ini artikel dari hasil googling.
wassalam,
-S-
--- fwd msg ---
ATASI LUPA DENGAN LUPA
"Penyakit" lupa makin perlu diwaspadai sebab, seperti yang dilansir oleh The
Straits Times (TST), edisi 9 Januari 1998, otak generasi tahun 50-an yang
kini mulai menginjak usia paruh baya, mengalami kemunduran. Apa penyebab
kemunduran itu dan bagaimana solusinya? Klinik Memori maupun pelbagai
suplemen ditawarkan untuk membantu.
Sungguh keterlaluan sifat pelupa Peter (27). Setiba di rumah kontrakannya
sehabis berbelanja, ia kaget setengah mati. Soalnya mobilnya tak terparkir
digarasi. Ia lalu bertanya kepada teman-temannya, apakah ada yang melihat
siapa yang memakai mobilnya. Ia semakin bingung karena tak memperoleh
jawaban. Mereka baru saja pulang dan mobilnya sudah tidak ada di garasi.
Ketika seorang teman bertanya, ia dari mana dan Peter menjawab baru dari BIP
(sebuah pusat perbelanjaan di Bandung), ia langsung disambar dengan
pertanyaan, "Naik apa?" Peter langsung memukul jidatnya. Segera ia balik ke
BIP untuk mengambil mobilnya yang masih berada di tempat parkir BIP.
Bukan sekali itu Peter melakukan hal yang membuat rekan-rekannya
geleng-geleng kepala. Ada kejadian yang lebih menggelikan dan fatal
akibatnya. Waktu itu ujian akhir semester. Entah karena capai atau pusing
mengerjakan soal, sepulang ujian ia langsung tidur. Malam harinya ketika
ingin mengecek jawaban, kontan ia teriak-teriak. Ternyata lembar jawaban
soal tidak terkumpul bersama soalnya. Justru kertas corat-coret dan kerpekan
yang terkumpul. Seketika ia langsung lemas dan pasrah kalau tidak lulus.
Lain lagi dengan David Moobs. Ia juga seperti Peter, sering lupa di mana
memarkir mobilnya. Gawatnya lagi, hampir setiap hari ia menduga mobilnya
telah dicuri. Suatu kali pernah ia pergi ke toko membeli susu, tapi yang
terbawa sampai rumah malah roti dan coklat. Tak jarang ia lupa memperbarui
paspornya padahal kopor sudah siap menemani ia berlibur.
Menyerang manula
Mungkin Peter atau David bertanya-tanya, mengapa memori sering mengkhianati
mereka? Seseorang mengalami lupa jika informasi yang masuk tidak mendapat
perlakuan sebagaimana mestinya. Lupa dapat merupakan proses yang masih
normal (fisiologis), tapi dapat pula menjadi proses yang abnormal
(patologis). Ada beberapa macam bentuk lupa, yakni mudah lupa
(forgetfulness), amnesia, dan demensia.
Mudah lupa terjadi bilamana informasi yang diterima berhasil melalui proses
normal dan akhirnya tersimpan di dalam memori jangka panjang. Sayangnya
sukar diambil atau diingat kembali saat dibutuhkan. Mudah lupa masih
tergolong normal. Meskipun begitu tidak jarang hal ini merupakan tanda-tanda
keadaan abnormal.
Mudah lupa dapat terkait dengan penambahan usia yang sering dihubungkan
dengan inefisiensi proses memori, seperti proses berpikir menjadi lamban,
kurang menggunakan strategi memori yang baik, kesulitan memusatkan perhatian
dan mengabaikan distraktor, membutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari
sesuatu yang baru, dan lebih banyak dibutuhkan isyarat untuk mengingat
kembali informasi yang telah tersimpan. Mudah lupa akan semakin berat jika
menyerang manula dan disebut sebagai age-associated memory impairment
(AAMI).
Pada amnesia, informasi hanya sampai di memori jangka pendek. Dengan kata
lain, terjadi kegagalan atau kesulitan belajar yang berarti sudah bersifat
patologis. Namun, perhatian terhadap informasi yang masuk, mengingat kembali
informasi yang sudah lama, fungsi kognisi, bahasa, dan kepribadian masih
berjalan dengan normal. Hanya proses penerusan informasi dari memori jangka
pendek ke memori jangka panjang yang gagal sehingga informasi baru tersebut
tidak dapat diingat kembali.
Sedangkan demensia gangguan yang paling berat. Informasi sama sekali tidak
dapat masuk dalam proses memori. Bisa disebabkan oleh berbagai kelainan di
otak seperti: gangguan vaskuler (stroke) dan degeneratif (sindrom
Alzheimer).
Mirip RAM
Otak manusia berbeda dengan komputer, meski analoginya memang mirip. Sama
seperti komputer di meja Anda, otak dipersenjatai dengan dua memori dasar:
memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Bertentangan dengan
pemahaman umum, otak manusia tidak merekam segala kejadian tanpa
pilih-pilih, sebagian ada yang terkubur sampai dibangunkan kembali oleh
psikiater.
Memori jangka pendek, demikian bahasa Prof. Sidiarto Kusumoputro, pengajar
bidang neurologi FKUI/RSCM, bisa dianalogikan dengan RAM (Random-Access
Memory). Informasi yang diterima oleh panca indera menunggu dengan singkat
di memori kerja ini, semacam play group mental yang kemudian menguapkannya
dengan segera. Informasi baru tersimpan setelah terjadi proses perubahan
kimia dan listrik pada sel-sel saraf atau neuron. Memori jangka pendek
memungkinkan Anda untuk membuat hitungan sederhana di kepala atau mengingat
nomor telepon cukup lama, meski begitu selesai menelepon Anda mungkin sudah
lupa. Maka, sama seperti RAM, ia juga bisa menganalisa dan menyimpan
informasi tanpa membuat rekaman yang abadi.
