Dear Dr. Bernard
Saya coba membantu,
CPAP diciptakan bukan sebagai alat pengganti intubasi, bukan alternatif intubasi dan bukan untuk menunda intubasi. CPAP adalah bridges sebelum intubasi. Pada early resp failure maka CPAP merupakan pilihan, khususnya pd Cardiogenic pulmonary edema. Kriterianya sangat ketat; cooperative alias sadar penuh, airway aman dan tidak ada distensi abdomen. Dari kasus anda jelas ada difficult intubation, sudah tdk masuk kriteria.
Jadi kalau mau di adu seperti head to head sangat tdk relevan. Difficult intubation head to headnya ya sama cricothyrotomi, LMA atau fiberoptic, bukan sama CPAP. Pertanyaan 4 tentu berdasarkan algoritme difficult intubation saja, yg dikeluarkan
ASA.
semoga bermanfaat
regards
YG
----- Original Message ----
From: Bernard Ibrata <ie_ben@...>
To: perdici@yahoogroups.com
Sent: Monday, July 7, 2008 9:36:17 AM
Subject: [perdici] Continuous Positive Airway Pressure(CPAP) vs Intubation
From: Bernard Ibrata <ie_ben@...>
To: perdici@yahoogroups.com
Sent: Monday, July 7, 2008 9:36:17 AM
Subject: [perdici] Continuous Positive Airway Pressure(CPAP) vs Intubation
| Dear All, Mohon pencerahannya atas problem di bawah ini: Continuous Positive Airway Pressure(CPAP) vs Intubation Pasien over weight dengan gagal napas, HHD, CHF, DM yang gagal dengan intubasi (bentuk leher pendek karena gemuk) kemudian dialihkan dengan menggunaka CPAP (Continuous Positive Airway Pressure). Pertanyaan saya: 1. Apakah hal ini diperbolehkan ? 2. Apa kerugian CPAP dibandingkan dengan intubasi? 3. Setelah diberikan CPAP, kondisi pasien kritis, akhirnya dilakukan intubasi kembali dan berhasil. 4. Jika melihat kondisi no. 3 di atas, mengapa tidak semula saja ya tetap diusahakan intubasi (walaupun sulit), bahkan kalau perlu dilakukan tracheostomy. 5. Kapan kondisi no. 4 tetap harus dilakukan . Terima kasih atas bantunnya. Dr. Bernard I. --- On Sat, 7/5/08, yohanes george <yohanesgeorge@...> wrote: From: yohanes george <yohanesgeorge@...> |