Halo Pak Wirawan,
Masalah resistensi seperti ini memang mengkhawatirkan sekali. Dari
pengalaman kami di Kramat Tunggak (1993-2000) dan Mangga Besar/Hayam Wuruk
(2000-sekarang), maka salah satu penyebab utamanya adalah pemakaian
antibiotika secara sembarangan oleh para pelanggan PSK dan para PSK (di
sekitar lokalisasi banyak pedagang yang menjual antibiotika).
Ini diperburuk lagi dengan adanya kebiasaan melakukan penyuntikan
antibiotika secara berkala, yang ironisnya bahkan dilakukan secara "resmi"
meskipun kebijakan penyuntikan massal seperti ini sudah resmi dihentikan
oleh Depkes. Di Kramat Tunggak dulu ini dilakukan oleh tim kesehatan dari
Panti Sosial setempat dan juru suntik tidak resmi yang berpraktek di dalam
lokasi. Di Mangga Besar/Hayam Wuruk ini juga dilakukan oleh para dokter yang
praktek sebagai dokter panti pijat, dan juga oknum petugas yang bekerjasama
dengan pengelola panti pijat. Kita semua tahu bahwa suntikan berkala ini
bahkan dijadikan bahan promosi bahwa anak asuhnya sehat dan bebas penyakit
karena disuntik berkala.
Dengan pihak Sudin Yankes setempat kami pernah membicarakan hal ini dengan
mengundang para dokter tersebut tetapi yang hadir hanya segelintir kecil
saja.
Kelihatannya perlu upaya yang lebih serius untuk mencegah meluasnya masalah
ini dengan 2 pendekatan. Pertama memberikan penyegaran akademis terhadap
para dokter yang bekerja di industri hiburan dan yang menjadi langganan para
PSK tentang masalah ini. Kedua, perlu dilakuan pemberian sanksi atas
praktek2 seperti ini.
Ada usul2 lain?
Salam,
AS
On 2/9/06, Dr. D.N. Wirawan <ykpdps@...> wrote:
>
> Teman-teman pemerhati masalah IMS dan HIV/AIDS Yth:
>
>
> Tahun lalu (bekerja sama dengan Univ. of California di SF), kami
> melakukan penelitian untuk mengetahui tingkat resistensi kuman Neisseria
> Gonorrhoeae (penyebab gonore/salah satu IMS).
>
> Sebanyak 147 kultur endoserviks diambil dari PSK di Denpasar. Kultur
> dikirim ke University of California di San Francisco, dan selanjutnya
> diperiksa di CDC Atlanta.
>
> Yayasan Kerti Praja Denpasar melakukan pemeriksaan berkala dan
> pengobatan IMS pada PSK di Denpasar sejak tahun 1996.
>
> Hasil penelitian dipublikasikan di Jurnal Sexually Transmitted Diseases.
>
> Hasilnya cukup mengejutkan. Sebanyak 40% resisten terhadap Cyprofloxacin
> yaitu obat Gonore yang selama ini menjadi pilihan pertama bila kita
> melakukan penanggulangan gonore/IMS pada PSK.
>
> Informasi ini mungkin ada gunanya bagi teman-teman yang bergerak dalam
> penanggulangan IMS dan juga bagi teman-teman yang memberi layanan IMS
> pada odha.
>
> Obat-obat lain yang ditest dalam penelitian ini dan tingkat
> resistensinya masih nol adalah Cefriaxone (ini obat suntik), Cefixime
> (obat minum), dan Cefpodoxime (obat minum).
>
> Kami sedang bingung mencari penggantinya. Bila dipakai tiamfenikol 3,5
> gram (seperti diajurkan oleh Depkes dalam Buku Panduannya), harganya
> bisa terjangkau tetapi klien jarang yang mau karena 7 kapsul harus
> diminum sekali gus. Kalau dipakai obat-obat pilihan lain harganya
> terlalu mahal, dan ada juga yang harus diberikan dengan cara suntik
> (tidak cocok untuk program public health).
>
> Ada ide lain?
>
> Bagi teman-teman yang ingin mendapatkan laporan hasil penelitian
> tersebut (20 halaman), silahkan hubungi kami.
>
> Salam,
> Wirawan
> Klinik Amertha, Yayasan Kerti Praja
> Denpasar
>
>
--
Adi Sasongko
Yayasan Kusuma Buana
Jakarta, Indonesia
Tel. (62-21) 829 6337
Fx. (62-21) 831 4764
Website: www.kusumabuana.or.id
[Non-text portions of this message have been removed]