Kumpulan Berita Media Massa HIV-AIDS dan Narkoba
Dari Tanggal: 4 May 2009 Sampai Tanggal: 11 May 2009
1. Bocah HIV/AIDS akan di
berikan ARV
Waspada Online, 06
Mei 2009
PRAWIRA
SETIABUDI
MEDAN - Berkat,
bocah yang terinveksi HIV/AIDS, akan segera diberikan obat ARV (Anti Recto Viral)
oleh pihak dokter RSUP Pirngadi Medan.
Menurut Humas, drg Susyanto, kepada Waspada Online, tadi sore, mengatakan,
pemberian ARV ini dikarenakan CDV (sel darah putih) Berkat mengalami
penurunan.
"Tapi hanya sel darah putihnya saja yang mengalami penurunan,
sedangkan kondisi Berkat masih stabil, berat badannya juga semakin
naik," ujar Susyanto.
JEMBER | SURYA Online - Penderita HIV/AIDS tertinggi di Kabupaten Jember,
Jawa Timur (Jatim), didominasi oleh pekerja seks komersial (PSK).
Ketua Paguyuban Duta HIV/AIDS di Jember, Heny Sukartiningsih, Kamis (7/5),
menuturkan, jumlah penderita HIV/AIDS di Jember sejak akhir tahun 2006
hingga akhir Maret 2009, mencapai 214 penderita, 33 di antaranya meninggal
dunia.
“Jumlah penderita HIV/AIDS di Jember cukup tinggi dan sebagian besar
penularannya dari PSK,” jelasnya.
TONDANO- Ini menjadi tanda awas bagi pria hidung belang yang suka
gonta-ganti pacar lewat hubungan seksual. Pasalnya, mereka ini rentan kena
penyakit HIV AIDS apalagi yang sering mengunakan narkoba.
Data yang diperoleh, saat ini di Minahasa ada 43 warga yang terinfeksi HIV
AIDS yang umumnya tersebar di beberapa kecamatan. Bahkan kuat dugaan,
mereka ini sering beroperasi di café-café terdekat.
LUWUK- Kasus kematian penderita HIV dan AIDS di Provinsi Sulteng terus
bertambah. Yang terbaru, berdasarkan informasi yang dihimpun Luwuk Post
(Jawa Pos Group) menyebutkan, salah seorang warga Luwuk, Kabupaten Banggai
meninggal dunia setelah lama mengidap virus mematikan itu.
Lelaki berumur sekitar 30-an tahun tersebut meninggal April lalu. Ini
merupakan kasus pertama HIV/AIDS di Kabupaten Banggai yang berakhir dengan
kematian. Sebelumnya, tahun 2008 lalu, Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai
telah menemukan sedikitnya dua warga di bumi Babasal yang terserang virus
HIV/AIDS.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, dr Hariadi MKes, yang
dikonfirmasi Luwuk Post, mengakui, pihaknya telah menemukan satu orang
penderita HIV/AIDS selama tahun 2009 ini. Namun penderita tidak berhasil
diselamatkan dan meninggal sekitar bulan April lalu. "Kami memang
menemukan kasus baru selama tahun 2009 ini, dan orangnya sudah meninggal
dunia," katanya.
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Orang-orang terinfeksi HIV dan AIDS di Indonesia
belum terpenuhi hak-hak asasinya. Orang terinfeksi HIV di Indonesia
mengalami tantangan di dalam memenuhi hak-hak asasi.
Program penanggulangan AIDS yang telah berjalan hampir dua dekade di
Indonesia telah membawa cukup banyak perubahan di dalam kultur dan struktur
masyarakat Indonesia di dalam menghadapi epidemi AIDS.
Meski tidak memungkiri ada cukup banyak keberhasilan, JOTHI melihat masih
ada begitu banyak kekurangan di dalam menghadapi permasalahan AIDS.
MEDAN(SI)– Petugas medis di RSU Pirngadi mengalami hambatan untuk
menangani dua bocah penderita human immunodeficiency virus/ aquired
immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS).
Pasalnya, obat antiretroviral (ARV) yang diperuntukkan bagi pengidap
HIV/AIDS (Odha) anak-anak belum tersedia. Tidak adanya obat bagi anakanak
penderita HIV/AIDS membuat tim dokter Pusat Layanan Khusus (Pusyansus) RSU
Dr Pirngadi yang merawat BH, 5, dan ARF, 6, untuk meracik obat ARV yang
tersedia. ”Obat ARV untuk anak sedang diusahakan.
Selama ini obat yang ada hanya untuk orang dewasa,” tutur Ketua Pusat
Pelayanan Khusus RSU Pirngadi Medan Irwan Fahri Rangkuti kepada wartawan di
ruang kerjanya kemarin. Irwanmenambahkan, meskipersediaan obat ARV hanya
untuk ODHA dewasa, obat ARV tetap diberikan kepada kedua bocah itu.
GRESIK, Jumlah penderita HIV/AIDS di Gresik terus bertambah. Berdasarkan
catatan Dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik, hingga awal Mei, sudah
22 orang tertimpa kasus HIV/AIDS. Yang lebih memprihatinkan, tiga penderita
merupakan balita berusia satu tahun dan tujuh bulan.
Kepala Dinkes Kabupaten Gresik, dr Munawan, mengatakan, jumlah penderita
dipastikan akan terus bertambah. "Dinkes bahkan memprediksi masih ada
sekitar 1.050 orang yang rentan tertular virus mematikan itu. Sekarang saja
sudah tercatat lima keluarga terinfeksi HIV/AIDS," katanya, Rabu
(6/5).
JEMBER, KOMPAS.com - Penderita HIV/AIDS tertinggi di Kabupaten Jember,
didominasi oleh pekerja seks komersial (PSK), yang mencapai 82 orang. Ketua
Paguyuban Duta HIV/AIDS di Jember, Heny Sukartiningsih, Kamis, menuturkan,
jumlah penderita HIV/AIDS di Jember sejak akhir tahun 2006 hingga akhir
Maret 2009, mencapai 214 orang, 33 di antaranya sudah meninggal dunia.
"Jumlah penderita HIV/AIDS di Jember cukup tinggi dan sebagian besar
penularannya dari PSK," kata Heny menjelaskan. Ia mengungkapkan,
secara rinci 214 kasus penderita HIV/AIDS terdiri dari PSK sebanyak 82
orang, pelanggan PSK 45 orang, pengguna jarum suntik narkoba (IDU) 30
orang, ibu rumah tangga sebanyak 40 orang dan lain-lain sebanyak 17 orang.
TEMPO Interaktif, Surakarta: Jumlah penderita HIV/AIDS di Surakarta, Jawa
Tengah, meningkat drastis selama bulan April. Komisi Penanggulangan AIDS
(KPA) Kota Surakarta menemukan 22 penderita baru selama bulan tersebut, dua
dia ntaranya melahirkan.
Menurut Kepala Sub Dinas Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Dinas Kesehatan Kota Surakarta, Titiek Kadarsih, penambahan jumlah yang
cukup besar ini justru melegakan. Sebab diperkirakan masih banyak penderita
HIV-AIDS sampai sekarang belum diketahui keberadaannya.
Hingga April ini, jumlah penderita HIV-AIDS yang berada di eks karesidenan
Surakarta mencapai 249 orang. “Kami mendata sejak Oktober
2005,” kata Titiek, Rabu (6/5).
Balaikota (Espos)
Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Solo dalam empat bulan pertama tahun 2009
ini berhasil mengungkap 39 kasus HIV/AIDS di kawasan Soloraya. Kasus itu
menambah jumlah kasus yang terungkap sejak Oktober 2005 lalu menjadi 249
kasus.
Dari 249 kasus tersebut, KPA Solo mencatat 62 penderita di antaranya telah
meninggal dunia, termasuk empat penderita HIV/AIDS yang meninggal pada
bulan April 2009 lalu. Kebanyakan mereka meninggal akibat penanganan yang
terlambat. Saat memeriksakan diri, kondisi yang bersangkutan sudah kronis.
MEDAN (SI) –Tim dokter yang menangani BAH,5, dan ARF, 6,belum dapat
memastikan kapan keduanya mendapatkan obat antiretroviral (ARV) yang
dikonsumsi bagi penderita HIV/AIDS.
Hingga kini tim dokter masih mengevaluasi kedua bocah malang itu, obat ARV
apakah yang cocok bagi BAH dan ARF.“Obatnya harus disesuaikan dengan
jenis dan berat badan mereka. Sekarang masih dievaluasi bersama dokter
anak,” ujar Ketua Pusat Pelayanan Khusus RSU dr Pirngadi Medan Irwan
Fahri Rangkuti kepada wartawan di ruang kerjanya kemarin.
Evaluasi pemberian obat ARV ini belum bisa dipastikan karena banyak jenis
obat bagi penderita HIV/AIDS ini.“Kami harus menyesuaikannya dengan
kondisi mereka, obat apa yang pantas untuk mereka karena obat ARV ini
banyak jenisnya,”tuturnya.
Surabaya - Sembilan daerah di Jatim masuk kategori paling rawan terjangkit
penyakit HIV/AIDS. Dengan fakta ini, Pemprop Jatim bertindak cepat dengan
menjadikan sembilan daerah itu sebagai kawasan fokus pengawasan.
Pemprop Jatim memprioritaskan sembilan kabupaten/kota yaitu kabupaten
Jember, Banyuwangi, Pasuruan, Malang, Sidoarjo, Mojokerto, Kediri, Kota
Surabaya dan Kota Kediri.
"Ada sembilan daerah yang diprioritaskan, karena memiliki lokalisasi
sehingga rawan penyebaran penyakit mematikan ini," kata Wagub Jatim
Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Ipul, Selasa (5/5).
MEDAN- Kesehatan dua bocah Berkat (5) dan Fitri(6) yang didiagnosis
mengidap virus HIV/AIDS yang saat ini dirawat di RSU dr Pirngadi Medan
berangsur-angsur mulai membaik. Selain berat badan yang terlihat meningkat,
juga infeksi kulit yang dialami keduanya pun mulai membaik. Setidaknya,
luka-luka di kulit kedua bocah malang tersebut mulai mengering.
Kondisi tersebut diungkapkan oleh Drg. Susyanto, Humas RSU dr. Pirngadi
Medan tatkala mengunjungi keduanya pada Selasa (5/5) di ruangan III RSU dr.
Pirngadi Medan. “Si Berkat sudah mulai membaik sekarang. Berat
badannya saat ini adalah, 8,7 kilogram. Begitupun, berat badannya belum
mencapai batas normal anak seusianya. Seharusnya berat badannya adalah 15
kilogram,” katanya kepada wartawan, kemarin (5/5).
Mataram ( Berita ) : Wakil Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)
Propinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menyatakan prihatin terhadap Tenaga
Kerja Indonesia (TKI) dan Tenaga Kerja Wanita (TKW) yang ikut memberi
kontribusi jumlah penderita HIV dan AIDS di daerah ini.
“Untuk itu, KPA NTB akan bekerja sama dengan Disnakertran dan BP3TKI
untuk melakukan pemeriksaan bagi setiap TKI yang baru pulang baik laki
untuk dites HIV,” kata Wakil Sekretaris KPA NTB, Drs. H. Arsyad Gani
di Mataram, Rabu [06/05] . Tes HIV tersebut dimaksudkan, guna mencegah
semakin merebaknya penyakit HIV dan IADS di daerah ini. “Sebab besar
kemungkinan penyakit HIV dan AIDS dibawa oleh TKI yang telah bertahun-tahun
berada di luar negeri,” katanya.
15. Bocah Tertular AIDS Bertambah di
RSU Pirngadi Medan
Harian Sinar Indonesia Baru, 2
Mei 2009
Medan (SIB) Rumah Sakit Umum (RSU) Pirngadi Medan kembali kedatangan
seorang bocah penderita AIDS, Kamis (30/4/2009). Dengan demikian, saat ini
terdapat dua bocah penderita AIDS yang dirawat di rumah sakit milik
Pemerintah Kota Medan tersebut.
Pasien baru itu yang berusia enam tahun tersebut, sebut saja namanya Butet,
warga Jl. Wahid Hasyim Medan, Sumatera Utara (Sumut). Bocah perempuan ini
terpaksa dibawa ke RSU Pirngadi karena kondisi kesehatannya memburuk dalam
sepekan terakhir akibat mengidap HIV/AIDS positif. Di rumah sakit dia hanya
bisa meringis dalam pelukan kakeknya, Misran, saat tim medis Rumahsakit
Umum (RSU) Pirngadi Medan memasang jarum infus di lengan mungilnya, Kamis
(30/4).
DIMINATI : Kedua remaja ini sedang membaca katalog untuk menentukan film
mana yang akan ditonton dalam salah satu festival film di Jakarta. Tayangan
film-film alternatif dalam sebuah festival terus mendapat apresiasi besar,
karena kehausan para pecinta film untuk menyaksikan tontonan berbeda.
BERBAGAI festival film alternatif di Indonesia makin menggeliat dan sudah
punya tempat.Tak sekadar menyajikan tontonan berbeda,para penyelenggaranya
juga berharap jadi agen perubahan.
Sebuah festival film alternatif umumnya memutar film non-mainstream yang
tidak ditayangkan di jaringan bioskop komersial. Salah satu tujuannya
adalah mengakomodasi keinginan para pencinta film yang haus akan film-film
”bermutu”. Rupanya, acara seperti ini diminati dan mendapat
tempat di Indonesia. Buktinya, penonton Jakarta International Film Festival
(JiFFest) terus bertambah setiap tahun.
MEDAN(SI) – Kondisi BH,5,bocah penderita AIDS,dikabarkan semakin
membaik. Berat badannya sudah bertambah, dia juga semakin sering merespons
sekitarnya.
Bocah yang berasal Tapanuli Utara ini juga telah bisa mengentakkan kedua
kakinya dengan cukup keras saat menolak diberi obat sirup. ”Berat
badannya sekarang sudah 8,7 kg atau naik sekitar 2,7 kg dari pertama kali
masuk kemari. Namun,untuk anak berusia 4 hingga 5 tahun, beratnya masih
jauh dari normal.
Setidaknya untuk anak seusai dia itu beratnya 15–20 kg. Jadi inilah
tugas kami untuk menanganinya,” tutur drg Susyanto Humas RS Pirngadi
Medan kemarin. Pria berkacamata ini berharap BAH bisa diberi mendapatkan
kehidupan yang layak. Dia bukan hanya membutuhkan perawatan, juga butuh
sandang dan pangan.
18. Jawa Timur Dapat Hibah Rp 21
Miliar Untuk HIV/AIDS
Tempo Interaktif, 05
Mei 2009
TEMPO Interaktif, Surabaya: Jawa Timur dapat dana hibah dari Global Found
for AIDS, Tuberculosis and Malaria (GF-ATM) sebesar Rp 21,116 miliar.
Bantuan ini didapatkan khusus untuk proses percepatan penanggulangan AIDS
di provinsi tersebut.
"Dana ini hanya dana tambahan untuk mendukung percepatan
penanggulangan AIDS. Untuk sumber dana utama penanggulangan tetap
diambilkan dari APBN dan APBD," kata Sekretaris Komisi Penanggulangan
AIDS Provinsi (KPAP) Dr Nafsiah Mboi, disela-sela penandatangann Memorandum
of Understanding dengan Provinsi Jatim di Hotel Bumi Surabaya, Selasa
(5/5).
Menurut dia, dana sebesar itu akan dikucurkan masing-masing Rp 4,784 miliar
kepada KPA Provinsi Jatim, Rp 10,826 milair untuk Dinas Kesehatan Provinsi
Jatim, serta Rp 5,507 Miliar untuk Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia
(PKBI) Jatim.
BEKASI, KOMPAS.com — Stok obat antiretroviral (ARV) bagi penderita
human immunodeficiency virus/acquired immune deficiency syndrome (HIV/AIDS)
lini I cukup untuk memenuhi kebutuhan selama beberapa bulan ke depan.
Menurut Hari Bagianto, pengelola program di Komisi Penanggulangan AIDS Kota
Bekasi, Minggu, stok obat tersebut cukup untuk 1.060 orang dengan HIV/AIDS
(ODHA ) yang masih hidup.
Menurut dia, pasokan obat dari pusat tetap lancar tetapi kadang masih
terjadi pasokan baru datang ketika persediaan tinggal mencukupi kebutuhan
selama satu bulan.
SURABAYA -- Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) menyebutkan bahwa
seks bebas kini menjadi penyebab utama dari HIV/AIDS setelah bertahun-tahun
sebelumnya narkoba suntik menjadi penyebab utama.
"Dua tahun lalu, narkoba suntik masih menjadi penyebab utama, tapi
sekarang 55 persen disebabkan seks bebas, 42 persen karena narkoba suntik,
dan sisanya penyebab lain," kata Sekretaris KPAN, Dr. Nafsiah Mboi SpA
MPH, di Surabaya, Selasa (5/5).
Ia mengemukakan hal itu di sela-sela penandatanganan nota kesepahaman (MoU)
antara KPAN dengan tiga Pemerintah Provinsi (Pemprov) yakni Jatim, Bali,
dan Sulsel untuk percepatan upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
yang komprehensif.
TEMANGGUNG - Penyebaran HIV/AIDS di Kabupaten Temanggung terus meningkat
dari tahun ke tahun. Selama semester awal tahun ini, tercatat 12 orang
terjangkit virus mematikan itu.
Keganasan penyakit tersebut telah mengakibatkan satu penderita dewasa
meninggal Maret lalu. Selain menyerang orang dewasa, tiga balita di juga
dinyatakan positif tertular HIV/AIDS. Lebih memprihatinkan, satu diantara
anak tersebut diketahui juga menderita gizi buruk.
SENGKANG-- Jumlah warga yang reaktif tertular virus human immunicency virus
(HIV)/acquired immuno deficiency syindrome (AIDS) di Wajo terus bertambah.
Pada 3 Mei 2009, Komisi Penanggulangan (KP) AIDS Wajo melansir ada seorang
ibu rumah tangga tertular virus yang belum memiliki obat penawarnya itu.
Lansiran Sekretariat KP AIDS itu berdasarkan hasil uji darah yang dilakukan
terhadap warga tersebut. Diduga penularan virus yang dialami ibu dimaksud
akibat tertular dari hubungan seks yang didapatkan dari suaminya.
Ngawi - Surya-Jumlah penderita HIV/AIDS atau ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS)
yang meninggal karena tidak mampu menghadapi penyakitnya semakin banyak
saja. Di Kabupaten kediri, dari 108 ODHA yang terdata, 22 di antaranya
telah meninggal. Empat di antaranya meninggal di tahun ini.
Sayangnya, ODHA baru juga bermunculan. Dinkes Kabupaten Kediri mengakui
bahwa jumlah itu adalah yang terdata. Diprediksi masih banyak ODHA yang
belum terpantau. Dalam catatan Dinkes, di awal tahun ini sudah ada 14
penderita baru. Kalau dirata-rata, setiap bulan ada empat penderita baru
sejak Januari hingga April 2009.
Sementara di Kabupaten Ngawi, seorang penderita berinisial S, 30, warga
Desa/Kecamatan Mantingan, meninggal dunia setelah sempat dirawat sekitar 22
jam di RSUD dr Soeroto, Kabupaten Ngawi, (30/4) petang. Diduga hal itu
disebabkan daya tahan tubuh korban sudah melemah dan tidak dapat menahan
penyakit lainnya.
24. Dinkes Sumut bentuk layanan VCT
di beberapa kabupaten
Waspada Online, 04
Mei 2009
PRAWIRA
SETIABUDI
MEDAN - Dinas Kesehatan Sumatera Utara membentuk layanan VCT (Voluntary
Counseling Testing) bagi masyarakat, khususnya penderita HIV/AIDS. VCT ini
nantinya akan menjadi tempat konsultasi dan uji medis hingga beberapa
kabupaten dan kota di Sumut. Demikian menurut Kepala Dinkes Sumut, dr Chandra
Syafei, kepada Waspada Online, saat dihubungi tadi sore.
"Hal ini dilakukan berdasarkan atas penelitian yang mengatakan sekitar
11.000 penderita HIV/AIDS positif di Sumut, dan yang baru terjaring sekitar
1600 penderita HIV/AIDS," ujar Chandra Syafei.
