Berdasarkan pengalaman yang sedikit,
1. pemeriksaan dasar yang diperlukan bila seseorang
telah terbukti HIV positif terutama bila bukan stadium
3 dan 4 antara lain :
Pemeriksaan darah rutin (HB, leko, Ht, Trombo, Diff,
LED), SGOT/SGPT, (HBsAg, HBC, kalo memungkinkan dan
dianggap perlu) dan Rontgent thorax (dada).
Pemeriksaan tersebut dapat memprediksi kemungkinan
kondisi orang tersebut. Pemberian profilaksis dapat
dipertimbangkan
>>>>Beruntung bila KDS didukung oleh seorang dokter
yang telah dilatih CST.
2. Pemeriksaan TLC (total limfosit count: dihitung
dengan mengalikan prosentase limfosit dengan jumlah
lekosit total, patokan standarnya 1200) ternyata
bermanfaat dan efektif untuk memonitor kekebalan hanya
jika dilakukan sejak stadium 1 atau 2 secara rutin
tiap 3 bulan, bukan stadium 3 atau 4.
>>>>> Anomali akan makin nyata dengan profilaksis.
3. Sesak nafas pada penderita HIV di Indonesia
ternyata sebagian disebabkan oleh pembesaran kelenjar
getah bening di hilus akibat TB BTA-negatif pada
penerima profilaksis cotrimoksasole.
Semoga bermanfaat
3JK
--- CARMELIA BASRI <wartaaids@...> wrote:
> Saya akan dukung upaya untuk pemeriksaan TB pada
> ODHA
> karena kita semua tahu risiko untuk menderita TB
> pada
> ODHA jauh lebih besar dibanding dgn general
> population. (Babe et all, tolong selalu ingatkan
> pada
> teman2 ODHA ya..)
>
> On the other site, semua petugas yang menangani TB
> dibekali kemampuan dan informasi ttg dual
> disease/infeksi ini.
>
> salam
> carmelia
>
>
> --- "Chris W. Green" <chrisg@...> wrote:
>
> > WHO keluarkan pedoman baru untuk diagnosis TB BTA-
> > dan luar paru untuk
> > rangkaian tersebar-luas HIV
> >
> > Oleh Theo Smart, 30 November 2006
> >
> > Bila seseorang yang dicurigai kasus TB adalah
> sakit
> > gawat, terutama
> > bila dia Odha, mungkin dibutuhkan 'fleksibilitas'
> > saat membuat
> > diagnosis. Hal ini menurut usulan baru dikeluarkan
> > oleh WHO. Pedoman
> > baru memperbarui algoritme yang dipakai sebelumnya
> > dengan tujuan untuk
> > mempercepat diagnosis TB paru BTA-negatif dan luar
> > paru dalam rangkaian
> > terbatas sumber daya di tempat dengan prevalensi
> HIV
> > yang tinggi.
> >
> > Masalah mendiagnosis TB pada orang dengan HIV
> >
> > Pada orang dengan HIV, TB dapat sangat sulit
> > dideteksi dengan metode
> > yang biasa dipakai, misalnya pemeriksaan dahak
> > dengan mikroskop (smear
> > microscopy) dan rontgen dada. Smear micropscopy
> > mencakup penggunaan
> > mikroskop untuk mencari organisme Mycobacterium
> > tuberculosis (M.tb)
> > sendiri dalam contoh dahak (atau contoh cairan
> tubuh
> > lain) yang
> > diwarnai dengan zat pewarna khusus - tetapi contoh
> > dengan orang dengan
> > HIV dan TB sering kali 'BTA-negatif' (BTA = Batang
> > Tahan Asam, yang
> > menunjukkan bentuk organisme dan cara diwarnai).
> >
> > Demikian juga, rontgen dada, bila tersedia, dapat
> > kelihatan normal atau
> > tidak seperti TB pada orang dengan HIV dan TB,
> > sementara banyak orang
> > dengan HIV mengembangkan bentuk penyakit di luar
> > paru. Pembiakan
> > organisme biasanya dapat memberikan diagnosis
> > mutlak, tetapi proses
> > pembiakan membutuhkan beberapa minggu, dan tidak
> > tersedia secara umum
> > untuk banyak orang di rangkaian terbatas sumber
> > daya.
> >
> > "Angka TB paru BTA-negatif dan luar paru sudah
> > meningkat di negara
> > dengan epidemi HIV," kata dokumen WHO. "Angka
> > kematian di antara pasien
> > TB terinfeksi HIV adalah lebih tinggi dibandingkan
> > pasien TB tidak
> > terinfeksi HIV, terutama untuk mereka dengan TB
> > BTA-negatif dan luar
> > paru."
> >
> > Kelambatan diagnosis, dan kelambatan pengobatan
> yang
> > diakibatkannya,
> > menyumbang pada peningkatan dalam angka kematian
> > ini.
