Search the web
Sign In
New User? Sign Up
wartaaids
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Show off your group to the world. Share a photo of your group with us.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Re: [aids-ina] Distribusi Obat HIV/AIDS di Indonesia Terhambat Hak   Message List  
Reply | Forward Message #452 of 3230 |
Re: [WartaAIDS] Re: [aids-ina] Distribusi Obat HIV/AIDS di Indonesia Terhambat Hak Paten

Prof Samsu,

Bila mis-komunikasi seperti yang disampaikan oleh dr. KM ini benar, kami
amat mengharapkan peran Prof. Samsu untuk memfasilitasi pembicaraan di
antara tiga pihak tersebut (Kimia Farma-POM-Depkes).

Susahnya, kita amat sulit berdialog melalui e-mail dengan
pejabat-pejabat pemerintah seperti Depkes, KF dan POM.

Terima kasih Pak Samsu.

Salam,
Wirawan
Denpasar



Kartono Mohamad wrote:
>
> Dalam pembicaraan saya dengan Direksi PT Kimia Farma, mereka mengatakan
> bahwa bahan baku mereka dapat dari Cina, jadi mereka tidak merasa perlu
> membayar royalti kepada produsen di barat yang memegang paten ARV. ARV Kimia
> Farma juga sudah didaftarkan ke Badan POM dan mendapat ijin edar. Saya tidak
> tahu mengapa pejabat Deples mengatakan bahwa Indonesia terhambat hak paten.
> Agaknya telah terjadi mis-komunikasi antara Depkes dengan Kimia Farma dan
> Badan POM.
>
> Seandainya pun ada tuntutan dari pemegang hak paten, seharunya mereka
> menuntut Cina yang memproduksi bahan baku.
>
> Dalam usulan saya ke DPR dalam rangka mengubah UU Kesehatan, ada saya
> usulkan agar pemeirntah berhak melanggar HKI dalam masalah obat, jika
> keadaan negara memerlukannya. Hal ini juga dilakukan oleh AS ketika
> menghadapi bahaya anthrax, lalu memproduksi obat anti anthrax yang patennya
> masih dipegang oleh Bayer, dengan cara mengamandemen undang-undang kesehatan
> AS.
>
> KM
>
>
>
> -------Original Message-------
>
>
>
> From: aids-ina@yahoogroups.com
>
> Date: 07/11/04 16:38:42
>
> To: aids-ina@yahoogroups.com; wartaaids@yahoogroups.com; andryansyah arifin
>
> Subject: Re: [aids-ina] Distribusi Obat HIV/AIDS di Indonesia Terhambat Hak
> Paten
>
>
>
> Teman-teman Yth:
>
> Sampai saat ini RS Sanglah Denpasar kebingungan untuk membalas surat
>
> saya di bawah ini. Mungkin Kimia Farma dan 25 RS yang ditunjuk (dengan
>
> Keputusan Menteri) tidak tahu soal perlunya ijin dari pemegang paten.
>
> Padahal minggu lalu Presiden Megawati Meluncurkan balon layanan ARV di
>
> halaman RS Sanglah Denpasar. Saat itu saya mengira ARV sudah ada di RS
>
> Sanglah.
>
> Pola kerja dari bangsa kita memang selalu kurang greget dan terlalu
>
> lambat.
>
> Wirawan
>
> Denpasar
>
> > > SUARA PEMBARUAN DAILY
>
> > >
>
> > >
>
> >
> -----------------------------------------------------------------------------
> --
>
> > >
>
> > > Distribusi Obat HIV/AIDS di Indonesia Terhambat Hak
>
> > > Paten
>
> > >
>
> > > Pemerintah Nekat Mendistribusikan ARV Generik,
>
> > > Indonesia Menghadapi Risiko Sanksi
>
> > >
>
> > >
>
> > > JAKARTA - Distribusi obat HIV/AIDS
>
> > > (antiretroviral/ARV) generik ke 25 rumah sakit yang
>
> > > ditunjuk pemerintah untuk merawat orang dengan
>
> > > HIV/AIDS (Odha) terhambat hak paten. Pasalnya,
>
> > > obat-obat tersebut masih dalam masa paten. Untuk
>
> > > mengatasi masalah itu diharapkan pemerintah
>
> > > menerbitkan Keputusan Presiden (Keppres) untuk
>
> > > pemakaian ARV generik tersebut.
>
> > >
>
> > > Demikian diutarakan Kepala Subdit AIDS Direktorat
>
> > > Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan
>
> > > Penyehatan Lingkungan (PPMPL) Departemen Kesehatan,
>
> > > dr Sigit Prioutomo MPH saat pertemuan dengan para
>
> > > Odha di Pokdisus AIDS Fakultas Kedokteran
>
> > > Universitas Indonesia, Kamis (8/7) di Jakarta.
>
> > >
>
> > > Menurut dia, selain bermasalah dengan hak paten,
>
> > > obat-obat tersebut juga mengalami kendala dalam hal
>
> > > pajak. Artinya, obat ARV yang sangat diperlukan Odha
>
> > > yang pada umumnya secara ekonomi tidak mampu, oleh
>
> > > pemerintah dikenakan pajak. Bahkan bantuan obat dari
>
> > > dana global (GFATM) pun dikenakan pajak.
>
> > >
>
> > > Dikatakan, bila pemerintah tidak mengenakan pajak
>
> > > maka harga obat ARV akan lebih terjangkau Odha. Saat
>
> > > ini seorang Odha menghabiskan uang Rp 380.000
>
> > > sebulan untuk obat ARV generik produksi PT Kimia
>
> > > Farma. Bila pajak ditiadakan, ujarnya, harga bisa
>
> > > ditekan sekitar 10 persen sampai 20 persen.
>
> > >
>
> > > Dijelaskan, saat ini PT Kimia Farma sudah
>
> > > memproduksi ARV generik untuk kebutuhan Odha di
>
> > > Indonesia. Pada tahun 2004 ditargetkan ada 5.000
>
> > > Odha yang memakai ARV generik. Target ini sesuai
>
> > > dengan program Organisasi Kesehatan Dunia (WHO),
>
> > > yakni 3 by 5. Artinya ada lima juta Odha di dunia
>
> > > tahun 2005 mengakses obat ARV.
>
> > >
>
