Rekan Ai yang baik,
Saya rasa, pengalaman di Yogya ada baiknya diketahui juga oleh para
perancang program di Indonesia. Karena itu pengalaman Ai saya teruskan
juga kepada para policy makers yang tidak tergabung dalam milis
AIDS-INA.
Tidak apa-apak kan?
Salam hangat dari Bali,
Wirawan
JOY wrote:
>
> Pak Wirawan dan Mbak Suci yth,
>
> saya pernah punya pengalaman ga enak seputar kampanye VCT di Yogya...
> waktu itu kita medukung kelompok dampingan untuk tes HIV gratis tapi
> sebenarnya kita belum menyiapkan dukungan...
>
> akibatnya cukup fatal!
> ternyata ada 2 yang positif waktu itu, yang kita berikan adalah
> dukungan sosial berupa konseling dan pendampingan, kebetulan saat itu
> saya yang menjadi pendampingnya (ini pun cukup berat ternyata karena
> ada fase-fase denial sampai penerimaan yang cukup berat)-> pendamping
> belum berpengalaman
>
> kita tidak berpikir panjang mengenai dukungan medis karena waktu itu
> odha yang bersangkutan masih segar bugar....
> tidak lama kemudian kesehatan salah satu diantaranya menurun cukup
> tajam, saat itu dokter yang concern dengan HIV/AIDS di Yogya
> menyarankan bolak balik untuk cek di lab yang menghabiskan biaya
> cukup banyak (waktu itu semua ditanggung PKBI DIY termasuk konfirmasi
> western blot karena dokter yang bersangkutan mewajibkan demikian)
> tapi yang bersangkutan tidak juga membaik, bahkan tambah parah, waktu
> itu PKBI berinisiatif menghubungi RS RS yang ada di yogya apakah
> bersedia untuk menerima pasien odha atau tidak, ternyata belum
> satupun RS yang bersedia menerima pasien odha dengan alasan belum
> siap.
>
> akhirnya ketika spiritia mengundang Pertemuan Nasional Odha di Bali,
> teman yang sakit itu kita ikut sertakan maksudnya biar sekalian
> berobat)
> Sampai di Bali diperiksa dokter yang memang ahli dalam HIV/AIDS, dan
> dia tidak disuruh bolak balik ke lab, hanya di beri kotrimoksasol dan
> beberapa vitamin. Menurut dokter tersebut keadaan yang bersangkutan
> sudah parah, harusnya bisa dicegah dengan diberikan kotrimoksasol
> (obat profilaksis) harganya sangat murah.
> Di Bali keadaan teman tersebut membaik tetapi ketika sampai Yogya
> tidak lama kemudian dia meninggal.
>
> Hal ini merupakan pukulan cukup telak untuk teman2 jaringan LSM
> HIV/AIDS di Yogya bahwa jangan sembarangan kampanye VCT tapi dukungan
> belum disiapkan, karena kita berbicara tentang nyawa manusia, bukan
> sekedar kasus! Akhirnya PKBI DIY segera berkoordinasi membentuk
> jaringan LSM HIV/AIDS terbentuk yang didalamnya ada dokter,dinkes,
> kpad, rumah sakit, dukungan sebaya, pencegahan, dll
> Sekarang jaringan sudah ada, berbagai dukungan sudah disiapkan
> sehingga kampanye VCT diharapkan akan lebih lancar karena orang tahu
> dukungan apa yang dapat diterimanya seandainya dia positif.
> Mudah-mudahan kasus di yogya bisa menjadi pelajaran buat teman2 lain
> dalam mengkampanyekan VCT di daerahnya masing-masing.
>
> salam,
> ai