Pak Nadiar, teman-teman lain di KPA, dan teman-teman pemerhati masalah
HIV/AIDS:
Bila VCT digalakkan, salah satu lanjutannya maka dokter yang kompeten
(apalagi ditambah ... dokter yang peduli) harus pula disiapkan. Kalau
tidak, maka cerita dari rekan Dony di Surabaya akan terjadi di
mana-mana. Memang masih ada waktu antara memulai program VCT dan
menyiapkan dokter yang kompeten karena melalui jalur VCT biasanya CD4
odha masih cukup.
Dulu, ketika saya memulai VCT di Bali (Januari 2000) dan ketika saya
baca prasyarat-prasyaratnya, saya hampir-hampir mundur. Lalu saya
putuskan, mulai saja dulu dan nantinya infrastruktur untuk follow-up nya
disiapkan sambil jalan. Kalau prasyarat2 itu harus ada dulu semuanya,
bisa tidak akan ada VCT.
Awalnya, kami tidak punya konselor terlatih. Kami hanya baca-baca di
buku saja. Test HIV saya talangi sendiri terlebih dahulu. Ketika sudah
mulai ada orang yang mau test dan ada beberapa ketemu HIV+, lalu saya
(sebagai LSM) kirim surat ke Gubernur. Untungnya, di jaman reformasi
ini, bila LSM kirim surat, biasanya ada respons dari pemerintah.
Terlebih lagi kalau suratnya kita tembuskan ke koran, DPRD, dll. Kalau
di jaman ORBA, mungkin suratnya dibuang begitu saja.
Setelah saya tulis surat, Wagub memanggil Balai Lab. Kesehatan dan Dinas
Kesehatan. Kita rapat (tahun 2000). Lalu Wagub minta agar BLK memberi
test HIV cuma-cuma bila ada rujukan dari kami. Biaya reagen akan
diberikan dari APBD. Setelah dua tahun, mulai ada donor yang tertarik
untuk membantu pelatihan konselor, membuat buku pegangan, pengembangan
Lab. untuk CD4 dan viral load. Selanjutnya pihak swasta banyak pula yang
mulai mau menjadi "bapak angkat" untuk menanggung ARV bagi beberapa odha
yang tidak mampu. Tahun 2003 ini, KPAD mengalokasikan dananya sebanyak
50 juta untuk membeli ARV.
Pak Nadiar, bila VCT akan digalakkan di daerah-daerah, saran saya
kongkritnya adalah sbb:
1. KPA agar kirim surat ke propinsi (Gubernur atau Wagub) dan minta agar
disediakan test HIV jalur VCT di Balai Lab. Kesehatan. Kalau bisa,
cuma-cuma dulu. Nanti bisa ditarik biaya secara perlahan-lahan. Propinsi
masih "tunduk" pada pemerintah pusat. Beda dengan kabupaten/kota.
2. LSM-LSM yang sudah punya kelompok dampingan mulai menawarkan VCT.
Kendala teman-teman LSM dalam langkah ini biasanya mereka tidak punya
tenaga perawat untuk ambil darah. Salah satu cara, bisa rekrut perawat
secara part-time. Cara lain, kerja sama dengan PKBI sebab PKBI pasti
punya perawat dan Klinik PKBI hampir ada di setiap kota. Saya rasa PKBI
pasti peduli dalam hal ini.
3. Untuk konseling, sebagai langkah awal teman-teman LSM bisa baca-baca
buku konseling atau komunikasi melalui e-mail dengan Perkumpulan
Konselor Bali (PKB) yang juga "bermarkas" di alamat e-mail kami ini,
atau Yayasan Mitra, Pokdisus, Pelita Ilmu, YKB, Warta AIDS, Spritia, dan
lain sebagainya.
Hal yang paling sulit dalam konseling adalah bila hasil test-nya positip
(konseling pasca test dengan hasil positip). Untuk itu kita bisa
berbagi pengalaman melalui e-mail. Nanti bisa dibentuk milis bagi para
konselor.
Pada Fase-2 "renstra" nya AusAID atau mungkin juga ASA, saya lihat ada
dukungan untuk pelatihan konselor dan komponen VCT lainnya. Tentu AusAID
dan ASA akan lebih tertarik bila sudah ada "benih-benih VCT" di daerah
tersebut.
4. Selanjutnya, secara perlahan-lahan dikembangkan infra struktur
lainnya (dukungan sosial, ekonomis, medis termasuk dokter, lab. obat,
dll). Beberapa sarana sudah ada saat ini, misalnya profilaksis dengan
kotrimoksazole. Obatnya amat murah dan bila advokasinya efektif, di
puskesmas obat ini melimpah.
Wah, celotehan saya sudah terlalu panjang. Saya harapkan tambahan
ide-ide dari Pak Nadiar, serta teman-teman pemerhati AIDS lainnya.
Salam,
Wirawan
nadiar wrote:
>
> Pak Wirawan,
> Amat setuju bila VCT segera diperbanyak. Dalam pembehasan penyusunan
> Stranas, selalu diperdebatkan bahwa hasil surveilans hanya sekedar untuk
> memperoleh data, sedangkan yang HIV+ dibiarkan tidak ada yang memfollow up,
> jadi semacam lost case, demikian pula dengan screening darah donor, yang HIV
> + hanya dibuang darahnya, donornya tetap dibiarkan berinteraksi. Kalaulah
> hasil serosurvey dan hasil screening darah donor dapat dijadikan indikasi
> bahwa dikelommpok masyarakat telah terjangkit HIV, maka seharusnyalah di
> tempat itu didirikan VCT. Kalau kita sepaham, maka tugas kita sekarang
> adalah menyiapkan tenaga dan dan untuk itu. Silahkan KPA dan KPAD putar
> otak.
> Terima kasih
>