> "SUPER SIZE ME" MASALAH KEGEMUKAN DAN PENGURUSAN
>
> MORGAN Spurlock, pria 33 tahun, adalah warga
> Suatu hari dia memutuskan untuk mengisi perutnya
selama 30 hari hanya
> dengan makanan yang dijual McDonald's! Bukan, Spurlock bukan
sedang
> syuting untuk episode terbaru Fear Factor maupun MTV Jackass. Dia
> juga tidak sedang mengabadikan dirinya ke Guinness Book of World
> Records.
>
> SEMUA ini bermula pada tahun 2002, saat Spurlock
membaca berita
> mengenai dua gadis muda yang menuntut McDonald's
karena telah membuat
> mereka menderita kegemukan. Namun, kedua gadis tersebut kalah di
> pengadilan. Ditambah lagi, McDonald's pernah mengklaim bahwa
makanan
> McDonald's aman untuk dijadikan bagian dari pola makan sehat.
Sebagai
> catatan saja: McDonald's tidak pernah menganjurkan masyarakat
untuk
> makan produk mereka setiap hari. Selain itu, walaupun film ini
> sebagian besar berkutat seputar restoran McDonald's, sebenarnya
film
> ini juga "menyerang" restoran- restoran makanan cepat saji
(fast
> food) lainnya.
>
> Sebelum memulai program satu bulannya, Spurlock mendatangi tiga
> dokter berbeda: dokter ahli jantung, ahli
nutrisi, dan umum. Semua
> dokter itu menyatakan dirinya sehat, walaupun ia
mantan perokok.
> Pacarnya, seorang koki vegetarian, memberinya
hidangan serba sayuran
> satu malam sebelum Spurlock memulai aksinya.
Dalam programnya, ada
> beberapa poin penting yang harus diingat: (1) Dia harus makan tiga
> kali sehari dengan produk McDonald's, (2) Memesan paket Super Size
> setiap kali ditawarkan, (3) Mencoba semua makanan yang ada di menu
> McDonald's, (4) Banyaknya langkah jalan kaki harus sama dengan
jumlah
> rata-rata seorang pria AS lakukan tiap harinya.
>
> Sepanjang film, kita tak hanya disuguhi perkembangan badan
Spurlock
> hari demi hari selama program tersebut. Kita juga
diajak ikut tim
> investigasi Spurlock mendatangi para nara sumber
untuk lebih tahu
> mengapa obesitas kini menjadi pemicu penyebab kematian
kedua setelah
> merokok di Amerika Serikat.
>
> Dari film ini juga kita dapat mengambil beberapa
fakta yang menarik
> sekaligus mencengangkan: bahwa 40 persen penduduk Amerika Serikat
> sering makan di luar rumah, 60 persen penduduk AS kelebihan berat
> badan, dan fakta bahwa jumlah konsumen McDonald's tiap harinya
> sedikit lebih banyak dari populasi negara
Spanyol. Yang lebih
> mengejutkan lagi adalah saat Spurlock mendatangi sebuah sekolah
> dasar. Melalui serangkaian tes gambar, ternyata
murid-murid sekolah
> tersebut lebih mengenal Ronald McDonald's
daripada Yesus Kristus!
>
> Sedangkan Spurlock sendiri, yang mantan pembawa
acara di MTV, mulai
> merasakan perubahan dalam dan luar tubuhnya.
Dokter internisnya
> menganjurkan Spurlock untuk berhenti dari aksinya
karena hatinya
> mengalami gejala pengerasan, sampai-sampai ibunya
sendiri menawarkan
> diri menjadi donor hati. Spurlock sendiri
mengalami kenaikan bobot
> sebanyak 25 pon (12,5 kg) dalam 30 hari. Secara
psikologis, Spurlock
> menjadi sering depresi dan "kecanduan" makanan cepat
saji. Bahkan,
> pacarnya sempat mengeluh karena libido Spurlock
menurun.
>
> Kalau begitu, apakah lebih baik tidak mengonsumsi fast food? Film ini
> juga mengklaim bahwa 90 persen dari 100 ahli
nutrisi yang
> diwawancarai berpendapat kalau makanan cepat saji
sebenarnya tidak
> usah dimakan kalau memang tidak perlu. Menurut Andang Gunawan,
ahli
> terapi nutrisi terkemuka di
> cepat saji tidaklah apa-apa apabila diimbangi sayur dan buah-
> buahan. "Makanan yang telah diproses, seperti fast food
adalah
> pembentuk asam, sementara sayur dan buah-buahan adalah pembentuk
> basa. Selama kadar asam-basa kita bisa seimbang,
yaitu berada pada pH
> 7,3 - 7,5, fast food masih tidak apa-apa untuk dikonsumsi,"
ujarnya.
