Teman-teman semua Yth:
Nah, kita telah memperoleh dua pengalaman tentang layanan medik oleh
dokter bagi odha. Dari rekan Dony di Surabaya dan Ai di Yogya. Tampaknya
dari kota-kota lain juga demikian (selain di Jakarta karena disana ada
POKDISUS, dr. Samsu dan dr. Zubairi).
Ini masalah urgent yang perlu kita pikirkan bersama secara serius.
Apakah teman-teman punya gagasan, sistem mana yang sebaiknya ditempuh
untuk menyediakan layanan medik murah dan berkualitas bagi odha?
Apakah di rumah sakit?, yaitu ARV dari Indo Farma disalurkan oleh
POKDISUS ke pusat layanan odha disana? (saya baca di Kompas seperti
ini). Apakah rumah sakit beserta dokternya akan disiapkan? Apakah
POKDISUS akan menyiapkan sistem dan SDM-nya? Teman-teman lain mohon juga
memberi masukan apakah odha yang berobat jalan mau ke rumah sakit?
Apakah melalui LSM yang ada klinik atau dokternya?. Tetapi mungkin tidak
banyak LSM yang mempunyai tenaga dokter. Apakah melalui PKBI? karena
PKBI mungkin semuanya punya dokter. Tetapi apakah semua PKBI concern
pada masalah HIV/AIDS?
Kalau melalui jalur dokter swasta, saya kira pengalamannya Dony dan Ai
akan bertambah banyak.
Apakah dalam programnya ASA dan AusAID ada rencana untuk memfasilitasi
hal ini? Apakah WHO juga ada rencana untuk memfasilitasi?
Apakah ada ide dari teman-teman penyusun STRANAS, teman-teman di ASA,
AusAID, atau ide/pengalaman dari teman lain?
Saya kemukakan hal ini dari sekarang karena tahun-tahun mendatang akan
semakin banyak odha yang memerlukan layanan medik (karena cakupan VCT
akan semakin luas seiring dengan tersedianya ARV).
Sekitar 6 tahun yang lalu pernah terbentuk Forum Dokter Peduli AIDS yang
digagas oleh dr. Nasser (kalau saya tidak salah). Mungkin sekarang lebih
relevan bila gagasan tersebut diangkat kembali.
Salam,
dr. Wirawan
Yayasan Kerti Praja
Denpasar, Bali
JOY wrote:
>
> dony,
>
> itulah repotnya mencari dokter yang tidak money oriented dan peduli
> dengan odha!
> di yogya sendiri dokter yang selama ini kita kenal concern dengan
> hiv/aids ternyta mematok harga jauh diatas harga yang dipatok
> pokdisus, padahal ngambil obatnya ya di pokdisus juga....
> pengennya sih beli langsung dari pokdisus, tapi ga mungkin karena
> tetep harus ke dokter untuk mendapatkan resep.
> kalo kita tetep bersikeras beli sendiri, kemungkinan dokter itu ga
> mau memantau perkembangan odha setelah meminum arv, padahal untuk
> mengatasi efek samping yang mungkin timbul, minum arv harus dibawah
> pengawasan dokter....
> selama ini odha di yogya ya ke jakarta untuk konsul dgn dr syamsu,
> tapi bagaimana kalo nanti ada yang tidak mampu secara ekonomi, tentu
> berat harus bolak balik yogya-jakarta
> Bagaimana ya mencari dokter tidak hanya yang sekedar mau merawat
> pasien aids tapi juga peduli dengan kondisi odha yang bersangkutan?
>
> salam,
>
> ai
>
> > Salam,
> > Nama saya Dony dari Surabaya.
> > Saya minta bantuan rekan-rekan sehubungan dengan permasalahan yang
> > sedang dihadapi teman saya, seorang odha, sebut saja si G. Sekitar
> > dua bulan yang lalu dia berobat ke dokter Nasronudin, seorang
> dokter
> > yang sangat dipercaya didalam menangani permasalahan hiv / aids di
> > surabaya - jawa timur.