> > > Bila pemerintah nekat mendistribusikan ARV generik,
>
> > > maka boleh jadi Indonesia menghadapi risiko sanksi
>
> > > dari perusahaan farmasi pemilik hak paten. Saat
>
> > > inipun, ujar Sigit, ada 200 paket obat bantuan GFATM
>
> > > berada di bandara Soekarno Hatta.
>
> > >
>
> > > Untuk mengeluarkan obat itu juga harus membayar
>
> > > pajak. Secara terpisah Direktur Bina Penggunaan Obat
>
> > > Rasional Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian
>
> > > dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan dr Husniah
>
> > > Rubiana Thamrin Akib yang dikonfirmasi tentang hak
>
> > > paten, menuturkan diharapkan dalam tempo satu sampai
>
> > > dua hari ini Presiden Megawati Menandatangani
>
> > > Keppres pemakaian ARV generik untuk kepentingan
>
> > > masyarakat.
>
> > >
>
> > > "Naskahnya sudah ada di Sekretaris Kabinet, tinggal
>
> > > menunggu tanda tangan Ibu Mega. Kalau tidak ada
>
> > > Keppres, berisiko ada sanksi dari WTO karena
>
> > > Indonesia sudah tanda tangan TRIPs," katanya.
>
> > >
>
> > > Sesuai dengan Deklarasi Doha, ada pengecualian
>
> > > pemakaian obat generik yang masih dilindungi hak
>
> > > paten dengan alasan kemanusiaan. Tetapi, menurut
>
> > > Husniah, tidak serta merta obat ARV generik yang
>
> > > diproduksi PT Kimia Farma sekalipun sudah mendapat
>
> > > nomor registrasi dari Badan Pengawas Obat dan
>
> > > Makanan (BPOM) bisa didistribusikan. Distribusi obat
>
> > > itu memerlukan Keppres, sehingga tidak menjadi
>
> > > masalah bagi perusahaan farmasi pemilik hak paten.
>
> > >
>
> > > Disebutkan, ada tiga hal obat terapi lini utama yang
>
> > > diperuntukkan bagi Odha yaitu Nevirapin, Lamivudin,
>
> > > Zidofudin. Pemegang paten dari obat itu antara lain
>
> > > Glaxo-SmithKline, Boehringer dan beberapa industri
>
> > > farmasi asing lain. Selain itu, pemerintah juga akan
>
> > > menyediakan obat Evapirenz da Stavudin yang belum
>
> > > diproduksi di Indonesia. Kedua obat ini, menurut
>
> > > Prof dr Samsuridjal Djauzi SpPD, umumnya obat paten,
>
> > > dan kalaupun ada generik (Evapiren) harganya sekitar
>
> > > Rp 500.000.
>
> > >
>
> > >
>
> > > Masih Bingung
>
> > >
>
> > > Untuk kedua obat yang belum bisa diproduksi di
>
> > > Indonesia itu, ujar Husniah, pemerintah akan
>
> > > menyediakan dana untuk mengimpornya. Ditambahkannya,
>
> > > cara lain untuk bisa mendistribusikan ARV generik
>
> > > produksi PT Kimia Farma adalah compulsory license,
>
> > > di mana perusahaan obat generik meminta izin kepada
>
> > > pemilik paten dengan membayar sejumlah tertentu.
>
> > > Dengan cara ini, PT Kima Farma tidak hanya
>
> > > memproduksi obat ARV generik untuk kebutuhan Odha di
>
> > > Indonesia, tetapi juga bisa mengekspor.
>
> > >
>
> > > "Kimia Farma sedang membahas hal ini dengan
>
> > > perusahaan farmasi pemegang hak paten. Keduanya bisa
>
> > > berjalan bersama, karena Kimia Farma berkeinginan
>
> > > mengekspor obat itu," kata Husniah.
>
> > >
>
> > > Pada kesempatan itu, dr Evy Yunihastuti SpPD dari
>
> > > Perhimpunan Dokter Peduli AIDS Indonesia, menuturkan
>
> > > masih ada kebingungan dari tenaga kesehatan di rumah
>
> > > sakit untuk penatalaksanaan pasien HIV/AIDS. Artinya
>
> > > kesiapan tenaga kesehatan di Indonesia masih
>
> > > bervariasi. Pelatihan di 25 rumah sakit untuk tenaga
>
> > > kesehatan masih belum merata.
>
> > >
>
> > > Dia mencontohkan Rumah Sakit Subang yang tidak mampu
>
> > > merawat pasien HIV/AIDS sehingga merujuk ke Rumah
>
> > > Sakit Hasan Sadikin Bandung. Masalahnya, kata dia,
>
> > > ada kebingungan bagaimana harus bertindak pada orang
>
> > > dengan HIV/AIDS (Odha). Selain itu perlu dukungan
>
> > > pimpinan rumah sakit, namun walaupun ada dukungan
>
> > > dari pimpinan rumah sakit masih ditemukan ketidak
>
> > > siapan tenaga kesehatan di rumah sakit bersangkutan.
>
> > >
>
> > >
>
> > > Menurutnya saat ini mulai banyak dokter yang
>
> > > tertarik menangani HIV/AIDS. Sekalipun demikian,
>
> > > masih ada juga dokter yang tidak mau merawat Odha.
>
> > > Perhatian terhadap terapi masih terbatas sehingga
>
> > > banyak Odha yang meninggal tanpa sempat mendapat
>
> > > pertolongan yang sewajarnya. Diskriminasi Odha juga
>
> > > masih ada. Dia berharap obat standar tersedia dan
>
> > > bisa dijangkau. Masalahnya, untuk obat onfeksi
>
> > > oportunistik, tidak didukung industri farmasi karena
>
> > > harga obat murah sehingga tidak dipromosikan. Dia
>
> > > mencontohkan obat Dapson.
>
> > >
>
> > > " Untuk terapi ARV lini pertama masih kesulitan.
>
> > > Kalau pemakaian obat lini pertama gagal maka obat
>
> > > yang dipakai adalah lini kedua tetapi harganya lebih
>
> > > mahal lagi. Di Thailand 20 persen terapi lini
>
> > > pertama tidak mampu merespon virus, sehingga
>
> > > dipergunakan terapi lini kedua sesuai anjuran WHO,"
>
> > > katanya. (N-4)




