Angka Kematian AIDS di Thailand Dipotong Separo dengan Terapi
Sub-optimal
Oleh Keith Alcorn, 6 Februari 2003
Terapi kombinasi dua obat dianggap kurang optimal oleh pedoman WHO
tentang terapi antiretroviral (ART) di rangkaian terbatas sumber daya.
Namun terapi dua obat ini dikaitkan dengan penurunan 57 persen dalam
angka kematian di antara orang dengan infeksi HIV lanjut di Thailand
utara. Ini menurut laporan yang diterbitkan di Jurnal Acquired Immune
Deficiency Syndromes edisi 14 Februari 2003.
Penelitian ini adalah analisis retrospektif terhadap sekelompok pasien
yang diobati antara 1995 dan 1999, di Rumah Sakit Lampang di Chiang
Mai, Thailand utara. 1.110 pasien menghadiri klinik (34 persen
perempuan), 70 persen bergejala; jumlah CD4 pada tahun pertama setelah
diagnosis tersedia untuk 681 pasien, dan jumlah ini rata-rata 90
(25-290). 257 pasien sudah mempunyai jumlah CD4 di bawah 50 pada titik
ini.
Data lanjut tersedia untuk 1.081 pasien, 607 di antaranya yang
meninggal dalam masa pemantauan. Data mengenai pasien yang tidak dapat
dipantau disensor pada waktu kunjungan terakhir. 1.175 pasien tahun
pemantauan tersedia untuk dianalisis.
Angka kematian per 100 pasien tahun adalah 79,6 persen pada mereka
dengan jumlah CD4 di bawah 100 pada awal.
23 persen pasien menerima ART pada masa yang diamati. 79 pasien
menerima monoterapi, biasanya AZT, sementara 130 pasien diobati dengan
terapi dua obat (biasanya AZT dan ddI atau ddC). 19 pasien diobati
dengan terapi tiga obat.
Rata-rata, pasien menerima monoterapi diobati selama 211 hari; untuk
yang menerima terapi dua obat 367 hari. 19 pasien yang pertama diobati
dengan AZT sebelum mulai terapi dua obat dimasukkan pada kelompok
terapi dua obat.
Manfaat tahan hidup yang jelas dilihat pada pasien dengan jumlah CD4 di
bawah 200 yang menerima terapi dua obat. Penurunan relatif pada
kematian untuk pasien yang menerima terapi dua obat dibandingkan yang
tidak menerima terapi adalah 57 persen (37 persen untuk monoterapi),
serupa dengan manfaat yang dilihat di penelitian Delta dan ACTG 175,
yang pertama melaporkan manfaat dari terapi kombinasi dua pada 1995.
"Selama selisih biaya antara terapi kurang optimal dan HAART begitu
besar, dokter yang bekerja di negara terbatas sumber daya akan terus
menghadapi dilema: mengobati sedikit pasien dengan terapi yang optimal
atau lebih banyak pasien dengan terapi kurang optimal," komentar
penulis. "Mengurangi efektifitas terapi tiga obat pada masa depan di
antara pasien yang sudah memakai terapi dua obat memprihatinkan. Namun
jika tidak diobati dengan ARV apa pun, sebagian besar pasien dengan
jumlah CD4 yang rendah akan segera meninggal."
Para penulis juga mencatat bahwa mustahil mereka menilai manfaat
tambahan dan efektif-biaya terapi tiga obat yang memakai obat generik
tanpa melaksanakan analisis ini.
Referensi: Pathipvanich P, et al. Survival benefit from non-highly
active antiretroviral therapy in a resource-constrained setting.
Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes 32: 157-160, 2003.
URL: http://www.aidsmap.com/news/newsdisplay2.asp?newsId=1883