitian terhadap tingkat obat HIV dalam plasma
menunjukkan bahwa orang dengan berat badan rendah juga mengalami
tingkat obat dalam plasma yang leibh tinggi karena mereka mempunyai
lebih sedikit jaringan tubuh yang harus dijangkau oleh obat--ini memang
masuk akal.
Referensi: Manosuthi W et al. A randomized controlled trial of
efavirenz 600 mg/day versus 800 mg/day in HIV-infected patients with
tuberculosis to study plasma efavirenz level, virological and
immunological outcomes: A preliminary result. XV International AIDS
Conference, Bangkok, abstract MoOrB1013, 2004.
URL:
http://www.aidsmap.com/en/news/4E10609E-AB0B-4D6E-B7EB-5546D66F973F.asp