|
1. Lagi,Penderita HIV/AIDS
Meninggal
Koran SINDO, 28
April 2009
CILEGON (SI) - Seorang perempuan, warga Kelurahan Mekar Sari, Kecamatan
Pulo Merak yang terjangkit virus HIV/AIDS meninggal dunia kemarin.
Wanita berinisial RI,yang diketahui positif HIV sejak 2007 ini, meninggal
karena penyakit penyerta yaitu tuberkulosis (TBC). Kepala Puskesmas Pulo
Merak Evi membenarkan ada warga Pulo Merak yang positif HIV/AIDS telah
meninggal. ”Korban dulu sempat kami periksa dan menderita penyakit
TBC kronis.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=1000
2. Penanggulangan HIV/AIDS Kurang
Efektif
Koran SINDO, 28
April 2009
SURABAYA (SI)
– Program penanggulangan HIV/AIDS di Surabaya tidak berjalan efektif.
Buktinya, setiap bulan ada lebih 10 pasien HIV/AIDS yang meninggal saat
menjalani perawatan di Unit Perawatan Intermediet dan Penyakit Infeksi
(UPIPI) RSU dr Soetomo.
Itu belum termasuk pasien HIV/AIDS yang meninggal di luar rumah sakit. Dari
penelusuran Seputar Indonesia,
pasien HIV/AIDS yang menjalani perawatan di UPIPI juga banyak yang kabur
karena tak tahan harus menjalani perawatan cukup panjang. Selain itu,
banyak juga pasien HIV/AIDS yang terlunta- lunta dan tidak diurus lagi oleh
keluarganya. Pendamping dan relawan sebaya orang dengan HIV AIDS (ODHA) di
UPIPI RSU dr Soetomo setiap hari selalu ada.
Terutama Senin dan Kamis, saat ada olahraga bersama dan makan sehat
bersama.Hanya, program semacam itu kurang mengena, terutama bagi pasien
HIV/AIDS yang tidak mau menjalani rawat inap di rumah sakit. Menurut
Supervisor UPIPI RSU dr Soetomo,dr Mohammad Vitanata Sp PD, sebetulnya penanganan
pasien HIV/AIDS itu akan lebih bagus jika dilakukan sejak dini atau pasien
tersebut masih dalam status HIV.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=999
3. Wagub akan sosialisasikan HIV/AIDS
Waspada Online, 24
April 2009
WAHYU
HIDAYAT
MEDAN -
Sosialisasi akan bahaya HIV/AIDS sudah harus mulai sedini mungkin untuk
dapat mencegah perkembangan HIV/AIDS masyarakat, khususnya di kalangan remaja.
HIV/AIDS ini sendiri sangat rentan terjadi pada usia produktif dan jumlah
penderitanya selalu bertambah tiap tahunnya.
Wakil Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho, bersama dengan dr Linda
T Maas dari Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Sumut, dan dr Chandra Syafei,
SpOG, dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumut bekerjasama dengan RSU Pirngadi
akan undang Kepala Rumah Sakit di Sumatera Utara untuk sosialisasi mengenai
HIV/AIDS.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=998
4. Kasus HIV/AIDS bisa diketahui
dengan VCT
Waspada Online, 24
APril 2009
WAHYU
HIDAYAT
MEDAN -
Voluntary and Counseling Testing (VCT) adalah suatu program yang dapat
digunakan bagi pihak medis untuk mengetahui sudah seberapa jauh seorang
pengidap HIV/AIDS menderita penyakitnya. VCT sendiri merupakan suatu jalan
keluar yang sangat baik dalam proses penghentian penularan yang berakibat
meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS.
Upaya tersebut merupakan terobosan yang baik untuk mengetahui tingkat
sebaran virus HIV/AIDS ini sudah sampai stadium berapa terjangkit di dalam
tubuh penderita.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=997
5. Jamkesmas diberikan pada pasien
penderita HIV AIDS
Waspada Online, 24
APril 2009
WAHYU HIDAYAT
MEDAN - Pihak Dinas Kesehatan Sumatera Utara
memberikan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) kepada bocah yatim
piatu yang sejak lahir terjangkit virus HIV-AIDS melalui Wagubsu di RSU
Pirngadi Medan.
Wakil Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho beserta rombongan menjenguk
Berkat Hutabarat, pasien penderita HIV AIDS yang masih berumur 5 tahun
bernama di RSU Pirngadi Medan.
"Jamkesmas tadi sudah diberikan langsung, dan untuk selanjutnya akan
dibiayai langsung oleh pihak rumah sakit," kata Gatot.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=996
6. HIV/AIDS masih ancam PAPUA
Waspada Online, 25
APril 2009
JAYAPURA - Penyakit HIV/AIDS masih menjadi ancaman tersendiri bagi
Pemerintah Kota Jayapura yang memiliki catatan kasus tinggi terhadap
penyakit mematikan ini.
