Yth: Dr.Suharto dan teman-teman pemerhati masalah HIV/AIDS,
Untuk mempersiapkan sistem, SDM, pedoman treatment dan VCT saya rasa
kita tidak mulai dari nol. Yang sudah ada/kita miliki antara lain
beberapa yang saya tulis di bawah ini. Mohon teman-teman lain
menambahkan yang saya tidak ketahui atau saya lupakan.
1. WHO Geneva dan New Delhi telah mengeluarkan buku pedoman pengobatan
yang menurut saya amat baik. Selama ini saya memakai buku pedoman ini.
Memang dalam Bhs. Inggris, tetapi kalau bagi dokter, saya rasa semua
dokter di Indonesia bisa mengerti pedoman ini. Kalau ingin membuat dalam
Bhs. Indonesia, saya rasa tidak sulit.
2. Dengan bantuan Burnet (Melbourne) kami telah selesai menyusun satu
buku pegangan untuk konselor (dalam program VCT) yang cukup
komprehensif. Untuk Bab Pengobatan kami juga mengambilnya dari Pedoman
WHO. Buku ini terdiri dari 9 Bab (250 halaman). Karena biayanya cukup
mahal, kami hanya membuatnya dalam jumlah terbatas dan sudah saya
kirimkan pada teman2 yang betul-betul amat memerlukan. Bila Bapak amat
memerlukan, bisa saya kirimkan secara cuma-cuma. Mungkin di kantor
tinggal 1 atau 2 copy. Bila buku ini diangap sesuai, tentu bisa
diperbanyak.
3. Selama 2 tahun kami melakukan pelatihan konselor VCT dengan pelatih
Kim Benton (psikolog) dari Australia dan didampingi oleh Marcel (Yayasan
Mitra Indonesia) dan Kustin (Yayasan Pelita Ilmu) dan Wulan
(psikolog/staf kami di Yayasan Kerti Praja). Selanjutnya Marcel, Kustin
dan Wulan bisa melanjutkan atau membantu pengembangan kurikulum
pelatihan konselor. Ini saya rasa tidak sulit.
4. ASA Jakarta juga telah mengembangkan buku pedoman untuk VCT sejak 2
tahun yang lalu.
5. Kami di Bali telah mengembangkan metode pemeriksaan CD4 yang tepat
guna (metode lebih sederhana, lebih murah). Saat ini penelitiannya telah
selesai. Ini dikembangkan di Lab. Prodia, sehingga nantinya bisa diakses
dari di seluruh Indonesia karena Prodia mempunyai cabang-cabang di
hampir semua kota besar di Indonesia. Ini penting karena pengiriman
darah segar agak menyulitkan. Penghitungan limfosit bisa juga dilakukan.
6. Selanjutnya kami juga ada rencana untuk mengembangkan metode viral
load yang tepat guna. Juga dengan Prodia dengan bantuan Burnet
Australia. Viral load mungkin akan berguna untuk monitoring resistensi
obat ARV.
7. Obat ARV generik (saya baca di Kompas) sudah ada sistem antara
POKDISUS, Indo Farma dan POM.
8. SDM untuk treatment, saat ini tinggal memperbanyak dan mengembangkan
sistem jaringannya. Nara sumber yang kredibel dan sudah menggeluti
masalah treatment/masalah public health HIV/AIDS sejak lebih dari 10
tahun, ada: dr. Zubairi, dr. Samsu dan dr. Tuti. Untuk kota-kota yang
ada fakultas kedokterannya, tampaknya Bagian Penyakit Dalam bisa
dimasukkan dalam networking plus LSM dan dokter lain di kota tersebut
yang berkecimpung di bidang care & support HIV/AIDS. Bila tidak ada FK,
bisa dipilih Bagian Penyakit Dalam RSUD. Dr. Zubairi, dr. Samsu, dr.
