Search the web
Sign In
New User? Sign Up
wartaaids
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Real people. Real stories. See how Yahoo! Groups impacts members worldwide.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Berapa ada dokter yang kompeten mengobati odha   Message List  
Reply | Forward Message #267 of 3230 |
Pak Zubairi, Rekan Dony, Babe, dan teman-teman pemerhati masalah
HIV/AIDS Yth:


Kemarin saya kirim e-mail, dan tampaknya terkirim berulang-ulang. Saya
tidak tahu apa masalahnya. Apakah di komputer saya atau di server. Untuk
itu saya mohon maaf.

Nah, cerita dari Rekan Dony (Surabaya) di bawah ini merupakan tantangan
nyata di depan mata kita. Di STRANAS dan di RENSTRA-nya Depkes memang
sudah tersurat. Baru tersurat.

Untuk Rekan Dony, kalau di Bali, setiap ada permasalahan seperti ini
(bulan lalu masalah odha nara pidana yang terlantar), kami rapatkan di
KPAD. Ya, kebetulan saya dan dr. Tuti di KPAD. Dalam rapat, semua pihak
terkait diajak berdiskusi. Yang mengundang rapat selalu Wagub (Ketua
KPAD). Karena itu, biasanya yang diundang selalu mau hadir. Ini antara
lain salah satu peran KPAD dengan syarat didalam strukturnya ada orang
yang paham AIDS dan mampu memfasilitasi KPAD-nya.

Saya dengar di Surabaya forum pedulis AIDS-nya cukup kuat. Forum ini
barangkali kontak ke Ketua KPAD agar dibahas bersama-sama dengan Dr.N.
Tujuannya bukan memojokkan Dr. N, tetapi untuk diajak berdiskusi. Kalau
saat berdiskusi diundang juga Dr. Samsu atau dr. Zubairi (sebagai nara
sumber) mungkin akan lebih baik. Dr. Tuti Parwati (dari Bali) juga bisa
diundang dalam rapat tersebut. Biaya untuk dr. Tuti bisa dari kami (KPAD
Bali).

Untuk dr. Zubairi, dkk. saya kira sudah saatnya Bapak menyediakan dana
(entah dari mana sumbernya) untuk hal-hal seperti di atas, dan termasuk
pula untuk membuat jaringan dokternya. Cukup satu orang di kota besar.
Seperti di Bali cukup dr. Tuti, dan dr. Tuti yang kemudian memperkuat
Bali dalam hal CARE ini.

Untuk teman-teman peduli AIDS dimanapun berada, mungkin baik sekali bila
rekan-rekan bersedia menyampaikan di milis ini, berapa orang dokter yang
ada di kota Anda masing-masing yang saat ini kompeten (mempunyai
komptensi) dalam hal CARE odha (pengobatan saja, tanpa support)?

Ini penting agar policy makers mengetahuinya.

Belakangan ini sudah semakin banyak yang bersedia test HIV melalui jalur
VCT. Di Bali sampai minggu lalu (sejak Januari 2000) sudah 400 orang
yang test HIV sukarela dan 55 HIV+. Belum lagi di Papua, Jakarta,
Bandung, Medan, dll.

Lagi 1-2 tahun saja akan diperlukan banyak dokter yang kompeten (apalagi
kalau ditambah mau peduli dan memahami) untuk CARE para odha di
Indonesia?

Apakah teman-teman ada ide agar komponen CARE and SUPPORT yang tersurat
di STRANAS atau RENSTRA segera bisa terwujud?

Salam,
dr. Wirawan
Denpasar, Bali







Dony Agustinus wrote:
>
> Salam,

> Nama saya Dony dari Surabaya.
> Saya minta bantuan rekan-rekan sehubungan dengan permasalahan yang
> sedang dihadapi teman saya, seorang odha, sebut saja si G. Sekitar
> dua bulan yang lalu dia berobat ke dokter N., seorang dokter
> yang sangat dipercaya didalam menangani permasalahan hiv / aids di
> surabaya - jawa timur.

> Si dokter tanpa menjelaskan adanya pilihan test cd4 dan vl, menyuruh
> A untuk test limfosit.
> Setelah hasil test keluar dan dilakukan penghitungan, si dokter
> menyatakan bahwa cd4 G berada pada kisaran 200. Si dokter menyuruh G
> meminum obat videx, imunos dan zerit yang dibeli pada dokter
> nasronudin seharga Rp. 650.000,-- per 10 hari.

