Dr. Erawita Yth:
Kami (Bali ARV Fund) sebenarnya menyediakan ARV bagi klien odha yang
seperti ini tetapi untuk saat ini hanya untuk odha di Bali. Bukan
diskriminasi daerah tetapi semata-mata karena alasan administrasi dan
pertanggung jawaban ke donatur.
Sejak kapan klien ini putus ARV? Yang putus-putus (karena tidak mampu
membeli obat semacam ini) yang seharusnya dapat prioritas untuk dibantu
karena akan bahaya gagal obat dan juga bahaya resistensi.
Coba hubungi Bapak Chris Green dan Yayasan Spritia. Mudah-mudahan ada
jalan keluar.
Salam,
Wirawan
> Teman-teman yang baik,
> mungkin ada yang memiliki informasi untuk membantu saya. Saya sedang
> mencari lembaga/yayasan/foundation baik dalam/luar negeri yang bergerak
> memberikan bantuan bagi pasien-pasien yang menderita HIV yang tidak
> mampu membeli pengobatan antiretroviral.
>
> Saya memiliki seorang pasien penderita HIV (+) yang drop out dari
> Pokdisus AIDS karena tak mampu membeli obat antivirus. Terakhir CD4nya
> hanya 77 (Nomal 400-1590 cell/ul). Pasien ini juga telah memiliki
> komplikasi jamur di kuku, tubuh, serta kemungkinn di SSPnya.
>
> Lewat POKDISUS, harga pengobatan ARV semurah2nya Rp.220.000,-bulan, tapi
> ini masih memberatkan pasien yang tidak mampu. POKDISUS hanya
> menyarankan untuk masuk ke daftar tunggu pasien2 yang kadang mendapat
> donasi dari luar negeri, tapi entah kapan bisa benar-benar terealisasi.
>
> Bila teman-teman tahu ada yayasan atau lembaga tsb, mungkin dapat
> meng-imel saya lewat milis ini atau langsung ke erawita@....
>
> Terima kasih sebelumnya.
> Dr. Erawita - PPDS Kulit & Kelamin FKUI/RSCM.