Pak Nadiar yang baik,
Saya sedikit bingung kalau disebut 'lost case'--hilang dari apa?
Diskriminasi? Stigma? 'Pengawasan' oleh Dinkes atau Dinsos? Pelanggaran
hak atas kerahasiaan? Pengobatan yang lebih bahaya daripada tidak dapat?
Dibunuh (ya, ini baru terjadi di Papua)? Sebagian besar orang pilih
dihilang jika begitu.
Kapan kita akan benar-benar mengupayakan agar orang yang dinyatakan HIV-
positif dapat layanan yang mereka patut menerima?
Belum ada yang menjawab pertanyaan Mas Dony: "Apakah ada ide dan saran
supaya G dapat segera mendapatkan akses arv generik?" Dia tidak minta
uang; dia tidak minta bantuan yang rumit; dia hanya perlu satu dokter di
kota terbesar dua di Indonesia yang dapat menatalaksanakan terapi
antiretroviral secara rasional, tetapi ini diperlu agak cepat. Maaf,
menawarkan VCT atau hubungi Wagub tidak begitu praktis...
Siapa bisa menanggapi masalah ini?
Chris
On 4 Mar 2003 at 0:33, nadiar wrote:
> Amat setuju bila VCT segera diperbanyak. Dalam pembehasan penyusunan
> Stranas, selalu diperdebatkan bahwa hasil surveilans hanya sekedar untuk
> memperoleh data, sedangkan yang HIV+ dibiarkan tidak ada yang memfollow up,
> jadi semacam lost case, demikian pula dengan screening darah donor, yang
> HIV + hanya dibuang darahnya, donornya tetap dibiarkan berinteraksi.
> Kalaulah hasil serosurvey dan hasil screening darah donor dapat dijadikan
> indikasi bahwa dikelommpok masyarakat telah terjangkit HIV, maka
> seharusnyalah di tempat itu didirikan VCT. Kalau kita sepaham, maka tugas
> kita sekarang adalah menyiapkan tenaga dan dan untuk itu. Silahkan KPA dan
> KPAD putar otak.
----------------------------------
Chris W. Green (chrisg@...)
Jakarta, Indonesia
Tel: +62-21 846-3029 Fax: +62-21 846-1247
PLEASE HELP FIGHT WORLD HUNGER. One click a day sends a day's FREE FOOD