JOMBANG - Dua orang Pekerja seks Komersil (PSK) di lokalisasi Klubuk,
Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, dinyatakan positif terjangkit HIV/AIDS.
Karena itu, sedikitnya 80 orang PSK yang ada di lokalisasi tersebut diambil
sampel darahnya oleh petugas dari Dinas Kesehatan Jombang, Kamis (30/4).
Pengambilan sampel darah tersebut guna mengantisipasi menyebarnya virus
mematikan. Secara bergantian, puluhan PSK diperiksa dan diambil darahnya.
Sampel darah tersebut selanjutnya akan dibawa ke laboratorium Dinas Kesehatan
untuk dilakukan tes.
MEDAN - Data nasional memperkirakan Pengidap Human Immunodeficiency
Virus/Aquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Sumatera Utara
berkisar 11.044 orang. Namun kasus HIV/AIDS yang ditemukan hanya sekitar 14
- 15 persen dari total estimasi tersebut.
Demikian dikatakan Kadis Kesehatan Sumut, dr Candra Syafei, SpOG, tadi
malam. Saat ini, lanjut Candra, jumlah pengidap HIV/AIDS di Sumut yang
sudah terdata hanya berkisar 1.500 - 1.600 orang. Ini berarti, Dinas
Kesehatan Sumut beserta seluruh jajarannya harus terus melakukan deteksi
dini terhadap kasus-kasus HIV/AIDS hingga jumlahnya mencapai angka estimasi
nasional tersebut.
MEDAN - Dua bocah pengidap HIV/AIDS, Berkat dan Fitri, kondisinya saat ini
semakin membaik. Demikian penuturan Humas RSUP Pirngadi Medan, drg
Susyanto, kepada Waspada Online, tadi siang.
Berkat, menurut Susyanto, kondisinya semakin membaik dan nafsu makannya
semakin tinggi, sehingga badannya semakin gemuk, kulitnya mulai bersih dan
tidak tampak lagi luka-luka disekujur tubuhnya.
"Paru-parunya bagus cuma dia kurang gizi. Sementara Fitri kondisinya
juga semakin baik, selera makannya juga tinggi, berat badannya pun sekarang
sudah 16 kg," ujarnya.
Manado ( Berita ) : Penderita HIV/Aids di Sulawesi Utara (Sulut) selang tahun
1997 hingga 2009 telah mencapai 490 kasus, sehingga perlu ada langkah
penanggulangan secara optimal.
Langkah penanggulangan penyebaran virus mematikan itu perlu ada payung
hukum seperti Peraturan Daerah (Perda) yang mampu meminimalisai penyebaran
virus, kata anggota Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Sulut Jones
Oroh di Manado, Minggu [03/05] . Dari 490 kasus atau temuan penderita
penyakit itu, sekitar 20 persen telah meninggal dunia akibat tidak dapat
ditangani secara optimal.
Menurut dia, selama tiga dekade, banyak upaya dilakukan berbagai kalangan
untuk memerangi HIV/Aids, banyak pula riset dilakukan para ahli dengan
tujuan mencari vaksin/obat untuk membunuh dan melumpuhkan HIV di dalam
tubuh pengidap.
29. Pemahaman Tenaga Medis Di Sumut
Tentang HIV/AIDS Minim
Harian Berita Sore, 02
Mei 2009
MEDAN (Berita): Pemahaman tenaga medis di Sumatera Utara khususnya kota
Medan masih dinilai minim dalam penanganan pengidap HIV/AIDS atau orang
dengan HIV/AIDS (ODHA).
Akibatnya, ODHA yang masuk ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan
sering kali mengeluhkan diperlakukan secara diskrimi-nasi oleh dokter,
asisten dokter hingga perawat.
Dalam hal ini, Kadis Kesehatan Sumut dr Chandra Syafei SpOG, Direktur RSU
dr Pirngadi Medan (RSUPM) Dr dr Umar Zein DTM&H, MHA, SpPD-KPTI dan
Kadis Kesehatan kota Medan dr Edwin Effendi MSc yang hadir dalam acara
diskusi pelayanan pasien HIV/AIDS di Ruang Rapat II RSUPM, Jumat [01/05]
sore, mengakuinya.
30. 20.810 Pengidap HIV/AIDS Di Jatim
Tak Terdeteksi
Harian Berita Sore, 01
Mei 2009
Surabaya ( Berita ) : Sebanyak 20.810 pengidap HIV/AIDS di Jawa Timur tak
terdeteksi, kata Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, saat membuka rapat
konsultasi HIV/AIDS di ruang Binaloka, Kantor Gubernur Jatim, di Surabaya,
Rabu [29/04] .
Oleh sebab itu, pihaknya terus mendorong Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)
Provinsi Jatim agar masalah HIV/AIDS ini ditangani secara terus-menerus dan
menyeluruh. “KPA harus terus melakukan identifikasi baik nama, maupun
alamat pengidap untuk mendapatkan penanganan intensif, baik secara medis,
psikologis, spiritual, maupun kultural,” katanya.
Selama ini dia hanya mendapatkan data pengidap HIV/AIDS dari Dinas
Kesehatan (Dinkes) Jatim yang jumlahnya mencapai 2.737 orang, sebanyak 612
orang di antaranya meninggal dunia.
31. Puluhan Ribu Pengidap HIV/AIDS di
Jatim Belum Terdeteksi
Surya Online, 29
April 2009
SURABAYA | SURYA Online - 20.810 pengidap HIV/AIDS di Jawa Timur (Jatim)
tak terdeteksi, kata Wakil Gubernur Jatim, Saifullah Yusuf, saat membuka rapat
konsultasi HIV/AIDS di ruang Binaloka, Kantor Gubernur Jatim, di Surabaya,
Rabu (29/4).
Karena itu, pihaknya terus mendorong Komisi Penanggulangan AIDS (KPA)
Provinsi Jatim agar masalah HIV/AIDS ini ditangani secara terus-menerus dan
menyeluruh.
“KPA harus terus melakukan identifikasi baik nama, maupun alamat
pengidap untuk mendapatkan penanganan intensif, baik secara medis,
psikologis, spiritual, maupun kultural,” kata Saifullah Yusuf.
MEDAN - Berkat Hutahuruk, bocah 5 tahun asal Tapanuli Utara yang terinfeksi
HIV/AIDS, kondisinya semakin membaik. Demikian yang diungkapkan Humas dr
Pirngadi Medan, drg Susyanto, saat dihubungi, Waspada Online, tadi siang.
"Kondisi Berkat saat ini telah mulai ada banyak kemajuan, berat
badannya sudah 8,6 Kg. Walau ini bukan berat normal anak seusia
Berkat," terang Susyanto
Selain berat badannya yang naik, lanjut Anto, luka-luka disekujur tubuhnya
juga sudah mulai kering, dan Berkat pun sudah mau makan.
RANAI- Dinas kesehatan (Dinkes) Kabupaten Natuna membangun klinik Voluntary
Counselling and Testing (VCT) tempat konseling dan pemeriksaan bagi
masyarakat terjangkit virus yang menyebabkan AIDS di Rumah Sakit Umum
Daerah (RSUD). "Pembanguna klinik VCT tersebut upaya mengoptimalkan
program penanggulangan HIV/AIDS di Kabupaten Natuna," ujar Kabid
Pencegahan Penanggulangan Penyakit Menular, dr Sunarto, Selasa (28/4)
kemarin.
Sunarto mengatakan bahwa saat ini untuk pengecekan terhadap penyakit
mematikan itu masyarakat tidak perlu lagi ke luar daerah. Karena klinik dan
konselornya sudah berdiri di Kabupaten Natuna.
Denpasar ( Berita ) : Bali menjadi tuan rumah untuk penyelenggaraan
International Congress on AIDS in Asia and the Pacific (ICAAP) IX yang akan
digelar Agustus mendatang.
“Kongres akan dihadiri para ahli, permerhati dan bahkan korban AIDS
dari berbagai belahan dunia,” kata Prof DR Dewa Nyoman Wirawan MPH,
panitia kegiatan tersebut ketika dihubungi ANTARA di Denpasar, Rabu
[29/04].
Surabaya - Di Jawa Timur, penyebaran HIV/AIDS ternyata cukup
mengkhawatirkan. Catat baik-baik: saat ini tercatat 2.737 warga terjangkit
virus yang belum ditemukan obatnya itu.
Diprediksi, kasus ini menjadi fenomena gunung es. Artinya, yang tidak
terdeteksi bisa mencapai puluhan kali lipat. Sampai-sampai Wakil Gubernur
(Wagub) Jatim, Saifullah Yusuf minta agar pemangku kebijakan segera
melakukan identifikasi terhadap para penderita HIV/AIDS di Jatim.
PEKANBARU -- Data di Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru mencatat hingga 2009,
ditemukan sebanyak 234 kasus HIV/AIDS di Kota Pekanbaru. Angka ini
tertinggi di Provinsi Riau dibandingkan dengan kabupaten/kota lainnya yang
hanya berkisar puluhan kasus. Seperti Kampar delapan kasus, Siak 11 kasus,
atau Kuansing yang hanya tiga kasus.
Adapun rincian kasus HIV/AIDS di Pekanbaru sebagai berikut. Sebanyak 201
kasus terjadi pada laki-laki dan 33 kasus pada perempuan. Diketahui
sebanyak 159 orang dengan HIV/AIDS (ODHA) masih hidup, 73 orang meninggal
dunia dan dua sisanya tidak diketahui keberadaannya.
Berikut adalah laporan pengidap infeksi HIV dan kasus AIDS yang
diterima oleh Ditjen PP & PL dari provinsi periode bulan Januari sd
Maret 2009, berdasarkan surat Direktur Jenderal P2PL, Dr. Tjandra Y
Aditama, SpP(K), DTM&H:
Kumulatif Kasus AIDS sd 31 Maret 2009
a. Sampai dengan 31 Maret 2009 secara kumulatif jumlah kasus
AIDS yang dilaporkan adalah sebagai berikut:
Kasus AIDS : 16964
Provinsi yang melaporkan AIDS: 32 provinsi
Kabupaten/Kota yang melaporkan AIDS: 214 kab/kota
b. Ratio kasus AIDS antara laki-laki dan perempuan adalah 2,98:1
c. Cara penularan kasus AIDS kumulatif yang dilaporkan melalui IDU
48,4%, Heteroseksual 42%, dan Homoseksual 3,7%.
d. Proporsi kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan pada kelompok
umum 20-30 tahun (50,50%), disusul kelompok umur 30-39 tahun
(29,48%) dan kelompok umur 40-49 tahun (8,41%).
e. Kasus AIDS terbanyak dilaporkan dari Jawa Barat, DKI Jakarta,
Jawa Timur, Papua, Bali, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, Sumatera
Utara, Riau, Kepulauan Riau.
f. Rate kumulatif kasus AIDS Nasional sampai dengan 31 Maret 2009
adalah 7,47 per 100,000 penduduk (berdasarkan data BPS 2005,
jumlah penduduk Indonesia 227.132.350 jiwa).
g. Rate kumulatif kasus AIDS tertinggi dilaporkan dari provinsi
Papua (18,1 kali angka nasional), Bali (4,8 kali angka
nasional), DKI Jakarta (4,11 kali angka nasional), Kep. Riau (3,6
kali angka nasional), Kalimantan Barat (2,4 kali angka nasional),
Maluku (2 kali angka nasional), Papua Barat (1,4 kali angka
nasional), Bangka Belitung (1,45 kali angka nasional), Riau (1,1
kali angka nasional), dan Sulawesi Utara (1,07 kali angka
nasional)
dan Jawa Barat (1,08 kali angka nasional).
h. Proporsi kasus AIDS yag dilaporkan telah meninggal adalah 20,58%.
i. Infeksi oportunistik yang terbanyak dilaporkan adalah:
* TBC: 9493
* Diare kronis: 4993
* Kandidiasis oro-faringeal: 4897
* Dermatitis generalisata: 1298
* Limfadenopati generalisata: 629
j. Pada triwulan ini penambahan kasus AIDS adalah sebanyak 854
kasus.
[Catatan:
1. Laporan mengenai faktor risiko tidak mencatat jumlah mutlak,
melainkan hanya mencatat persentase kasus AIDS yang dilaporkan
berasal dari masing-masing faktor risiko. Namun untuk Transfusi
Darah/Hemofila, persentase dicatat dalam laporan adalah 0,0%, jadi
saya bingung mengenai kasus ini. Pada laporan sd September 2009,
persentase untuk faktor risiko ini 0,3%, atau kurang lebih sama
dengan 46 kasus.
2. File statistik lengkap dalam format HTML, MS-Excel dan PDF sudah
diupload ke bagian Statistik di situs web Spiritia
<http://spiritia.or.id/Stats/Statistik.php>]
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Artikel lengkap dari pedoman perinatal AS baru 'Penularan dan cara
kelahiran' sudah diterjemahkan dan dimuat di situs Spiritia. Klik
<http://spiritia.or.id/cst/bacacst.php?artno=1101>
Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Kumpulan Berita Media Massa HIV-AIDS dan Narkoba
Dari Tanggal: 28 April 2009 Sampai Tanggal: 5 May 2009
1. Lagi,Penderita HIV/AIDS
Meninggal
Koran SINDO, 28
April 2009
CILEGON (SI) - Seorang perempuan, warga Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan
Pulo Merak yang terjangkit virus HIV/AIDS meninggal dunia kemarin.
Wanita berinisial RI,yang diketahui positif HIV sejak 2007 ini, meninggal
karena penyakit penyerta yaitu tuberkulosis (TBC). Kepala Puskesmas Pulo
Merak Evi membenarkan ada warga Pulo Merak yang positif HIV/AIDS telah
meninggal. ”Korban dulu sempat kami periksa dan menderita penyakit
TBC kronis.
SURABAYA (SI)
– Program penanggulangan HIV/AIDS di Surabaya tidak berjalan efektif.
Buktinya, setiap bulan ada lebih 10 pasien HIV/AIDS yang meninggal saat
menjalani perawatan di Unit Perawatan Intermediet dan Penyakit Infeksi
(UPIPI) RSU dr Soetomo.
Itu belum termasuk pasien HIV/AIDS yang meninggal di luar rumah sakit. Dari
penelusuran Seputar Indonesia,
pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan di UPIPI juga banyak yang kabur
karena tak tahan harus menjalani perawatan cukup panjang. Selain itu,
banyak juga pasien HIV/AIDS yang terlunta- lunta dan tidak diurus lagi oleh
keluarganya. Pendamping dan relawan sebaya orang dengan HIV AIDS (ODHA) di
UPIPI RSU dr Soetomo setiap hari selalu ada.
Terutama Senin dan Kamis, saat ada olahraga bersama dan makan sehat
bersama.Hanya, program semacam itu kurang mengena, terutama bagi pasien
HIV/AIDS yang tidak mau menjalani rawat inap di rumah sakit. Menurut
Supervisor UPIPI RSU dr Soetomo,dr Mohammad Vitanata Sp PD, sebetulnya penanganan
pasien HIV/AIDS itu akan lebih bagus jika dilakukan sejak dini atau pasien
tersebut masih dalam status HIV.
MEDAN -
Sosialisasi akan bahaya HIV/AIDS sudah harus mulai sedini mungkin untuk
dapat mencegah perkembangan HIV/AIDS masyarakat, khususnya di kalangan remaja.
HIV/AIDS ini sendiri sangat rentan terjadi pada usia produktif dan jumlah
penderitanya selalu bertambah tiap tahunnya.
Wakil Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, bersama dengan dr Linda
T Maas dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumut, dan dr Chandra Syafei,
SpOG, dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumut bekerjasama dengan RSU Pirngadi
akan undang Kepala Rumah Sakit di Sumatera Utara untuk sosialisasi mengenai
HIV/AIDS.
MEDAN -
Voluntary and Counseling Testing (VCT) adalah suatu program yang dapat
digunakan bagi pihak medis untuk mengetahui sudah seberapa jauh seorang
pengidap HIV/AIDS menderita penyakitnya. VCT sendiri merupakan suatu jalan
keluar yang sangat baik dalam proses penghentian penularan yang berakibat
meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS.
Upaya tersebut merupakan terobosan yang baik untuk mengetahui tingkat
sebaran virus HIV/AIDS ini sudah sampai stadium berapa terjangkit di dalam
tubuh penderita.
5. Jamkesmas diberikan pada pasien
penderita HIV AIDS
Waspada Online, 24
APril 2009
WAHYU HIDAYAT
MEDAN - Pihak Dinas Kesehatan Sumatera Utara
memberikan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) kepada bocah yatim
piatu yang sejak lahir terjangkit virus HIV-AIDS melalui Wagubsu di RSU
Pirngadi Medan.
Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho beserta rombongan menjenguk
Berkat Hutabarat, pasien penderita HIV AIDS yang masih berumur 5 tahun
bernama di RSU Pirngadi Medan.
"Jamkesmas tadi sudah diberikan langsung, dan untuk selanjutnya akan
dibiayai langsung oleh pihak rumah sakit," kata Gatot.
JAYAPURA - Penyakit HIV/AIDS masih menjadi ancaman tersendiri bagi
Pemerintah Kota Jayapura yang memiliki catatan kasus tinggi terhadap
penyakit mematikan ini.
Kepada ANTARA, di Jayapura, Papua, Jumat, Beno Satya Utama, S.Kom dari
Yayasan Harapan Permata Hati Kita (Yakita), mengatakan, penyakit ini masih
menjadi masalah global yang perlu segera disikapi kemungkinan penyebarannya
setiap saat.
"Tingginya temuan kasus HIV/AIDS di Jayapura menjadi tugas kita
bersama, baik pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait untuk
mencegahnya," ujarnya saat membuka Pelatihan Kesehatan Reproduksi,
HIV/AIDS, dan Hepatitis C di aula yakita Jl. Batu Putih No. 97 Polimak,
Jayapura.
MEDAN -
Sebanyak 18 bayi dan anak-anak di Sumatera Utara terjangkit Human
Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Dari
jumlah tersebut, seorang di antaranya meninggal dunia.
"Jadi, saat ini masih ada 17 bayi dan anak-anak yang terjangkit
HIV/AIDS," kata Kadis Kesehatan Sumut dr. Candra Syafei, SpOG.
Candra menjelaskan, ke-18 bayi dan anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS
tersebut terdiri dari usia 0 - 1 tahun (3 HIV dan 2 AIDS), usia 1 - 4 tahun
(6 HIV dan 2 AIDS) serta usia 5 - 9 tahun (5 HIV). Sebagian besar bayi dan
anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS tersebut berasal dari Medan.
DENPASAR: Two people with HIV/AIDS died at the Sanglah GeneralHospital
in Denpasar on Friday.
The two patients, identified as MTh from Kuta, 31, and Gas, 35, from
Denpasar, were too ill to be treated.
They were both unaware they were HIV positive.
They had previously been diagnosed with acute tuberculosis, one of early
indications of HIV/AIDS.
Istina Dewi from the Bali+ Foundation, a non profit organization which
supports people with HIV/AIDS in Bali,
said many people with HIV were first admitted to hospital in the very late
stages of the virus.
9. Society discriminates against
people with HIV/AIDS
the Jakarta
Post Online, April 24, 2009
Alit
Kartarahardja, The Jakarta Post , Singaraja |
Fri, 04/24/2009 12:55 PM | Bali
People suffering from HIV/AIDS still experience discrimination - including
after their deaths - because of a lack of adequate information and
knowledge about the subject.
"Discrimination against people with HIV/AIDS take place in their own
villages, workplaces, in hospitals and even in the cemeteries," Ketut
Sudhiarta told The Jakarta Post on Thursday.
Sudhiarta, chairman of Citra Usada Indonesia Foundation, was speaking on
the sidelines of a gathering involving community and religious leaders.
Medan - SURYA -
Penyebaran virus HIV/AIDS yang pesat semakin memperbesar risiko penularan
HIV/AIDS pada anak jalanan. Hal ini terjadi karena kini semakin banyak anak
yang turun ke jalan dan berisiko menjadi korban perilaku seksual menyimpang
atau menggunakan jarum suntik.
