Pak Bing,
Kenapa ya, e-mailnya Pak Bing bisa keluar dari milis AIDS-INA. Ini Pak
Pandu yang lebih tahu.
Betul sekali yang Pak Bing sampaikan dan karena itu saya kirim juga
e-mail Bapak kepada teman-teman pemerhati masalah HIV/AIDS.
Tadi pagi saya kirim e-mail kepada teman-teman tentang prasyarat2 ini.
Cuma, mungkin e-mail tsb. tidak nyampe ke Pak Bing.
VCT ini kadang kala memang seperti ayam dan telur. Bila infrastrukturnya
yang "lengkap" disiapkan terlebih dahulu, tahu-tahu nantinya orang yang
mau test tidak ada/sedikit (demand rendah). Sebaliknya kalau
infrastruktur tidak ada, tidak etis bila kita minta orang untuk test.
Pada e-mail saya tadi pagi saya kemukakan bahwa kita mulai saja dulu
pemasaran sosial VCT dan langsung pelayanan test, dan sambil jalan kita
penuhi infrastruktur tersebut. Misalnya soal ARV. Kan tidak masuk akal
kalau kita minta agar dibuat ARV generik di dalam negeri kalau orang
yang menjalani VCT atau diketahui HIV+ hanya puluhan orang. Demikian
pula pengembangan center lab (CD4, viral load, dll).
Teman-teman kita sering mengira bahwa laporan hasil surveilens atau
estimasi prevalensi bisa dipakai dasar pengadaan ARV atau infrastruktur
lainnya. Itu tidak bisa. Yang bisa dipakai adalah jumlah HIV+ yang
dijumpai melalui VCT. Kalau jumlah pasien AIDS di rumah sakit yang
dipakai dasar, ini termasuk terlambat sebab kalau pasien AIDS sudah
mulai banyak di rumah sakit berarti yang HIV+ di luar rumah sakit sudah
banyak sekali.
Dulu saya ngotot memulai VCT dengan alasan agar program menjadi lebih
lengkap (walaupun saat itu banyak teman termasuk donor tidak setuju).
Waktu itu saya bosan hanya ngomongin kondom melulu. Yang dengerin juga
bosan. Tetapi sampai sekarang program kami yang dominan tetap primary
prevention dan STI screening. Karena itu saya juga terus ngotot minta
kondom gratis. Saya menilai, dengan demand kaya begini, belum saatnya
jual kondom. Pendapat teman2 dalam hal ini memang banyak yang berbeda.
Nah, sekarang setelah semakin banyak kasus-kasus HIV+ dijumpai melalui
VCT, maka sekarang kita agak pas mempersiapkan hal-hal yang Dr. Bing
sampaikan mis. pengadaan ARV, cara delivery ARV kepada odha, pemantauan
resistensi obat, pengembangan lab, pusat-pusat pelayanan, dst. dst.
Dalam programnya AusAID Fase II dan mungkin juga ASA, saya lihat ada
juga komponen-komponen tersebut. Saya, dr. Zubairi dan dr. Tuti tahun
juga lalu menghadiri lokakarya untuk mengembangkan inisiatif TREAT ASIA
yang difasilitasi oleh AmFAR. Pak Dr. Samsu, Babe/Spritia dan Dr.
Zubairi juga sedang advokasi intensif untuk pengadaan ARV.
Singkat kata bila demand untuk VCT sudah lumayan dan banyak yang
dijumpai HIV+, maka kita lebih pede untuk membahas dan mempersiapkan
yang Pak Bing kemukakan, karena justifikasinya lebih kuat.
Bagus sekali kalau WHO-SEARO/Pak Bing juga ikut memprakarsai
pertemuan-pertemuan diantara teman-teman (termasuk Depkes) untuk
membahas langkah-langkah atau hal-hal yang Pak Bing kemukakan. Saya rasa
sekarang memang sudah saatnya untuk dimulai. Untuk itu sebaiknya
koordinasi juga dengan UNAIDS (Ibu Jane), AusAID (Pak Tim), dan ASA (Pak
Steve), agar agak jelas WHO doing WHAT, WHEN and HOW. Supaya tidak
seperti sindromic approach STI, buku panduannya ada lebih dari 10. Yang
pakai jadi bingung.
Selain itu ......, satu hal yang sama sekali tidak boleh diabaikan
adalah upaya-upaya perubahan perilaku pada mereka yang HIV+ (yang
dijumpai dari hasil VCT). Ini sudah terjadi di Amerika dan Eropa. Mereka
hanya fokus pada pengobatan, tahu-tahu perilaku odha di sana kembali
kambuh.
Saya harapkan teman-teman lain ikut share ide-ide dalam hal yang amat
penting ini.