Tanpa dijelaskan tentang perlunya kepatuhan dan resistensi,
malah dikatakan oleh dokter bahwa minum obatnya cuma untuk sementara,
menunggu cd4 berada pada kisaran 1000, lalu dapat menghentikan
pengobatan.

> Setelah itu G sempat berjumpa saya dan saya jelaskan bahwa ada obat
> generik yang harganya cukup terjangkau/ jauh lebih murah dari obat
> yang dia minum sekarang.

> Pada kunjungan berikutnya pada dokter N., karena dia harus
> kembali setiap 10 hari untuk membeli obat, dia bertanya kepada
> dokter dan dokter menjelaskan bahwa itu hanyalah ISU, tidak benar /
> belum ada obat seperti itu, dia menjelaskan bahwa obatnya merupakan
> yang paling murah karena sudah mendapatkan diskon sebesar 40% (
> kalau saya tidak salah kutip).

> Setelah dari dokter, G menemui saya dan saya katakan bahwa obat itu
> benar" ada, lalu saya menghubungi pokdisus tentang kemungkinana si G
> untuk mendapatkan obat, pokdisus menjelaskan bahwa harus melalui
> resep dokter dan harus dokternya yg menghubungi pokdisus.
> Lalu saya minta pihak pokdisus mengirimkan melalui e-mail tentang
> harga obat yang ada.

> Minggu lalu G kembali ke dokter dengan membawa daftar harga obat
> dari pokdisus dan nomer telpon pokdisus, dengan harapan dokter
> bersedia menghubungi pokdisus.

> Tetapi jawaban yang didapatkan sangatlah mengecewakan; dokter
> mengatakan bahwa obat itu palsu, beresiko, tidak baik dan hal"
> lainya yg mungkin degnan harapan si G tetap menggunakan obat yg
> diresepkannya. Walaupun G sudah menyatakan kepada dokter bahwa dia
> tidak mampu untuk membayar obat seharga 650 ribu per 10 hari, kalu
> hanya untuk jangka waktu sebentar dia dapat memaksakan diri untuk
> membeli, tidak dalam hitungan bulan bahkan tahun.

> Dan dia juga menyatakan dia sanggup bertanggung jawab sepenuhnya
> jika ada resiko yang harus dia tanggung jika ada kerugian karena
> menggunakan obat dari pokdisus, si dokter tetap bersikeras karena
> nanti dokter yang disalahkan dan dia mengatakan bahwa dia adalah
> orang yang paling mengerti/ bertanggung jawab tentang penanganan hiv
> aids di indonesia.

> Yang saya takutkan adalah sudah terjadi kepada berapa orangkah
> kejadian ini, jika memang benar seperti yang pernah disampaikan
> dokter N. bahwa dia sudah menangani puluhan pasien hiv aids
> di tempat prakteknya dan selalu ada pasien baru setiap minggunya?!

Cerita ini saya tuliskan berdasarkan dari cerita dari G yang baru
> saja saya temui dan saya telah meminta persetujuannya untuk
> menuliskan hal ini, tanpa menyebutkan identitas aslinya.
> Mohon perhatian dan saran rekan"...



Sat Mar 1, 2003 11:44 pm

ykpdps@...
Send Email Send Email

Forward
Message #267 of 3230 |
Expand Messages Author Sort by Date

Pak Zubairi, Rekan Dony, Babe, dan teman-teman pemerhati masalah HIV/AIDS Yth: Kemarin saya kirim e-mail, dan tampaknya terkirim berulang-ulang. Saya tidak...
Dr. D.N. Wirawan
ykpdps@...
Send Email
Mar 1, 2003
11:44 pm

Pak Nadiar, teman-teman lain di KPA, dan teman-teman pemerhati masalah HIV/AIDS: Bila VCT digalakkan, salah satu lanjutannya maka dokter yang kompeten (apalagi...
Dr. D.N. Wirawan
ykpdps@...
Send Email
Mar 3, 2003
1:27 am

Pak Nadiar yang baik, Saya sedikit bingung kalau disebut 'lost case'--hilang dari apa? Diskriminasi? Stigma? 'Pengawasan' oleh Dinkes atau Dinsos? Pelanggaran ...
Chris W. Green
wartaaids
Offline Send Email
Mar 3, 2003
7:54 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help