”Setiap kali kami melakukan VCT (voluntary counselling and
testing/konseling dan dan pengujian sukarela) keliling pada kelompok
masyarakat berisiko, kami pasti menemukan minimal satu orang yang positif
terinfeksi HIV,” kata konselor VCT RS Pirngadi, Indah Kemala
Hasibuan, pekan lalu.
JAKARTA -
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tak ketinggalan
"berteriak" menanggapi kasus Aples Decuari Hutauruk (10). Seperti
diketahui, Afes - panggilan akrab Aples - harus meninggalkan bangku sekolah
untuk menunggui adiknya yang terkena HIV/AIDS (Human Immunodeficiency
Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) di RS Pirngadi, Medan.
Anggota KPAI, H Abdul Ghoffur, menyayangkan mengapa Afes dan adiknya sempat
terusir dari kampung halaman, serta dari kampung neneknya di Tobasa. Hal
ini bisa terjadi, lanjutnya, berkemungkinan karena aparat pemerintah
setempat tidak peka terhadap kasus ini.
12. Masih Ada Masyarakat Bersikap
Diskriminasi Terhadap HIV/AIDS
Harian Sinar Indonesia Baru, 25
April 2009
Wagubsu
Gatot Pujinugriho ST Kunjungi Balita Penderita HIV/AIDS di RS Pirngadi
Medan
Medan (SIB)
Wakil Gubernur Sumut Gatot Pujonugroho ST mengunjungi balita yang diduga
mengidap HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan, Jumat (24/4) sore.
Dalam kunjungan itu, Wagubsu didampingi Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr
Candra Syafei SpOG, Direktur Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan Dr dr Umar
Zein DTM&H SpPD KPTI, Ketua Komisi Perlindungan AIDS Sumut dr Linda
Maas, Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah Sumut M Zahrin Piliang.
Turut juga Kadis Kesehatan Medan dr Edwin Effendi MKes, Ketua Badan
Pengurus Medan Plus Eban Totonta Kaban.
Sanggau, Sebagai salah satu wilayah transit, Kabupaten Sanggau ternyata
rawan penyebaran dan penularan virus HIV/AIDS. Buktinya, dalam kurun waktu
sebulan terakhir, 7 pengidap baru berhasil terdeteksi. Mereka diketahui
masih berkeliaran bebas di tempat-tempat berisiko.
"Berdasarkan data terbaru temuan kita di VCT, jumlah pengidap per
bulan April ini bertambah menjadi tujuh pasien," ungkap Utin K SKm,
petugas klinik Voluntary Conseling and Testing (VCT) Tulip RSUD Sanggau di
sela-sela screening test ke berbagai tempat prostitusi di Kota Sanggau,
Senin (27/4) kemarin.
Jayapura ( Berita ) : Penyakit HIV/AIDS masih menjadi ancaman tersendiri
bagi Pemerintah Kota Jayapura yang memiliki catatan kasus tinggi terhadap
penyakit mematikan ini.
Kepada ANTARA, di Jayapura, Papua, Jumat [24/04] , Beno Satya Utama, S.Kom
dari Yayasan Harapan Permata Hati Kita (Yakita), mengatakan, penyakit ini
masih menjadi masalah global yang perlu segera disikapi kemungkinan
penyebarannya setiap saat.
“Tingginya temuan kasus HIV/AIDS di Jayapura menjadi tugas kita
bersama, baik pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait untuk
mencegahnya,” ujarnya saat membuka Pelatihan Kesehatan Reproduksi,
HIV/AIDS, dan Hepatitis C di aula yakita Jl. Batu Putih No. 97 Polimak,
Jayapura.
15. Pendekatan Teaterikal Menekan
HIV/AIDS di Papua
Kompas. Com, 24
April 2009
JAKARTA, KOMPAS.com — World Vision bekerja
sama dengan mitra lokalnya Wahana Visi Indonesia melakukan pelatihan
penulisan naskah, seni peran dan pementasan dan teater untuk pelajar SMA di
Jayapura.
Difasilitasi oleh anggota senior Teater Koma Jakarta Rita Matu Mona, 30
pelajar dari SMA 1 Jayapura mengikuti pelatihan lima hari yang dilangsungkan sejak Senin
lalu di Hotel Mutiara Kotaraja Dalam, Abepura.
16. Idap HIV/AIDS, Penyelundup Heroin
Minta Dideportasi
Termpo Interaktif, 27
April 2009
TEMPO Interaktif, Surabaya: Khawatir menularkan berbagai penyakit, kuasa
hukum Chanraem Suwanson, tersangka penyelundup heroin seberat 2,671
kilogram asal Thailand melalui bandara Juanda beberapa waktu lalu, meminta
polisi segera melakukan deportasi terhadap tersangka.
"Klien kami mengaku terkena HIV/AIDS, bahkan selama ini dia terkena
TBC yang cukup berat," kata Harlim Napitupulu, kuasa hukum Chanraem
Suwanson, ketika di Mapolda Jatim Senin (27/4).
MEDAN(SI)
– Pengusiran yang dilakukan warga Kecamatan Sipoholon,Tapanuli Utara
(Taput),terhadap dua abang beradik Afles H,12 dan BAH,5,yang diduga
menderita HIV dinilai melanggar undang-undang.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut M Zahrin
Piliang mengungkapkan, perlakuan yang dialami kedua bocah itu sungguh tidak
mencerminkan rasa kemanusiaan.Keduanya diusir dari kampung hanya karena
bocah tersebut diduga menderita human immunodeficiency virus/ aquired
immuno deficiency syndrome(HIV/AIDS).
Pedoman perinatal AS diperbarui pada 29 April 2009. Di antara usulan
adalah usulan untuk kelahiran, sebagaimana berikut (hlm. 65):
Penularan dan cara kelahiran
Usulan Panel:
* Kelahiran sesar yang dijadwalkan pada 38 minggu kehamilan diusulkan
untuk perempuan dengan viral load HIV di atas 1.000 mendekati saat
melahirkan (apakah menerima ARV sebagai profilaksis sebelum
melahirkan atau tidak) dan untuk perempuan dengan viral load tidak
diketahui mendekati saat melahirkan.
* Tidak jelas apakah kelahiran sesar setelah pecah ketuban atau mulai
sakit kelahiran memberi manfaat pada pencegahan penularan dari ibu-
ke-bayi. Penanganan perempuan yang dijadwalkan untuk kelahiran sesar
tetapi datang dengan pecah ketuban atau sudah mulai sakit kelahiran
harus dikhususkan berdasarkan lamanya pecah ketuban, kelanjutan
kelahiran, viral load, ART yang dipakai dan faktor klinis lain.
* Data belum cukup untuk menilai potensi manfaat dari kelahiran sesar
untuk pencegahan penularan dari ibu-ke-bayi pada ibu hamil yang
menerima ART dengan viral load di bawah 1.000 mendekati saat
melahirkan. Berdasarkan tingkat penularan yang rendah di kelmpok ini,
tidak ada kemungkinan bahwa kelahrian sesar yang dijadwalkan akan
memberi manfaat tambahan dalam pengurangan penularan. Keputusan harus
dikhususkan berdasarkan diskusi antara dokter kandungan dan ibu.
* Walau belum ada uji coba klinis terkontrol untuk menilai efektivitas
profilaksis antimikroba khusus untuk perempuan terinfeksi HIV yang
melakukan kelahiran sesar dijadwalkan, penggunaan profilaksis
antibiotik pada saat kelahiran sesar umumnya diusulkan.
* Perempuan harus diberi tahu mengenai risiko terkait kelahiran sesar;
risiko pada perempuan harus diimbangkan dengan potensi manfaat
diharapkan untuk bayi.
Pedoman baru ini dapat diunduh dari
<http://aidsinfo.nih.gov/contentfiles/PerinatalGL.pdf>
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Apa dampak influenza A(H1N1) pada Odha?
Oleh: Dr. Joel Gallant, 30 April 2009
Dr. Gallant adalah profesor kedokteran dan epidemiolog di Division of
Infectious Diseases di Johns Hopkins University School of Medicine. Ini
kutipan dari wawancara oleh The Body.
The Body: Coba mulai dengan dasar. Apa itu influenza A(H1N1)?
Dr. Gallant: Influenza A(H1N1) (flu babi) hanya sekadar jenis flu yang
tidak menyebar dalam populasi sebelumnya. Oleh karena itu, tidak
seorang pun kebal terhadapnya. Virus itu adalah virus influenza, sama
seperti virus influenza lain, tetapi sebuah virus yang belum dilihat
oleh manusia sebelumnya, dan oleh karena itu, sistem kekebalan tubuh
kita belum mempunyai ingatan mengenai kuman itu, sehingga kita sedikit
lebih rentan
The Body: Terkait dengan Odha, bagaimana hal ini mempengaruhinya?
Apakah Odha lebih berisiko terhadap penyakit influenza A(H1N1)?
Dr. Gallant: Sebetulnya tidak. Orang terinfeksi HIV umumnya tidak
berisiko lebih tinggi terhadap influenza dibandingkan orang lain. Dan
itu sebagian karena sistem kekebalan selular, bagian sistem kekebalan
yang terdiri dari sel CD4, tidak sebetulnya bertanggung jawab untuk
melawan influenza. Oleh karena itu, HIV tidak membuat kita lebih
rentan. Untuk kebanyakan Odha, influenza A(H1N1) adalah hampir sama
seperti untuk orang tanpa HIV.
Satu-satunya kekecualian adalah karena Odha lebih berisiko terhadap
pneumonia, dan karena flu dapat meningkatkan risiko kita terhadap
pneumonia sebagai komplikasi flu, orang dengan jumlah CD4 yang rendah
mungkin lebih berisiko terhadap komplikasi flu apabila mereka kena flu
dan komplikasi terpenting adalah pneumonia.
Jadi garis bawah adalah bila kita terinfeksi HIV, tetapi belum memakai
terapi antiretroviral (ART) dan masih sehat dan jumlah CD4-nya relatif
baik, maka tidak ada banyak yang harus dikhawatirkan. Tetapi bila
sistem kekebalan tubuh kita cukup rusak - bila jumlah CD4 kita jauh di
bawah 200 - maka ada risiko yang sedikit lebih tinggi, tetapi pasti
tidak dengan tingkat risiko yang serupa dengan penyakit lain misalnya
TB atau serupanya, yang sangat terpengaruh oleh jumlah CD4.
The Body: Tampaknya Odha mempunyai risiko lebih tinggi tidak untuk
terinfeksi influenza A(H1N1) secara khusus, tetapi menderita komplikasi
terkait bila mereka mempunyai jumlah CD4 yang rendah.
Dr. Gallant: Betul. Risiko terinfeksi flu adalah sama.
The Body: Asumsi saya, viral load tidak mempengaruhi.
Dr. Gallant: Kemungkinan hanya sedikit. Sekali lagi, viral load dapat
menambah sedikit pada risiko komplikasi, bila kita mempunyai viral load
yang tinggi. Namun, saya curiga jumlah CD4 sedikit lebih penting.
Tentu di klinik kami, kami coba vaksinasi setiap orang terhadap flu,
tetapi umumnya, bila kita mengamati kebanyakan musim flu, kami tidak
bertemu dengan banyak orang yang menjadi sangat sakit akibat flu. Kami
jarang menemukan alasan untuk rawat inap. Dan sungguh-sungguh kita
tidak mengalami banyak kematian.
Oleh karena itu, saya rasa terkait influenza A(H1N1), hal ini
kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan apa yang kita jauh saat ini
mengenai jenis ini. Namun, sekali lagi, ini adalah epidemi baru, dan
mungkin lambat laun kita akan mendapatkan lebih banyak informasi.
Artikel lengkap: What Does Swine Flu Mean for People With HIV/AIDS?
<http://www.thebody.com/content/treat/art51548.html>
<http://spiritia.or.id/news/bacanews.php?nwno=1379a>
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Pertimbangan tentang influenza A(H1N1) dan infeksi HIV
Oleh: WHO, 1 Mei 2009
Mempertimbangkan dampak mungkin dari infeksi virus influenza A(H1N1)
yang muncul, program dan layanan HIV/AIDS harus sadar mengenai risiko
terkait dan mempunyai rencana untuk pencegahan dan pengobatan.
Belum ada informasi terdokumentasi mengenai interaksi klinis antara HIV
dan virus influenza A(H1N1). Penyebaran, masa inkubasi dan manifestasi
klinis virus influenza itu umumnya serupa dengan virus influenza
musiman. Belum ada informasi yang cukup mengenai komplikasi dan
spektrum penyakit tetapi komplikasi kemungkinan serupa dengan influenza
musiman. Kelompok usia dan kelompok lain dengan risiko lebih tinggi
untuk komplikasi dari influenza A(H1N1) ini sedang ditelitikan.
Kelompok usia dan kelompok lain dengan risiko lebih tinggi untuk
komplikasi dari influenza musiman termasuk orang dengan penyakit
kekurangan kekebalan, termasuk infeksi HIV. Risiko mortalitas dari
influenza musiman lebih tinggi di antara orang terinfeksi HIV
dibandingkan populasi umum. Penelitian menunjukkan risiko lebih tinggi
untuk rawat inap terkait jantung dan paru pada orang terinfeksi HIV
selama musim influenza dibandingkan waktu yang lain, dan risiko lebih
tinggi terhadap kematian terkait influenza pada orang terinfeksi HIV.
Penelitian lain menunjukkan bahwa gejala influenza mungkin dialami
untuk jangka waktu yang lebih panjang dan risiko komplikasi terkait
influenza lebih tinggi untuk orang terinfeksi HIV yang tertentu. Oleh
karena itu, orang terinfeksi HIV harus dianggap sebagai populasi
berisiko tinggi dan prioritas untuk strategi pencegahan dan terapeutik
terhadap influenza termasuk infeksi virus influenza A(H1N1) yang
muncul.
Virus influenza A(H1N1) yang didapat dari Meksiko dan AS adalah rentan
terhadap oseltamivir dan zanamivir tetapi tidak terhadap amantadine dan
ramantadine. Pasien berisiko lebih tinggi terhadap komplikasi influenza
termasuk mereka dengan infeksi HIV harus di antara mereka yang diberi
prioritas untuk pengobatan antiviral termasuk dengan oseltamivir atau
zanamivir, yang memendekkan lamanya dan beratnya penyakit pada
influenza musiman. Untuk influenza musiman, manfaat maksimal diambil
apabila unsur antiviral dimulai dalam 48 jam setelah gejala mulai,
tetapi manfaat termasuk pengurangan mortalitas dan lamanya rawat inap
mungkin tetap dihasilkan dari terapi yang ditunda. Jangka waktu
pengobatan yang baku untuk influenza musiman adalah lima hari, dengan
takaran obat disesuaikan untuk berat badan (lihat Tabel 1 pada versi di
situs web di bawah). Obat antiradang non-steroid (NSAID) dan terapi
simtomatis lain dapat mengurangi ketidaknyamanan, tetapi aspirin harus
dihindari pada anak dan perempuan hamil karena risiko sindrom Reye.
Interaksi obat antara obat antiretroviral (ARV) dengan oseltamivir atau
zanamivir belum pernah dilaporkan sampai saat ini.
Saat ini belum ada vaksin khusus terhadap infeksi influenza A(H1N1)
tetapi usulan umum untuk imunisasi influenza musiman pada orang
terinfeksi HIV harus diikuti. Usulan untuk vaksinasi influenza musiman
pada orang terinfeksi HIV adalah untuk memberi vaksinasi tahunan dengan
vaksin trivalent diinaktivikasi, tidak tergantung pada jumlah CD4,
walau orang dengan penyakit HIV berat mungkin tidak membentuk tanggapan
antibodi yang cukup terhadap vaksin influenza. Penggunaan vaksin hidup
yang dilemahkan harus dihindari. Kontraindikasi terhadap penggunaan
vaksin influenza yang diinaktivikasi pada orang terinfeksi HIV adalah
sama dengan untuk mereka tanpa infeksi HIV.
Bila unsur antiviral tersedia dengan jumlah yang cukup, orang
terinfeksi HIV harus dipertimbangkan untuk profilaksis pascapajanan
dengan oseltamivir atau zanamivir, dengan profilaksis diteruskan selama
sepuluh hari setelah pajanan yang terakhir diketahui pada kasus yang
sakit atau dikonfirmasi. Profilaksis pascapajanan diusulkan untuk orang
terinfeksi HIV yang berhubungan dalam rumah tangga dengan orang dengan
influenza A(H1N1).
Walau tidak ada cukup data untuk meramalkan dampak pandemi influenza
manusia yang mungkin pada populasi terinfeksi HIV, interaksi antara
HIV/AIDS dan influenza A(H1N1) dapat bermakna. Rencana persiapan negara
untuk influenza harus membahas kebutuhan orang terinfeksi HIV, dan
rencana HIV/AIDS negara, terutama di negara dengan prevalensi HIV yang
tinggi, harus mempertimbangkan tindakan kesehatan masyarakat yang
dibutuhkan untuk influenza pandemi.
Artikel asli: Considerations on influenza A(H1N1) and HIV infection
<http://www.who.int/hiv/mediacentre/influenza_hiv.pdf>
Lihat artikel lengkap dengan tabel 1 di
<http://spiritia.or.id/news/bacanews.php?nwno=1377a>
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Penuntun sementara - flu babi pada orang dewasa dan remaja terinfeksi
HIV
Pertimbangan untuk dokter mengenai virus influenza A (H1N1) asal babi
Oleh: CDC AS, 30 April 2009
Latar belakang
Infeksi manusia dengan virus influenza A (H1N1) asal babi yang menular
di antara manusia pertama diketahui di April 2009 dengan kasus di AS
dan Meksiko. Epidemiologi dan gejala klinis infeksi ini saat ini sedang
diteliti. Belum tersedia data yang cukup saat ini untuk memastikan
siapa yang berisiko lebih tinggi terhadap komplikasi infeksi virus
influenza A (H1N1) asal babi. Namun orang dewasa dan remaja dengan
infeksi HIV, terutama mereka dengan jumlah CD4 yang rendah, diketahui
berisiko lebih tinggi untuk infeksi virus dan bakteri pada saluran
napas bawah dan untuk pneumonia berulang.
Bukti bahwa influenza dapat lebih berat untuk orang dewasa dan remaja
terinfeksi HIV berasal dari penelitian di antara orang terinfeksi HIV
yang mengalami influenza musiman; data ini terbatas. Namun beberapa
penelitian melaporkan angka rawat inap yang lebih tinggi, penyakit
jangka panjang dan angka mortalitas yang lebih tinggi, terutama pada
orang AIDS. Oleh karena itu, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang
lemah, termasuk orang dewasa dan remaja terinfeksi HIV, dan terutama
orang dengan jumlah CD4 yang rendah atau AIDS, dapat mengalami
komplikasi yang lebih berat dari influenza musiman, dan mungkin orang
dewasa dan remaja terinfeksi HIV juga berisiko lebih tinggi terhadap
komplikasi influenza asal babi.
Gejala klinis
Orang dewasa dan remaja terinfeksi HIV dengan influenza asal babi
diperkirakan akan ditemukan dengan penyakit pernapasan akut yang biasa
(misalnya, batuk, sakit tenggorokan, rinore) dan demam atau cenderung
demam, sakit kepala, dan pegal. Untuk beberapa orang terinfeksi HIV,
terutama dengan jumlah CD4 yang rendah, penyakit mungkin berlanjut
cepat, dan mungkin dirumitkan dengan infeksi bakteri sekunder termasuk
pneumonia. Orang terinfeksi HIV terduga terinfeksi virus influenza A
(H1N1) asal babi harus dites (lihat penuntun untuk pengambilan contoh),
dan contoh dari orang terinfeksi HIV dengan infeksi virus influenza A
dengan subtipe yang tidak dapat ditentukan harus dikirim ke
laboratorium yang mampu mengidentifikasi influenza A (H1N1) asal babi.
Orang terinfeksi HIV harus tetap waspada untuk tanda dan gejala
influenza, sebagaimana diuraikan di atas. Orang terinfeksi HIV yang
merasa ragu apakah mungkin mengalami tanda atau gejala infeksi
influenza, atau merasa mungkin terpajan pada kasus infeksi influenza
yang dikonfirmasi, mungkin atau terduga, apakah influenza musiman atau
influenza A (H1N1) asal babi, harus periksa ke dokternya untuk menilai
kebutuhan akan evaluasi dan mungkin untuk pengobatan atau profilaksis
influenza.