Mon Jul 12, 2004 2:56 pm

ykpdps@...
Send Email Send Email

Forward
Message #452 of 3230 |
Expand Messages Author Sort by Date

Teman-teman Yth: Sampai saat ini RS Sanglah Denpasar kebingungan untuk membalas surat saya di bawah ini. Mungkin Kimia Farma dan 25 RS yang ditunjuk (dengan ...
Dr. D.N. Wirawan
ykpdps@...
Send Email
Jul 11, 2004
9:40 am

Dalam pembicaraan saya dengan Direksi PT Kimia Farma, mereka mengatakan bahwa bahan baku mereka dapat dari Cina, jadi mereka tidak merasa perlu membayar...
Kartono Mohamad
mohnuh2002
Offline Send Email
Jul 12, 2004
12:39 am

Prof Samsu, Bila mis-komunikasi seperti yang disampaikan oleh dr. KM ini benar, kami amat mengharapkan peran Prof. Samsu untuk memfasilitasi pembicaraan di ...
Dr. D.N. Wirawan
ykpdps@...
Send Email
Jul 12, 2004
2:41 pm

Pak Samsu, Kemarin saya ditelepon oleh Kimia Farma Pusat. Menurut mereka, Kimia Farma bisa menyalurkan ARV buatan mereka ke 25 RS yang telah ditetapkan, tanpa...
Dr. D.N. Wirawan
ykpdps@...
Send Email
Jul 15, 2004
1:44 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help