> > Si dokter tanpa menjelaskan adanya pilihan test cd4 dan vl,
> menyuruh
> > A untuk test limfosit.
> > Setelah hasil test keluar dan dilakukan penghitungan, si dokter
> > menyatakan bahwa cd4 G berada pada kisaran 200. Si dokter menyuruh
> G
> > meminum obat videx, imunos dan zerit yang dibeli pada dokter
> > nasronudin seharga Rp. 650.000,-- per 10 hari. Tanpa dijelaskan
> > tentang perlunya kepatuhan dan resistensi, malah dikatakan oleh
> > dokter bahwa minum obatnya cuma untuk sementara, menunggu cd4
> berada
> > pada kisaran 1000, lalu dapat menghentikan pengobatan.
> > Setelah itu G sempat berjumpa saya dan saya jelaskan bahwa ada obat
> > generik yang harganya cukup terjangkau/ jauh lebih murah dari obat
> > yang dia minum sekarang.
> > Pada kunjungan berikutnya pada dokter nasronudin, karena dia harus
> > kembali setiap 10 hari untuk membeli obat, dia bertanya kepada
> > dokter dan dokter menjelaskan bahwa itu hanyalah ISU, tidak benar /
> > belum ada obat seperti itu, dia menjelaskan bahwa obatnya merupakan
> > yang paling murah karena sudah mendapatkan diskon sebesar 40% (
> > kalau saya tidak salah kutip).
> > Setelah dari dokter, G menemui saya dan saya katakan bahwa obat itu
> > benar" ada, lalu saya menghubungi pokdisus tentang kemungkinana si
> G
> > untuk mendapatkan obat, pokdisus menjelaskan bahwa harus melalui
> > resep dokter dan harus dokternya yg menghubungi pokdisus.
> > Lalu saya minta pihak pokdisus mengirimkan melalui e-mail tentang
> > harga obat yang ada.
> > Minggu lalu G kembali ke dokter dengan membawa daftar harga obat
> > dari pokdisus dan nomer telpon pokdisus, dengan harapan dokter
> > bersedia menghubungi pokdisus.
> > Tetapi jawaban yang didapatkan sangatlah mengecewakan; dokter
> > mengatakan bahwa obat itu palsu, beresiko, tidak baik dan hal"
> > lainya yg mungkin degnan harapan si G tetap menggunakan obat yg
> > diresepkannya. Walaupun G sudah menyatakan kepada dokter bahwa dia
> > tidak mampu untuk membayar obat seharga 650 ribu per 10 hari, kalu
> > hanya untuk jangka waktu sebentar dia dapat memaksakan diri untuk
> > membeli, tidak dalam hitungan bulan bahkan tahun.
> > Dan dia juga menyatakan dia sanggup bertanggung jawab sepenuhnya
> > jika ada resiko yang harus dia tanggung jika ada kerugian karena
> > menggunakan obat dari pokdisus, si dokter tetap bersikeras karena
> > nanti dokter yang disalahkan dan dia mengatakan bahwa dia adalah
> > orang yang paling mengerti/ bertanggung jawab tentang penanganan
> hiv
> > aids di indonesia.
> > Yang saya takutkan adalah sudah terjadi kepada berapa orangkah
> > kejadian ini, jika memang benar seperti yang pernah disampaikan
> > dokter nasronudin bahwa dia sudah menangani puluhan pasien hiv aids
> > di tempat prakteknya dan selalu ada pasien baru setiap minggunya?!
> > Cerita ini saya tuliskan berdasarkan dari cerita dari G yang baru
> > saja saya temui dan saya telah meminta persetujuannya untuk
> > menuliskan hal ini, tanpa menyebutkan identitas aslinya.
> > Mohon perhatian dan saran rekan"...
>