Ibu Esthi,
Saya salut atas gerak cepat teman-teman di Surabaya.
Oh ya, apakah Masyarakat Peduli AIDS di Surabaya mempunyai atau
menyelenggarakan rubrik khusus HIV/AIDS di salah satu media di Surabaya?
Di Bali, dr. Tuti dan dr. Mangku mengasuh rubrik khusus IMS, narkotika
dan HIV/AIDS di salah satu koran lokal (DenPost). Ini dibiayai oleh KPAD
Prop. Bali.
Rubriknya terbit setiap Senin. Rubrik ini kadang kala manjur juga untuk
meng-counter berita-berita yang keliru.
Walaupun demikian, berita-berita keliru seputar HIV/AIDS masih tetap
juga bermunculan di koran, terutama kalau wartawannya baru-baru. Kita
sering capek juga meng-counternya.
Jangankan wartawan baru, dalam milis ini beberapa hari yang lalu muncul
berita dari FK-Unpad tentang kondom yang dikatakan tidak efektif untuk
mencegah penularan HIV. Entah hasil penelitian mana yang diacu oleh
mereka.
Sekali lagi selamat untuk teman-teman di Surabaya.
Salam hangat,
Wirawan
Prof. Wirawan, terima kasih. Kami dari Surabaya yakni Tim Medik AIDS
Rumah
> Sakit Dr. Soetomo dan Masyarakat Peduli AIDS telah mempelajari berita pada
> tanggal 26 Maret 2004 tentang anak 8 tahun yang tertular HIV. Respon kami
> adalah kemarin kami rapat lalu membuat tulisan klarifikasi ke Jawa Post.
> Lalu sore ini beberapa orang datang ke kantor Jawa Post untuk mendiskusikan
> dan klarifikasi tentang berita tersebut. Tulisan klarifikasi di bawah ini:
>
> Berita /AIDS yang bisa membawa dampak buruk karena bisa disalah artikan oleh
> masyarakat
>
> Berita Jawa Post pada tanggal 26 Maret 2004 yang lalu di kolom Metropolis
> dengan judul "Parah, Bocah Delapan Tahun Terkena AIDS". Berita ini disambung
> ke halaman 29 dengan judul "Ketularan Tetangga" telah mengundang tanggapan
> banyak aktifis HIV/AIDS di AIDS-Ina. Prof. Wirawan dari Denpasar Bali
> mengatakan:"Tidak masuk akal kalau si ibu tertular HIV karena merawat
> tetangganya yang AIDS". Lebih lanjut dia mengatakan:"Berita-berita seperti
> ini ada baiknya cepat-cepat diklarifikasi agar tidak ada salah pengertian
> pada masyarakat".
>
> Setelah membaca berita tersebut, Kami dari Masyarakat Peduli AIDS Jatim dan
> Tim Medik HIV/AIDS Rumah Sakit Dr. Soetomo menganggap bahwa berita tersebut
> bisa disalahartikan oleh masyarakat.
>
> Suami orang yang terinfeksi dari Jombang tidak bisa digunakan sebagai nara
> sumber yang menilai dari mana istrinya tertular. Penilaiannya merupakan
> prasangka yang dibangun berdasarkan pengertian yang dipahami. Padahal
> pengetahuan suami tersebut bukan berdasarkan pembuktian empirik. Berdasarkan
> penelitian empirik yang dilakukan di banyak tempat, telah membuktikan bahwa
> hubungan sosial (tinggal bersama dan melakukan perawatan yang tidak
> berhubungan dengan kontak darah dengan darah pada odha) tidak menularkan
> HIV.
>
> HIV ditularkan melalui 3 cara yaitu 1. hubungan seks (anal, oral dan vagina)
> yang tidak terlindung dengan orang yang telah terinfeksi HIV. 2. Transfusi
> darah atau penggunaan jarum suntik secara bergantian. 3. Ibu hamil pengidap
> HIV kepada bayi yang dikandung (terbanyak tertular ketika melakukan
> persalinan). HIV tidak ditularkan melalui jabatan tangan, sentuhan, ciuman,
> pelukan, menggunakan peralatan makan/minum yang sama, gigitan nyamuk,
> memakai jamban yang sama atau tinggal serumah.
