Search the web
Sign In
New User? Sign Up
wartaaids
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Spuite sekali pakai   Message List  
Reply | Forward Message #417 of 3230 |
Mas Pri dan teman-teman Yth:

Ternyata yang dimaksudkan oleh Mas Eddy dalam milis ini adalah spuite
sekali pakai, dimana sekali dorong, spuite tersebut otomatis tidak bisa
ditarik lagi seperti yang sekarang biasa dipakai dalam program
imunisasi.

Hal itu sudah dijelaskan panjang lebar oleh Babe (Pak Chris Green).

Tentang aspek legal bagi pemakai, yang saya maksudkan bukan legal secara
absolut, tetapi UU-nya seharusnya tidak "hitam-putih". Seperti halnya di
Malaysia, dimana kalau pemakai maka hukumannya berbeda dengan bandar
(beratnya narkotika yang dipakai ukuran). Kalau pemakai hukumannya masuk
rehab, dan rehab disediakan oleh pemerintah. Di Indonesia, tampaknya
penerapan UU seperti ini akan rumit (di lapangan). Polisi yang bilang
demikian.

Setahu saya di Australia, juga tergantung negara bagiannya. Di negara
bagian tertentu NEP bisa jalan dengan baik, coverage tinggi dan
mesin-mesin untuk penukaran spuite/jarum terpakai dengan baik. Apakah
itu hanya perbedaan policy atau UU (antar negara bagian)? Demikian juga
di New Zealand.

Mas Pri, yang ingin saya sampaikan pada e-mail saya terdahulu adalah,
pengalaman di Bali, walaupun sudah ada program NEP (needle exchange
program), tetapi coverage-nya amat rendah. Dalam satu bulan hanya
sekitar 100 orang yang rutin nukar spuite dari sekitar 2500 IDU yang
diperkirakan ada di Denpasar dan sekitarnya. Jadi, walaupun supite
tersedia tetapi IDU-nya yang tidak berani ambil dan demikian juga
petugas outreach-nya tidak mampu menjangkau mereka.

Pada dasarnya yang ingin saya kemukakan adalah tersedianya spuite/jarum
saja (setidaknya pengalaman di Denpasar) tidak serta merta mampu merubah
perilaku IDU secara optimal.

Agak berbeda dengan program metadone di RSUP Denpasar. Pesertanya banyak
dan mereka lebih berani datang ke RSUP setiap hari (karena metadone
harus diminum di depan petugas RSUP). Walaupun sama-sama narkotika,
metadone lebih "disetujui" oleh polisi dan juga oleh masyarakat
dibanding NEP. Penyebabnya mungkin polisi kesulitan membedakan antara
pemakai dan pengedar di kalangan IDU dalam NEP. Sebagian besar pemakai
memang juga pengedar (sekedar dapat uang guna membeli barang untuk
meraka pakai). Pemakai yang lama biasanya sudah habis-habisan. Untuk
beli barang mereka hanya punya dua pilihan, jadi pengedar atau mencuri.
Pilot proyek NEP di Bali dan Jakarta nantinya akan dievaluasi dan
dipakai bahan untuk menentukan langkah lebih lanjut di Indonesia.