Pengobatan dan kemoprofilaksis
Virus influenza A (H1N1) asal babi yang menyebar sekarang rentan
terhadap obat antiviral neuraminidase inhibitor, yaitu zanamivir dan
oseltamivir, tetapi resistan terhadap obat antiviral adamantane, yaitu
amantadine dan rimantadine. Orang dewasa dan remaja terinfeksi HIV yang
memenuhi definisi kasus sekarang untuk infeksi influenza A (H1N1) asal
babi yang dikonfirmasi, mungkin atau terduga, (lihat penuntun untuk
definisi kasus) harus menerima pengobatan antiviral empiris. Orang
dewasa dan remaja terinfeksi HIV yang berhubungan dekat dengan kasus
influenza A (H1N1) asal babi yang terkonfirmasi atau terduga harus
menerima kemoprofilaksis antiviral. Kemoprofilaksis antiviral dengan
oseltamivir atau zanamivir dapat dipertimbangkan untuk orang terinfeksi
HIV yang berhubungan dekat dalam rumah tangga dengan kasus terduga.
Usulan ini untuk pengobatan dan kemoprofilaksis adalah sama dengan yang
diusulkan untuk orang lain yang berisiko lebih tinggi terhadap
komplikasi influenza. Seperti yang diusulkan untuk orang lain yang
diobati, pengobatan antiviral dengan zanamivir atau oseltamivir harus
dimulai secepat mungkin setelah gejala influenza pertama dialami,
dengan manfaat terbesar diharapkan bila dimulai dalam 48 jam setelah
permulaan berdasarkan data dari penelitian terhadap influenza musiman.
Namun beberapa data dengan penelitian terhadap influenza musiman
menunjukkan manfaat untuk pasien yang dirawat inap walau pengobatan
dimulai lebih dari 48 jam setelah permulaan. Jangka waktu pengobatan
yang diusulkan adalah lima hari. Jangka waktu kemoprofilaksis yang
diusulkan adalah sepuluh hari setelah pajanan terakhir. Rejimen
pengobatan dan kemoprofilaksis zanamivir atau oseltamivir yang
diusulkan untuk orang terinfeksi HIV adalah sama dengan yang diusulkan
untuk orang dewasa dengan influenza musiman. Dokter harus memantau
pasien yang diobati secara seksama dan mempertimbangkan kebutuhan akan
memperpanjang pengobatan berdasarkan perjalanan penyakit. Usulan untuk
penggunaan antiviral influenza untuk orang dewasa dan remaja terinfeksi
HIV mungkin berubah sebagaimana data tambahan mengenai manfaat dan
risiko terapi antiviral pada orang ini menjadi tersedia.
Belum ada laporan mengenai efek buruk antara orang dewasa dan remaja
terinfeksi HIV yang menerima oseltamivir atau zanamivir. Tidak
diketahui kontraindikasi mutlak untuk penggunaan oseltamivir atau
zanamivir bersamaan dengan obat antiretroviral yang saat ini tersedia.
Cara lain untuk mengurangi risiko untuk orang dewasa dan remaja
terinfeksi HIV
Belum tersedia vaksin untuk mencegah influenza A (H1N1) asal babi.
Risiko untuk influenza A (H1N1) asal babi mungkin dikurangi dengan
mengambil langkah untuk membatasi pajanan mungkin pada orang dengan
infeksi pernapasan. Tindakan ini termasuk sering cuci tangan, menutupi
batuk, dan mendorong orang yang sakit agar tidak meninggalkan rumah,
kecuali untuk mencari perawatan medis, dan meminimalkan hubungan dengan
orang lain dalam rumah tangga yang mungkin sakit dengan virus influenza
asal babi. Tindakan tambahan yang dapat membatasi penularan jenis
influenza yang baru ini termasuk karantina sukarela di rumah pada
anggota rumah tangga dengan kasus influenza asal babi yang dikonfirmasi
atau terduga, mengurangi hubungan sosial yang tidak dibutuhkan, dan
menghindari tempat padat manusia bila mungkin. Bila dipakai secara
benar, masker dan respirator mungkin membantu mengurangi risiko
tertular influenza, tetapi alat ini harus dipakai bersamaan dengan
tindakan pencegahan lain, termasuk menghindari hubungan dekat dan
menetapkan higiene tangan yang baik. Sebuah respirator yang disusun
secara rapi pada muka dapat menyaring partikel kecil yang dapat dihirup
lewat pinggir masker, tetapi dibandingkan dengan masker, lebih sulit
bernapas dengan memakai respirator untuk jangka waktu yang lama.
Penuntun sementara mengenai sarana untuk mengurangi risiko penularan
dengan virus influenza asal babi tersedia. Penuntun ini akan diperbarui
sebagaimana informasi baru tersedia, termasuk informasi mengenai risiko
komplikasi terkait influenza asal babi di antara orang dewasa dan
remaja terinfeksi HIV.
Pasien harus diingatkan mengenai pentingnya menjaga kesehatannya
sebagai cara untuk mengurangi risiko infeksinya dengan influenza, dan
memperbaiki kemampuan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi bila
terjadi. Khususnya, pasien yang saat ini memakai obat antiretroviral
atau profilaksis antimikroba terhadap infeksi oportunistik harus
diingatkan mengenai pentingnya kepatuhan terhadap terapinya.
Artikel asli: Interim Guidance-HIV-Infected Adults and Adolescents:
Considerations for Clinicians Regarding Swine-Origin Influenza A (H1N1)
Virus
<http://spiritia.or.id/news/bacanews.php?nwno=1376a>
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Apa yang baru pada situs web Spiritia <http://spiritia.or.id>?
Dimuat tiga artikel HATIP pada situs web Spiritia selama April 2009:
* HATIP 133-1: Neuropati perifer pada Odha di rangkaian terbatas sumber
daya dan HATIP 133-2: Neuropati perifer: diagnosis dan pengobatan.
Klik <http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=0331> dan
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=0332>
* HATIP 134: Terapi lini kedua. Klik
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=0134>
Dalam upaya untuk meningkatkan informasi mengenai infeksi virus herpes
simpleks, kami sudah muat artikel ketiga mengenai topik ini, yaitu
Pengobatan untuk herpes. Klik
<http://spiritia.or.id/cst/bacacst.php?artno=1100>
Ada laporan baru dari Depkes: Laporan Situasi Pengobatan ARV di
Indonesia pada Maret 2009 dari Depkes. Klik Situasi Pengobatan ARV di
Indonesia. Klik <http://spiritia.or.id/Stats/Statistik.php>
Yayasan Spiritia telah menerbitkan satu lembaran informasi baru untuk
Odha, sbb:
* Referensi
Lembaran Informasi 912--Daftar Interaksi Obat ARV
Dengan ini, jumlah lembaran informasi Spiritia ditambah menjadi 138.
Yayasan Spiritia telah menerbitkan 16 lembaran informasi yang direvisi:
* Informasi Dasar
Lembaran Informasi 001--Daftar Lembaran Informasi
* Terapi Antiretroviral
Lembaran Informasi 432--Efavirenz
Lembaran Informasi 448--Fosamprenavir
* Infeksi Oportunistik
Lembaran Informasi 504--Demensia & Masalah Saraf
Lembaran Informasi 505--Hepatitis
Lembaran Informasi 508--Sarkoma Kaposi (KS)
Lembaran Informasi 510--MAC (Mycobacterium Avium Complex)
Lembaran Informasi 512--PCP (Pneumonia Pneumocystis)
Lembaran Informasi 520--Penisiliosis
Lembaran Informasi 521--Limfadenopati
Lembaran Informasi 522--Histoplasmosis
* Obat untuk Infeksi Oportunistik
Lembaran Informasi 533--Dapson
* Efek Samping
Lembaran Informasi 556--Toksisitas Mitokondria
* Topik Khusus
Lembaran Informasi 600--Gizi
* Referensi
Lembaran Informasi 910--Daftar Interaksi Obat NNRTI/PI
Lembaran Informasi 911--Daftar Interaksi Obat NRTI
Klik <http://spiritia.or.id/li/libaru.php>
Di Forum Spiritia, dimulai 14 topik baru (13 pada Maret), 305 (307)
posting baru, dan ditambah 18 (23) anggota pada April, sehingga jumlah
anggota menjadi 314. Untuk mendaftarkan diri, klik
<http://spiritia.or.id/smf/>.
52 artikel berita dimuat pada April. Dan 67 pertanyaan yang diajukan
secara anonim (tanpa nama) dijawab.
Pada April 2009, situs web Spiritia dikunjungi oleh 47.204 pengunjung
(dibandingkan 43.085 pada Maret) dari 74 negara (79), 88% dari
Indonesia, yang membuka 107.301 halaman (102.812). Hari yang terbanyak
adalah 7 April, dengan 4.037 (4.133) halaman dibuka oleh 1.764 (1.918)
pengunjung. Pengunjung terbanyak mengunjungi pada 22 April, dengan
1.034 pengunjung. Artikel 'Hidup dengan HIV' (dasar untuk mereka yang
baru tahu dirinya terinfeksi) dibuka 3.535 kali (1.516), rata-rata 117
kali per hari.
Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Flu babi dan Anda
Oleh: Tim Horn, aidsmeds.com, 27 April 2009
Banyak Odha mengkhawatirkan ancaman epidemi flu babi terhadap keamanan
dan kesehatan mereka. Singkat kata: walau ada alasan untuk berwaspada,
tidak ada alasan untuk panik.
Apa itu flu babi?
Flu babi adalah penyakit pernapasan yang umum pada babi. Walau pada
umumnya orang tidak rentan terhadap flu babi, penularan dari hewan ke
manusia telah dilaporkan, khususnya di antara para peternak babi. Yang
unik tentang jenis virus yang saat ini sedang diawasi - virus flu babi
jenis A/H1N1 - adalah kemampuannya untuk menyebar dari orang ke orang.
Alasan yang mungkin untuk itu adalah kenyataan bahwa babi dapat
terinfeksi tidak hanya oleh flu babi, tetapi juga dengan jenis virus
flu yang dapat mempengaruhi manusia dan burung. Unsur genetika dari
berbagai jenis virus influenza itu kemudian dapat menyatu. Sebagai
contoh, flu babi jenis A/H1N1 mengandung gen dari dua jenis virus flu
babi, satu jenis flu burung dan satu jenis flu pada manusia.
Apakah flu babi sungguh mematikan?
Seluruh jenis flu yang menyebabkan penyakit pada manusia dapat
mematikan - kurang lebih 200.000 orang dirawat inap dan 36.000
meninggal akibat komplikasi terkait flu setiap tahun di AS.
Tidak ada alasan untuk berpendapat bahwa flu babi yang dilaporkan lebih
mematikan dibandingkan jenis flu musiman yang biasa. Di antara 40 kasus
yang dikonfirmasi sebagai flu babi pada manusia di AS sampai dengan 27
April, belum ada yang mengakibatkan kematian. Justru, menurut Centers
for Disease Control and Prevention (CDC-AS), seluruh kasus yang
dilaporkan di AS sampai saat ini terkait dengan gejala penyakit ringan,
dengan hanya satu pasien yang harus dirawat sebentar di rumah sakit.
Flu babi memiliki riwayat yang berbeda-beda di AS. Antara 2005 hingga
Januari 2009, 12 kasus flu babi pada manusia terdeteksi di AS dan tidak
mengakibatkan kematian. Namun, jangkitan flu babi di Fort Dix, New
Jersey, AS yang muncul pada 1976, menyebabkan lebih dari 200 kasus
penyakit berat pada beberapa orang dan satu meninggal.
Pada jangkitan di AS saat ini belum ada yang meninggal, lalu mengapa
sekarang flu babi menjadi kedaruratan kesehatan masyarakat di AS?
Yang menjadi keprihatinan pakar kesehatan masyarakat adalah kenyataan
bahwa penyakit itu disebabkan oleh virus influenza hewan yang biasanya
tidak menulari manusia, dan kenyataan bahwa virus itu telah ditemukan
di sejumlah komunitas di Amerika Utara. Selain itu, banyak di antara
orang yang meninggal akibat penyakit sejenis flu di Meksiko tampaknya
adalah orang dewasa yang sehat; sebaliknya flu musiman yang paling
berat kemungkinan terjadi pada orang yang sangat muda dan sangat tua
serta orang dengan masalah kesehatan kronis lain.
Menurut WHO, sampai dengan 27 April, flu babi digolongkan sebagai "Fase
3" dalam hal rencana kesiapan WHO menghadapi influenza. Hal itu berarti
bahwa virus hewan atau turunan virus hewan-manusia telah menyebabkan
kasus secara sporadis atau kelompok kecil penyakit pada manusia, tetapi
tidak mengakibatkan penularan antarmanusia yang cukup untuk
mempertahankan jangkitan di tingkat masyarakat. Dengan kata lain,
sejauh ini penularan itu dalam keadaan yang sangat terbatas, yaitu
virus belum mencapai tingkat kemampuan menular antarmanusia yang cukup
untuk menimbulkan pandemi (penyebaran epidemi secara geografis).
Catatan: WHO meningkatkan status pandemi flu babi dari Fase 3 menjadi
Fase 4 (penularan antarmanusia yang bertahan) pada 27 April dan menjadi
Fase 5 (infeksi pada manusia yang menyebar luas) pada 29 April.
Walau kenyataannya tidak ada orang yang meninggal akibat flu babi di
AS, flu babi telah dinyatakan sebagai kedaruratan kesehatan masyarakat.
Namun, menurut Janet Napolitano, Sekretaris Department of Homeland
Security, masalah ini "terdengar lebih gawat daripada kenyataan" dan
semata-mata ditujukan untuk pengeluaran dana upaya kesehatan masyarakat
- misalnya kampanye pendidikan dan pembahasan dengan penyedia layanan
kesehatan - dan untuk penyebaran pengobatan secara lebih luas untuk
mencegah dan mengobati infeksi.
Apakah flu babi merupakan ancaman bagi Odha?
Odha, dan juga orang dengan penyakit kronis, misalnya penyakit jantung,
asma dan diabetes, diyakini menghadapi risiko yang lebih tinggi
terhadap gejala terkait influenza. Menurut CDC, sering kali terjadi
kematian di antara sejumlah pasien Odha yang sedang dirawat inap
terkait penyakit jantung dan paru di masa influenza selama musim dingin
dibandingkan musim lainnya sepanjang tahun. Penelitian juga menunjukkan
bahwa gejala influenza mungkin memanjang dan risiko komplikasi terkait
influenza -termasuk kematian - lebih tinggi pada Odha tertentu.
Tidak jelas apakah jenis virus flu babi ini lebih atau kurang berisiko
pada Odha. Satu teori: dengan kenyataan bahwa, paling tidak di Meksiko,
flu babi meniru pandemi influenza yang terjadi pada 1918 - tampak
paling berat pada orang yang berusia antara 18 dan 35 tahun; orang yang
sistem kekebalannya sehat yang menjadi hiperaktif saat menanggapi virus
dan menyebabkan peradangan serta penyakit pernapasan berat - dan
mungkin tidak terlalu mengancam orang yang sistem kekebalannya rusak,
contohnya Odha. Sayang sekali, tidak jelas apakah teori itu berlaku,
karena banyak Odha sekarang sehat dengan ART, ditambah dengan
kemungkinan tanggapan kekebalan yang hiperaktif terhadap HIV, bukan
hanya virus flu babi saja, bertanggung jawab terhadap pengembangan
penyakit HIV dan meningkatkan risiko masalah kesehatan yang tidak
terkait AIDS.
Untuk membantu mencegah flu musiman, vaksinasi setahun sekali
dianjurkan pada Odha di AS untuk mengurangi risiko infeksi dan penyakit
berat apabila terjadi infeksi. Sayang sekali, vaksin flu babi jenis
A/H1N1 belum dikembangkan. Namun, Odha dapat mengambil langkah untuk
mencegah infeksi.
Bagaimana saya dapat melindungi diri saya?
CDC dan pakar kesehatan masyarakat lain menyediakan daftar cara
sederhana untuk mencegah penyebaran flu babi A/H1N1, termasuk:
* Tutup hidung dan mulut dengan tisu saat berbatuk atau bersin.
Setelah dipakai, buang tisu ke tempat sampah.
* Sering mencuci tangan dengan sabun dan air, khususnya setelah batuk
atau bersin. Pencuci tangan berbahan dasar alkohol juga efektif.
* Hindari menyentuh mata, hidung atau mulut. Kuman menyebar dengan cara
itu.
* Usahakan tidak berhubungan dengan orang sakit.
* Sangat sedikit yang diketahui tentang manfaat memakai masker untuk
membantu mengendalikan penyebaran flu. Kapan pun dimungkinkan,
daripada mengandalkan masker, usahakan tidak berdekatan atau
menghindar dari kerumunan atau tempat yang padat manusia - khususnya
apabila flu babi telah dinyatakan sebagai status pandemi.
* Tidak ada bukti yang menunjukkan bahwa flu babi dapat ditularkan
melalui makanan. Makan daging babi yang ditangani sebagaimana
mestinya dan dimasak hingga suhu 70 derajat - aman.
* Apabila Anda mengalami gejala serupa influenza, segera hubungi
dokter Anda dan istirahat di rumah, jangan ke kantor atau sekolah.
Dimungkinkan untuk mengembangkan vaksin secara cepat - apabila
diperlukan. "Kami telah mengenal virusnya," Richard Besser, MD, wakil
direktur CDC mengatakan dalam jumpa pers di Gedung Putih. "Seandainya
kita memutuskan untuk memproduksi vaksin, kita dapat melakukannya
dengan sangat cepat." Walaupun kemungkinan membutuhkan paling sedikit
empat bulan untuk mengembangkan dan memproduksi vaksin H1N1 dalam
jumlah besar, vaksin itu mungkin akan tersedia di saat terjadinya
gelombang flu babi yang kedua di musim dingin yang akan datang.
Bagaimana dengan pengobatan flu babi?
Kabar baik. Tes awal memberi kesan bahwa flu babi A/H1N1 peka terhadap
dua jenis obat antivirus yang tersedia secara luas: zanamivir dan
oseltamivir. Obat flu amantadine dan rimantadine tidak efektif untuk
melawan jenis virus influenza tersebut.
Obat itu bekerja seperti antiretroviral melawan HIV - mencegah virus
influenza berkembang biak di dalam tubuh. Apabila seseorang menjadi
sakit karena influenza, termasuk flu babi, zanamivir atau oseltamivir
dapat meminimalisasi gejala dan mempercepat pemulihan. Mereka juga
dapat mencegah komplikasi flu berat. Untuk pengobatan, obat itu bekerja
terbaik apabila dimulai segera setelah sakit - dalam dua hari setelah
gejala - maka segera hubungi dokter Anda apabila mengalami gejala
terkait flu.
Menurut CDC, orang yang berisiko tinggi terhadap komplikasi terkait
influenza - termasuk Odha - dapat memakai zanamivir atau oseltamivir
apabila mereka mungkin terpajan pada orang lain yang sakit influenza.
Sebagai contoh, apabila ada anggota keluarga yang didiagnosis
influenza, Odha yang terpajan harus memakai salah satu obat itu selama
tujuh hari. Resep zanamivir atau oseltamivir mungkin juga gagasan yang
baik untuk Odha yang dirawat inap karena mengalami jangkitan influenza.
Catatan: bila ada informasi baru mengenai flu babi terkait Odha, kami
akan coba menyediakannya secepat mungkin.
Artikel asli: Swine Flu and You
<http://spiritia.or.id/news/bacanews.php?nwno=1373a>
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Kumpulan Berita Media Massa HIV-AIDS dan Narkoba
Dari Tanggal: 20 April 2009 Sampai Tanggal: 27 April 2009
1. Putus Sekolah demi Merawat
Adik yang Mengidap HIV/AIDS
Batam Pos, 24
April 2009
Kalau
Sembuh Aku Ingin Belajar Bersama-sama
Demi merawat adik bungsu yang menderita HIV/AIDS, Afes Hutauruk terpaksa
meninggalkan bangku kelas 5 sekolah dasar. Kini bocah yang sudah kehilangan
ibu akibat penyakit yang mematikan itu menjadi perawat sekaligus wakil
â€kepala keluarga†setelah terusir dari kampung halamannya.
