Mas Slamet Yth:
Setahu saya, kalau yang di Bali komitmen Rotary terhadap HIV/AIDS cukup
tinggi. Saat ini saya dibantu oleh Rotary Club Ubud untuk mengajukan
proposal pengadaan ARV ke beberapa lembaga di Swiss. Ketua Rotary Ubud
kebetulan warga negara Swiss.
Coba saja ajukan proposal singkat ke Rotary di DIY misalnya untuk
konseling, care & support di LP.
Kalau soal dana untuk layanan kesehatan di LP, keadaannya sama untuk
seluruh Indonesia. Kalau tidak salah di LP Kerobokan hanya sekitar 2
juta dalam satu tahun untuk semua napi, atau sekitar sekian rupiah per
napi per bulan. Obat panas saja tidak ada di LP.
Pada awal tahun 2001, Kepala LP Kerobokan juga amat resisten. Wah, waktu
itu pada beberapa pertemuan, Ketua LP hampir saja berkelahi dengan para
wartawan karena saling menyalahkan. Hasil surveilan HIV pada pemakai
narkotika (di LP) yang pertama kali meletus di media adalah yang di LP
Kerobokan, Kuta, Bali.
Saat itulah kita-kita dari KPAD menengahi. Waktu itu kita bilang,
sebaiknya kita jangan saling menyalahkan, ... kita ambil hikmahnya, ....
apa yang kita bisa lakukan sekarang.
Lalu KPAD (Wagub Bali) menawarkan sejumlah dana (sekitar 25 juta) untuk
membuat program KIE di LP. Lalu dokter LP dan Kepala LP membuat proposal
dan diajukan ke KPAD. Proposalnya ditandatangani juga oleh Kanwil Dep.
Kehakiman Bali.
Karena LP tidak biasa memberikan KIE, lalu mereka merangkul LSM-LSM
pegiat AIDS di Bali untuk ikut ke LP dalam merancang dan memberi KIE.
Pada hari pertama KIE, Ketua LP mengundang Wagub dan Dirjen
Pemasyarakatan Dep. Kehakiman dan diliput oleh sejumlah TV nasional.
Sejak saat itu, keadaan menjadi terbalik. LSM terus diminta ikut
membantu di LP dan tidak perlu memakai surat dari Kanwil. Tetapi sampai
sekarang, kalau ingin masuk LP para LSM atau staf KPAD harus telepon
dokter LP dulu agar bisa dibukakan pintu.
Sekarang dokter LP-nya juga sangat bergairah karena dia didukung oleh
KPAD dan LSM dalam hal pengembangan program seperti saya ceritrakan pada
e-mail terdahulu. Kemarin dia presentasi di Jakarta dengan ditemani
salah satu dari LSM pada pertemuan Ketua-ketua LP se Indonesia. Dokter
LP sering ceritra pada saya, memang masih ada beberapa staf LP yang
resisten terhadap program-program inovatif, tetapi ketuanya amat baik
dan secara umum kondusif. Sekarang ketuanya sudah berganti tiga kali
sejak tahun 2001 dan semua penggantinya kebetulan mau mengerti dengan
program-program tersebut.
Mudah-mudahan setelah ada serangkaian pertemuan advokasi, akan ada
perubahan sikap pada mereka.
Sekarang saya sering pikir-pikir, hasil surveilan HIV di LP yang bocor
ke media tahun 2001, ada hikmahnya juga.
Salam,
Wirawan
KPAD Bali
> Pak Wirawan dan teman-teman milis Yth.
> Penanganan kasus HIV/AIDS penghuni LP di Yogyakarta (khususnya LP
> Wirogunan) yang ditengarai lebih dari 50% napi narkobanya menggunakan
> IDU (berdasar "investigasi" seorang rekan yg pernah menjadi penghuni
> dan sekarang menjadi peer educator pengguna IDU di sebuah LSM dan
> kemudian diperkuat oleh dokter LP tsb) masih banyak dililit kendala.
> Meski sudah dicapai kesepakatan (pada saat pelatihan petugas LP
> tentang HIV/AIDS bagi pemakai IDU beberapa waktu lalu) bahwa teman-
> teman dari LSM bisa melakukan pendampingan ke LP tapi ternyata surat
> ijin untuk masuk ke LP dari Dep.Kehakiman dan HAM setempat belum juga
> keluar. Padahal, selain kendala teknis juga dana benar-benar payah.
> Di LP itu sendiri tidak ada dana untuk kesehatan. Jadi kalau pasien
> HIV/AIDS sudah dalam keadaan payah/parah baru dikirim ke RS, karena
> kalau sudah mulai muncul gejala AIDS atau infeksi opurtunistiknya
> lantas dikirim ke RS, pihak LP kerepotan akibat tagihan dari RS ybs.
> Ya, karena tak ada dana. "Jadi sebagai dokter di LP dilematis bagi
> saya. Di satu pihak saya harus menjunjung tinggi kemanusiaan dan HAM
> di sisi lain terpaksa harus membiarkan mereka (napi-napi HIV/AIDS)
> sampai parah, baru kemudian dikirim ke RS," jelas dokter tersebut.
> Pernyataan dokter ini dikemukakan dalam rapat KPA DIY, Sabtu
> (10/4/2004). Saya tidak tahu apakah memang LP --di tempat lain juga--
> tak ada dana untuk kesehatan semacam ini?
> Berkaitan dengan kasus di atas ini ada berita sbb. (Kompas Edisi
> Jateng & DIY/Senin, 12 April 2004): Walikota Yogyakarta, Herry
> Zudianto, Senin (12/4), akan mengadakan bakti sosial bersama Kelompok
> Rotary Yogya-Malioboro (RYM) ke Lembaga Pemasyarakatan (LP)
> Wirogunan, Yogyakarta, untuk melakukan pemeriksaan dan pengobatan
> kepada penghuni LP Wirogunan. Kunjungan Rotary Yogyakarta akan
> didampingi dokter spesialis penyakit paru-paru, dan jika ditemukan
> napi yang terkena penyakit TBC, panitia bakti sosial akan
> menindaklanjuti dengan pengobatan gratis.(hrd).
> Apakah ini merupakan sebuah jalan masuk untuk teman-teman LSM di
> Yogya mendampingi para napi yang berHIV/AIDS? Karena saya kurang tahu
> komitmen Rotary terhadap HIV/AIDS. Mohon masukan.
> Salam.
> SRS