>
> Berita tersebut akan berdampak buruk dengan mengundang respon negatif
> masyarakat pada epidemik ini. Padahal masyarakat terutama keluarga menjadi
> tulang punggung perawatan di luar rumah sakit. Siapa lagi kalau bukan
> keluarga atau komunitas yang melakukan perawatan di luar rumah sakit? Harian
> pagi ini kalau mau mengajarkan Universal Precaution (Pewaspadaan Umum) pada
> masyarakat caranya tidak seperti itu. Sepantasnya harian ini menggunakan
> nara sumber yang berkompeten berbicara tentang Kewaspadaan Umum. Begitu juga
> kalau membuat penilaian atau "pengadilan" tentang seseorang tertular dari
> apa dan siapa, sebaiknya melalui bukti empirik. Pemberian informasi tentang
> bagaimana HIV bisa ditularkan yang dibuat oleh sumber yang kompeten (melalui
> KIE atau tulisan-tulisan yang banyak tersebar), tidak bisa langsung
> digunakan untuk melakukan penilaian pada kasus atau peristiwa yang ada.
> Informasi tentang pencegahan mutlak harus disebarkan pada masyarakat, namun
> tidak layak digunakan untuk menilai peristiwa individu melalui logika
> spontan. Dengan kata lain wartawan harian pagi ini tidak mempunyai
> kompetensi untuk melakukan penilaian tersebut. Wartawan yang memberi
> informasi atau melakukan pendidikan pada masyarakat seyogyanya mengetahui
> dengan betul seluk beluk HIV/AIDS, mengingat betapa sensitif masalah
> tersebut. Pemberitaan oleh wartawan yang dibuat asal jadi tanpa mengetahui
> seluk beluk HIV akan sangat merugikan masyarakat luas dan merusak program
> penanggulangan HIV/AIDS yang ada.
>
> Nara sumber kedua yakni Widji Artini, M.Kes dari Badan Penyalahgunaan NAPZA
> DAN Penyebaran AIDS Jatim (orang yang kompeten di bidang kesehatan
> masyarakat) yang diwawancarai harian pagi ini setelah dikonfirmasi tentang
> penyataan yang dibuat; mengatakan bahwa informasi yang disampaikan tidak
> dimengerti oleh wartawan bersangkutan.
>
> Kami sepakat dengan harian pagi ini tentang kewaspadaan umum yang harus
> diajarkan pada masyarakat terutama keluarga dengan anggota yang terinfeksi
> HIV. Karena itu Tim Medik rumah sakit Dr. Soetomo bekerja sama dengan
> Fakultas Kedokteran Jurusan Keperawatan telah merancang pendidikan perawatan
> di rumah untuk masyarakat terutama untuk keluarga yang terpengaruh. Program
> itu akan dimulai dengan pendidikan melalui keluarga yang ada di rumah sakit
> Dr. Soetomo.
>
> Prof. Jusuf Barakbah (Ketua Tim Medik RSUD Soetomo/FK Unair)
>
> Esthi Susanti H. (Sekjen Masyarakat Peduli AIDS Jatim)
>
> demikian penjelasan saya.
>
> Surabaya, 1 April 2004
> Wassalam,
>
> Esthi Susanti Hudiono
>
> ----- Original Message -----
> From: "Dr. D. N. Wirawan" <ykpdps@...>
> To: <wartaaids@yahoogroups.com>; <aids-ina@yahoogroups.com>; "Dony
> Agustinus" <bon3x@...>
> Sent: Sunday, March 28, 2004 10:24 AM
> Subject: [aids-ina] AIDS pada anak umur 8 tahun
>
> > Teman-teman Yth:
> >
> > Rekan-rekan di Surabaya ada baiknya menelusuri kejadian seperti
> > disampaikan oleh rekan Dony Agustinus (mengutip Jawa Pos) di bawah ini,
> > dan kemudian melakukan klarifikasi (kepada Jawa Pos) untuk pendidikan
> > kepada publik. Tidak masuk akal si anak tertular oleh ibunya melalui
> > kontak (sentuhan) biasa.
> >
> > Juga tidak masuk akal kalau si Ibu tertular HIV karena merawat
> > tetangganya yang AIDS.
> >
> > Sekarang saya (di Denpasar, Bali) sedang merawat seorang anak umur 4
> > tahun yang sedang AIDS. Dia tertular dari Ibunya ketika dalam kandungan
> > atau mungkin juga ketika disusui. Ibunya dan demikian juga ayahnya
> > adalah ex IDU. Ibunya HIV+ dan saat ini CD4-nya hanya 40. Ayahnya baru
> > saja keluar dari LP dan belum mau test HIV.
> >
> > Jadi, masih ada kemungkinan anak umur 8 tahun baru masuk fase AIDS,
> > walaupun tertular dari Ibunya ketika disusui atau ketika dikandung.
> >
> > Berita-berita seperti ini ada baiknya cepat-cepat diklarifikasi agar
> > tidak ada salah pengertian pada masyarakat.