ADELINA, Medan
PAKAI kemeja bergaris-garis lengan pendek dengan ukuran yang lebih besar
daripada tubuhnya, Aples Decuari Hutauruk kemarin seperti sudah hafal
dengan bahasa tubuh adiknya. Ucok--bukan nama sebenarnya, sang adik yang
terbaring lemah di ranjang besi untuk balita yang catnya sudah banyak
mengelupas itu, seperti memberikan isyarat meminta makan.
Afes, 10.--panggilan akrab Aples Hutauruk-- tampak gelisah. Jam dinding di
ruang anak kelas 3 itu sudah menunjukkan pukul 14.00. Kepada suster penjaga
ruang itu, Afes menanyakan ransum bubur untuk adiknya. â€Kak, bubur
untuk adik saya mana? Belum dikasih, ya?†tanya Afes kepada wanita
berambut panjang itu.
2. Menjauhi ODHA, berarti kurang
paham tentang HIV/AIDS
Waspada Online, 24
April 2009
MEDAN -
Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai HIV/AIDS (Human Immunedeficiency
Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) dapat menyebabkan masyarakat
tersebut menjauhi ODHA (Orang Dengan HIV AIDS). Masyarakat yang rendah
pengetahuannya selalu beranggapan bahwa penderita HIV/AIDS adalah seseorang
yang berperilaku buruk, cenderung melakukan seks bebas.
"Banyak yang mengira virus HIV/AIDS itu menular kalau kita berbicara
dengan penderita, makan dan minum dengan satu gelas dan piring yang sama,
berenang sama, memakai handuk atau barang yang sama. Itulah sebabnya banyak
masyarakat menjauhi ODHA. Ketika mereka mendengar kata HIV/AIDS,
seakan-akan seperti momok yang menakutkan dan harus dijauhi
penderitanya."
3. 46 orang terinfeksi HIV/AIDS
menjalani perawatan di Adam Malik
Waspada Online, 23
April 2009
PRAWIRA
SETIABUDI
MEDAN - RSUP H
Adam Malik selama bulan April ini merawat pasien HIV/AIDS sebanyak 46
orang, dimana 3 diantaranya meninggal dunia. Menurut koordinator klinik
VCT-Pusyansus RSUP HAM, Rahmad Nur Kurniawan, S.Psi, kepada Waspada Online,
siang ini, korban HIV yang meninggal 1 diantaranya dari Medan dan 2 lainya
dari Deli Serdang.
Rahmad menambahkan, RSUP H Adam Malik untuk bulan April ini telah
dikunjungi lebih dari 150 pasien yang diduga HIV/AIDS dan 46 diantara
positif menghidap HIV/AIDS.
4. Medan Plus Advokasi bocah pengidap AIDS
asal Taput
Waspada Online, 24 April 2009
DAVID
SWAYANA
MEDAN - Kelompok dampingan Medan Plus telah melakukan advokasi terhadap
bocah pengidap Human Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiency
Syndrome (HIV/AIDS) asal Tapanuli Utara (Taput) yang kini dirawat di RSU
Dr. Pirngadi.
"Jika kondisi bocah tersebut sudah pulih dari penyakit infeksi, maka
kita akan menyiapkan fasilitas tempat tinggal beserta kebutuhan hidup
sehari-hari, termasuk pendidikannya," kata Koordinator Medan Plus
Totonta Kaban kepada Waspada di Medan, tadi malam.
MEDAN - Staf
Divisi Anak Pusaka Indonesia Samara Yudha mengungkapkan kekhawatirannya
terhadap bocah pengidap AIDS yang mengalami diskriminasi hingga terusir
dari kampung halamannya.
"Jika hal itu benar-benar terjadi seperti yang dilansir beberapa media
cetak, tindakan warga yang mengusir bocah tersebut sangat tidak manusiawi,
karena anak tersebut juga mempunyai hak untuk hidup, dan tumbuh
kembang," ujar Samara.
6. Pengguna Napza Suntik Berisiko
Tinggi Tularkan HIV
Kompas Online, 23
April 2009
BANDUNG, KOMPAS.com - Respon terhadap "Human Immunodeficiency Virus
(HIV)" dan "Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS)" di
wilayah Provinsi Jawa Barat terus digalakan terutama untuk kelompok
masyarakat yang berisiko tinggi seperti pengguna napza suntik dan kelompok
yang aktif secara seksual.
Tri Irwanda Maulana, Media Relations Officer Komisi Penanggulangan AIDS
(KPA) Jabar saat ditemui di kantornya Jalan Diponegoro Bandung, Kamis
mengatakan pihaknya menempatkan epidemi HIV/AIDS sebagai masalah kesehatan
dengan sasaran utama pengguna napza suntik melalui program pengurangan
dampak buruk "harm reduction".
TEMPO Interaktif, Medan:
Dinas Kesehatan Sumatera Utara mendeteksi 90 orang telah mengidap virus
HIV. Mayoritas pengidap berusia rentan, 20- 40 tahun.
Kepala Seksi Pencegahan Penyakit Menular Langsung, Sukarni mengatakan,
kasus HIV di Sumatera Utara sejak awal hingga April 2009, sudah mencatat 90
pengidap. "Mereka ini kategori usia rentan," ujar Sukarni kepada
Tempo, di Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan,
Kamis (23/4) siang. Dikatakannya, penularan tersebut akibat perilaku seks
yang dilakukan pengidap.
Dari jumlah tersebut, Sukarni tidak bisa memastikan berapa jumlah perempuan
atau laki-laki. "Datanya ada di kantor," imbuhnya. Sedangkan
pengidap HIV dengan kategori umur anak-anak, tutur Sukarni, baru dua kasus
yang ditemukan. "Pertama itu masih dalam kandungan ibunya. Dan ini
(BAH anak asal Tarutung) kasus kedua," sebut Sukarni.
TULUNGAGUNG— Hampir setiap bulan se�kali
satu penderita human immunodeficiency virus/acquired
immune deficiency syndrome (HIV/AIDS) di Tulungagung me��ninggal
dunia. Paling tidak itu terjadi pada triwulan pertama tahun
ini. Sejak Janu�ari hingga April, tiga
penderita yang kekeba�lan
tubuhnya digerogoti virus HIV itu mati sia-sia.
Hal ini diungkapkan Pengelola program HIV/AIDS Dinas Kesehatan (Dinkes)
Tulungagung, Desi Lusiana Wardhani, kemarin.
Menurutnya, kini tercatat 12 perempuan dan 11 pria mengidap virus mematikan
tersebut. “Ini data yang kami miliki dari poliklinik RSUD dr Iskak Tu�lungagung
yang spesifik menangani masalah HIV/AIDS,†ujarnya.
Metro Siang
/ Sosial Budaya / Jum'at, 24 April 2009 12:47 WIB
Metrotvnews.com, Tapanuli Utara: Derita penderita HIV/AIDS tak
tertanggungkan. Bukan hanya deraan penyakit, tapi lingkungan seringkali
mencemooh, bahkan tidak bisa menerima. Inilah yang dialami kakak-beradik Ru
dan Pales. Warga Desa Hutahuruk Habinsaran Sipoholon, Tapanuli Utara,
Sumatra Utara, itu diusir oleh warga desa.
Sepeninggal Ru dan Pales, rumah yang mereka tinggali sangat tak terawat. Ru
dan kakaknya yang yatim piatu menyimpan kenangan buruk di rumah yang pernah
mereka tinggali. Setelah diduga terifeksi HIV/AIDS Ru kemudian diusir dari
kampung ini. Warga sekitar seperti dikatakan Kepala Desa Ramli Hutahuruk,
mereka tak mau Ru disini karena kuatir virus yang ia derita bisa menularkan
pada anak-anak mereka.
CIAMIS (SI) – Anggota DPR RI Agun Gunandjar Sudarsa mengancam akan
memotong dana alokasi umum (DAU) sekaligus dana alokasi khusus (DAK)
Kabupaten Ciamis karena tak satu pun pejabat hadir pada seminar â€Save
Your Live 4 HIV/AIDS†di Lapangan Teater Terbuka Universitas Galuh
(Unigal), Ciamis,siang kemarin.
â€Saya melihat ada beberapa pejabat termasuk dari kepolisian yang
sudah datang,tiba-tiba malah pulang lagi. Saya tersinggung dengan perlakuan
pejabat di lingkungan Ciamis. Untuk kepolisian akan saya laporkan langsung
ke kapolri. Begitu juga pejabat Ciamis akan saya layangkan teguran
langsung, kalau perlu saya upayakan agar DAU dan DAK Ciamis saya potong
dari pusat dan dipindahkan untuk kota/kabupaten lain,†kata Agun
kesal.
11. Terpaksa Berhenti Sekolah dan
Diusir dari Kampung
Koran SINDO, 23
April 2009
â€Alasan orang kampung mengusir kami karena takut kalau penyakit
adikku menyebar.Sebenarnya aku agak dendam sama orang-orang yang
mengusir,tapi kami sabar saja.â€
KATA-KATA ini diucapkan Afles H, 12, mengenang perlakuan yang dialami
bersama adiknya BH,5.Mereka diusir karena si adik menderita acquired immune
deficiency syndrome (AIDS) atau kehilangan kekebalan tubuh karena serangan
human immunodeficiency virus(HIV).
Pengusiran terjadi di salah satu desa di Tapanuli Utara pada Minggu (12/4)
lalu. Saat itu, kesehatan BH terus memburuk. Kondisinya semakin parah
setelah ibu mereka RS, 40, meninggal pada Februari lalu. Sejak itu tubuh
bocah itu menyusut. Sejak ibu mereka meninggal dunia, dua adik perempuan
Afles, yakni Iin SH, 11 dan Ruth TPH, 9, sudah lebih dulu dibawa bibi
mereka ke Medan. â€Sejak ibu meninggal,aku dan adik pindah ke Medan
dan tinggal bersama bibi. Sementara abang dan adik tetap tinggal di sana
(Tarutung), tinggal sama nenek,â€tutur Iin.
Triwik
Kurniasari , THE JAKARTA POST , JAKARTA | Thu, 04/23/2009 2:08 PM | City
The city administration secured a grant of up to US$2.2 million from the
Global Funds to fight AIDS, TB, Malaria (GFATM) to help combat the diseases
and virus in the capital.
Governor Fauzi Bowo signed an agreement on the grant with secretary of the
National AIDS Prevention Commission (KPAN) Nafsiah Mboi, on Tuesday.
Nafsiah said the grant was an additional fund intended to speed up the
already-existing program combating AIDS, TB and malaria, funded by the city
and national budget.
ADELINA,
Medan Kalau
Sembuh Aku Ingin Belajar Bersama-sama
Demi merawat adik bungsu yang menderita HIV/AIDS, Afes Hutauruk terpaksa
meninggalkan bangku kelas 5 sekolah dasar. Kini bocah yang sudah kehilangan
ibu akibat penyakit yang mematikan itu menjadi perawat sekaligus wakil
''kepala keluarga'' setelah terusir dari kampung halamannya.
------------------------
PAKAI kemeja bergaris-garis lengan pendek dengan ukuran yang lebih besar
daripada tubuhnya, Aples Decuari Hutauruk kemarin seperti sudah hafal
dengan bahasa tubuh adiknya. Ucok -bukan nama sebenarnya-, sang adik yang
terbaring lemah di ranjang besi untuk balita yang catnya sudah banyak
mengelupas itu, seperti memberikan isyarat meminta makan.
Afes, 10 -panggilan akrab Aples Hutauruk- tampak gelisah. Jam dinding di
ruang anak kelas 3 itu sudah menunjukkan pukul 14.00. Kepada suster penjaga
ruang itu, Afes menanyakan ransum bubur untuk adiknya. ''Kak, bubur untuk
adik saya mana? Belum dikasih, ya?'' tanya Afes kepada wanita berambut
panjang itu.
JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berencana menerapkan sistem baru dalam
pengelolaan obat antiretroviral (ARV) untuk mendukung pengobatan infeksi
virus dan sindroma merapuhnya kekebalan tubuh (HIV/AIDS).
"Mulai 1 Juli nanti kita akan pakai sistem ’Voluntary Pooled
Procurement’ atau VPP dimana ARV dibeli secara global, harganya jadi
lebih murah sehingga kita bisa membeli lebih banyak. Dan ada model
distribusi dan penyimpanannya yang lebih baik," kata Sekretaris Komisi
Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Nafsiah Mboi dalam simposium mengenai
kesinambungan Antiretroviral Therapy (ART) di Jakarta.
Luh De
Suriyani , The Jakarta Post , Denpasar | Wed, 04/22/2009 2:16 PM | The
Archipelago While many Indonesian women donned their finest kebaya
(traditional dress) to celebrate Kartini Day on Tuesday, Jero Suma wore her
usual sleeveless shirt, short pants and cheap plastic shoes.
Don't ask her the original colors of her outfit. Years of hard work
transporting garbage and household waste have turned the color of her clothes
into various shades of battered grey.
Suma does not care about the color of the working uniform. She does not
mind the exhausting work of lifting heavy iron garbage cart daily. Nor does
the stench of garbage, physical testament to her long working days in
Kaliungu, East Denpasar, bother her.
16. Jakarta to receive grant to
combat AIDS, TB, malaria
the Jakarta Post Online,
April 23, 2009
Triwik
Kurniasari , The Jakarta Post , Jakarta | Wed, 04/22/2009 9:13 PM |
National The Global Fund for AIDS, Tuberculosis and Malaria (GF-ATM) will
grant the Jakarta administration with US$2.2 million to help curb cases of
the three diseases in the capital, governor Fauzi Bowo says.
Fauzi said Wednesday that the administration would allocate a larger
portion of the fund on the prevention of HIV and AIDS.
17. Bocah Penderita HIV AIDS Jalani
Perawatan di RSU Pirngadi Medan
Detik Com, 22
April 2009
Khairul
Ikhwan - detikNews Medan - Seorang bocah berusia lima tahun, diketahui menderita
AIDS. Korban yang tertular dari kedua orangtuanya, hingga Rabu (22/4/2009)
dirawat di Rumah Sakit Umum Pirngadi, Jl. HM Yamin, Medan.
Bocah tersebut, sebut saja namanya Ucok, kini dirawat secara intensif di
RSU Pirngadi. Tubuhnya terlihat kurus dan kondisinya lemas. Ucok dirujuk ke
rumah sakit tersebut sejak empat hari lalu, Jumat (17/4/2009), diantar EL
Hutauruk, salah seorang keluarga.
MEDAN-Tubuhnya kurus, lemah dan mata melotot menerawang jauh. Bocah malang
asal Tarutung, Hassit (5) bukan nama sebenarnya, dirawat di ruang anak
kelas III RSU dr Pirngadi Medan setelah divonis mengidap penyakit HIV/AIDS.
Keterangan bibinya, L Br Hutahuruk (60), sejak lahir hingga berumur lima
tahun, Hassit tak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
Di usia 4,5 tahun, ia sudah ditinggalkan ayahnya karena penyakit yang sama.
Dan hanya berjarak 2 bulan, ibunya meninggal.
MEDAN(SI) – Tenaga medis Rumah Sakit Umum (RSU) Dr Pirngadi Medan
saat ini merawat bocah berusia lima tahun yang mengidap human
immunodeficiency virus (HIV) dan sudah mengalami aquired immuno deficiency
syndrome (AIDS) atau hilangnya kekebalan tubuh.
Dia diduga tertular dari orangtuanya. Bocah berinisial BA tersebut
diketahui sebagai warga Kecamatan Sipoholon, Kabupaten Tarutung. Dia
menjalani perawatan di RSU dr Pirngadi Medan sejak Sabtu (18/4)
lalu,sekitar pukul 02.00 WIB. BA masuk ke RSU Pirngadi Medan ditemani
neneknya L br Hutahuruk, 60.Orangtuanya,LH,46 dan RS,30,telah meninggal
dunia. Kondisi BA kurus, lemas, hingga berdiri pun tak bisa. Gejalanya yang
terlihat membuat perawat yang menanganinya pertama kali menduga bahwa BA
mengidap penyakit HIV.
20. Darah di PMI Karawang Mengandung
Virus HIV/AIDS
Surya Online, 21
April 2009
KARAWANG - Sekitar 10 persen darah yang disumbangkan sukarelawan ke Palang
Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Karawang, Jawa Barat (Jabar), selama 2008
lalu mengandung virus HIV/AIDS.
PMI langsung memusnahkan darah yang tercemar itu dengan cara dibakar.
"Pemusnahan darahnya dilakukan di Jakarta," kata Ketua Badan
Narkotika Karawang (BNK) Eli Amalia Priatna di Karawang, Selasa (21/4).
LUBUKLINGGAU - Pihak Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau, Provinsi Sumatra
Selatan, mengingatkan warga setempat untuk mewaspadai penyebaran HIV/AIDS,
yang saat ini telah menjangkiti 14 warga daerah itu.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Lubuklinggau, Syahrizal, pagi tadi, mengatakan,
daerah-daerah yang ditengarai sebagai pusat penyebaran penyakit tersebut
antara lain kawasan lokalisasi, warung remang-remang dan lembaga
pemasyarakatan (Lapas).
JAKARTA: Actress Sharon Stone has embarked on a fundraising initiative that
will help improve treatments, care and the quality of life for children
living with HIV/AIDS in Asia.
Stone is global fundraising chairperson for amfAR, one of the world’s
leading nonprofit foundations for AIDS research. The initiative will
support amfAR’s existing TREAT Asia (Therapeutics Research, Education
and AIDS Training in Asia) Pediatric program, which was founded in 2005.
TANGERANG - Edith Yunita Sianturi,32, terpidana mati kasus kepemilikan
heroin seberat 1 kg akhirnya meninggal dunia setelah menjalani perawatan di
Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Dr Sukamto, Kramat Jati, Jakarta Timur, selama
satu bulan.
Edith yang selama ini ditahan di LP Wanita Tangerang meninggal akibat
mengidap penyakit AIDS.
TEMPO Interaktif, Kediri: Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri tengah memburu
dua pelacur yang terinfeksi HIV/AIDS. Kedua pelacur itu beroperasi di
tempat umum dan berisiko menularkan virus HIV/AIDS secara bebas.
Kepala Seksi Pemberantasan Penyakit Menular Langsung Kediri Nur Munawaroh
mengatakan pelacakan kedua pelacur itu dilakukan setelah menerima laporan
petugas kesehatan di Kecamatan Pare tentang catatan medis mereka.
"Mereka diketahui terinfeksi saat melakukan pemeriksaan rutin enam
bulanan," kata Nur Munawaroh kepada Tempo, Rabu (22/4).
BEKASI, KOMPAS.com - Seorang ibu muda dengan HIV/AIDS yang tengah hamil, E
(25) mencari keadilan atas kondisi suaminya Bn (27) penderita AIDS agar
bisa mendapat pengobatan rawat jalan hingga ajal menjemputnya.
"Suami saya beratnya hanya 30 Kg dengan CD-4 tinggal 46 sementara
orang normal memiliki 1.500. Ia kini terkapar tanpa bisa mendapat
perawatan," ujar E, di Bekasi, Selasa
SIDOARJO, KOMPAS.com - Jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Sidoarjo
setiap tahun meningkat, karena makin pedulinya masyarakat dalam ikut
menanggulangi penyebaran penyakit tersebut, sehingga penderita yang
sebelumnya tidak ketahuan, kini makin terdeteksi.
"Pada tahun 2005 tercatat 60 orang penderita dan tahun 2006 meningkat
100 persen menjadi 120 orang penderita," kata Kasubdin Penanggulangan
Penyakit Menular Dinkes Sidoarjo, Ika Harnasti, di Sidoarjo, Jatim.
KARAWANG, KOMPAS.com — Sekitar 10 persen darah yang disumbangkan
sukarelawan ke Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Karawang, Jawa Barat,
selama 2008 lalu mengandung virus HIV/AIDS.
PMI langsung memusnahkan darah yang tercemar itu dengan cara dibakar.