> >
> > Definisi klinis TB yang diperbarui
> >
> > Tetapi dengan adanya kaitan yang sangat erat
> antara
> > HIV dan TB, usulan
> > baru WHO agak menurunkan ambang untuk bukti yang
> > dibutuhkan untuk
> > diagnosis TB pada orang dengan HIV yang mempunyai
> > gejala TB. Contohnya,
> > WHO biasanya mengusulkan pemeriksaan tiga contoh
> > dahak dengan mikroskop
> > untuk siapa pun dengan batuk selama dua atau tiga
> > minggu, dan bila dua
> > contoh adalah positif, diagnosis TB paru dapat
> > diambil.
> >
> > Namun, sekarang WHO mengusulkan diambil hanya dua
> > contoh dahak untuk
> > diperiksa dengan mikroskop bila pasien terinfeksi
> > HIV (atau bila ada
> > bukti klinis yang kuat bahwa dia terinfeksi HIV).
> > Hal ini seharusnya
> > mengurangi waktu (dan kunjungan berulang-ulang
> oleh
> > pasien ke klinik)
> > yang dibutuhkan untuk membuat diagnosis. Bila
> salah
> > satu contoh
> > positif, diagnosis TB paru dapat diambil.
> >
> > TB paru BTA-negatif
> >
> > Bila kedua contoh ternyata BTA-negatif, tetapi
> > rontgen dada (bila
> > tersedia) memberi kesan TB, diagnosis TB
> BTA-negatif
> > dapat diambil bila
> > dokter memutuskan untuk mengobati dengan terapi TB
> > penuh dan memantau
> > secara ketat untuk tanggapan (yang akan menandai
> > bahwa diagnosis adalah
> > benar). Tambahan, diagnosis TB BTA-negatif dapat
> > diambil setelah sebuah
> > contoh yang dikirim untuk dibiakkan kembali
> > M.tb-positif.
> >
> > Percobaan antibiotik pada pasien sakit gawat
> >
> > Namun, pemeriksaan dahak dan rontgen dada mungkin
> > tidak akan
> > menunjukkan TB pada beberapa pasien yang terlalu
> > sakit untuk menunggu
> > waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk
> > mendapatkan hasil
> > biakan dari laboratorium referensi. Ada beberapa
> > 'tanda gawat' yang
> > menunjukkan kebutuhan untuk tindakan darurat,
> > termasuk bila pasien
> > tidak dapat jalan kaki tanpa bantuan, mempunyai
> > denyut napas di atas 30
> > per menit, deman di atas 39°C atau denyut nadi di
> > atas 120 per menit.
> >
> > Pada kasus dengan seseorang yang sakit begitu
> gawat
> > tetapi diagnosis
> > belum jelas atau tidak dapat dibuat cukup cepat,
> > usulan WHO baru
> > mengusulkan pasien tersebut dirujuk secepat
> mungkin
> > pada rumah sakit
> > tingkat lebih tinggi. Bila hal itu tidak mungkin,
> > orang tersebut harus
> > langsung diberikan antibiotik spektrum luas secara
> > infus, dan,
> > tergantung pada jumlah CD4 atau keadaan klinis,
> > pengobatan untuk PCP
> > (pneumonia Pneumocystis jiroveci) sebaiknya juga
> > dipertimbangkan.
> >
> > Pada saat ini, WHO mengatakan belum ada bukti
> klinis
> > yang cukup untuk
> > memberi usulan luas mengenai antibiotik mana yang
> > terbaik digunakan
> > (hal ini mengkin dituntun oleh apa yang bekerja
> > terbaik di daerah untuk
> > mengobati infeksi bakteri yang didapat dalam
> > komunitas), namun
> > fluorokuinolon TIDAK boleh diberikan karena
> golongan
> > obat ini giat
> > terhadap M.tb, dan oleh karena itu dapat
> > memeprlambat diagnosis TB.
> >
> > Kemudian untuk beberapa hari berikut selama pasien
> > diberikan terapi
> > antibiotik, semua tes laboratorium yang tersedia
> > (termasuk tes HIV)
> > harus dilakukan. Bila pasien ternyata HIV-positif
> > dan tidak ada
> > kebaikan klinis setelah tiga sampai lima hari
> > memakai antibiotik,
> > kemungkinan pasien mempunyai TB BTA-negatif, dan
> dia
> > sebaikya diberikan
> > terapi TB. Namun, pedoman baru menunjukkan bahwa
> > orang harus dinilai
> > untuk TB secara terus-menerus, walau ada tanggapan
> > pada antibiotik
> > (karena mungkin ada koinfeksi, atau karena
> beberapa
> > antibiotik dapat
>
=== message truncated ===
________________________________________________________________________________\
____
Cheap talk?
Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
http://voice.yahoo.com