> Bila terlalu banyak makan protein, maka derajat keasaman akan
> bertambah. "Akibatnya, darah akan mengental dan organ-organ
tubuhnya
> mengalami pengerasan, seperti yang terjadi pada Spurlock,"
tambah
> lulusan Queensland Institute of Natural Science ini.
>
> Cara pandang masyarakat terhadap obesitas pun disinggung di film
ini.
> Selama ini, masyarakat terlalu toleran terhadap
para penderita
> obesitas. Kita sering temui orang yang menegur
seorang perokok untuk
> mematikan rokoknya (kadang malah disertai
"ceramah" singkat mengenai
> bahaya rokok). Namun, kita jarang menemui orang yang
menegurseorang
> penderita obesitas untuk menghentikan makannya!
Malah, di Indonesia
> sering kita lihat orangtua menganggap lucu
anaknya yang gemuk,
> bukannya mengubah pola makannya. Masih menurut Andang Gunawan,
"(
> penderita obesitas) sering tidak sadar kalau
terlalu banyak makan
> malah menumpuk ampas makanan di usus, sehingga racun (dari ampas
> makanan) terserap lewat dinding usus!"
>
> Serba ingin cepat rupanya menjadi
> makanan cepat saji, rupanya banyak orang yang juga ingin kurus
> instan, walau mahal sekalipun. Bahkan, di film ini, ada orang yang
> rela menjalani operasi pengecilan perut! Memang,
pada akhirnya bobot
> badannya berkurang, namun hal tersebut juga terjadi karena orang
> tersebut juga mengubah pola makannya.
>
> Sekarang, bagaimana dengan Indonesia? Apakah
obesitas juga mengancam
>
> di kota-kota besar maupun daerah. Walau
lebih sering makanan rumahan,
> masyarakat
> saji karena kini sudah mulai gampang ditemui di
mana pun. Bagaimana
> dengan kalangan menengah ke bawah? Rupanya mereka juga
> mulai "kecanduan" mengonsumsi mi, bubur, dan sop instan
tanpa
> dibarengi sayur mayur dan buah-buahan. "Malah, banyak
orangtua yang
> tidak mau sehari-harinya repot memasak, sehingga keluarganya
diberi
> hidangan serba instan," tambahnya.
>
> Sayangnya, hidangan daging masih dianggap tolok ukur status bagi
> orang
> dianggap kaya. Sayuran dan buah dipandang sebelah mata. Parahnya,
> sampai ada istilah "mental tempe" bagi
orang-orang yang dianggap
> tidak tahan banting. Padahal, kita sendiri tahu
manfaat baik tempe.
> Ironisnya, makanan cepat saji yang notabene
adalah makanan terjangkau
> di AS, masih dianggap makanan elite oleh sebagian besar masyarakat
>
> tegal lebih bergizi. "Tapi harus dibarengi sayur dan
buah!" berkali-
> kali Andang Gunawan memperingatkan.
>
> Secara keseluruhan, film yang diganjar penghargaan Sutradara
> Dokumenter Terbaik di Festival Sundance 2004 ini
menghibur, namun
> juga cerdas. Beberapa adegan kecil, seperti
ditemukannya sehelai
> rambut dalam makanannya, ampuh memicu gelak tawa
penonton. Penonton
> juga dibuat miris saat ditampilkannya adegan operasi pengecilan
perut
> yang disunting dengan apik dan diiringi musik klasik. Kegigihan
> Spurlock juga terlihat saat ia berulang kali gagal mendapatkan
> kesempatan wawancara dengan Jim Cantalupo, CEO McDonald's.
>
> Beberapa bulan setelah tayang perdana film ini, McDonald's Amerika
> Serikat menghapus program "Super Size"-nya secara
berkala. Program
> penggantinya, "Go Active! Adult Happy Meals" yang
terdiri dari salad,
> air putih, sebuah pedometer, dan sebuah leaflet yang mengingatkan
> pentingnya sering berjalan kaki. Lucunya, pihak McDonald's
menyangkal
> bahwa penghapusan tersebut tak ada hubungannya dengan film ini.
>
> Dennis Adishwara, Sutradara
> diambil dari milis [resensifilm]
>
> http://nikimoviebuff.blogspot.com/2004/12/super-size-me-masalah-
> kegemukan-dan.html