Search the web
Sign In
New User? Sign Up
wartaaids
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
FW: [WartaAIDS] AIDS pada anak umur 8 tahun   Message List  
Reply | Forward Message #414 of 3230 |
Teman- teman pemerhati masalah HIV/ AIDS,
Setelah membaca berita di bawah ini saya merasa tergugah untuk ikut
memberikan sumbang saran. Menurut saya ada satu hal penting yang perlu kita
luruskan, pertama adalah memeriksa status HIV anak 8 tahun itu yang katanya
sangat kesakitan. Setelah itu baru kita berdiskusi berdasarkan "evidence
base" dan tidak membuat asumsi atas asumsi. Kematian ibunya tentu tidak
bisa ditelusuri lagi, karena sudah meninggal. Siapa yang bisa memastikan
bahwa sebab kematiannya adalah AIDS?? Kemudian yang paling menarik adalah
"Problem Solvingnya", dari diskusi di atas saya merasa bahwa kita semua
sadar bahwa teman- teman wartawan media tersebut kurang paham masalah AIDS
sebagai "Problem". Jadi pemecahan masalahnya adalah mudah sekali, yaitu
melakukan Pelatihan Wartawan di Surabaya bagi teman- teman wartawan yang
belum pernbah mengikutinya, bukan?? Ini pekerjaan tambahan untuk masyarakat
peduli AIDS di Surabaya, selamat bekerja.
Bing WIBISONO- Jakarta


-----Original Message-----
From: Dr. D. N. Wirawan [mailto: ykpdps@...]
Sent: Thursday, April 01, 2004 9:13 PM
To: hotline surabaya
Cc: aids-ina@yahoogroups.com; wartaaids@yahoogroups.com; Dony Agustinus;
KPAD-BALI; mangku karmaya; Made Suprapta; Gede Ngurah Surya Anaya; Tuti
Parwati; Partha Muliawan, dr. MSc
Subject: [WartaAIDS] AIDS pada anak umur 8 tahun


Ibu Esthi,

Saya salut atas gerak cepat teman-teman di Surabaya.

Oh ya, apakah Masyarakat Peduli AIDS di Surabaya mempunyai atau
menyelenggarakan rubrik khusus HIV/AIDS di salah satu media di Surabaya?

Di Bali, dr. Tuti dan dr. Mangku mengasuh rubrik khusus IMS, narkotika
dan HIV/AIDS di salah satu koran lokal (DenPost). Ini dibiayai oleh KPAD
Prop. Bali.

Rubriknya terbit setiap Senin. Rubrik ini kadang kala manjur juga untuk
meng-counter berita-berita yang keliru.

Walaupun demikian, berita-berita keliru seputar HIV/AIDS masih tetap
juga bermunculan di koran, terutama kalau wartawannya baru-baru. Kita
sering capek juga meng-counternya.

Jangankan wartawan baru, dalam milis ini beberapa hari yang lalu muncul
berita dari FK-Unpad tentang kondom yang dikatakan tidak efektif untuk
mencegah penularan HIV. Entah hasil penelitian mana yang diacu oleh
mereka.

Sekali lagi selamat untuk teman-teman di Surabaya.

