Berita "Parah, Bocah Delapan Tahun Terkena AIDS", Jawa Pos, 26 Maret
2004, memang tidak komprehensif. Tapi, maaf, tanggapan berupa
klarifikasi dari MPA Jatim juga tidak `layak muat'.
Klarifikasi terhadap berita, dalam hal ini dilakukan oleh pihak lain
yang tidak terkait langsung dengan berita, berupa `suara pembaca'
sedangkan Hak Jawab ada pada objek berita. Jadi, karena suara pembaca
maka klarifikasi berupa tanggapan terhadap berita.
Karena di "Jawa Pos" rubik yang menampung suara pembaca sangat kecil
porsinya (Gagasan) maka klarifikasi pun harus mengikuti kolom yang
disediakan. Kalau ingin menanggapi dengan komprehensif maka buat
dalam bentuk tulisan untuk rubrik opini dalam bentuk features.
Maaf, dalam klarifikasi tidak dikutip bagian yang dianggap MPA Jatim
tidak seduai dengan fakta. Jika ingin menanggapi berita maka kutip
bagian yang perlu ditanggapi bukan menanggapi yang tersirat dari
berita tersebut. Setiap orang akan berbeda dalam memahami berita
karena terkait dengan field of reference dan field of experience.
Lagi-lagi maaf, saya tidak membela wartawan, tapi sering terjadi
penjelasan atau keterangan dari narasumber yang justru mendorong
wartawan menulis sesuai dengan apa yang ada di pikirannya. Banyak
contoh. Misalnya, ada pakar AIDS ketika ditanya wartawan "Apakah
kondom efektif 100 persen?" Yang ditanya tidak menjawab dengan tegas,
tapi memberikan jawaban yang ngambang: ya….,, tapi …. Nah, wartawan
justru mengutip pernyataan yang diucapkan di belakang tapi "
…... ". Jelas wartawan tidak salah karena pernyataan itu juga
disampaikan oleh narasumber.
Pernyataan Drs Widjiartini Mkes dari Badan Penanggulangan
Penyalahgunaan NAPZA dan Penyebaran AIDS (BPNA) Jatim (… penularan
dari si ibu kepada anak sangatlah mungkin, meski sangat kecil. "Bisa
saja karena mereka menggunakan sikat gigi yang sama atau sisir yang
sama…) juga tidak salah. Jadi, di mana wartawan tidak mengerti?
Saya khawatir wartawan tidak bertanya tapi membuat pernyataan.
Narasumber sering menjawab dengan kata: yaaa… sebagai jembatan. Tapi
wartawan mengutipnya sebagai pernyataan setuju. Ini yang sering
menyesatkan. Untuk menghindarinya minta pertanyaan tertulis dan
dijawab pula tertulis.
Untuk menanggapi berita tadi sebaiknya MPA Jatim mengutip bagian-
bagian berita yang tidak akurat sehingga meyakinkan redaksi untuk
memuat tanggapan. Nah, bagian mana yang tidak akurat?
Usul dr. Bing salah satu bagian yang tidak dibahas dalam berita.
Apakah sudah ada tes HIV? Kalau saja Drs Widji Artini terlebih dahulu
bertanya kepada wartawan tentang fakta (medis) terkait dengan kasus
yang ditanya wartawan tentulah akan lain hasilnya. Jika tidak ada
fakta medis maka jangan beritakan tanggapan.
Ada beberapa pernyataan yang juga tidak akurat. Mengapa bukan itu
yang dikemukakan dalam surat ke redaksi?
Salam takzim,
Syaiful W. Harahap