Rekan Usep Yth:
Itulah yang saya ingin kemukakan untuk berbagai kota dan daerah di
Indonesia. Apa dan siapa yang perlu disiapkan, oleh siapa dan dengan
cara bagaimana. Terlebih untuk HIV/AIDS yang layanannya amat panjang,
mahal, ada stigma, dll. Kalau di Jakarta memang sudah ada mekanismenya
yaitu oleh POKDISUS. Bagaimana dengan kota-kota lain. Di Yogya saya
dengar KPAD-nya demisioner. Bagaimana di Makassar, Malang, Surabaya,
Semarang, Palembang, Mataram, dll.
Selain HIV/AIDS masih banyak sekali masalah-masalah kesehatan yang
sampai sekarang tidak ada atau belum baik sistemnya di negara kita.
Misalnya kesehatan reproduksi. Kalau melalui jalur pemerintah, sampai
sekarang belum ada sistem pelayanan yang baik untuk masalah ini. Swasta
juga tidak. PKBI melakukan sebagian.
IMS juga demikian. Ada dokter spesialis kulit kelamin tetapi tidak
banyak yang terlayani disana (karena macam-macam faktor). Puskesmas,
tidak ada dan tidak jalan karena pasien tidak mau ke puskesmas. Pasien
wanita biasanya ke bidan, tetapi bidan sama sekali tidak mengetahui/
tidak diajarkan tentang IMS. Di negara lain memang jelas-jelas ada
SEXUAL HEALTH CLINIC. Di negara kita kan "tidak boleh" ada yang begini.
Karena itu saya lakukan semacam jajak masalah melalui milis ini. Baru
ada dua yang masuk yaitu dari Surabaya dan Yogya.
Salam hangat,
dr. Wirawan
Yayasan Kerti Praja
Denpasar, Bali
Usep Solehudin (YPI) wrote:
>
> Yth. dr. Wirawan,
>
> Menurut saya layanan medik bagi odha pelaksanaannya sama seperti layanan
> medik bagi penyakit lainnya. Yang penting adalah dipersiapkan ketersediaan
> ARV yang murah (generic) dan dokter yang bisa meresepkannya. Untuk ini perlu
> peran KPAD dan atau Organisasi setempat yang memiliki program/layanan untuk
> Odha. KPAD bisa saja mendorong untuk penyediaan ARV di Rumah Sakit Daerah
> atau Puskesmas dan melatih dokter2nya, terutama didaerah2 strategis yang
> bisa dijangkau oleh teman2 Odha dengan mudah. Karena kalau penyediaannya di
> apotek atau melalui dokter praktek, harganya pasti menjadi lebih mahal.
>
> Sepertinya Pokdisus telah merintis hal ini dan mungkin bisa menginformasikan
> mengenai dokter ataupun rumah sakit yang telah menjalin kerjasama dalam
> penyediaan ARV murah. YPI dan Pokdisus juga telah bekerja sama dengan salah
> satu Puskesmas di daerah Jakarta Pusat dalam penyediaan ARV murah (gratis).
>
> Bagaimana kalau juga dibuat layanan informasi yang memberitahukan mengenai
> tempat2 yang menyediakan ARV sekaligus informasi mengenai ketentuan/prosedur
> dalam pengobatan, efek samping yang mungkin timbul dan penanganannya,
> kepatuhan, tips dan info lainnya.
>
> Wassalam
> Usep
>
> ----- Original Message -----
> From: Dr. D.N. Wirawan <ykpdps@...>
> To: <aids-ina@yahoogroups.com>; <wartaaids@yahoogroups.com>;
> <zubairi@...>; <djokoshn@...>; <doc_suharto@...>;
> <ndiar@...>; <chrisg@...>;
> <trisnaw@...>; <remy_rohadian@...>;
> <adi_sasongko@...>; <panduriono@...>;
> <aruddick@...>; <tmackay@...>; <jwilson.unaids@...>;
> <swignall@...>; <Amaya@...>; <BingW@...>
> Sent: Thursday, March 06, 2003 7:08 AM
> Subject: [aids-ina] Bagaimana kira-kira mekanisme/strategi/sistem layanan
> medik bagi odha di Indonesia?
>
> > Teman-teman semua Yth:
> >
> > Nah, kita telah memperoleh dua pengalaman tentang layanan medik oleh
> > dokter bagi odha. Dari rekan Dony di Surabaya dan Ai di Yogya. Tampaknya
> > dari kota-kota lain juga demikian (selain di Jakarta karena disana ada
> > POKDISUS, dr. Samsu dan dr. Zubairi).
> >
> > Ini masalah urgent yang perlu kita pikirkan bersama secara serius.
> > Apakah teman-teman punya gagasan, sistem mana yang sebaiknya ditempuh
> > untuk menyediakan layanan medik murah dan berkualitas bagi odha?
> >
> > Apakah di rumah sakit?, yaitu ARV dari Indo Farma disalurkan oleh
> > POKDISUS ke pusat layanan odha disana? (saya baca di Kompas seperti
> > ini). Apakah rumah sakit beserta dokternya akan disiapkan? Apakah
> > POKDISUS akan menyiapkan sistem dan SDM-nya? Teman-teman lain mohon juga
> > memberi masukan apakah odha yang berobat jalan mau ke rumah sakit?
> > Apakah melalui LSM yang ada klinik atau dokternya?. Tetapi mungkin tidak
> > banyak LSM yang mempunyai tenaga dokter. Apakah melalui PKBI? karena
> > PKBI mungkin semuanya punya dokter. Tetapi apakah semua PKBI concern
> > pada masalah HIV/AIDS?
> >
> > Kalau melalui jalur dokter swasta, saya kira pengalamannya Dony dan Ai
> > akan bertambah banyak.
> >
> > Apakah dalam programnya ASA dan AusAID ada rencana untuk memfasilitasi
> > hal ini? Apakah WHO juga ada rencana untuk memfasilitasi?
> >
> > Apakah ada ide dari teman-teman penyusun STRANAS, teman-teman di ASA,
> > AusAID, atau ide/pengalaman dari teman lain?
> >
> > Saya kemukakan hal ini dari sekarang karena tahun-tahun mendatang akan
> > semakin banyak odha yang memerlukan layanan medik (karena cakupan VCT
> > akan semakin luas seiring dengan tersedianya ARV).
> >
> > Sekitar 6 tahun yang lalu pernah terbentuk Forum Dokter Peduli AIDS yang
> > digagas oleh dr. Nasser (kalau saya tidak salah). Mungkin sekarang lebih
> > relevan bila gagasan tersebut diangkat kembali.
> >
> > Salam,
> > dr. Wirawan
> > Yayasan Kerti Praja
> > Denpasar, Bali
>
>
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/