"Pemusnahan darahnya dilakukan di Jakarta," kata Ketua Badan
Narkotika Karawang (BNK) Eli Amalia Priatna di Karawang, Selasa (21/4).
Kompas Online, 21
April 2009 KARAWANG,
KOMPAS.com — Sekitar 10 persen darah yang
disumbangkan sukarelawan ke Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten
Karawang, Jawa Barat, selama 2008 lalu mengandung virus HIV/AIDS.
DENPASAR--Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Bali menggelar dialog
membahas kepanikan masyarakat, terutama pihak desa pekraman atau desa adat
setempat, dalam menghadapi masalah yang terjadi pada orang dengan HIV/AIDS
atau odha.
"Masih ingat, bagaimana kepanikan sebagian masyarakat ketika harus
membawa odha untuk dirawat di rumah sakit. Bagaimana kepanikan menangani
odha yang meninggal dunia. Apa yang harus dilakukan desa pekraman?"
kata anggota Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali Mercya Soetanto
di Denpasar, Minggu.
31. Body shop, MTV fight AIDS through
campaign targeting youth
the Jakarta Post Online,
April 19, 2009
To raise awareness about HIV/AIDS among young people, the Body Shop
Indonesia and MTV Staying Alive Foundation held a day-event called
"Fight-the-AIDS" at one of Jakarta's best hang-out places,
Cilandak Town Square in South Jakarta, on April 11.
Part of the "YES YES YES To Fighting HIV" campaign, the event
featured live music from Project Pop and Gruvi and also student
performances from the London School of Public Relations, University of
Indonesia and Pelita Harapan University.
MATARAM: The West Nusa Tenggara AIDS Eradication Commission (KPA) recorded
17 new cases of the disease in seven regencies and two municipalities in
the province between January and March this year.
Head of the KPA's program and identification division, Muhammad Aspul, said
on Friday that the 17 additional cases brought the total number infected
between 2001 and March 2009 to 237.
TUBAN- Penyebaran virus mematikan HIV/Aids di wilayah Kabupaten Tuban,
mengalami peningkatan tajam. Terdata saat ini terdapat 35 orang terjangkit
HIV/Aids di wilayah setempat. Salah satunya adalah seorang bayi berumur 4
bulan.
Sementara itu, dalam kurun tiga bulan terakhir, ditemukan terdapat tujuh
orang yang terdekteksi positif mengidap HIV/Aids. Jumlah tersebut sama
dengan tahun 2008, dimana dalam satu tahun ada 7 orang yang teridentifikasi
HIV/Aids.
HATIP 134, yang berjudul 'Terapi lini kedua', baru disediakan di situs
web Spiritia, dengan titik kunci yang berikut:
* Kebutuhan akan terapi lini kedua masih rendah tetapi mungkin keadaan
ini akan berubah selama beberapa tahun ke depan.
* Kelangkaan sarana tes viral load berarti banyak orang dengan terapi
yang mulai gagal tidak terdeteksi selama jangka waktu yang lama; hal
ini menghasilkan tingkat resistansi terhadap obat yang tinggi,
terutama terhadap golongan analog nukleosida (NRTI).
* Tingkat resistansi terhadap NRTI yang tinggi dapat menyulitkan
terbentuk kombinasi ARV lini kedua.
* Konsultasi ahli WHO mengusulkan dua dasar NRTI untuk dipakai dalam
terapi lini kedua: tenofovir + 3TC atau FTC, atau abacavir + ddI.
* Konsultasi itu mengusulkan penggunaan protease inhibitor (PI) yang
dikuatkan agar dipakai dalam terapi lini kedua, yaitu
lopinavir/ritonavir atau atazanavir/ritonavir.
* Bila PI yang dikuatkan dipakai, penting memastikan produk yang
dipakai sudah menerima persetujuan sementara oleh FDA AS untuk
penggunaan oleh PEPFAR, atau prakualifikasi WHO. Ada keraguan
mengenai mutu beberapa versi lopinavir/ritonavir yang belum disetujui
oleh lembaga ini.
* Tanggapan terhadap rejimen lini kedua ternyata baik dalam kohort
pasien yang kecil dilaporkan sampai sekarang, tetapi hanya ada sangat
sedikit informasi mengenai dampak rejimen yang diusulkan di
konsultasi ahli WHO. Beberapa uji coba yang besar direncanakan di
Afrika sub-Sahara untuk menguji kemanjurannya.
* Penelitian juga menyelidiki beberapa pendekatan yang lain untuk
terapi lini kedua. Pendekatan ini termasuk pemberian PI yang
dikuatkan sebagai terapi tunggal (monoterapi) atau penggunaan dua
obat dari golongan baru (satu PI dan satu integrase inhibitor).
* Semua obat lini kedua tetap jauh lebih mahal dibandingkan obat lini
pertama. Oleh karena itu, mencegah kegagalan pada terapi lini pertama
adalah sangat penting.
Untuk baca artikel HATIP ini, klik
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=0134>
Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
teman2 yang butuh kondom silahkan buat surat permohonan ke KPA Provinsi dki
jAKARTA ke Kepala bidang Promosi dan pencegahan Bpk. Drs. John Alubwaman MM atau
ke forum lsm peduli aids jabodetabek dan tulis jumlah yang dibutuhkan...ATAU
KONTAK DEBBIE ke 08128338819 / 33250526...secepatnya takut kehabisan..GRATIS
Teman2 yang belum dapat buletin Suara edisi 3 yang dibuat Forum lsm silahkan
datang ke forum jl. raya bekasi timu km.18 pulogadung...secepatnya persediaan
terbatas...
thx u
Presentasi Drg. Dyah Mustikawati dan Dr. Muchlis AU Sofro, SpPD pada
Simposium Setengah Hari Informasi Pengobatan HIV Terkini Kedua
'Kesinambungan penyediaan obat antiretroviral' kemarin dapat diunduh
dengan klik <http://spiritia.or.id/Dok/Simposium2.zip>, zipfile 1,98MB.
Laporan dan rangkuman Simposium akan segera diposting...
Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Kumpulan Berita Media Massa HIV-AIDS dan Narkoba
Dari Tanggal: 13 April 2009 Sampai Tanggal: 20 April 2009
1. Sunat Mencegah Penularan
AIDS
Suara Pembaharuan Online, 17
April 2009
[JAKARTA]
Sunat (circumcision) mencegah berbagai penyakit, termasuk penularan AIDS,
dan telah dipraktikkan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat (AS) dan
Kanada, dan di banyak negara di Afrika serta juga di Asia.
Badan Kesehatan Nasional AS (NHANES) menemukan, 79 persen laki-laki di AS
disunat, bahkan pada kulit putih (non-Hispanic white men) mencapai 88
persen.
Profesor Zubairi Djoerban, Rabu (15/4), di Jakarta mengatakan, data itu
diperoleh dari majalah kedokteran Sexually Transmitted Diseases terbitan
Juli 2007, dan informasi dari CDC HIV/AIDS Science Facts: Male Circumcision
and Risk for HIV Transmission and Other Health Conditions, Implications for
the United State, February 2008.
2. Bea Cukai Sangkal Tahan Obat ARV
untuk Pengidap HIV/AIDS
DetikNews, 17
April 2009
Aprizal
Rahmatullah - detikNews
ilustrasi Jakarta
- Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia (JOTHI) kecewa karena sejak bulan
Maret lalu obat ARV (Anti Retro Viral) bagi penderita HIV/AIDS tertahan di
Bea Cukai Bandara Soekarno-Hatta. Namun pihak Bea Cukai menyangkal menahan
obat tersebut.
"Pengadaan obat ARV sangat dibutuhkan oleh orang terinfeksi HIV,
mengingat sudah banyak rumah sakit di Indonesia yang kekosongan obat,
terpaksa tertahan akibat kurang sistematisnya mekanisme di Bea Cukai
Bandara Soekarno Hatta," kata Koodinator Advokasi dan Kebijakan
Pengembangan JOTHI Aditya Wardhana dalam rilis yang diterima detikcom,
Jumat (17/4/2009).
JAKARTA -
Persebaran penyakit HIV/AIDS di tanah air pada 2008 kian mengkhawatirkan.
Merujuk data terbaru, persebaran virus mematikan itu tiga kali lipat dari
tahun sebelumnya. Bahkan, Indonesia terancam menjadi negara dengan
tingkat persebaran HIV/AIDS terbesar di Asia.
Untuk mengatasinya, pemerintah bakal memperbaiki pola penanganan dengan
lebih seksama.
"Kondisinya memprihatinkan karena kasus HIV/AIDS hingga akhir 2008
naik tiga kali lipat daripada 2007," terang Direktur Kesehatan dan
Gizi Masyarakat Bappenas Arum Atmawikarta, di Jakarta, kemarin (15/4).
SEMARANG(SI) – Para pekerja di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
berisiko terinfeksi HIV/ AIDS.Anak buahkapal(ABK),tenagakerjabongkar muat (TKBM),sopir
dan kernet truk teridentifikasi sebagai klien potensial wanita pekerja seks
(WPS).
Berdasarkan survei Lembaga Kalandara 2008, 19% positif IMS (Infeksi Menular
Seksual) dari 47 pekerja yang diperiksa. ”ABK, TKBM,sopir dan kernet
truk berisiko tinggi mengingat pekerjaan mereka yang membutuhkan mobilitas
tinggi dan jauh dari pasangan,” ungkap Manager Program ASA-Kalandara
Muhammad Yusuf, SKM, di Gedung Aula Adpel Tanjung Emas Semarang,kemarin.
Serang ( Berita ) : Sebanyak 51 warga Provinsi Banten dilaporkan meninggal
dunia akibat tertular virus HIV/AIDS sehingga perlu adanya pencegahan, agar
penyakit itu tidak lagi menular kepada keluarga atau orang lain.
Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Banten, Ariep Mulyawan,
Selasa [14/04], mengatakan, pasien penderita HIV/AIDS yang meninggal dunia
itu terakhir tiga anak usia bawah lima tahun (Balita) yang menjalani
perawatan di RSUD Serang dan Cilegon.
MATARAM, KOMPAS.com - Penemuan kasus HIV/AIDS di Nusa Tenggara Barat (NTB)
cenderung meningkat setiap tahun, hingga Maret 2009 tercatat 236 kasus,
sebanyak 146 kasus di antaranya HIV positif dan 91 kasus AIDS.
Gubernur NTB, HM Zainul Majdi dalam sambutan tertulis dibacakan Staf Ahli
Gubernur bidang Pendidikan dan Kesehatan, H Soedaryanto, SKM di Mataram,
Rabu mengatakan, kasus HIV tersebut meningkat dibandingkan 2008 sebanyak
134 kasus.
SEMARANG,
KOMPAS.com — Pekerja pelabuhan yang kebanyakan terdiri dari laki-laki
rentan terhadap HIV/AIDS karena memiliki perilaku seks berisiko. Kondisi
ini diperparah dengan minimnya kesadaran mereka untuk memeriksakan diri.
Hal itu terungkap dalam Lokakarya Pencegahan dan Penanggulangan Infeksi
Menular Seksual (IMS), HIV, dan AIDS, di Kota Semarang, Rabu (15/4). Acara ini
diselenggarakan Kalandara, lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di
bidang penanggulangan HIV/AIDS.
Selama rentang waktu 2006-2009, Kalandara meneliti pekerja pelabuhan
Tanjung Emas yang terdiri atas anak buah kapal (ABK), tenaga kerja bongkar
muat, pengemudi truk dan kernet, dan pengendara ojek.
TULUNG AGUNG - Lima bayi berusia di bawah lima tahun (balita)
ditemukan terinfeksi virus HIV yang saat ini didampingi oleh Komisi
Penanggulangan Aids (KPA) Kabupaten Tulungagung.
"Hingga saat ini, ada lima
balita yang positif terinveksi virus HIV," kata anggota KPA
Tulungagung, Farid, di Tulungagung, Jawa Timur, Rabu (15/4)
9. Pencegahan HIV/AIDS Jangan Cuma
Fokus pada Pekerja Seks
Kompas.Com, 15
APril 2009
SEMARANG,
KOMPAS.com - Program pencegahan HIV/AIDS jangan hanya fokus pada pekerja
seks. Demikian diungkapkan Manager Program Aksi Stop AIDS (ASA) Lembaga
Kalandara, Muhammad Yusuf di Semarang, Rabu.
"Sebab, jumlah penderita HIV/AIDS terus bertambah, sementara
pencegahan hanya difokuskan pada pekerja seks," katanya usai lokakarya
Pencegahan infeksi menular seksual (IMS), HIV, dan AIDS pada Unsur Maritim
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
10. Perda Tetapkan Calon Pengantin
Perlu Uji HIV/AIDS
Suara Merdeka CyberNews, 14
April 2009
Semarang,
CyberNews. Setiap calon pengantin atau pasangan yang berisiko tinggi yang
akan menikah disarankan untuk melakukan pemeriksaan kesehatan di klinik
Voluntary Conseling and Testing (VCT). Ketentuan itu tertuang dalam pada
pasal 10 ayat 6 Perda Penanggulangan HIV/AIDS yang ditetapkan dalam rapat
Paripurna DPRD Jateng di Gedung Berlian, Selasa (14/4).
"Sekarang tinggal menunggu aspek kepemimpinan Gubernur Jateng sebagai
kepala daerah. Merupakan tugas gubernur untuk menegakkan perda yang telah
ditetapkan ini," kata Anggota Pansus Raperda HIV/AIDS Tontowi Jauhari,
seusai rapat paripurna.
TEMPO Interaktif, Mataram: Tujuh bayi di Nusa Tenggara Barat tertular
penyakit AIDS. Ketujuh-tujuhnya tertular penyakit yang dapat menurunkan
kekebalan tubuh itu sejak mereka masih berada dalam kandungan.
Demikian diungkapkan Staf Ahli Gubernur Nusa Tenggara Barat Soedarjanto
yang mewakili Gubernur NTB Muhammad Zainul Madjdi dalam rapat kordinasi
Komisi Penanggulangan AIDS dan sosialisasi peraturan daerah penanggulangan
HIV dan AIDS, Rabu (15/4) pagi.
Secara umum penderita HIV/AIDS terus meningkat di NTB. Jika setahun lalu
penderita HIV mencapai 134 kasus, kini sampai Maret lalu telah bertambah 12
orang menjadi 146 kasus.
JAKARTA(SI) – PT Unilever Indonesia Tbk
menekankan penerapan kualitas bahan baku
pada setiap lini produksinya melalui program corporate social
responsibility (CSR).
Program ini dilakukan guna menjaga kesinambungan ketersediaan bahan baku serta
produksinya. ”Yang kita lakukan bertujuan agar semua yang terlibat
mulai dari supplier bisa memiliki keseragaman mutu dan kualitas,”
ujar General Manager Unilever Peduli Foundation PT Unilever Indonesia Tbk
Sinta Kaniawati saat berkunjung ke Kantor Seputar Indonesia di Jakarta
kemarin. Menurut Sinta, definisi CSR saat ini sangat beragam dan berbeda-
beda bergantung tujuan perusahaan dan cost-nya tidak bisa dihitung secara
parsial.
BONTANG-Melihat jumlah penderita HIV/AIDS di Kota Bontang yang makin
bertambah, Dinas Kesehatan kini bersiap menyusun Peraturan Daerah (Perda)
yang akan mengharuskan pemijat di panti pijat memeriksakan darah secara
berkala.
Hal ini diutarakan Kepala Dinas Kesehatan Kota Bontang dr Hindar Jaya SpOG,
dalam pembahasan Laporan Pertanggungjawaban (LKPJ) Wali Kota Bontang 2008
bersama anggota DPRD di gedung DPRD Bontang, Senin (13/4) lalu.
Jakarta, Kompas
- Tato dan tindik makin digemari kaum muda di Tanah Air. Padahal, hal itu
merupakan salah satu cara penularan virus hepatitis. Karena itu, kaum muda
diimbau berhati-hati bila ingin menato dan menindik anggota badannya.
Menurut Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia Unggul Budihusodo, Selasa
(14/4), saat dihubungi di Jakarta,
mereka yang ditindik atau ditato berisiko tinggi tertular virus hepatitis.
Kondisi ini disebabkan tato dan tindik kebanyakan menggunakan alat yang
tidak steril atau dipakai secara bergantian. Bila seseorang ditato atau
ditindik dengan alat yang dipakai tercemar virus hepatitis, ia rentan
terinfeksi virus itu. ”Hepatitis menular lewat darah dan cairan tubuh
manusia,” ujarnya.
15. Negligence sees five toddlers
infected with HIV/AIDS in Banten
the Jakarta
Post Online, April 14, 2009
As many as five toddlers in Banten province were found to be HIV/AIDS
positive with the infection having likely been transmitted via their
mothers, a representative of the Voluntary Counseling Treatment (VCT) and
Care Support and Treatment (CST) of Serang hospital said Tuesday.
"There is an HIV/AIDS epidemic threatening women and thus children are
becoming infected with the virus," clinic head Santoso Edi Budiono
said to kompas.com.
SERANG | SURYA- Sebanyak lima anak bawah lima tahun (balita) di Provinsi
Banten, positif tertular HIV/AIDS dari ibu kandungnya sehingga mereka kini
ditangani intensif di Klinik Voluntary Counseling Treatment (VCT) dan Care
Support and Treatment (CST) RSUD Serang.
Kami sering mendengar laporan mengenai neuropati perifer yang dialami
oleh Odha, terutama mereka yang memakai terapi antiretroviral (ART)
yang mengandung d4T (Stavudin). Ada yang mengalami neuropati perifer
yang begitu berat sehingga mereka sulit berdiri, apa lagi berjalan
kaki.
Masalah ini memang lebih berat di negara di Afrika, yang sering hanya
menyediakan ART lini pertama yang mengandung d4T. Kita untung di
Indonesia karena rejimen lini pertama yang baku mengandung AZT, dan d4T
hanya dipakai bila pasien mengalami anemia sebagai efek samping AZT.
Namun setelah AZT diganti dengan d4T, sering kali mereka mengalami
kesulitan untuk gantinya kembali dengan AZT, dan tetap memakai d4T
selama jangka waktu yang panjang, dengan demikian menjadi rentan
terhadap masalah neuropati perifer.
Padahal, Pedoman ART 2007 Depkes cukup jelas:
"Catatan tentang stavudin (d4T)
"d4T merupakan NRTI yang sering berhubungan dengan asidosis laktat,
lipodistofi dan neropati perifer. Oleh karena pada saat ini d4T sangat
murah dan mudah didapat maka masih menjadi pilihan dengan memantau
secara ketat gejala toksisitasnya.
"Pengalaman dari Thailand bahwa dalam hal AZT merupakan kontraindikasi
pada saat pemberian terapi ARV maka pemberian paduan ARV lini pertama
dengan d4T dapat diberikan selama 6 - 12 bulan untuk kemudian diganti
dengan AZT. Contohnya pada pasien anemi, dan segera setelah anemianya
membaik maka d4T diganti dengan AZT. Pilihan ke dua adalah dengan
mengawali dengan d4T dan segera setelah nampak gejala dini dari
lipodistrofi maka d4T digantikan oleh AZT."
Tambahan, di Tabel 20:
"Strategi untuk memaksimalkan keamanan stavudin (d4T)
"Ubah paduan ARV dengan NRTI yang lain seperti (AZT, TDF atau ABC)
segera setelah muncul efek samping dapat mengurangi keparahan
toksisitas d4T
"Penggunaan d4T pada pasien dengan anemi dan segera ganti dengan NRTI
lain (AZT, TDF atau ABC) bila anemi telah teratasi"
Masalah terkait neuropati perifer terkait HIV, dan khususnya neuropati
perifer sebagai efek samping d4T, dibahas secara dalam di HATIP 133-1:
Neuropati perifer pada Odha di rangkaian terbatas sumber daya - klik
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=01331>, dan diagnosis
(yang sering terlambat) dan pengobatan (atau sebetulnya, kelangkaan
pengobatan) neuropati perifer - klik
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=01332>
Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Yayasan Spiritia akan mengadakan Simposium 1/2 Hari Informasi
Pengobatan HIV Terkini II dengan tema "Kesinambungan Penyediaan Obat
ARV". Kegiatan ini akan diadakan pada Senin, 20 April 2009 di Aula
Gedung D Universitas Atma Jaya pukul 13:00-15:30 (termasuk makan siang
pada pukul 12:00).