Salam hangat,
Wirawan


Prof. Wirawan, terima kasih. Kami dari Surabaya yakni Tim Medik AIDS
Rumah
> Sakit Dr. Soetomo dan Masyarakat Peduli AIDS telah mempelajari berita pada
> tanggal 26 Maret 2004 tentang anak 8 tahun yang tertular HIV. Respon kami
> adalah kemarin kami rapat lalu membuat tulisan klarifikasi ke Jawa Post.
> Lalu sore ini beberapa orang datang ke kantor Jawa Post untuk
mendiskusikan
> dan klarifikasi tentang berita tersebut. Tulisan klarifikasi di bawah ini:
>
> Berita /AIDS yang bisa membawa dampak buruk karena bisa disalah artikan
oleh
> masyarakat
>
> Berita Jawa Post pada tanggal 26 Maret 2004 yang lalu di kolom Metropolis
> dengan judul "Parah, Bocah Delapan Tahun Terkena AIDS". Berita ini
disambung
> ke halaman 29 dengan judul "Ketularan Tetangga" telah mengundang tanggapan
> banyak aktifis HIV/AIDS di AIDS-Ina. Prof. Wirawan dari Denpasar Bali
> mengatakan:"Tidak masuk akal kalau si ibu tertular HIV karena merawat
> tetangganya yang AIDS". Lebih lanjut dia mengatakan:"Berita-berita seperti
> ini ada baiknya cepat-cepat diklarifikasi agar tidak ada salah pengertian
> pada masyarakat".
>
> Setelah membaca berita tersebut, Kami dari Masyarakat Peduli AIDS Jatim
dan
> Tim Medik HIV/AIDS Rumah Sakit Dr. Soetomo menganggap bahwa berita
tersebut
> bisa disalahartikan oleh masyarakat.
>
> Suami orang yang terinfeksi dari Jombang tidak bisa digunakan sebagai nara
> sumber yang menilai dari mana istrinya tertular. Penilaiannya merupakan
> prasangka yang dibangun berdasarkan pengertian yang dipahami. Padahal
> pengetahuan suami tersebut bukan berdasarkan pembuktian empirik.
Berdasarkan
> penelitian empirik yang dilakukan di banyak tempat, telah membuktikan
bahwa
> hubungan sosial (tinggal bersama dan melakukan perawatan yang tidak
> berhubungan dengan kontak darah dengan darah pada odha) tidak menularkan
> HIV.
>
> HIV ditularkan melalui 3 cara yaitu 1. hubungan seks (anal, oral dan
vagina)
> yang tidak terlindung dengan orang yang telah terinfeksi HIV. 2. Transfusi
> darah atau penggunaan jarum suntik secara bergantian. 3. Ibu hamil
pengidap
> HIV kepada bayi yang dikandung (terbanyak tertular ketika melakukan
> persalinan). HIV tidak ditularkan melalui jabatan tangan, sentuhan,
ciuman,
> pelukan, menggunakan peralatan makan/minum yang sama, gigitan nyamuk,
> memakai jamban yang sama atau tinggal serumah.
>
> Berita tersebut akan berdampak buruk dengan mengundang respon negatif
> masyarakat pada epidemik ini. Padahal masyarakat terutama keluarga menjadi
> tulang punggung perawatan di luar rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan
> keluarga atau komunitas yang melakukan perawatan di luar rumah sakit?
Harian
> pagi ini kalau mau mengajarkan Universal Precaution (Pewaspadaan Umum)
pada
> masyarakat caranya tidak seperti itu. Sepantasnya harian ini menggunakan
> nara sumber yang berkompeten berbicara tentang Kewaspadaan Umum. Begitu
juga
> kalau membuat penilaian atau "pengadilan" tentang seseorang tertular dari
> apa dan siapa, sebaiknya melalui bukti empirik. Pemberian informasi
tentang
> bagaimana HIV bisa ditularkan yang dibuat oleh sumber yang kompeten
(melalui
> KIE atau tulisan-tulisan yang banyak tersebar), tidak bisa langsung
> digunakan untuk melakukan penilaian pada kasus atau peristiwa yang ada.
> Informasi tentang pencegahan mutlak harus disebarkan pada masyarakat,
namun
