saya membaca sebuah artikel di web milik voice of Islam. Di web
tersebut penulis Ir. Lathifah Musa, banyak memberikan kritik terhadap
program penanggulangan HIV/AIDS. Kampenye kondom justru dianggap sebagai
upaya memfasilitasi sex bebas.
"Kondom bukan cara efektif karena lebar pori-pori kondom 1/60 mk. Saat
meregang pori-porinya melebar 10x. Sementara Virus HIV ukurannya 1/250
mk. Saat normal pori-pori kondom bisa dimasuki 4 virus HIV & saat regang
bisa dimasuki 40 virus HIV".
Penulis juga melarang aanya hubungan sosial (misal berjabat tangan dll)
karena bisa menularkan HIV/AIDS).
"Darah dan cairan tubuh ODHA berisiko menularkan HIV karena mengandung
virus yang dapat bertahan hidup tujuh hari pada suhu kamar. Kadarnya
adalah: 18.000 partikel/mL darah; 11.000 partikel/mL semen; 7.000/mL
cairan vagina; 4.000 partikel/mL cairan amnion; dan 1 partikel/mL
saliva. Tingkat risiko penularan tinggi adalah darah, serum, semen,
sputum dan sekresi vagina. Cairan amnion, cairan serebrospinal, cairan
pleura, cairan peritoneal, cairan perikardial, cairan sinovial tergolong
masih sulit ditentukan risikonya. Mukosa seviks, muntah feses, saliva,
keringat, air mata dan urin tergolong risiko rendah selama tidak
terkontaminasi darah. Risiko meningkat jika orang yang menjadi sumber
penularan dalam keadaan AIDS lanjut.
Oleh karena itu, sebaiknya dihindari untuk bersalaman, berciuman,
penggunaan bersama: alat makan, toilet, sikat gigi, alat pencukur, dan
alat-alat lain yang dapat terkontaminasi darah (termasuk darah haid).
Selengkapnya bisa dibaca di:
http://voi.gaulislam.com/penyesatan-info-kampanye-hiv-aids/
Ini menjadi bukti, penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia masih banyak
mendapat tantangan....
salam
Aris