Jika ingin menghadiri, silakan konfirmasi dengan mengirimkan e-mail
kepada Caroline Thomas <carolt3398@...> melalui email.
Berikut adalah kerangka acuan kegiatan tersebut diatas:
Simposium Setengah Hari Informasi Pengobatan HIV Terkini Kedua
Kesinambungan penyediaan obat antiretroviral
Latar Belakang
Pada akhir 2004, Departemen Kesehatan RI memutuskan untuk menyediakan
terapi antiretroviral (ART) dengan subsidi penuh kepada semua orang
terinfeksi HIV (Odha) yang memenuhi kriteria untuk mulai. Kriteria ini
termasuk mengalami penyakit berat tanpa melihat jumlah CD4, atau
penyakit lanjutan dengan jumlah CD4 di bawah 350, dan untuk semuanya
dengan jumlah di bawah 200. Program ini diterapkan oleh Subdit AIDS,
Direktorat P2ML, Direktorat-Jenderal P2M, Depkes. Subdit AIDS
bertanggung jawab untuk menyediakan obat antiretroviral (ARV) dan
kemudian menyebarkannya.
Pada awal 25 rumah sakit (RS) di berbagai daerah di Indonesia
ditetapkan sebagai RS Rujukan ARV. Sebagian besar obat dibuat oleh
Kimia Farma (KF), dan disebarkan oleh KF pada RS Rujukan ARV, atas
permintaan dari Subdit AIDS. RS Rujukan diwajibkan melaporkan
penggunaan dan permintaan pada Subdit AIDS, dan juga untuk menyediakan
stok ARV cukup untuk tiga bulan.
Jumlah RS Rujukan berangsur ditingkatkan, dan saat ini Depkes
melaporkan ada kurang lebih 150 RS Rujukan yang menjalankan ART, pada
lebih dari 10.000 Odha di semua provinsi di Indonesia.
Sejak awal program ini, sering ada laporan mengenai kehabisan stok ARV
di RS Rujukan. Juga terjadi kehabisan stok di Depkes, terutama ARV yang
didanai oleh Global Fund; semua obat tersebut diimpor dengan risiko
penerimaannya terlambat. Karena ART harus dipakai setiap hari untuk
seumur hidup, dan pemberhentian penggunaannya dapat menyebabkan
timbulnya resistansi terhadap obat, jelas masalah ini sangat
mengkhawatirkan. Umumnya masalah dapat diselesaikan dengan kerja sama
antara RS dan para Odha, dan dengan pengiriman secara darurat dari KF.
Namun dilaporkan bahwa cukup banyak orang berhenti penggunaan ART
karena masalah ketidaksediaan ARV di RS Rujukan.
Ada banyak masalah terkait supply chain management untuk ARV, mulai
dari peramalan, pesanan, pengadaan, pelaporan dan pesanan oleh RS,
pengaturan di Subdit AIDS, dan pengiriman dari KF. ARV yang disediakan
dengan dana APBN dikelola dan disimpan secara terpisah dari ARV yang
disediakan dengan dukungan Global Fund. Subdit AIDS sudah berupaya
keras untuk menyelesaikan semua masalah ini, tetapi dengan semakin
banyak permintaan, tetap dialami kesulitan pada semua bagian program.
Kadang kala ada kesan bahwa perubahan yang dibuat belum berhasil
menghadapi masalah.
Sebagian dari masalah kehabisan stok disebabkan oleh terlambatnya
diturunkan dana APBN, sehingga KF tidak dibayar sesuai janji dan tidak
sanggup kirim ARV lagi sebelum hutang dicairkan. Juga terjadi gangguan
pada penyediaan ARV yang didanai oleh Global Fund Ronde 4 waktu dana
itu dibekukan. Oleh karena itu, sering muncul ketakutan antara Odha dan
pihak terkait bahwa APBN tidak akan disediakan terus-menerus, dan ada
ancaman terhadap kesinambungan program penyediaan ARV dengan subsidi
penuh.
Oleh karena ini, beberapa pemerintah daerah, provinsi maupun
kabupaten/kota, didesak atau merasa harus menyediakan dana dari APBD
untuk menyediakan `buffer stock´ ARV, atau menambah pada penyediaan
dari pemerintah pusat. Namun belum ada kebijakan jelas mengenai hal
ini, sehingga muncul risiko akan ada tumpang tindih, ketidakjelasan
mengenai tanggung jawab, dan juga stok ARV menjadi kedaluwarsa.
Untuk membahas masalah yang terjadi, dan masukan mengenai solusi
terhadap masalah, Yayasan Spiritia bekerja sama dengan PPM Atma Jaya,
akan melakukan Simposium Setengah Hari. Simposium ini akan mendengar
presentasi oleh beberapa pakar yang terlibat dalam penyediaan ARV. Akan
disediakan waktu untuk tanya-jawab dan diskusi, dan setelah itu
hasilnya akan dirangkum dan diambil kesimpulan oleh seorang pakar lain.
Tujuan
Umum
Membagi dan membahas informasi terkini mengenai topik-topik terkait
pencegahan, perawatan, dukungan dan pengobatan untuk orang terinfeksi
HIV (Odha) di Indonesia.
Khusus
Membahas ketersediaan ARV untuk Odha di Indonesia, khususnya masalah
terkait berkelanjutan dukungan dana, penyebaran, pembentukan buffer
stock (termasuk di tingkat provinsi/kabupaten), rencana ke depan, serta
keterlibatan pemerintah daerah dalam pendanaan dan ketersediaan ARV.
Bentuk kegiatan
Simposium setengah hari, dibuka oleh Dr. Nafsiah Mboi, SpA, MPH, dengan
presentasi Drg. Dyah Mustikawati (yang diminta membahas tentang
kesinambungan ketersediaan ARV), dan Dr. Muchlis AU Sofro, SpPD (yang
diminta membahas tentang masalah yang dihadapi di daerah, termasuk
rumah sakit rujukan, dalam ketersediaan ARV), diskusi tanya jawab,
tanggapan oleh Dr. Nafsiah Mboi, serta rangkuman dan kesimpulan oleh
Prof. Dr. Dewa N. Wirawan, MPH. Simposium akan dipandu oleh Prof.
Irwanto.
Peserta
Kurang lebih 100 orang yang peduli terhadap HIV, termasuk dari Depkes,
WHO, Rumah Sakit, dokter, LSM, Kelompok Dukungan Sebaya untuk Odha, dan
media massa.
Tempat dan waktu
Kegiatan akan dilakukan di Aula Gedung D Universitas Atma Jaya Jakarta,
pada hari Senin 20 April 2009, dari pk. 13:00 sampai 15:30, termasuk
makan siang (pk. 12:00).
Penyelenggaraan
Simposium ini akan dilakukan oleh Yayasan Spiritia, bekerja sama dengan
Ford Foundation, HCPI, dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan
Masyarakat Universitas Atma Jaya.
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Kumpulan Berita Media Massa HIV-AIDS dan Narkoba
Dari Tanggal: 6 April 2009 Sampai Tanggal: 13 April 2009
1. Penderita HIV/AIDS di Bekasi
Bertambah 162 Orang
Media Indonesia, 10
April 2009
BEKASI--MI: Penderita HIV/AIDS di kota Bekasi, Jawa Barat, bertambah 162
orang selama satu tahun terakhir sehingga jumlah penderita yang tergolong
ODHA (orang dengan HIV/AIDS) yang masih hidup sebanyak 1.060 orang.
Hari Bagianto, pengelola program di Komisi Penanggulangan AIDS kota Bekasi,
Jumat (10/4), mengatakan tambahan penderita baru meliputi penderita yang
baru terdeteksi sebanyak 13 orang dan penderita dari fase HIV menjadi AIDS
sebanyak 149 orang.
SINTANG—Wahyu Fitria, Case Manager Klinik VCT (Voluntary Conselling
andTesting) Purnama, RSUD Ade M. Djoen Sintang mengatakan Stock
Antiretroviral (ARV) sebagai obat yang harus dikonsumsi pengidap HIV/ AIDS
di kabupaten Sintang mulai menipis. Kondisi ini diperparah dengan tak
adanya manajemen stok khusus departemen kesehatan terkait penyediaan ARV.
“Stock ARV di Sintang sering rawan. Di akhir tahun 2008 lalu saja,
pernah persediaan ARV hanya untuk satu bulan. Untung saja itu bisa cepat
ditangani dengan meminjam dari Pontianak,“ ungkapnya, beberapa waktu
lalu.
MEDAN - Metadon adalah opiat (narkotik) sintetis yang kuat seperti heroin
(putaw) atau morfin, tetapi tidak menimbulkan efek sedatif yang kuat.
Metadon biasanya disediakan pada Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM),
yaitu program yang mengganti heroin yang dipakai oleh pecandu dengan obat
yang lebih aman dengan cara diminum.
--- In tb-hiv_indonesia@yahoogroups.com, "Chris W. Green" <chrisg@...> wrote:
>
> Apa yang baru pada situs web Spiritia <http://spiritia.or.id>?
>
> Dalam upaya untuk meningkatkan informasi mengenai infeksi virus herpes
> simpleks, kami sudah muat artikle kedua mengenai topik ini, yaitu Tanda
> dan gejala herpes. Klik <http://spiritia.or.id/cst/bacacst.php?artno=
> 1099>
>
> Juga disediakan laporan mengenai Simposium Setengah Hari Informasi
> Pengobatan HIV Terkini yang Pertama "Pengobatan HIV sebagai
> Pencegahan", yang dilakukan pada 24 Februari 2009, termasuk rangkuman
> oleh Prof. Irwanto, serta presentasi PowerPoint Prof. Zubairi Djoerban
> dan Dr. Pandu Riono pada Simposium. Klik
> <http://spiritia.or.id/keg.php>
>
> Kami baru memperbarui informasi mengenai Pelatihan Pendidikan
> Pengobatan. Buku Pedoman untuk Pelatih Pelatihan Pendidikan Pengobatan
> Spiritia versi Maret 2009 dapat diunduh dengan versi PDF (3,61MB). Buku
> ini lengkap dengan gambar semua slide dan catatan untuk pembicara. Klik
> <http://spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=1021>
>
> Artikel 'Hidup dengan HIV' (untuk orang yang baru tahu dirinya
> terinfeksi) adalah artikel yang paling populer - dibuka 1.516 kali.
>
> Yayasan Spiritia telah menerbitkan 12 lembaran informasi yang direvisi:
>
> * Informasi Dasar
> Lembaran Informasi 001--Daftar Lembaran Informasi
>
> * Terapi Antiretroviral
> Lembaran Informasi 400--Siklus Hidup HIV
> Lembaran Informasi 401--Penggunaan Obat Antiretroviral
> Lembaran Informasi 402--Nama Obat Antiretroviral
> Lembaran Informasi 403--Terapi Antiretroviral
> Lembaran Informasi 434--Etravirine
>
> Obat untuk Infeksi Oportunistik
> Lembaran Informasi 530--Azitromisin
>
> Efek Samping
> Lembaran Informasi 560--Rasa Nyeri
>
> Topik Khusus
> Lembaran Informasi 620--Masalah Kulit
> Lembaran Informasi 621--Masalah Penglihatan
> Lembaran Informasi 622--Masalah Mulut
> Lembaran Informasi 624--Afte (Seriawan)
>
> Klik <http://spiritia.or.id/li/libaru.php>
>
> Di Forum Spiritia, dimulai 13 topik baru (13 pada Februari), 307 (359)
> posting baru, dan ditambah 23 (27) anggota pada Maret, sehingga jumlah
> anggota menjadi 295. Juga ditambah satu kategori baru, yaitu 'Komentar
> mengenai situs'. Untuk mendaftarkan diri, klik
> <http://spiritia.or.id/smf/>. Ada sedikit musibah pada Forum, dengan
> dimasukkan virus pada halaman tersebut pada akhir bulan. Masalah
> diselesaikan cukup cepat dengan memakai backup, dan tidak ada laporan
> adanya gangguan pada pengguna.
>
> 53 artikel berita dimuat pada Maret. Dan 63 pertanyaan yang diajukan
> secara anonim (tanpa nama) dijawab.
>
> Pada Maret 2009, situs web Spiritia dikunjungi oleh 43.085 pengunjung
> (dibandingkan 31.662 pada Februari) dari 79 negara (80), yang membuka
> 102.812 halaman (85.622). Hari yang terbanyak adalah 31 Maret, dengan
> 4.133 (3.979) halaman dibuka oleh 1.918 (1.371) pengunjung. Pengunjung
> terbanyak mengunjungi pada hari yang sama.
>
> Penggunaan situs web Spiritia oleh pengguna telepon genggam tetap
> meningkat, dengan semakin banyak artikel diakses melalui HP. Yang
> terbanyak adalah artikel 'Hepatitis Virus dan HIV' dibuka 119 kali dari
> HP.
>
> Babe
> --
> Chris W. Green (chrisg@...)
> Divisi Pelatihan dan Informasi
> Yayasan Spiritia, Jakarta
> Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
> Situs web: <http://spiritia.or.id>
>
Dear Babe Chris,
Bolehkah saya dikirimkam artikel - artikel Spirita dalam bentuk potocopian
langsung ke PTRM RSUP Fatmawati up. suster sarmini untuk menambah wawasan dan
update pengetahuan seputar HIV/AIDS. Kalaupun ada biayanya saya mau kok. Tks,
sebelumnya.
Salam hangat
Zr.Sarmini
Kumpulan Berita Media Massa HIV-AIDS dan Narkoba
Dari Tanggal: 30 March 2009 Sampai Tanggal: 6 April 2009
1. Di Keerom, Sekitar 1200
Orang Terinfeksi HIV-AIDS
Cenderawasih Pos Online, 27
Maret 2009
KEEROM-Laju perkembangan virus HIV-AIDS di Papua, kini makin tinggi saja
prevalensinya (Penyebarannya). Di Papua 2,4 persen dari jumlah total kasus
secara nasional telah menginfeksi masyarakat. Berdasarkan itu, khusus di
Keerom diestimasikan (Diperkirakan) 1200 jiwa yang sudah mengidap HIV-AIDS
dari jumlah penduduk yang ada yaitu 50 ribu jiwa.
"Meski sampai sekarang ini yang baru terlaporkan atau diketahui adalah
sebanyak 9 kasus, namun perkiraan kami, itu angka kasus HIV-AIDS yang kini
belum ditemukan di Keerom telah menembus angka 1200," ujar Manager
Word Vision Indonesia Areal Development Program (ADP) Kabupaten Keerom,
Rafika Pinto, kepada Cenderawasih Pos, via ponselnya, Kamis, (26/3).
JAYAPURA-Untuk mencegah penyakit infeksi menular seksual (IMS) sebagai
salah satu mata rantai penyebaran virus HIV-AIDS, maka Komisi
Penanggulangan HIV-AIDS (KPA) Provinsi Papua menggelar pelatihan penyegaran
akselerasi program komprehensif pencegahan HIV melalui transmisi seksual.
"Kegiatan ini dilaksanakan untuk pencegahan HIV melalui program
transmisi seksual,"ungkap Penanggungjawab Kelompok Kerja (Pokja)
Pencegahan HIV Melalui Transmisi Seksual (PMTS) KPA Provinsi Papua, Frengky
Ivakdalam kepada wartawan di sela-sela kegiatan tersebut di Meeting Room,
Hotel Mutiara Indah Kotaraja, Rabu, (1/3).
Poor data and funding have hindered efforts to provide adequate treatment
to pregnant women who are HIV-positive, leading to greater numbers of
children born with the virus, a health official said Monday.
"Many women are still deprived of their right to proper information on
HIV, as well as the necessary medical treatment to ensure their health and
the wellbeing of their baby," said Trisnawati G. Loho from the Health
Ministry's directorate of maternal health.
The ministry has not conducted proper research into the number of women
with HIV infections, she told The Jakarta Post after a seminar on the
transmission of HIV from mother to child (MTCT) in Jakarta.
Dari
Penyuluhan Penyakit Menular di Lokalisasi Solong
Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Samarinda bersama
Badan Narkotika Kota (BNK) dan Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD),
kemarin (31/3) melakukan penyuluhan penanggulangan narkoba, penyakit TBC,
dan HIV/AIDS di lokalisasi Bandang Raya Solong. Tepatnya, di Wisma Gunung
Sari.
WARGA di sana
juga berhak dan perlu mengetahui berbagai upaya pencegahan dan penanganan
penyakit menular. Terutama yang diakibatkan penggunaan obat-obatan
terlarang atau narkoba, dan hubungan seks seperti HIV/AIDS. Penyuluhan
tersebut juga mengupas tentang penanganan TBC.
MEDAN - Virus
HIV /AIDS kini semakin akrab dengan kaum remaja. Hal ini berdasarkan
data di Pusat Pelayanan Khusus Voluntary Counseling and Testing
(Pusyansus VCT) di RSUP H. Adam Malik Medan.
Dimana kaum remaja khususnya Sumatera Utara banyak yang menghidap virus
HIV/AIDS datang ke Rumah sakit H. Adam Malik untuk memeriksakan dirinya.
Hal ini juga dibenarkan oleh koordinator klinik VCT-Pusyansus RSUP HAM,
Rahmad Nur Kurniawan, S.Psi, kepada Waspada Online, saat
memberikan seminar di Aula ruang 2 di hadapan para dokter dan perawat rumah
sakit H. Adam Malik Medan.
MEDAN - Berdasarkan data di Klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) -
Pusat Pelayanan Khusus di RSUP H.Adam Malik Medan, bulan Maret ini terdapat
120 pasien baru yang memeriksakan darahnya, apakah terkena HIV atau tidak.
Dari 120 pasien baru tersebut, ada 25 orang yang positif HIV dan rata-rata
usia remaja dan usia subur yaitu 15-35 tahun.
Ketua Perhimpunan Ikatan Conselor HIV Sumut, Rahmad Nur Kurniawan, yang
juga koordinator klinik VCT-Pusyansus RSUP HAM mengatakan, penderita
HIV/AIDS di Medan masih ada yang enggan memeriksakan darahnya ke klinik
VCT. Hal ini dikarenakan adanya rasa
malu, takut, disisihkan, dicap buruk dan lain sebagainya.
7. Remaja yang mengakses situs porno,
dikhawatirkan terkena HIV/AIDS
Waspada Online, 01
APril 2009
MEDAN - Remaja
yang suka mengakses situs porno atau menonton film porno dikhawatirkan akan
terjangkit penyakit HIV/AIDS (Human Immunedeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency
Syndrome). Karena, remaja yang suka mengakses atau
menonton film porno akan mengarah ke prilaku seks bebas. Sebab, remaja
cenderung akan melakukan atau mencoba apa yang dilihatnya. Selain seks
bebas, narkoba suntik juga salah satu penyebab HIV/AIDS.
Hal ini disampaikan Ketua Perhimpunan Ikatan Conselor HIV Sumut, Rahmad Nur
Kurniawan, S.PSi kepada Waspada, tadi malam, di RSUP H. Adam Malik
Medan, menanggapi banyaknya remaja dunia mengakses situs porno.
SEMARANG - Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) merintis
berdirinya Kantor Berita Swara Nusa, yang menyampaikan informasi
seputar isu kesehatan reproduksi, seksualitas, gender, dan HIV/AIDS dalam
perspektif hak asasi manusia (HAM).
Direktur PKBI Jawa Tengah, Farid Husni di Semarang, Sore ini mengatakan,
selama ini pemberitaan isu gender, seksualitas, dan HIV/AIDS di media arus
utama (mainstream) sering tidak berimbang bahkan malah memojokkan kelompok
tertentu.
MEDAN - Islam
tidak mengucilkan penderita HIV/AIDS tetapi para penderita ini wajib
hukumnya menyampaikan masalah dan kondisi yang dialami kepada pihak
berwenang, dokter kesehatan maupun pemuka agama.
Mereka harus diberikan ruang untuk beraktivitas dan jika meninggal dunia
harus laksanakan fardu kifayahnya. Demikian antara lain
disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia Kota Medan HM Hatta, tadi malam.
