Teman-teman pemerhati masalah HIV/AIDS Yth:
Hasil penelitian berikut mungkin ada manfaatnya untuk teman-teman yang
banyak melakukan kegiatan HIV/AID Care & Support.
..." 80% orang yang memakai ARV dengan tingkat kepatuhan
diatas 95%, HIV-RNA akan bisa tidak terdeteksi, tetapi
bila tingkat kepatuhan hanya 90-95% maka hanya 45-64% yang
tidak terdeteksi" ... (Sumber: HIV Guide in Australia,
a Guide for Clinical Care. Australian Society for HIV
Medicine Inc, 2003).
Artinya, bila kita memakai ARV dengan frekuensi minum 2 kali dalam satu
hari maka untuk mencapai kepatuhan > 95% maka tidak boleh lupa minum
lebih dari 3 kali dalam satu bulan.
Sekedar sebagai pembanding, keberhasilan PMO (pengawas minum obat) untuk
TBC di Indonesia yang obatnya hanya diminum 6 bulan, hanya sekitar 50%.
Artinya 50% dari mereka berhenti minum obat sebelum 6 bulan.
Sekedar catatan: efek samping dan toksisitas ARV jauh lebih banyak
dibanding obat TBC dan ARV harus diminum seumur hidup.
Bila kepatuhan rendah, ARV akan gagal dan yang lebih berbahaya adalah
HIV akan menjadi kebal dan bila virus yang kebal ini menular pada orang
lain maka masyarakat global juga tidak mempan lagi dengan ARV tsb.
Tampaknya pekerjaan rumah yang jauh lebih rumit bagi kita yang bergerak
dibidang Care & Support bukan hanya advokasi untuk pengadaan ARV murah
tetapi jauh lebih complicated dari pada itu.
Saya amat senang kalau kita bisa berdiskusi soal ini.
Salam,
Wirawan