Kepada ANTARA, di Jayapura, Papua, Jumat, Beno Satya Utama, S.Kom dari
Yayasan Harapan Permata Hati Kita (Yakita), mengatakan, penyakit ini masih
menjadi masalah global yang perlu segera disikapi kemungkinan penyebarannya
setiap saat.
"Tingginya temuan kasus HIV/AIDS di Jayapura menjadi tugas kita
bersama, baik pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait untuk
mencegahnya," ujarnya saat membuka Pelatihan Kesehatan Reproduksi,
HIV/AIDS, dan Hepatitis C di aula yakita Jl. Batu Putih No. 97 Polimak,
Jayapura.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=995
7. 18 bayi dan anak-anak di Sumut
terjangkit AIDS
Waspada Online, 27
April 2009
DAVID
SWAYANA
MEDAN -
Sebanyak 18 bayi dan anak-anak di Sumatera Utara terjangkit Human
Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS). Dari
jumlah tersebut, seorang di antaranya meninggal dunia.
"Jadi, saat ini masih ada 17 bayi dan anak-anak yang terjangkit
HIV/AIDS," kata Kadis Kesehatan Sumut dr. Candra Syafei, SpOG.
Candra menjelaskan, ke-18 bayi dan anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS
tersebut terdiri dari usia 0 - 1 tahun (3 HIV dan 2 AIDS), usia 1 - 4 tahun
(6 HIV dan 2 AIDS) serta usia 5 - 9 tahun (5 HIV). Sebagian besar bayi dan
anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS tersebut berasal dari Medan.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=994
8. Lack of HIV/AIDS awareness
the Jakarta
Post Online, April 25, 2009
DENPASAR: Two people with HIV/AIDS died at the Sanglah General Hospital
in Denpasar on Friday.
The two patients, identified as MTh from Kuta, 31, and Gas, 35, from
Denpasar, were too ill to be treated.
They were both unaware they were HIV positive.
They had previously been diagnosed with acute tuberculosis, one of early
indications of HIV/AIDS.
Istina Dewi from the Bali+ Foundation, a non profit organization which
supports people with HIV/AIDS in Bali,
said many people with HIV were first admitted to hospital in the very late
stages of the virus.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=993
9. Society discriminates against
people with HIV/AIDS
the Jakarta
Post Online, April 24, 2009
Alit
Kartarahardja, The Jakarta Post , Singaraja |
Fri, 04/24/2009 12:55 PM | Bali
People suffering from HIV/AIDS still experience discrimination - including
after their deaths - because of a lack of adequate information and
knowledge about the subject.
"Discrimination against people with HIV/AIDS take place in their own
villages, workplaces, in hospitals and even in the cemeteries," Ketut
Sudhiarta told The Jakarta Post on Thursday.
Sudhiarta, chairman of Citra Usada Indonesia Foundation, was speaking on
the sidelines of a gathering involving community and religious leaders.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=992
10. Anak Jalanan Sangat Rentan
HIV/AIDS
Surya Online, 27
April 2009
Medan - SURYA -
Penyebaran virus HIV/AIDS yang pesat semakin memperbesar risiko penularan
HIV/AIDS pada anak jalanan. Hal ini terjadi karena kini semakin banyak anak
yang turun ke jalan dan berisiko menjadi korban perilaku seksual menyimpang
atau menggunakan jarum suntik.
”Setiap kali kami melakukan VCT (voluntary counselling and
testing/konseling dan dan pengujian sukarela) keliling pada kelompok
masyarakat berisiko, kami pasti menemukan minimal satu orang yang positif
terinfeksi HIV,” kata konselor VCT RS Pirngadi, Indah Kemala
Hasibuan, pekan lalu.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=991
11. KPAI: Pemerintah Setempat Tidak
Peka
JPNN.COM, 24
APril 2009
Kasus Bocah
Penderita HIV/AIDS di Sumut
JAKARTA -
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tak ketinggalan
"berteriak" menanggapi kasus Aples Decuari Hutauruk (10). Seperti
diketahui, Afes - panggilan akrab Aples - harus meninggalkan bangku sekolah
untuk menunggui adiknya yang terkena HIV/AIDS (Human Immunodeficiency
Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) di RS Pirngadi, Medan.
Anggota KPAI, H Abdul Ghoffur, menyayangkan mengapa Afes dan adiknya sempat
terusir dari kampung halaman, serta dari kampung neneknya di Tobasa. Hal
ini bisa terjadi, lanjutnya, berkemungkinan karena aparat pemerintah
setempat tidak peka terhadap kasus ini.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=990
12. Masih Ada Masyarakat Bersikap
Diskriminasi Terhadap HIV/AIDS
Harian Sinar Indonesia Baru, 25
April 2009
Wagubsu
Gatot Pujinugriho ST Kunjungi Balita Penderita HIV/AIDS di RS Pirngadi
Medan
Medan (SIB)
Wakil Gubernur Sumut Gatot Pujonugroho ST mengunjungi balita yang diduga
mengidap HIV/AIDS di Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan, Jumat (24/4) sore.