JEMBER |
SURYA - Sebanyak sembilan penderita HIV/AIDS di
Kabupaten Jember, Jawa Timur, meninggal dunia selama tiga bulan terakhir
(Januari-Maret) pada 2009.
Koordinator konselor klinik Voluntary Consulting and Test (VCT) RSUD dr.
Soebandi Jember, dr Justina Evi, Rabu (1/4), menuturkan, jumlah penderita
HIV/AIDS selama dua tahun terakhir ini mencapai 176 dan beberapa penderita
masuk stadium tiga atau lanjut. “Penderita yang memasuki stadium
tiga, apabila tidak melakukan pengobatan secara rutin rawan terhadap
kematian,” kata dr Justina.
Apa yang baru pada situs web Spiritia <http://spiritia.or.id>?
Dalam upaya untuk meningkatkan informasi mengenai infeksi virus herpes
simpleks, kami sudah muat artikle kedua mengenai topik ini, yaitu Tanda
dan gejala herpes. Klik <http://spiritia.or.id/cst/bacacst.php?artno=
1099>
Juga disediakan laporan mengenai Simposium Setengah Hari Informasi
Pengobatan HIV Terkini yang Pertama "Pengobatan HIV sebagai
Pencegahan", yang dilakukan pada 24 Februari 2009, termasuk rangkuman
oleh Prof. Irwanto, serta presentasi PowerPoint Prof. Zubairi Djoerban
dan Dr. Pandu Riono pada Simposium. Klik
<http://spiritia.or.id/keg.php>
Kami baru memperbarui informasi mengenai Pelatihan Pendidikan
Pengobatan. Buku Pedoman untuk Pelatih Pelatihan Pendidikan Pengobatan
Spiritia versi Maret 2009 dapat diunduh dengan versi PDF (3,61MB). Buku
ini lengkap dengan gambar semua slide dan catatan untuk pembicara. Klik
<http://spiritia.or.id/art/bacaart.php?artno=1021>
Artikel 'Hidup dengan HIV' (untuk orang yang baru tahu dirinya
terinfeksi) adalah artikel yang paling populer - dibuka 1.516 kali.
Yayasan Spiritia telah menerbitkan 12 lembaran informasi yang direvisi:
* Informasi Dasar
Lembaran Informasi 001--Daftar Lembaran Informasi
* Terapi Antiretroviral
Lembaran Informasi 400--Siklus Hidup HIV
Lembaran Informasi 401--Penggunaan Obat Antiretroviral
Lembaran Informasi 402--Nama Obat Antiretroviral
Lembaran Informasi 403--Terapi Antiretroviral
Lembaran Informasi 434--Etravirine
Obat untuk Infeksi Oportunistik
Lembaran Informasi 530--Azitromisin
Efek Samping
Lembaran Informasi 560--Rasa Nyeri
Topik Khusus
Lembaran Informasi 620--Masalah Kulit
Lembaran Informasi 621--Masalah Penglihatan
Lembaran Informasi 622--Masalah Mulut
Lembaran Informasi 624--Afte (Seriawan)
Klik <http://spiritia.or.id/li/libaru.php>
Di Forum Spiritia, dimulai 13 topik baru (13 pada Februari), 307 (359)
posting baru, dan ditambah 23 (27) anggota pada Maret, sehingga jumlah
anggota menjadi 295. Juga ditambah satu kategori baru, yaitu 'Komentar
mengenai situs'. Untuk mendaftarkan diri, klik
<http://spiritia.or.id/smf/>. Ada sedikit musibah pada Forum, dengan
dimasukkan virus pada halaman tersebut pada akhir bulan. Masalah
diselesaikan cukup cepat dengan memakai backup, dan tidak ada laporan
adanya gangguan pada pengguna.
53 artikel berita dimuat pada Maret. Dan 63 pertanyaan yang diajukan
secara anonim (tanpa nama) dijawab.
Pada Maret 2009, situs web Spiritia dikunjungi oleh 43.085 pengunjung
(dibandingkan 31.662 pada Februari) dari 79 negara (80), yang membuka
102.812 halaman (85.622). Hari yang terbanyak adalah 31 Maret, dengan
4.133 (3.979) halaman dibuka oleh 1.918 (1.371) pengunjung. Pengunjung
terbanyak mengunjungi pada hari yang sama.
Penggunaan situs web Spiritia oleh pengguna telepon genggam tetap
meningkat, dengan semakin banyak artikel diakses melalui HP. Yang
terbanyak adalah artikel 'Hepatitis Virus dan HIV' dibuka 119 kali dari
HP.
Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
Kumpulan Berita Media Massa HIV-AIDS dan Narkoba
Dari Tanggal: 16 March 2009 Sampai Tanggal: 23 March 2009
1. Teachers briefed on how to
prevent HIV/AIDS
The Jakarta
Post, March 19, 2009
JAYAPURA: Some 30 junior high school teachers in Jayapura are attending a
three-day life skills workshop on how to prevent HIV/AIDS, conducted by
World Vision in cooperation with Wahana Visi Indonesia.
2. W. Java faces highest number of
people living with AIDS
The Jakarta
Post, March 18, 2009
West Java has become the province with the highest number of people living
with AIDS, the provincial Health Agency said, reporting a total of 2,593
AIDS cases as of December last year. | Wed, 03/18/2009 2:35 PM | The
Archipelago.
3. 15,000 Indonesians die annually of
drugs: Dault
The Jakarta
Post, March 15, 2009
Education and Sport Minister Adhyaksa Dault revealed Saturday evening that
15,000 Indonesians die of drug-related illnesses each year.
The Jakarta
Post, March 14, 2009
KUPANG, East Nusa Tenggara: The provincial branch of the AIDS Eradication
Commission (KPA) has recorded 70 HIV/AIDS cases involving 10 school-aged
children below the ages of 15, or 2 percent of the 538 total cases in the
province.
5. 58 Pasien Baru HIV/AIDS Dirawat di
RSUP Adam Malik
Harian Analisa Online, 18
Maret 2009
Medan,
(Analisa) Selama Pebruari 2009, kasus pasien
baru HIV/AIDS yang ditemukan sebanyak 58 orang dan kini semuanya dirawat di
Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan (RSUP HAMM).
“Dari 58 orang yang dirawat di rumah sakit itu 48 orang laki-laki dan
10 orang perempuan. Usia produktif pasien yang dirawat di rumah sakit itu
antara 25-29 tahun,” kata Humas dan Pemasaran RSUP H Adam Malik Medan
Sairi Mulianta Saragih, DCN, M. Kes melalui Koordinator VCT Rachmad Nur
Kurniawan di ruang kerjanya, Senin (16/3).
6. W. Java faces highest number of
people living with AIDS
the Jakarta
Post, 18 March 2009
Yuli Tri
Suwarni, The Jakarta Post, Bandung ,
West Java has become the province with the highest number of people living
with AIDS, the provincial Health Agency said, reporting a total of 2,593
AIDS cases as of December last year. | Wed, 03/18/2009 2:35
PM | The Archipelago
The total, which has been recorded since 1989, exceeds that of East Java (1,591 cases) and Papua (2,382).
KUPANG, East Nusa Tenggara: The provincial branch of the AIDS Eradication
Commission (KPA) has recorded 70 HIV/AIDS cases involving 10 school-aged
children below the ages of 15, or 2 percent of the 538 total cases in the
province.
Some 60 people between the ages of 15 and 24 were also infected, making up
11 percent of the total, while 4 percent of people above the age of 24 were
infected with the HIV virus.
8. Sindikat Jual Beli Narkoba di LP
Biak Dibongkar
Cendrawasih Post dot Com, 14
Maret 2009
Tiga
Diringkus, Satu Diantaranya Berstatus Napi
BIAK-Meski divonis 3 tahun 6 bulan , namun tidak membuat Andi Syarifuddin
alias Gosal jerah. Buktinya, dia yang baru menjalani masa hukuman kurang
lebih 1 tahun di LP Biak kembali melakukan tindak pidana yang sama yakni
menjual sabu-sabu. Ia tangkap polisi, saat akan melakukan transaksi di
belakang LP Biak atau dekat dengan salah satu rumah petugas LP tersebut.
Transaksi jual beli sabu-sabu di LP Biak ini
dicurigai petugas bukan baru pertama kali. Selain Gosal, polisi juga
menetapkan SM dan FN sebagai tersangka dalam kasus ini karena diduga
terlibat dalam sindikat jual beli Narkoba di LP Biak.
9. Setiap Tahun, 15.000 Orang
Indonesia Tewas akibat Narkoba
Surya Online, 15
Maret 2009
PALU |
SURYA— Mennegpora Adhyaksa Dault
mengatakan, sekitar 15.000 orang di Indonesia meninggal setiap
tahunnya akibat pengaruh narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba).
“Belum lagi HIV/AIDS (pertumbuhannya) seperti tsunami sosial,
dikarenakan kasus yang terdeteksi saat ini baru kulit luarnya,” kata
dia dalam sebuah acara di Palu, Sabtu (14/3) malam.
SUKABUMI, (PRLM),-Penderita HIV/AIDS di Kab. Sukabumi terus meningkat. Data
di kantor Penanggulangan Penyakit Menluar (P2M) Dinas Kesehatan Kab. Sukabumi
jumlah penderita HIV hingga awal Maret 2009 mencapai 143 orang.
Dari jumlah penderita sebanyak itu, sekitar 27 orang telah meninggal dunia.
Penderita HIV yang meninggal dunia, satu diantaranya masih usia balita.
Perlukah strategi untuk menanggulangi HIV? Atau
cukup dengan intuisi dan mengikuti aliran yang ada? Mari kita mulai merubah
main set yang telah lama sekali tertanam dalam program penanggulangan AIDS. Perlu
kita membuka mata, memasang telinga dan mencoba memasukkan teori-teori baru
tentang intervensi HIV dan AIDS bersama:
Prof.
Roger Detels, School of Public Health. University
of California, Los Angeles
Beliau adalah Direktur UCLA-Fogarty HIV/AIDS International Training Program
dalam bidang Epidemiology. Peserta program dari Cina,
Indonesia, India, Myanmar,
Thailand,
Kambodia. telah Menulis tebih dari 200 artikel tentang Public Health dan
HIV-AIDS di Asia. Pernah menjadi Dekan School of Public Health - UCLA, Ketua
International Epidemiological Association.
Dilaksanakan pada hari Sabtu, 21 Maret 2009, Jam 10-12.00 Di Ruang Promosi
Doktor FKM UI Kampus UI Depok. Diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan,
Fak. Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia
Pengelola aids-ina.org
A better way in strengthening
strategic information to guide a more effecctive
Simposium Setengah Hari Informasi Pengobatan HIV Terkini yang Pertama
Pengobatan HIV sebagai Pencegahan
Dilaksanakan oleh Yayasan Spiritia bekerja sama dengan Ford Foundation,
HCPI, dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan Masyarakat Universitas
Atma Jaya, di Aula Gedung D Universitas Atma Jaya, 24 Februari 2009
Rangkuman keseluruhan oleh Prof. Irwanto
Terapi antiretroviral (ART) telah diakui merupakan satu di antara
sedikit sekali pilihan yang menunjukkan efektivitas dalam
mempertahankan hidup dan memperbaiki mutu hidup Odha.
Meskipun demikian, dunia tokh dikejutkan dengan penyataan Swiss Federal
Commission for HIV/AIDS (Komisi Penanggulangan AIDS/KPA) Swiss yang
baru-baru ini mengeluarkan pernyataan bahwa: Seorang Odha tanpa IMS dan
sedang menjalani ART sehingga virus HIV tidak dapat terdeteksi, secara
seksual tidak akan menularkan HIV selama beberapa kondisi berikut
terpenuhi: (1) Odha patuh menggunakan ARV dan kondisinya selalu
dievaluasi dokter, (2) Virus tidak terdeteksi sekurang-kurangnya selama
6 bulan, dan (3) Tidak mengidap infeksi menular seksual lainnya
(Vernazza, Hirschel, Bernasconi, & Flepp, 2008). Pernyataan KPA Swiss
tersebut kemudian didukung oleh berbagai perhitungan matematis yang
tiba pada kesimpulan bahwa pengobatan ARV dapat dipertimbangkan sebagai
kebijakan utama dalam pencegahan, bahkan pemberantasan infeksi HIV/AIDS
(Granich, Gilks, Dye, De Cock, & Williams, 2008).
Argumen di atas dibangun berdasarkan analisis terhadap berbagai
penelitian empirik terhadap pasangan diskordan (satu yang HIV-positif,
yang lain HIV-negatif). Dalam penelitian, pasangan yang HIV-positif
menjalani pengobatan ARV sehingga viral load tidak lagi terdeteksi
selama paling kurang enam bulan. Berbagai penelitian tersebut
menunjukkan secara meyakinkan bahwa tidak terjadi infeksi pada pasangan
seksual walau melakukan hubungan seks tanpa kondom.
Indonesia mempunyai banyak sekali keterbatasan dalam menanggulangi
infeksi HIV/AIDS. Pernyataan KPA Swiss dan bukti-bukti empirik tentang
keampuhan ART untuk menekan jumlah virus hingga tidak terdeteksi dan
tidak menular, tentu harus dikaji dengan seksama dan diambil pelajaran
yang paling berharga. Hal ini terbukti dari pengalaman di Negara
Amerika, yang menunjukkan penularan masih terjadi walaupun Odha sudah
memakai ART, karena ada fenomena 'blips' (peningkatan sementara). Blips
ini terjadi akibat replikasi terus-menerus pada jaringan getah bening,
beda metabolisme antar individu dan interaksi obat sehingga dapat
menyebabkan reservoir HIV meningkat dalam waktu yang singkat.
Kebijakan nasional untuk mencegah dan menanggulangi infeksi HIV/AIDS
tentu harus dirumuskan dengan memanfaatkan pengetahuan berbasis kajian-
kajian empirik yang dapat dipertanggung jawabkan. Sebelum
dikeluarkannya pernyataan KPA Swiss, telah diketahui dan terbukti
secara meyakinkan bahwa infeksi HIV dapat dicegah melalui penggunaan
kondom dan peralatan suntik steril. Kedua intervensi ini perlu
memperoleh dukungan yang semestinya - sampai saat ini tidak tampak
seperti itu.
ART diakui efektif menekan jumlah virus dalam cairan tubuh.
Sebagai pengobatan, ART tidak memancing kontroversi moral, agama, dan
hukum. Persoalannya adalah jika ART dianggap sebagai cara pencegahan
yang paling efektif, maka banyak bukti dan argumen yang mengharuskan
kita untuk ekstra hati-hati. Persyaratan ART sebagai pencegahan adalah
sebuah proposal yang mahal. Indonesia pasti tidak mampu memenuhi
kebutuhan Odha yang saat ini berjumlah kurang lebih 270.000 untuk
memperoleh ART. Penelitian empirik juga menyatakan bahwa kepatuhan
minum obat (terus-menerus selama bertahun-tahun) merupakan masalah
besar bagi banyak orang, termasuk Odha. Jika perilaku seksual berisiko
masih dilakukan, infeksi menular seksual (IMS) merupakan ancaman nyata
bagi orang Indonesia. Last but not least - kajian empirik juga
menyatakan bahwa jumlah virus yang tidak terdeteksi, tidak
menghilangkan risiko penularan hingga ke angka nol!
Lalu, bagaimana kita mengambil sikap?
1. Abstinensi (puasa seks)
2. Memperkuat kebijakan kita berdasarkan intervensi yang lebih murah
dan terbukti efektif seperti penggunaan kondom dan peralatan suntik
steril
3. Lakukan terus upaya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) untuk
mengubah perilaku
4. Memperluas layanan tes HIV dan mendorong setiap individu yang
berperilaku berisiko untuk sedini mungkin melakukan tes
5. Mendukung penyediaan dan ART seluas-luasnya baik dalam rangka
pencegahan penularan HIV dari ibu-ke-bayi (PMTCT) maupun
memperpanjang harapan hidup dan memperbaiki mutu hidup Odha. Jika
dengan ART Odha yang patuh dan memperbaiki pola perilakunya
memperoleh manfaat sehingga jumlah virus dalam dirinya dapat ditekan
sampai tidak terdeteksi sehingga kecil kemungkinan terjadinya
penularan - maka kita anggap hal ini sebagai dampak yang kita
inginkan
6. Keseimbangan antara: Promosi, Pencegahan, Pengobatan dan
Rehabilitasi
7. Selalu mengingat bahwa pengobatan bukanlah satu-satunya pencegahan
HIV tetapi pengobatan HIV merupakan salah satu cara pencegahan HIV
Dengan demikian, upaya-upaya pencegahan kita lebih realistis dan tetap
memakai ART untuk memperoleh semua dampak positif yang kita inginkan.
Presentasi PowerPoint Prof. Zubairi Djoerban dan Dr. Pandu Riono pada
Simposium dapat diunduh dari <http://spiritia.or.id/Dok/Simposium1.zip>
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>
GFATM Ronde 9 Komponen AIDS – Membuka lamaran untuk calon SR di tingkat nasional (10 Maret – 6 April 2009)
Ketua
Tim Pengembangan Proposal Ronde 9 Komponen AIDS mengundang calon SR
untuk mengajukan lamaran menjadi penerima hibah sekunder untuk GFATM
Ronde 9 Komponen AIDS.
Silahkan isi formulir yang dapat diunduh di link berikut ini
dan kirimkan kepada Sekretariat CCM GF ATM Indonesia melalui email di: ccmgfatmindonesia@... selambat-lambatnya 6 April 2009.
Latar Belakang:
Panduan Global Fund yang dilampirkan pada Formulir Proposal Ronde 9 menyatakan bahwa Penerima Hibah Sekunder (Sub-Recipient - SR) adalah pelaksana program yang melaksanakan pelayanan di bawah kepemimpinan Penerima Hibah Primer (Principal Recipient – PR). SR dapat dipilih dari berbagai mitra pelaksana yang ada – baik pemerintah maupun non-pemerintah.
Calon SR termasuk antara lain: lembaga/badan
pemerintah; lembaga-lembaga non-pemerintah dan berbasis masyarakat;
jaringan orang yang hidup dengan HIV (odha); sektor swasta; lembaga
berbasis agama; lembaga akademis/pendidikan; selain itu, dimana tidak
ada penerima hibah tingkat nasional, juga mitra-mitra pembangunan
multi/ bilateral (multi/bilateral development partners).
Sub Recipient non Pemerintah yang diajukan harus memiliki:
Pendaftaran sebagai entitas legal di Departemen Hukum dan HAM serta
Departemen Dalam Negeri;
Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
Articles of Association;
Alamat yang dapat diverifikasi;
Profil perusahaan atau organisasi;
Kapasitas menangani proyek yang sudah terbukti;
Kapasitas menangani program AIDS yang telah terbukti;
Kapasitas monitoring dan evaluasi yang telah terbukti
Dokumentasi informasi SR dalam Formulir Proposal
harus cukup lengkap untuk menggambarkan kapasitas dan kemampuan
manajemen calon SR, khususnya kapasitas menjangkau sampai pada tingkat
komunitas bagi lembaga-lembaga non-pemerintah.
Aplikasi calon SR yang masuk akan di-review oleh
Kelompok Kerja Teknis Komponen AIDS (Technical Working Group/ TWG),
yang akan membuat daftar calon SR potensial yang memenuhi syarat.
Daftar ini akan dikirim bersama dengan proposal Ronde 9 kepada Global
Fund. Calon SR yang masuk ke dalam daftar ini akan diberitahu.
Bila proposal Ronde 9 sukses dan disetujui oleh
Global Fund untuk program dana hibah (2010-2015), akan dilaksanakan
suatu proses pemilihan oleh Penerima Hibah Primer (Principal Recipient)
yang dinominasikan, sesuai dengan area tanggung jawabnya. Berita
mengenai hasil review proposal Global Fund baru akan diterima kira-kira
pada bulan Oktober 2009, dan pelaksanaan program dana hibah Ronde 9
(apabila disetujui) baru akan dimulai pada bulan April 2010.
Informasi teknis mengenai Proposal GF ATM Ronde 9 dapat dilihat pada link di bawah ini