Kami sering mendengar laporan mengenai neuropati perifer yang dialami
oleh Odha, terutama mereka yang memakai terapi antiretroviral (ART)
yang mengandung d4T (Stavudin). Ada yang mengalami neuropati perifer
yang begitu berat sehingga mereka sulit berdiri, apa lagi berjalan
kaki.
Masalah ini memang lebih berat di negara di Afrika, yang sering hanya
menyediakan ART lini pertama yang mengandung d4T. Kita untung di
Indonesia karena rejimen lini pertama yang baku mengandung AZT, dan d4T
hanya dipakai bila pasien mengalami anemia sebagai efek samping AZT.
Namun setelah AZT diganti dengan d4T, sering kali mereka mengalami
kesulitan untuk gantinya kembali dengan AZT, dan tetap memakai d4T
selama jangka waktu yang panjang, dengan demikian menjadi rentan
terhadap masalah neuropati perifer.
Padahal, Pedoman ART 2007 Depkes cukup jelas:
"Catatan tentang stavudin (d4T)
"d4T merupakan NRTI yang sering berhubungan dengan asidosis laktat,
lipodistofi dan neropati perifer. Oleh karena pada saat ini d4T sangat
murah dan mudah didapat maka masih menjadi pilihan dengan memantau
secara ketat gejala toksisitasnya.
"Pengalaman dari Thailand bahwa dalam hal AZT merupakan kontraindikasi
pada saat pemberian terapi ARV maka pemberian paduan ARV lini pertama
dengan d4T dapat diberikan selama 6 - 12 bulan untuk kemudian diganti
dengan AZT. Contohnya pada pasien anemi, dan segera setelah anemianya
membaik maka d4T diganti dengan AZT. Pilihan ke dua adalah dengan
mengawali dengan d4T dan segera setelah nampak gejala dini dari
lipodistrofi maka d4T digantikan oleh AZT."
Tambahan, di Tabel 20:
"Strategi untuk memaksimalkan keamanan stavudin (d4T)
"Ubah paduan ARV dengan NRTI yang lain seperti (AZT, TDF atau ABC)
segera setelah muncul efek samping dapat mengurangi keparahan
toksisitas d4T
"Penggunaan d4T pada pasien dengan anemi dan segera ganti dengan NRTI
lain (AZT, TDF atau ABC) bila anemi telah teratasi"
Masalah terkait neuropati perifer terkait HIV, dan khususnya neuropati
perifer sebagai efek samping d4T, dibahas secara dalam di HATIP 133-1:
Neuropati perifer pada Odha di rangkaian terbatas sumber daya - klik
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=01331>, dan diagnosis
(yang sering terlambat) dan pengobatan (atau sebetulnya, kelangkaan
pengobatan) neuropati perifer - klik
<http://spiritia.or.id/hatip/bacahat.php?artno=01332>
Babe
--
Chris W. Green (chrisg@...)
Divisi Pelatihan dan Informasi
Yayasan Spiritia, Jakarta
Tel: (021) 422-5163 Fax: (021) 4287 1866
Situs web: <http://spiritia.or.id>