“Stress into Power” - Mengubah Stress
menjadi Kekuatan
Dalam hidup
kita sehari hari, selalu saja ada hal hal yang membuat kita stress, krisis
ekonomi, masalah keuangan, masalah anak di sekolah, sakit, kondisi di jalan
yang serba macet, tenggat waktu untuk pekerjaan kantor atau proyek, bahkan
melakukan dalam persiapan pesta seperti ulang tahun dan pernikahan, kita juga
tidak luput dari stress.
Dan biasanya
stress itu disikapi dengan respons yang berbeda oleh setiap orang, ada yang
karena stress menjadi depresi sehingga motivasi kerja menurun, ada yang justru
harus dibawah tekanan stress baru bisa berprestasi. Lalu bagaimana respons anda
di bawah stress? Apakah selama ini anda bisa menyikapi kondisi stress dengan efektif
dan produktif?
Untuk
menyikapi stress dengan efektif dan produktif, kita perlu tahu dulu mekanisme
apa yang terjadi ketika seseorang berada di bawah pengaruh stress.
Fight or
Flight Response
Pada dasarnya,
stress merupakan salah satu instink dasar dari semua makhluk hidup atau respons
alamiah dari tubuh kita yang tujuan utamanya adalah untuk menjamin keselamatan
dan kelangsungan hidup kita yang biasa juga disebut dengan “Fight or
Flight Response”. Yaitu reaksi “Melawan dan Mempertahankan
Diri” atau “Melarikan Diri” ketika kita menghadapi bahaya
yang mengancam.
Jika ada
bahaya yang mengancam, tubuh kita akan mengeluarkan hormon stress yang akan
memunculkan perubahan pada sistim tubuh kita, muka akan menjadi pucat,
pencernaan menjadi lambat karena secara otomatis sebagian besar darah
dialokasikan ke tangan dan kaki untuk memberi kekuatan ekstra jika kita harus
melawan atau melarikan diri, kemudian untuk mendapat tambahan energi lagi,
tubuh kita akan meningkatkan detak jantung, pernafasan, tekanan darah dan kadar
gula dalam darah, sehingga secara otomatis metabolisma tubuh meningkat dan
hasilnya berupa energi yang lebih banyak lagi bagi tubuh untuk mengatasi bahaya
tersebut. Kemudain darah juga menjadi lebih kental untuk mengantisipasi
kehilangan darah yang banyak seandainya dalam ancaman bahaya tersebut kita
terluka.
Biasanya,
sesudah ancaman bahaya tersebut berlalu, tubuh akan mengeluarkan hormon anti
stress yang akan membuat seluruh fungsi tubuh kembali ke kondisi normal, detak
jantung, pernafasan, tekanan darah, kadar gula, kekentalan darah dan
metabolisma akan kembali ke kondisi semula, fase ini disebut dengan fase
“relaksasi”.
Jadi secara
alamiah, setiap fight or flight response selalu diikuti oleh fase relaksasi,
masalahnya, terutama bagi orang orang yang tinggal di kota besar, terutama
penduduk Jakarta yang setiap hari dihujani secara bertubi tubi oleh banyak
stressor (faktor pemicu stress), belum sempat sebuah reaksi stress diakhiri
oleh proses relaksasi yang alamiah, dimana semua fungsi tubuh dikembalikan ke
kondisi normal, sudah muncul lagi stress yang berikutnya, dan kondisi tersebut
berulang terus sehingga tubuh kita berada dalam kondisi siaga dalam jangka
waktu yang panjang. Akibatnya mekanisme yang bisa mengembalikan tubuh kita ke
kondisi normal tidak bisa lagi bekerja dengan efektif sehingga mulai muncul
keluhan dan bahkan penyakit seperti sakit maag, sesak nafas, tekanan
darah tinggi, diabetes, penyumbatan pembuluh darah dan stroke karena
darah terlalu kental, dan lain lain.
Dari hasil penelitian,
lebih dari 70% dari kunjungan ke dokter merupakan dampak dari stress, bahkan
ada indikasi bahwa stress dalam jangka waktu yang panjang juga merupakan salah
satu faktor penyebab penyakit kanker.
Apakah
Stress harus dihindari?
Pada dasarnya
stress itu adalah sesuatu yang bermanfaat, asalkan kita bisa mempertahankannya
pada level yang normal dan produktif, karena tanpa stress, seseorang malah akan
menjadi malas dan tidak termotivasi sehingga prestasi kerja juga akan menurun,
terkadang sebuah stress yang besar dan intensif bisa juga digunakan untuk
memunculkan fase relaksasi pada tubuh dan mengembalikan kondisi tubuh yang
sudah lama berada dalam kondisi siaga ke kondisi yang normal dan sehat.
Misalnya memunculkan stress dengan intensitas tinggi dengan kegiatan seperti
mendaki gunung, bungee jumping, terjun payung, rafting, ke diskotek dengan
musik yang hingar bingar (dalam kondisi ini tubuh kita sebenarnya dibawah
stress dengan intensitas tinggi), dll.
Jadi tidak
semua Stress berdampak negatif, karena STRESS yang dikelola dengan baik bisa
digunakan untuk hal hal yang positif dan bermanfaat .
Action
Plan:
A.
Berikut ini beberapa hal yang bisa anda lakukan untuk
memanage stress anda dan mempertahankannya pada level yang produktif:
1.
Berolah raga yang teratur.
2.
Istirahat yang cukup.
3.
Meditasi.
4.
Mempertahankan pola makan yang baik.
5.
Terapkan Time Management yang efektif.
6.
Miliki humor dalam hidup sehari hari.
B.
Mengubah STRESS mejadi kekuatan (Stress Into Power)
Berikut ini ada 9 langkah bagaimana mengubah Stress menjadi Kekuatan:
1.
Dimana anda merasakan stress? Cari di bagian tubuh mana
yang paling dirasakan stresss
2.
Bagaimana rasa stress tersebut? Tegang, panas, dingin,
kasar dll.
3.
Bayangkan anda mencabut dengan tangan kanan stress
tersebut dari bagian tubuh anda dan letakkan ditangan kiri anda.
4.
Analisa stress terebut, kelihatannya seperti apa,
bentuk dan warnanya, adakah suaranya dan perasaan tertentu?
5.
Pesan apakah yang ingin disampaikan oleh stress
tersebut? Apakah ada keyakinan yang berhubungan dengan stress tersebut?
6.
Dengan tangan kanan, buatlah seolah olah anda mengubah
bentuk, warna, suara dll, bereksperimen dengan mengubahnya hingga anda
merasakan lebih baik.
7.
Sesudah itu balikkan stress tersebut kembali ketempatnya
dengan cepat.
8.
Affirmaskan keyakinan baru yang muncul.
C.
Anda juga bisa mengontrol level stress anda
dengan mudah dan cepat dengan metoda S.H.I.N.E (Self Hypnosis Integrated New
Age Empowerment)
info : http://stresscontrol.wordpress.com/workshop/
D.
Kontrol Level Stress anda secara rutin dengan
Questioner Stress-O-Meter yang bisa anda download di blog saya di www.awiesuwandi.com
Posted by:
Dipl. –Betr. Psych. Awie Suwandi MCH.
Hypnosis Life-Coach & Hypnotherapist