Tuti sebagai key person dalam jaringan tersebut. Rencana TREAT ASIA yang
difasilitasi oleh AmFAR memang seperti itu. Bila jaringan ini telah
terbentuk, kita langsung masuk jaringan TREAT ASIA. Program TREAT ASIA
cukup banyak antara lain monitoring resistensi obat, clinical trials,
lokakarya, seminar, dll.
Jaringan Odha Indonesia yang difasilitasi oleh Spritia serta Dr.
Zubairi, Dr. Samsu dan Dr. Tuti pasti tahu betul RS, dokter, FK yang
memang peduli dengan masalah HIV/AIDS khususnya treatment. Sekarang
tinggal buat list-nya lalu saling ketemu. Sebelum kumpul mungkin bisa
dikirimi kuesioner dulu.
9. Kami di Bali juga akan mengirim seorang dokter internis (masih muda)
ke Brown University di Boston untuk menekuni masalah treatment. Ini
dalam rangka kaderisasi mengingat umur kita telah semakin lanjut.
Sebenarnya dia sudah harus berangkat, tetapi belum dapat VISA (sudah
lebih dari 3 bulan menunggu).
10. Dalam komponen kegiatan proyek HIV/AIDS-nya AusAID, dan mungkin ASA,
WHO serta UNAIDS mungkin mereka sudah ada rencana untuk hal-hal seperti
di atas. Jadi, dana sudah dialokasikan di proyek mereka.
Nah, yang di atas (antara lain) adalah "bagian-bagian dari kapal" yang
boleh dibilang telah siap melaut. Sekarang tinggal, siapa nahodanya?,
dan ke arah mana kapal akan diarahkan?
Apakah di Jakarta bisa diadakan rapat diantara KPA, WHO, UNAIDS, ASA,
Proyeknya AusAID, Depkes, POKDISUS, Spritia, dan lembaga lain yang
relevan untuk mengetahui rencana mereka masing-masing, agar ada bayangan
WHO doing WHAT, WHEN and HOW? Sekaligus untuk berbincang-bincang guna
menggali pemikiran-pemikiran pengembangan sistem di atas. Kalau
pertemuan kayak begini, siapa yang ngundang ya? KPA?
Apa mungkin dimulai membentuk POKJA TREATMENT NASIONAL? (semacam TREAT
ASIA). Agar lebih efisien dan efektif, sebaiknya mulai dengan
orang-orang yang ada di satu kota (Jakarta). Mulai dengan anggota yang
kecil (Depkes, KPA, POKDISUS, Spritia/LSM lain, WHO, UNAIDS, dan
bilateral donor agencies).
Wah, celotehan saya sudah terlalu panjang, mungkin ada teman-teman lain
yang akan menambahkan (ini perlu dan penting ... seperti slogannya
majalah TEMPO).
Salam hangat,
Wirawan
Yayasan Kerti Praja (YKP)
Denpasar
Suharto Dr., SpKO., DPH wrote:
>
> Yth Dr,Wirawan dan teman2 lain,
>
> Saya tertarik bergabung dalam diskusi ini sebab ada hal penting yang
> harus kita siapkan bersama yaitu kesiapan tenaga dan sarana pendukung
> untuk ARV treatment.Persiapan dalam bentuk Modul pelatihan sampai saat
> ini saya belum temukan dan lagi tenaga yang ada masih terbatas .
>
> Karenannya secara regional kita perlu sentra yang saat ini saydah
> punya kemampuan untuk itu.Saya dalam pembicaraan serius untuk melobi
> beberapa FK untuk kerjasama melakukannya .Juga kalau ada Info teman2
> yang sudah berpengalaman akan sangat berguna.
>
> VCT seperti yang dijelaskan Dr Wirawan ,tetntunya jadi bagian dari
> usaha itu,dan secara jelas sudah menjadi area penting dalam STRANAS
> 2003-2007 yang saya yakin akan segere dijadikan dasar hukum.Lagi lagi
> pengetahuan dan diskusi semacan ini sebagai persiapan sangat
> bermanfaat untuk mengeluarkan kebijaksanaan secara nasional.
>
> Terima kasih.
>
> Suharto.
>
>