Jawa Pos Jumat, 26 Mar 2004
Parah, Bocah Delapan Tahun Terkena AIDS
SURABAYA - Usianya baru delapan tahun, tapi Rachmat (nama samaran),
sudah menanggung penderitaan berat. Dia terkena HIV/AIDS. Karena
kondisinya cukup parah, bocah yang tinggal di Jombang itu dirujuk ke
RSU dr Soetomo, kemarin.
Diduga, siswa kelas II SD itu tertular virus maut tersebut dari
ibunya, yang meninggal dunia seratus hari lalu. Sejak beberapa bulan
lalu, kondisi Rachmat terus drop. "Ada saja sakit yang diderita anak
saya. Mulai flu, diare, sampai panas datang silih berganti," kata
Sunarto, ayahnya. "Saya kasihan melihat kondisinya," tambah pria
berkulit gelap itu.
Lebih lanjut Sunarto menuturkan, beberapa bulan sebelum meninggal,
istrinya dulu juga sakit-sakitan seperti Rachmat. "Kata dokter,
istri saya kena AIDS," katanya dengan roman muka sedih. "Beberapa
kali dia dirawat di rumah sakit sampai akhirnya meninggal dunia,"
lanjutnya.
Istri buruh bangunan itu mengidap HIV/AIDS karena
keluguannya. "Istri saya ketularan tetangga yang juga kena AIDS,"
kata Narto. Beberapa tahun lalu, tetangga Narto itu pulang dari luar
negeri sebagai TKI. Dia sakit-sakitan dan akhirnya
meninggal. "Ternyata, dia kena AIDS. Seluruh penghuni rumah itu
akhirnya meninggal semua juga kena AIDS," cerita Narto.
Istri Narto adalah orang yang merawat keluarga tersebut. "Setiap
hari istri saya yang merawat mereka," katanya. Dua tahun setelah
kematian orang yang dirawat itu, istri Narto dinyatakan positif
mengidap HIV/AIDS. "Menurut saya, istri saya tertular dari sana,"
katanya. "Sebab, selama merawat tetangga itu, istri saya tidak
menggunakan alat perlindungan apa-apa," lanjut dia. "Bahkan ketika
merawat luka-lukanya, dia tidak menggunakan sarung tangan atau
apapun."
Begitu istrinya dinyatakan kena HIV/AIDS, Narto sangat menyesal.
Belum habis kesedihan karena kematian istri tercintanya, kini dia
dihadapkan pada penderitaan anaknya. "Saya kasihan melihat anak
saya. Dia tampak kesakitan sekali," katanya. Meski menduga anaknya
tertular istrinya, namun Narto masih menyimpan sebuah tanda tanya
besar. Bagaimana putra semata wayangnya itu mendapatkan infeksi
tersebut.
Menurut Drs Widjiartini Mkes dari Badan Penanggulangan
Penyalahgunaan NAPZA dan Penyebaran AIDS (BPNA) Jatim, penularan
dari si ibu kepada anak sangatlah mungkin, meski sangat kecil. "Bisa
saja karena mereka menggunakan sikat gigi yang sama atau sisir yang
sama," katanya.
Peralatan-peralatan tersebut sangat mungkin jadi media
penularan. "Asal si ibu ada luka dan ada bagian kulit si anak yang
terbuka. Jika itu bersinggungan, maka kemungkinan besar si anak bisa
tertular," terang wanita yang aktif menangani kasus-kasus HIV/AIDS
ini.
Karena itulah, dia mengingatkan perlunya setiap orang melindungi
dirinya ketika merawat penderita HIV/AIDS. "Inilah perlunya kita
menerapkan universal precaution. Minimal menggunakan sarung tangan.
Terutama jika merawat seseorang dengan HIV/AIDS yang punya luka,"
ujarnya. Ini akan mengurangi risiko terjadinya penularan HIV/AIDS.
(wie)