> tidak layak digunakan untuk menilai peristiwa individu melalui logika
> spontan. Dengan kata lain wartawan harian pagi ini tidak mempunyai
> kompetensi untuk melakukan penilaian tersebut. Wartawan yang memberi
> informasi atau melakukan pendidikan pada masyarakat seyogyanya mengetahui
> dengan betul seluk beluk HIV/AIDS, mengingat betapa sensitif masalah
> tersebut. Pemberitaan oleh wartawan yang dibuat asal jadi tanpa mengetahui
> seluk beluk HIV akan sangat merugikan masyarakat luas dan merusak program
> penanggulangan HIV/AIDS yang ada.
>
> Nara sumber kedua yakni Widji Artini, M.Kes dari Badan Penyalahgunaan
NAPZA
> DAN Penyebaran AIDS Jatim (orang yang kompeten di bidang kesehatan
> masyarakat) yang diwawancarai harian pagi ini setelah dikonfirmasi tentang
> penyataan yang dibuat; mengatakan bahwa informasi yang disampaikan tidak
> dimengerti oleh wartawan bersangkutan.
>
> Kami sepakat dengan harian pagi ini tentang kewaspadaan umum yang harus
> diajarkan pada masyarakat terutama keluarga dengan anggota yang terinfeksi
> HIV. Karena itu Tim Medik rumah sakit Dr. Soetomo bekerja sama dengan
> Fakultas Kedokteran Jurusan Keperawatan telah merancang pendidikan
perawatan
> di rumah untuk masyarakat terutama untuk keluarga yang terpengaruh.
Program
> itu akan dimulai dengan pendidikan melalui keluarga yang ada di rumah
sakit
> Dr. Soetomo.
>
> Prof. Jusuf Barakbah (Ketua Tim Medik RSUD Soetomo/FK Unair)
>
> Esthi Susanti H. (Sekjen Masyarakat Peduli AIDS Jatim)
>
> demikian penjelasan saya.
>
> Surabaya, 1 April 2004
> Wassalam,
>
> Esthi Susanti Hudiono
>
> ----- Original Message -----
> From: "Dr. D. N. Wirawan" <ykpdps@...>
> To: <wartaaids@yahoogroups.com>; <aids-ina@yahoogroups.com>; "Dony
> Agustinus" <bon3x@...>
> Sent: Sunday, March 28, 2004 10:24 AM
> Subject: [aids-ina] AIDS pada anak umur 8 tahun
>
> > Teman-teman Yth:
> >
> > Rekan-rekan di Surabaya ada baiknya menelusuri kejadian seperti
> > disampaikan oleh rekan Dony Agustinus (mengutip Jawa Pos) di bawah ini,
> > dan kemudian melakukan klarifikasi (kepada Jawa Pos) untuk pendidikan
> > kepada publik. Tidak masuk akal si anak tertular oleh ibunya melalui
> > kontak (sentuhan) biasa.
> >
> > Juga tidak masuk akal kalau si Ibu tertular HIV karena merawat
> > tetangganya yang AIDS.
> >
> > Sekarang saya (di Denpasar, Bali) sedang merawat seorang anak umur 4
> > tahun yang sedang AIDS. Dia tertular dari Ibunya ketika dalam kandungan
> > atau mungkin juga ketika disusui. Ibunya dan demikian juga ayahnya
> > adalah ex IDU. Ibunya HIV+ dan saat ini CD4-nya hanya 40. Ayahnya baru
> > saja keluar dari LP dan belum mau test HIV.
> >
> > Jadi, masih ada kemungkinan anak umur 8 tahun baru masuk fase AIDS,
> > walaupun tertular dari Ibunya ketika disusui atau ketika dikandung.
> >
> > Berita-berita seperti ini ada baiknya cepat-cepat diklarifikasi agar
> > tidak ada salah pengertian pada masyarakat.
> >
> > Ada pendapat lain?
> >
> > Salam,
> > Wirawan
> > Denpasar, Bali
> >
> >
> > Dony Agustinus wrote:
> > >
> > > Jawa Pos Jumat, 26 Mar 2004
> > > Parah, Bocah Delapan Tahun Terkena AIDS
> > >
> > > SURABAYA - Usianya baru delapan tahun, tapi Rachmat (nama samaran),
> > > sudah menanggung penderitaan berat. Dia terkena HIV/AIDS. Karena
> > > kondisinya cukup parah, bocah yang tinggal di Jombang itu dirujuk ke
> > > RSU dr Soetomo, kemarin.
> > >
> > > Diduga, siswa kelas II SD itu tertular virus maut tersebut dari