Salam,
Wirawan

Priyadi Prihaswan wrote:
>
> Dr. Wirawan,
>
> Menanggapi pernyatan Dr. Wuiarawan:
> "....... Jadi yang penting bukan hanya aspek legal penjualan alat suntik
> tetapi juga aspek legal sebagai pemakai. ......"
>
> Sepengetahuan saya, bahkan di Australi saja, dimana progam NSP diakui
> berhasil menurunkan angka penularan HIV (tapi belum berhasil menurunkan
> angka penularan Hep C) tetap saja illegal kalau memiliki obat-obatan
> (drugs).
>
> Jadi misalnya kalau ditemukan drugs di rumah saya, atau di kantong atau
> di mobil saya, maka saya bisa ditangkap utk itu. Bahkan kalau polisi
> menumakan saya membawa alat suntik yg baru saja saya pakai, dan ada
> bekas obat-obatan, saya tetap saja bisa ditangkap utk itu.
>
> Jadi, menurut saya, agak sulit utk bisa mencapai situasi dimana memakai
> (drugs) adalah legal. Ini tdk mengatakan bahwa program NSP tidak
> berhasil. Sdh banyak studi yg menunjukkan keberhasilan program NSP dlm
> menurunkan angka penularan HIV.
>
> Salam,
>
> Priyadi Prihaswan
> CLDB HIV and Sexual Health Improvement Project
>
> Hornsby Ku-ring-gai Ryde Division of General Practice
> 8/6-18 Bridge Road, Hornsby, 2077
> Phone: 02-9477 8712
> Fax: 02-9477 8788
> Please Note: The information contained in this e-mail is confidential.
> It is intended solely for the addressee. If you receive this email by
> mistake please call us and let us know. You must not disclose or use the
> information in it unless we authorise you to do so.
>
>
>
> -----Original Message-----
> From: Dr. D. N. Wirawan [mailto:ykpdps@...]
> Sent: Friday, 2 April 2004 3:02 PM
> To: eddyJP
> Cc: aids-ina@yahoogroups.com; wartaaids@yahoogroups.com
> Subject: [aids-ina] Re: [WartaAIDS] Pecandu Narkoba di Jakarta
>
> Rekan Eddy Yth:
>
> Pemerintah pusat telah merancang proyek rintisan pembagian jarum suntik
> steril kepada IDU (injecting drug users) di Jakarta dan Denpasar (Bali).
>
> Kalau implementasi di lapangan bisa mudah dan cepat, tetapi saya dengar
> ijin dari Pemerintah Pusat luar biasa alotnya.
>
> Kalau dari segi PUBLIC HEALTH, sudah jelas sangat mendukung. Yang alot
> adalah dari segi penegak hukum terutama polisi. Tampaknya kalau hanya
> dengan pengembangan policy tanpa ada amandemen undang-undang, polisi
> ngotot tidak mendukung. Advokasinya memang harus juga ke DPR.
>
> Proyek yang di Bali sudah jalan sejak 4 tahun yang lalu walaupun hanya
> dengan kesepakatan lokal antara BND, polisi, KPAD dan LSM. Tetapi daya
> jangkaunya (cakupan program yang bisa diberikan jarum steril) rendah
> karena para IDU tidak berani muncul karena masih tetap diuber polisi.
> Petugas lapangan yang menjangkau mereka kesulitan, karena para IDU
> bersembunyi. Kalaupun misalnya bebas membeli di apotik, belum tentu
> mereka akan ke apotik, kecuali pemakai tidak kena hukuman. Jadi yang
> penting bukan hanya aspek legal penjualan alat suntik tetapi juga aspek
> legal sebagai pemakai.
>
> Proyek rintisan lain adalah dengan mengganti drugs yang biasa
> disuntikkan dengan drugs yang diminum dan bekerjanya long acting
> (sehingga bisa diberikan tiap 24 jam). Obat yang dipakai antara lain
> methadone. Ini dilaksanakan di RSKO Jakarta dan di RSUP Denpasar. Dalam
> proyek ini, obat harus diminum di klinik (tidak boleh dibawa pulang)
> sehingga klien datang setiap hari.
>
> Ini "lebih" disetujui oleh polisi dan karena itu para IDU bermunculan
> di klinik di RSUP Denpasar, termasuk ex-IDU "gedongan" (kelas menengah
> keatas) yang tadinya "bersembunyi".
>
> Di Denpasar saat ini sekitar 150 klien datang setiap hari ke klinik.
> Penerimaan klien sangat selektif (kriterianya cukup ketat), karena
> konseling dan perubahan perilakunya tidak bisa grasa-grusu. Akhir tahun
> 2004 kita targetkan antara 250-300 klien terlayani, dengan menambah
> konselor, psikiater, dokter umum, dll.
>
> Rencana lain, klinik juga tidak bisa hanya terpusat di RSUP Denpasar
> karena yang jauh (Kuta, Ubud, dll) enggan datang setiap hari. Dari hasil
> pemantauan saat ini, yang jauh-jauh banyak drop-out. Selain itu, ada
> juga yang kembali nyuntik. Nanti akan dihitung, berapa tingkat
> kegagalanya. Mengapa gagal, dst.
>
> Salam,
> Wirawan
> KPAD Prop. Bali
>
> eddyJP wrote:
> >
> > Daku menemukan 100 % infeksi HIV dan Hepatitis C pada pasien pencandu
> > narkoba tipe suntikan, sekitar 6 orang di Jakarta dalam kurun waktu 1
> tahun.
> > Apakah tidak memungkinkan di sosialisikan program pemberian ato
> penjualan
> > jarum suntik single use untuk para pecandu ? hal ini lebih murah dan
> efektif
> > dibandingkan mengobati mereka kalo sudah kena infeksi demikian.
> >
> > eddyJP
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>




Mon Apr 5, 2004 2:50 am

ykpdps@...
Send Email Send Email

Forward
Message #417 of 3230 |
Expand Messages Author Sort by Date

Mas Pri dan teman-teman Yth: Ternyata yang dimaksudkan oleh Mas Eddy dalam milis ini adalah spuite sekali pakai, dimana sekali dorong, spuite tersebut otomatis...
Dr. D. N. Wirawan
ykpdps@...
Send Email
Apr 5, 2004
2:53 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help