Search the web
Sign In
New User? Sign Up
tb-hiv_indonesia · TB-HIV Indonesia
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Want to share photos of your group with the world? Add a group photo to Flickr.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Lokakarya IDI Jejaring Organisasi Profesi Kesehatan   Message List  
Reply | Forward Message #62 of 195 |
Lokakarya IDI Jejaring Organisasi Profesi Kesehatan

Latar Belakang

Saya baru mengikuti Lokakarya Pertemuan Jejaring Nasional Organisasi
Profesi Kesehatan Indonesia untuk HIV-AIDS, yang dilakukan oleh PB-IDI
18-19 Oktober. Tujuan umum lokakarya tersebut adalah "untuk
meningkatkan kemampuan tenaga profesional dan kerjasama antar berbagai
organisasi profesi bidang kesehatan untuk menekan kecenderungan
peningkatan penularan HIV, melalui peningkatan kualitas layanan
terhadap Odha di setiap Rumah Sakit di kabupaten/kota di Indonesia."
Tujuan khusus adalah "untuk menyampaikan dan membahas rencana
keseluruhan tentang penyusunan kajian strategis, peningkatan kompetensi
anggota, dan untuk penyebaran informasi." Pada akhir pertemuan, disusun
jadwal kegiatan yang akan dilakukan oleh PB-AIDS IDI pada satu tahun ke
depan, termasuk rencana untuk kegiatan terkait ICAAP 2009 di Bali.

Yang diundang termasuk semua organisasi profesi di bawah IDI serta
organisasi kesehatan terkait (dokter gigi - PDGI, perawat - PPNI, bidan
-IBI, apoteker - ISFI). Sayangnya hanya sedikit wakil organisasi
profesi di bawah IDI turut hadir.

Yang berikut bukan laporan lengkap mengenai semua presentasi dan
diskusi, hanya beberapa topik yang mungkin lebih menarik buat kita.

Ada presentasi dari PDGI, PPNI, IBI dan ISFI, serta juga dari JOTHI,
IPPI, dan Spiritia. Juga ada presentasi oleh Prof Zubairi, Dr Sigit
(Kasubdit AIDS), Prof. Agus Purwadianto mengenai Etiko Medica Legal dan
Dr Pandu Riono dengan informasi terkini mengenai epidemi HIV di
Indonesia.

Estimasi

Yang jelas, Depkes dan IDI sekarang sudah menerima estimasi jumlah
infeksi HIV di Indonesia yang dikeluarkan oleh UNAIDS Juni yang lalu,
Waktu itu, ada keraguan apakah estimasi 270.000 kasus masuk akal,
tetapi dr Sigit bersepakat bahwa estimasi jumlah kasus HIV pada orang
berusia 15-29 tahun pada 2008 adalah 277.700. Tidak ada informasi
mengenai populasi berusia 0-14 tahun atau 49 ke atas, tetapi saya rasa
dengan menambah ini, jumlah akan melebihi 300.000. Diperkirakan akan
ada 51.300 kasus baru pada 2008, dan 10.400 kematian akibat AIDS.
Ditanya mengenai perkembangan, dr Pandu memperkirakan akan ada 1 juta
kasus pada 2015. Dr Sigit juga memperkirakan bahwa saat ini adalah
38.800 Odha di Indonesia yang membutuhkan ART, tetapi hanya seperempat
mendapatkannya.

Yang menarik juga, Dr Dyah dari IDI memperkirakan 30-50% kasus TB di
Indonesia terkait dengan HIV. Dengan adanya lebih dari 500.000 kasus TB
di Indonesia setiap tahun, hal ini berarti jumlah kasus HIV terkait TB
saja antara 150.000 dan 250.000. Pernyataan Dr Dyah berdasarakan
pengalamannya di RS Kramat 128 dan informasi dari klinik PPTI di
Baladewa, Jakarta. Dr Pandu agak ragu dengan perkiraan tersebut, dengan
menyatakan bahwa populasi di klinik tersebut adalah orang agak muda,
sementara umumnya pasien TB di Indonesia lebih tua. Jelas estimasi ini
melebihi angka yang diperkirakan oleh Subdit TB.

ARV

Dr Sigit juga membahas masalah ketersediaan (atau lebih benar,
ketidakketersediaan) ARV. Saya rasa masalah ini cukup dibahas oleh yang
lain; pokoknya, dana untuk membeli ARV habis, dan bila tidak ada
perkembangan, ketersediaan akan habis dalam dua bulan.

