Teman-teman Yth:
Mulai akhir tahun yang lalu, orang yang dijumpai HIV+ dari hasil
sero-survei (pembilang dari surveillance atau survei ad hoc HIV) tidak
lagi dicatat sebagai kasus HIV+ kumulatif oleh Depkes. Yang digabungkan
hanya laporan kasus AIDS (kebanyakan dari rumah sakit) dan hasil VCT
(yang kebanyakan masih asimtomatis).
Kasus-kasus HIV+ yang dijumpai melalui VCT seharusnya dilaporkan ke
Depkes agar kita di Indonesia mempunyai data yang lebih akurat. Data ini
amat perlu untuk merencanakan layanan bagi odha (pemeriksaan lab. untuk
follow-up, profilaksis dan terlebih-lebih ARV yang oleh WHO/Indonesia
telah ditargetkan 5000 orang tahun 2004).
Kami dari Bali secara rutin melaporkannya ke Depkes. Di bawah ini adalah
laporan yang baru kami kirim Senin (24 Februari).
Hampir 90% yang datang untuk test dalam keadaan tidak mampu.
Sampai saat ini (dalam rangka menumbuhkan "demand"), test HIV di Bali
masih kami layani secara cuma-cuma. Demikian pula test CD4, profilaksis
dengan kotrimoksasol, pengobatan opportunistik infection (OI) dan ARV.
Tentang dana, kami usahakan kesana-kemari. Untuk ARV ada yang dari KPAD
Prop., KPAD Pemkot, organisasi swasta dan donasi dari perorangan (dalam
dan luar negeri). Klien yang mampu ada juga yang menyumbang.
Sebenarnya beberapa odha mengatakan mampu membiayai ARV bila memakai
produksi Kimia Farma (Rp. 380.000 per bulan) tetapi mereka selalu
khawatir memulai ARV karena tidak yakin setiap bulan mampu menyisihkan
uang sebanyak itu padahal ARV harus terus berlanjut. Untuk itu kami
mengatakan pada mereka, obat akan kami jamin terus ada dan dia bisa
bayar kalau punya uang. Setelah mendapat jawaban seperti itu, kebanyakan
memutuskan untuk mulai memakainya (ini untuk mereka yang sudah AIDS).
LAPORAN KE DEPKES
Denpasar, 24 Februari 2004
Kepada Yth:
Dirjen PPM & PLP Departemen Kesehatan
Jalan Percetakan Negara 29
Jakarta 10570
Perihal: Laporan penderita positip HIV (hasil VCT)
Dengan hormat,
Terlampir kami kirimkan laporan 16 (enam belas) penderita positip HIV
dari hasil VCT (voluntary testing and counseling) yang kami laksanakan
di Bali dalam periode waktu dua bulan (11 Desember 2003 - 16 Februari
2004). Klien yang secara sukarela untuk test HIV dalam periode waktu 2
bulan ini sebanyak 38 orang dan 16 dari mereka HIV+ (42%).
Perlu pula kami sampaikan bahwa lembaga kami (Yayasan Kerti Praja)
menjadi semacam VCT Centre di Bali dimana konseling pra-test
dilaksanakan oleh para konselor dari berbagai lembaga atau LSM di Bali
(termasuk Yayasan Kerti Praja), dan test HIV serta sistem pencatatan dan
pelaporannya dilaksanakan oleh Yayasan Kerti Praja.
Sejak 1 Januari 2000 sampai dengan 16 Februari 2004, jumlah klien yang
secara sukarela menjalani test HIV setelah diberikan pre-test konseling
adalah 653 orang. Dari 653 orang ini, sebanyak 138 dijumpai HIV+ (21%).
Pemeriksaan diilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan (BLK) Denpasar
dengan memper-gunakan 3 (tiga) jenis elisa.
Demikian kami sampaikan dan atas perhatiannya kami ucapkan banyak terima
kasih.
Tembusan: Hormat kami,
1. Ketua KPAD Prop. Bali Ketua Yayasan Kerti Praja (YKP)
2. Kepala Dinas Kesehatan Prop. Bali
3. POKJA KPAD Prop. Bali
4. Ketua KPAD Pemkot Denpasar
5. Kepala Dinas Kesehatan Kota Denpasar
6. IHPCP Jakarta Prof. dr. Dewa N. Wirawan, MPH
7. IHPCP Bali