Dalam kunjungan itu, Wagubsu didampingi Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr
Candra Syafei SpOG, Direktur Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan Dr dr Umar
Zein DTM&H SpPD KPTI, Ketua Komisi Perlindungan AIDS Sumut dr Linda
Maas, Ketua Komisi Perlindungan Anak Daerah Sumut M Zahrin Piliang.
Turut juga Kadis Kesehatan Medan dr Edwin Effendi MKes, Ketua Badan
Pengurus Medan Plus Eban Totonta Kaban.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=989
13. HIV/AIDS Menggila di Sanggau
Equator News Online, 28
April 2009
Sanggau, Sebagai salah satu wilayah transit, Kabupaten Sanggau ternyata
rawan penyebaran dan penularan virus HIV/AIDS. Buktinya, dalam kurun waktu
sebulan terakhir, 7 pengidap baru berhasil terdeteksi. Mereka diketahui
masih berkeliaran bebas di tempat-tempat berisiko.
"Berdasarkan data terbaru temuan kita di VCT, jumlah pengidap per
bulan April ini bertambah menjadi tujuh pasien," ungkap Utin K SKm,
petugas klinik Voluntary Conseling and Testing (VCT) Tulip RSUD Sanggau di
sela-sela screening test ke berbagai tempat prostitusi di Kota Sanggau,
Senin (27/4) kemarin.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=988
14. HIV/AIDS Masih Ancam Papua
Berita Sore, 24
April 2009
Jayapura ( Berita ) : Penyakit HIV/AIDS masih menjadi ancaman tersendiri
bagi Pemerintah Kota Jayapura yang memiliki catatan kasus tinggi terhadap
penyakit mematikan ini.
Kepada ANTARA, di Jayapura, Papua, Jumat [24/04] , Beno Satya Utama, S.Kom
dari Yayasan Harapan Permata Hati Kita (Yakita), mengatakan, penyakit ini
masih menjadi masalah global yang perlu segera disikapi kemungkinan
penyebarannya setiap saat.
“Tingginya temuan kasus HIV/AIDS di Jayapura menjadi tugas kita
bersama, baik pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait untuk
mencegahnya,” ujarnya saat membuka Pelatihan Kesehatan Reproduksi,
HIV/AIDS, dan Hepatitis C di aula yakita Jl. Batu Putih No. 97 Polimak,
Jayapura.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=987
15. Pendekatan Teaterikal Menekan
HIV/AIDS di Papua
Kompas. Com, 24
April 2009
JAKARTA, KOMPAS.com — World Vision bekerja
sama dengan mitra lokalnya Wahana Visi Indonesia melakukan pelatihan
penulisan naskah, seni peran dan pementasan dan teater untuk pelajar SMA di
Jayapura.
Difasilitasi oleh anggota senior Teater Koma Jakarta Rita Matu Mona, 30
pelajar dari SMA 1 Jayapura mengikuti pelatihan lima hari yang dilangsungkan sejak Senin
lalu di Hotel Mutiara Kotaraja Dalam, Abepura.
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=986
16. Idap HIV/AIDS, Penyelundup Heroin
Minta Dideportasi
Termpo Interaktif, 27
April 2009
TEMPO Interaktif, Surabaya: Khawatir menularkan berbagai penyakit, kuasa
hukum Chanraem Suwanson, tersangka penyelundup heroin seberat 2,671
kilogram asal Thailand melalui bandara Juanda beberapa waktu lalu, meminta
polisi segera melakukan deportasi terhadap tersangka.
"Klien kami mengaku terkena HIV/AIDS, bahkan selama ini dia terkena
TBC yang cukup berat," kata Harlim Napitupulu, kuasa hukum Chanraem
Suwanson, ketika di Mapolda Jatim Senin (27/4).
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=985
17. Pengusiran Bocah Sipoholon
Langgar UU
Koran SINDO, 27
APril 2009
MEDAN(SI)
– Pengusiran yang dilakukan warga Kecamatan Sipoholon,Tapanuli Utara
(Taput),terhadap dua abang beradik Afles H,12 dan BAH,5,yang diduga
menderita HIV dinilai melanggar undang-undang.
Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut M Zahrin
Piliang mengungkapkan, perlakuan yang dialami kedua bocah itu sungguh tidak
mencerminkan rasa kemanusiaan.Keduanya diusir dari kampung hanya karena
bocah tersebut diduga menderita human immunodeficiency virus/ aquired
immuno deficiency syndrome(HIV/AIDS).
Selengkapnya: http://www.aids-ina.org/modules.php?name=&file=article&sid=984
|