Salam hangat,
Wirawan
Yayasan Kerti Praja/KPAD Bali
Wibisono, Dr. Bing wrote:
>
> TS Dr. Wirawan yth,
> Baru saja saya menerima imil terlampir setelah bertahun- tahun saya tidak
> menerima imil dari aids ina maupun dari anda dll, entah bagaimana imil ini
> bisa nyasar tempat saya? Saya masih terlibat langsung dengan masalah AIDS
> lho. Prof Wirawan, minggu lalu, kami dari WHO mendapat tamu dari WHO SEARO
> yang meneliti tentang kesiapan Indonesia menerapkan ART. Mungkin saya
> jelaskan sedikit latar belakangnya dan penjelasan tentang rencana
> selanjutnya agar komunikasi kita bisa nyambung. Di Asia Tenggara ada
> sekitar 6.1 juta orang yang menderita infeksi- HIV dan AIDS. Dari jumlah
> ini kira- kira 1 juta orang menderita AIDS dan seharusnya mendapatkan obat
> ARV. Pada saat ini baru 50.000 orang saja yang telah mendapatkannya! WHO
> secara global menyatakan bahwa kita di Asia Tenggara harus meningkatkan
> penggunaan ARV ini menjadi 500.000 dalam waktu 3 tahun. (10 kali lipat).
> Dari jumlah 50.000 ini 20.000 ada di India. Menurut penelitian tim World
> Bank di India yang bekerja selama 7 bulan di sana, ternyata hanya 2.000
> orang dari 20.000 orang ini yang menggunakan ARV secara terstruktur, artinya
> dipakai terus menerus berdasar regimen WHO. Sebagian besar (18.000 dari
> 20.000 orang ini menggunakan ARV tidak sesuai aturan yang dengan cepat akan
> menimbulkan resistensi dan menurut istilah mereka disebut sebagai WILD
> THERAPY). Masalah ART ini terutama dapat disimpulkan menjadi 3 masalah
> potensial, yaitu: 1)Harga obat; 2) mudahnya terjadi resistensi dan 3)harus
> dipakai seumur hidup. Konsep Prof Hira dkk adalah untuk; 1) Mendirikan
> center of excellence/ Pusat Rujukan; 2) Melatih tenaga pelaksana secara
> berjenjang mulai dari Pusat Rujukan ke bawah; 3) Mendirikan pusat pemantauan
> CD4; 4) Mendirikan laboratorium pemantau resistensi. Pada prinsipnya
> mengingat adanya 3 masalah potensial tersebut di atas akan diusahakan agar:
> 1) Harga obat USD 209/ tahun di India bisa juga dinikmati oleh Indonesia, 2
> minggu y.l. WHO telah memasukkan ARV ke dalam daftar obat branded dan
> generic di Daftar Obat Essential WHO Geneva. Dengan melakukan hal itu kita
> mungkin akan bisa menghindari ketentuan WTO dan DOHA yang membatasi lalu
> lintas obat generic antar negara. Saya akan mengikuti proses ini dengan
> bantuan orang WHO SEARO.; 2) Pelatihan tenaga dipusatkan pada beberapa
> tempat rujukan saja, karena obat ARV mudah menimbulkan resistensi. Kita
> harus belajar dari program TB yang ternyata menimbulkan banyak resistensi.
> Demikian juga mengingat harga obat yang murah sehingga nantinya kalau
> dilempar bebas ke pasaran, maka dengan musah orang akan menggunakan dengan
> terstruktur sama sekali. Dari 4 pola penggunaan ART ini, dari gaya Brazil,
> gaya Thailand, gaya India dan gaya Uganda, menurut pendapat kita yang lebih
> cocok adalah modifikasi gaya Thai yang saya sebutkan di atas. Dengan harga
> obat murah ini akan diusahakan dengan cara modal bergulir di bawah
> koordinasi satu BUMN, obat ARV diusahakan semurah mungkin, dan kalau Pemda
> mampu, maka akan diberikan secara gratis bila memenuhi criteria Pemda,
> apakah pemegang kartu JPS atau?? USD 209/ tahun itu rasanya masih jauh di
> bawah UMR sehingga secara teoritis pasti bisa terbeli. Kemudian setelah
> tenaga yang terlatih ini diperoleh, maka kita perlu membina mereka, yaitu
> dengan menghubungkan mereka dengan pusat rujukan regional di New Delhi.
> Misalnya dalam menggunakan pedoman WHO (sedang di sesuaikan ke dalam bahasa
> Indonesia) seorang dokter anak dari Pusat Rujukan di Bali mengalami suatu
> efek samping tertentu pada waktu merawat pasiennya, maka si dokter itu bisa
> langsung bertanya lewat imil kepada panel dokter yang ada di seluruh dunia
> di bawah koordinasi WHO- SEARO. Dengan demikian pembinaan secara regional
> akan bersifat baku, karena panel dokter tersebut sudah ditentukan jumlahnya
> (terbatas), dan email yang penting akan diteruskan kepada lain negara secara
> regional. Dengan cara ini Pusat rujukan di Bali misalnya akan bisa membina
> unit kabupatennya yang dianggap perlu, karena tidak semua kabupaten akan
> memberikan ART.; 3) Pemanatauan CD4 akan dilakukan dengan teknologi yang
> tepat guna, yaitu dengan cara ELISA yang peralatannya sudah tersedia di
> mana- mana.; 4) Pemantauan resistensi, akan diusahakan 1 pusat secara
> nasional, dan bila belum memungkinkan, akan dibuat secara regional dulu.
> Demikianlah informasi dari saya semoga bisa bermanfaat bagi anda, terima
> kasih atas perhatiannya, bila anda meras informasi ini cukup penting, maka
> dapat di forward ke teman- teman lain. Salam sejawat,
> Dr. Bing Wibisono- WHO Jakarta
>