Pasien yang memulai ART di daerah Sub Sahara Afrika memiliki tingkat
kematian yang tinggi, demikian disampaikan dalam artikel yang dipublikasikan
pada edisi 1 Oktober dari buletin AIDS. Sebagian besar angka kematian
terjadi dalam tiga bulan pertama semenjak pengobatan, dan juga terdapat
angka kematian yang cukup tinggi dalam waktu antara ketika akan memulai
pengobatan dengan saat memulai ART.
Walaupun sebagian besar penderita yang seharusnya memulai ART belum
melaksanakan ART (hanya sekitar 28% saja yang sedang menjalani terapi ART),
namun angka kematian masih tetap tinggi. Dibentuklah sebuah tim investigasi
untuk mengkaji penyebab tinginya angka kematian tersebut. Kajian dilakukan
terhadap beberapa parameter antara lain saat memulai ART, faktor resiko, dan
penyebab kematian.
Kemudian dilakukan analisa data terhadap 18 penelitian yang telah
dipublikasikan. Penelitian tersebut memberikan data yang cukup lengkap
terhadap sekitar 39.536 pasien yang sedang menjalani terapi ART pada
sembilan negara. Sebagian besar mendapatkan ART melalui layanan kesehatan
masyarakat. Rata-rata angka dasar untuk saat memulai ART adalah antara 43
sampai dengan 147 sel/mm3. Jangka waktu tindak lanjut juyga bervariasi
antara 3 sampai dengan 46 bulan. Sebagian besar pasien belum pernah menerima
ART sebelumnya, dan sebagian besar memulai ART dengan rejimen 2 NRTI dan 1
NNRTI.
Penulis dalam makalah ini memberikan komentar bahwa tingginya angka kematian
pada awal pengobatan ART disebutkan sebagai “tantangan baru” dalam
pengobatan HIV/AIDS. Setelah dilakukan kajian selama 12 bulan, sebanyak
8-26% pasien yang tidak pernah lost follow up didapati telah meninggal
dengan angka terbanyak kematian terdapat pada bulan pertama setelah terapi.
Pada beberapa penelitian yang dikaji, sebagian besar kematian terjadi pada
tahun pertama terutama pada bulan-bulan awal. Hal ini diluar hitung-hitungan
virla load yang baik. Angka kematian pada tahun kedua kemudian mengalami
penurunan. Namun pada beberapa penelitian juga didapatkan angka kematian
yang tetap tinggi pada tahun kedua, yang ini mungkin disebabkan karena
respon terhadap terapi yang buruk.
Data-data mengenai angka kematian tersebut tidak selalu tepat, karena pada
beberapa kasus ketidak pastian tentang kematian akan dicatat sebagai lost
follow up. Kajian di Afrika Selatan dan Pantai gading dengan verifikasi yang
baik menemukan bahwa, angka kematian paling banyak terjadi pada bulan-bulan
pertama terapi, sedangkan kejadian lost follow up tersebar di sepanjang
waktu pengobatan dan tidak berhubungan dengan tinggi rendahnya jumlah CD4.
angka kematian yang tinggi juga ditemukan pada saat sebelum memulai terapi.
Di Cape Town, sebuah kajian menemukan bahwa sekitar 67% kematian terjadi
pada tiga bulan pertama semenjak datang ke layanan sampai eligible untuk
memulai terapi (rata-rata 30 hari). Penelitian di Afrika Selatan lainnya
menyebutkan bahwa sekitar 87% angka kematian terjadi pada saat memulai
terapi. Penulis mengemukakan bahwa penyebab dari tingginya angka kematian
kemungkinan disebabkan karena terlambat untuk merujuk, pasien masuk dalam
daftar tunggu yang panjang dan lamanya waktu yang dipelrukan untuk
mempersiapkan pasien. Dengan demikian akan diperlukan riset untuk mengetahui
batasan yang tepat antara saat datang ke layanan kesehatan dengan saat
memulai ART agar angka kematian tidak tinggi.
faktor resiko tinggi yang teridentifikasi sebagai penyebab kematian yang
dini antara lain rendahnya nilai CD4 dan infeksi oportunistik berat (stadium
4 WHO). Jika dibandingkan dengan pasien yang memiliki CD4 tinggi, pasien
dengan CD4 dibawah 50 memiliki tendensi untuk meninggal dua setengah kali
lebih banyak. Lebih lanjut lagi, jika dibandingkan dengan stadium 1-3,
pasien dengan stadium 4 memiliki resiko kematian dua kali lebih besar.
juga ditemukan angka kematian yang sangat tinggi (empat kali lipat) pada
program-program swasta dimana pasien diharuskan membayar untuk ART. Hal ini
kemungkinan disebabkan karena rendahnya adherence atau tingkat kepatuhan
pasien. Meskipun ada keterbatasan data, penyebab utama terbesar secara
berurutan adalah tuberculosis, sepsis akut, meningitis kriptokokus,
keganasan dan wasting syndrome. Immune reconstitution syndrome (IRIS) juga
berperan namun efeknya kecil. Dalam kajian ini juga didapatkan bahwa
toksisitas obat merupakan penyebab minor.
Penulis juga menyatakan bahwa angka kematian tidak saja bergantung pada cara
pelayanan program namun juga bergantung pada tingkat kemajuan penyakit dan
kualitas pemberi layanan. Strategi yang diperlukan untuk mengurangi angka
kematian antara lain promosi diagnosis dini, penguatan pengobatan pasien
sebelum dan sesudah memulai ART, monitoring laboratorium, inisiasi yang
tepat waktu, dukungan untuk kepatuhan, pencegahan yang optimal, skrining dan
manajemen infeksi oportunistik. TB merupakan isu yang sangat perlu
dikedepanakan disini dan pedoman TB telah menyarankan terapi awal TB pada
pasien dengan CD4 di bawah 100.
HYPERLINK "http://www.pmtct.net"www.pmtct.net
Referensi
Lawn, SD Early mortality among adults accessing antiretroviral treatment
programmes in sub-Saharan Africa. AIDS 22:1897–1908, 2008.
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 270.7.6/1715 - Release Date: 10/8/2008
7:19 PM
[Non-text portions of this message have been removed]