HATIP 134, yang berjudul 'Terapi lini kedua', baru disediakan di situs
web Spiritia, dengan titik kunci yang berikut:
* Kebutuhan akan terapi lini kedua masih rendah tetapi mungkin keadaan
ini akan berubah selama beberapa tahun ke depan.
* Kelangkaan sarana tes viral load berarti banyak orang dengan terapi
yang mulai gagal tidak terdeteksi selama jangka waktu yang lama; hal
ini menghasilkan tingkat resistansi terhadap obat yang tinggi,
terutama terhadap golongan analog nukleosida (NRTI).
* Tingkat resistansi terhadap NRTI yang tinggi dapat menyulitkan
terbentuk kombinasi ARV lini kedua.
* Konsultasi ahli WHO mengusulkan dua dasar NRTI untuk dipakai dalam
terapi lini kedua: tenofovir + 3TC atau FTC, atau abacavir + ddI.
* Konsultasi itu mengusulkan penggunaan protease inhibitor (PI) yang
dikuatkan agar dipakai dalam terapi lini kedua, yaitu
lopinavir/ritonavir atau atazanavir/ritonavir.
* Bila PI yang dikuatkan dipakai, penting memastikan produk yang
dipakai sudah menerima persetujuan sementara oleh FDA AS untuk
penggunaan oleh PEPFAR, atau prakualifikasi WHO. Ada keraguan
mengenai mutu beberapa versi lopinavir/ritonavir yang belum disetujui
oleh lembaga ini.
* Tanggapan terhadap rejimen lini kedua ternyata baik dalam kohort
pasien yang kecil dilaporkan sampai sekarang, tetapi hanya ada sangat
sedikit informasi mengenai dampak rejimen yang diusulkan di
konsultasi ahli WHO. Beberapa uji coba yang besar direncanakan di
Afrika sub-Sahara untuk menguji kemanjurannya.
* Penelitian juga menyelidiki beberapa pendekatan yang lain untuk
terapi lini kedua. Pendekatan ini termasuk pemberian PI yang
dikuatkan sebagai terapi tunggal (monoterapi) atau penggunaan dua
obat dari golongan baru (satu PI dan satu integrase inhibitor).
* Semua obat lini kedua tetap jauh lebih mahal dibandingkan obat lini
pertama. Oleh karena itu, mencegah kegagalan pada terapi lini pertama
adalah sangat penting.
Untuk baca artikel HATIP ini, klik
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=0134>
Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>