> >
> > Ada pendapat lain?
> >
> > Salam,
> > Wirawan
> > Denpasar, Bali
> >
> >
> > Dony Agustinus wrote:
> > >
> > > Jawa Pos Jumat, 26 Mar 2004
> > > Parah, Bocah Delapan Tahun Terkena AIDS
> > >
> > > SURABAYA - Usianya baru delapan tahun, tapi Rachmat (nama samaran),
> > > sudah menanggung penderitaan berat. Dia terkena HIV/AIDS. Karena
> > > kondisinya cukup parah, bocah yang tinggal di Jombang itu dirujuk ke
> > > RSU dr Soetomo, kemarin.
> > >
> > > Diduga, siswa kelas II SD itu tertular virus maut tersebut dari
> > > ibunya, yang meninggal dunia seratus hari lalu. Sejak beberapa bulan
> > > lalu, kondisi Rachmat terus drop. "Ada saja sakit yang diderita anak
> > > saya. Mulai flu, diare, sampai panas datang silih berganti," kata
> > > Sunarto, ayahnya. "Saya kasihan melihat kondisinya," tambah pria
> > > berkulit gelap itu.
> > >
> > > Lebih lanjut Sunarto menuturkan, beberapa bulan sebelum meninggal,
> > > istrinya dulu juga sakit-sakitan seperti Rachmat. "Kata dokter,
> > > istri saya kena AIDS," katanya dengan roman muka sedih. "Beberapa
> > > kali dia dirawat di rumah sakit sampai akhirnya meninggal dunia,"
> > > lanjutnya.
> > >
> > > Istri buruh bangunan itu mengidap HIV/AIDS karena
> > > keluguannya. "Istri saya ketularan tetangga yang juga kena AIDS,"
> > > kata Narto. Beberapa tahun lalu, tetangga Narto itu pulang dari luar
> > > negeri sebagai TKI. Dia sakit-sakitan dan akhirnya
> > > meninggal. "Ternyata, dia kena AIDS. Seluruh penghuni rumah itu
> > > akhirnya meninggal semua juga kena AIDS," cerita Narto.
> > >
> > > Istri Narto adalah orang yang merawat keluarga tersebut. "Setiap
> > > hari istri saya yang merawat mereka," katanya. Dua tahun setelah
> > > kematian orang yang dirawat itu, istri Narto dinyatakan positif
> > > mengidap HIV/AIDS. "Menurut saya, istri saya tertular dari sana,"
> > > katanya. "Sebab, selama merawat tetangga itu, istri saya tidak
> > > menggunakan alat perlindungan apa-apa," lanjut dia. "Bahkan ketika
> > > merawat luka-lukanya, dia tidak menggunakan sarung tangan atau
> > > apapun."
> > >
> > > Begitu istrinya dinyatakan kena HIV/AIDS, Narto sangat menyesal.
> > > Belum habis kesedihan karena kematian istri tercintanya, kini dia
> > > dihadapkan pada penderitaan anaknya. "Saya kasihan melihat anak
> > > saya. Dia tampak kesakitan sekali," katanya. Meski menduga anaknya
> > > tertular istrinya, namun Narto masih menyimpan sebuah tanda tanya
> > > besar. Bagaimana putra semata wayangnya itu mendapatkan infeksi
> > > tersebut.
> > >
> > > Menurut Drs Widjiartini Mkes dari Badan Penanggulangan
> > > Penyalahgunaan NAPZA dan Penyebaran AIDS (BPNA) Jatim, penularan
> > > dari si ibu kepada anak sangatlah mungkin, meski sangat kecil. "Bisa
> > > saja karena mereka menggunakan sikat gigi yang sama atau sisir yang
> > > sama," katanya.
> > >
> > > Peralatan-peralatan tersebut sangat mungkin jadi media
> > > penularan. "Asal si ibu ada luka dan ada bagian kulit si anak yang
> > > terbuka. Jika itu bersinggungan, maka kemungkinan besar si anak bisa
> > > tertular," terang wanita yang aktif menangani kasus-kasus HIV/AIDS
> > > ini.
> > >
> > > Karena itulah, dia mengingatkan perlunya setiap orang melindungi
> > > dirinya ketika merawat penderita HIV/AIDS. "Inilah perlunya kita
> > > menerapkan universal precaution. Minimal menggunakan sarung tangan.
> > > Terutama jika merawat seseorang dengan HIV/AIDS yang punya luka,"
> > > ujarnya. Ini akan mengurangi risiko terjadinya penularan HIV/AIDS.
> > > (wie)
> >