Dr Sigit menyatakan bahwa harga Duviral dari KF adalah Rp200.000 per
botol. Namun harga tertinggi untuk obat serupa yang dibeli melalui
Clinton Foundation adalah $119 per tahun, kurang lebih Rp95.000 per
botol. Memang harga Clinton harus ditambah bea masuk, tetapi lebih dari
100%?

(Harga Clinton untuk AZT + 3TC + nevirapine adalah $159 per tahun. Bila
semua 38.000 Odha yang membutuhkan ART mendapatkan kombinasi ini dengan
harga tersebut, biaya per tahun kurang lebih $6,2 juta atau kurang
lebih Rp 60 miliar per tahun.)

Pak Sigit juga agak kesal karena dia merasa kurang ada dukungan buat
dia oleh Odha dan komunitas. Selain mengeluh terus di milis, mana ada
tindakan? Bila suara kita tidak terdengar, jelas kebijakan tidak akan
berubah.

Rumah sakit rujukan

Walau menurut rencana, akhir tahun ini seharusnya ada 400 rumah sakit
rujukan AIDS, dan walau 208 rumah sakit sudah dilatih, jumlah rumah
sakit rujukan yang aktif saat ini hanya 148. Dr Rudi dari Pokja AIDS
Depkes janji akan menyediakan daftar rumah sakit rujukan yang aktif.
Belum jelas apakah ada rencana untuk mengaktifkan rumah sakit yang
sudah dilatih, atau untuk meningkatkan jumlah menjadi 400 sesuai
rencana.

Konseling dan tes

Ada 482 tempat VCT, 218 di antarannya di rumah sakit/rumah sakit jiwa,
119 di puskesmas, 115 di LSM dan 30 di lapas.

Ada banyak diskusi mengenai PITC (provider initiated testing and
counseling). Jelas belum ada kesepakatan mengenai artinya PITC, dan
bagaiamana PITC sebaiknya diterapkan. Salah satu item dalam rencana
kerja IDI adalah untuk membahas masalah ini dengan semua pihak terkait,
termasuk wakil laboratorium swasta, dalam beberapa bulan ke depan.

HAM

Presentasi Prof Agus sangat menarik, tetapi agak membingungkan (sangat
cepat dan teknis) serta menggelisahkan. Dia berpendapat bahwa
malpraktek di kesehatan bukan hanya terjadi pada layanan individu,
tetapi lebih apa yang dia sebut sebagai malpraktek kesehatan
masyarakat, yang menurut dia lebih berbahaya. Termasuk dalam malpraktek
kesmas ini adalah kebijakan yang lalai, kompetensi dinas kesehatan yang
kurang, masalah keselamatan kerja di rumah sakit (penyediaan bahan
untuk kewaspadaan universal), kewajiban untuk surat bebas AIDS, dan
banyak lagi (jelas termasuk masalah anggaran!). Dia berpendapat bahwa
malpraktek kesmas dapat dituntut sama seperti malpraktek individu, dan
menyebut undang-undang yang dapat dilakukan. Sayangnya saya tidak
sempat catat undang-undang tersebut, tetapi mungkin hal ini adalah satu
topik diskusi untuk advokasi kita.

Dokter gigi

Wakil Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI), Dr Harum Sasanti, mengaku
bahwa kebanykan anggota profesi belum peduli mengenai HIV, dan sudah
saat PB PDGI menjadi lebih serius menghadapi masalah ini. Saya kira
kita semua setuju dengan pernyataan tersebut.

Kesimpulan

Jelas upaya ini oleh IDI sangat penting, dan pas waktunya. Namun tetap
ada banyak hambatan, dan tingkat kehadiran oleh wakil organisasi
profesi yang sangat rendah menujukkan bahwa masih dibutuhkan upaya yang
lebih serius untuk melibatkan semuanya.

Babe

--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>






Mon Oct 20, 2008 7:40 am

wartaaids
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #62 of 195 |
Expand Messages Author Sort by Date

Lokakarya IDI Jejaring Organisasi Profesi Kesehatan Latar Belakang Saya baru mengikuti Lokakarya Pertemuan Jejaring Nasional Organisasi Profesi Kesehatan...
Chris W. Green
wartaaids
Offline Send Email
Oct 20, 2008
7:40 am
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help