> > > ibunya, yang meninggal dunia seratus hari lalu. Sejak beberapa bulan
> > > lalu, kondisi Rachmat terus drop. "Ada saja sakit yang diderita anak
> > > saya. Mulai flu, diare, sampai panas datang silih berganti," kata
> > > Sunarto, ayahnya. "Saya kasihan melihat kondisinya," tambah pria
> > > berkulit gelap itu.
> > >
> > > Lebih lanjut Sunarto menuturkan, beberapa bulan sebelum meninggal,
> > > istrinya dulu juga sakit-sakitan seperti Rachmat. "Kata dokter,
> > > istri saya kena AIDS," katanya dengan roman muka sedih. "Beberapa
> > > kali dia dirawat di rumah sakit sampai akhirnya meninggal dunia,"
> > > lanjutnya.
> > >
> > > Istri buruh bangunan itu mengidap HIV/AIDS karena
> > > keluguannya. "Istri saya ketularan tetangga yang juga kena AIDS,"
> > > kata Narto. Beberapa tahun lalu, tetangga Narto itu pulang dari luar
> > > negeri sebagai TKI. Dia sakit-sakitan dan akhirnya
> > > meninggal. "Ternyata, dia kena AIDS. Seluruh penghuni rumah itu
> > > akhirnya meninggal semua juga kena AIDS," cerita Narto.
> > >
> > > Istri Narto adalah orang yang merawat keluarga tersebut. "Setiap
> > > hari istri saya yang merawat mereka," katanya. Dua tahun setelah
> > > kematian orang yang dirawat itu, istri Narto dinyatakan positif
> > > mengidap HIV/AIDS. "Menurut saya, istri saya tertular dari sana,"
> > > katanya. "Sebab, selama merawat tetangga itu, istri saya tidak
> > > menggunakan alat perlindungan apa-apa," lanjut dia. "Bahkan ketika
> > > merawat luka-lukanya, dia tidak menggunakan sarung tangan atau
> > > apapun."
> > >
> > > Begitu istrinya dinyatakan kena HIV/AIDS, Narto sangat menyesal.
> > > Belum habis kesedihan karena kematian istri tercintanya, kini dia
> > > dihadapkan pada penderitaan anaknya. "Saya kasihan melihat anak
> > > saya. Dia tampak kesakitan sekali," katanya. Meski menduga anaknya
> > > tertular istrinya, namun Narto masih menyimpan sebuah tanda tanya
> > > besar. Bagaimana putra semata wayangnya itu mendapatkan infeksi
> > > tersebut.
> > >
> > > Menurut Drs Widjiartini Mkes dari Badan Penanggulangan
> > > Penyalahgunaan NAPZA dan Penyebaran AIDS (BPNA) Jatim, penularan
> > > dari si ibu kepada anak sangatlah mungkin, meski sangat kecil. "Bisa
> > > saja karena mereka menggunakan sikat gigi yang sama atau sisir yang
> > > sama," katanya.
> > >
> > > Peralatan-peralatan tersebut sangat mungkin jadi media
> > > penularan. "Asal si ibu ada luka dan ada bagian kulit si anak yang
> > > terbuka. Jika itu bersinggungan, maka kemungkinan besar si anak bisa
> > > tertular," terang wanita yang aktif menangani kasus-kasus HIV/AIDS
> > > ini.
> > >
> > > Karena itulah, dia mengingatkan perlunya setiap orang melindungi
> > > dirinya ketika merawat penderita HIV/AIDS. "Inilah perlunya kita
> > > menerapkan universal precaution. Minimal menggunakan sarung tangan.
> > > Terutama jika merawat seseorang dengan HIV/AIDS yang punya luka,"
> > > ujarnya. Ini akan mengurangi risiko terjadinya penularan HIV/AIDS.
> > > (wie)
> >




Yahoo! Groups Links







Fri Apr 2, 2004 9:41 am

bingw@...
Send Email Send Email

Forward
Message #414 of 3230 |
Expand Messages Author Sort by Date

Teman- teman pemerhati masalah HIV/ AIDS, Setelah membaca berita di bawah ini saya merasa tergugah untuk ikut memberikan sumbang saran. Menurut saya ada satu...
Wibisono, Dr. Bing
bingw@...
Send Email
Apr 2, 2004
9:40 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help