Sedangkan memori jangka panjang bertindak sebagai hard drive, secara fisik
menyimpan pengalaman yang telah lewat di daerah otak yang disebut cerebral
cortex (kulit luar otak). Cortex merupakan rumah bagi belukar 100 miliar
neuron yang tampangnya mirip tumbuhan merambat. Komunikasi antarsel terjadi
lewat pancaran impuls-impuls kimia dan listrik. Setiap kita merasakan
sesuatu - pandangan, suara, ide - impuls unik dari sebagian sel-sel saraf
tersebut langsung aktif. Ada yang lalu tidak kembali ke bentuk asalnya,
karena mereka memperkuat koneksi satu dengan lainnya.
Musababnya, "Memori memang adalah pelbagai pola koneksi antarneuron," kata
Dr. Barry Gordon, kepala klinik gangguan memori di Sekolah Kedokteran Johns
Hopkins, AS. Bila suatu memori baru diperoleh, pengkodeannya bisa melibatkan
ribuan neuron yang tersebar di seluruh cortex. Tapi jika informasi baru itu
tidak digunakan, pola koneksi yang baru terbentuk itu akan segera pupus
kembali. Sebaliknya, jika kita berulang-ulang mengingatnya lagi, pola
koneksi itu akan semakin kokoh terbentuk dalam jaringan otak.
Meski demikian, keputusan untuk menyimpan atau membuang informasi biasanya
dilakukan tanpa sadar, karena berada di bawah kendali hippocampus,
berdasarkan pada dua pertanyaan. Pertama, apakah informasi tersebut memiliki
arti emosional bagi yang bersangkutan? Nama mantan pacar akan lebih tertanam
dalam memori kita daripada nama seorang menteri tertentu dalam kabinet yang
usianya hanya 2 bulan. Minat khusus, atau berkadar sensasional, oke. Hal
yang biasa-biasa saja, sori!
Pertanyaan kedua, apakah informasi yang masuk berhubungan dengan hal yang
sudah kita ketahui? Otak memang selalu sibuk berusaha membuat asosiasi.
Hal-hal yang dianggap takkan berguna tidak akan disimpan di dalam memori.
Alias, lupakan saja. Dengan sistem filter ini, manusia sanggup menguasai dan
melakukan analisis terhadap informasi yang diperoleh. Pada beberapa kasus
istimewa, neurolog kadang menemukan orang-orang dengan memori super. Data
yang betapa ruwet pun dapat mereka ingat. Namun, jangan kagum dulu. Umumnya
daya pikir abstrak orang-orang macam ini sangat lemah. Ibarat kenal angka,
mereka tak kenal makna.
Menurut Dr. Murray Grossman (45), ahli saraf dari Pusat Medis Universitas
Pennsylvania, AS, bila ditelusuri lebih teliti berdasarkan jangka waktu
keawetannya, ada lima jenis memori. Masing-masing: Semantik, Implisit,
Remote, Working, dan Episodik. Semantik merupakan memori tentang makna
simbol dan kata. Dengan memori ini kita bisa membedakan anjing dengan
kucing.
Memori Implisit biasanya menyangkut kecakapan tertentu, seperti bersepeda,
berenang. Memori Remote merupakan gudang data, umumnya melemah sejalan
dengan bertambahnya usia. Sedangkan Memori Working adalah memori jangka
pendek, yang kita andalkan saat melakukan kegiatan sehari-hari, seperti
mengingat bagian kalimat pertama saat lawan bicara kita sedang mengucapkan
bagian kalimat kedua, sehingga kita dapat memahami apa yang ia maksud.
Terakhir, Memori Episodik ialah memori yang menyangkut pengalaman yang belum
lama terjadi. Apa nama film yang ditonton minggu lalu, apa nama restoran
yang dipesan untuk berkencan Sabtu mendatang, di mana Anda letakkan kacamata
barusan, dst. Memori Episodik juga mundur dengan bertambahnya usia.
100.000 sel mati per hari
Yang masih menjadi persoalan adalah bagaimana informasi yang ditangkap
manusia bisa tersimpan di otak. "Proses mengingat tak bisa dilepaskan dari
belajar, learning," kata Prof. Sidiarto. Belajar merupakan proses untuk
memperoleh informasi atau pengetahuan baru. Sedangkan daya ingat (memori)
adalah proses yang menyimpan pengetahuan yang diperoleh itu dalam waktu lama
serta dapat mengingatnya kembali sewaktu dibutuhkan. Jelas, dalam mencerap
informasi dari lingkungan, kita amat bergantung kepada kemampuan daya ingat
ini.
Banyak pertanyaan tentang proses mengingat masih belum terjawab. Soalnya,
"Belajar dan memori merupakan fenomena yang kompleks," kata John Byrne, Ph.
D., guru besar dan ketua jurusan neurobiologi dan anatomi Sekolah Kedokteran
Universitas Texas di Houston, AS. Sebab melibatkan seluruh bagian otak.
Para peneliti meyakini berkurangnya secara alami jumlah neuron di otak
memberikan kontribusi dalam kemunduran ingatan. "Dengan laju 100.000 sel per
hari," ujar Dr. Daniel Alkon (55), kepala laboratorium ilmu saraf Institut
Kesehatan Nasional di AS. Karena neuron memang tidak membelah seperti
sel-sel lain. Maka sejalan dengan waktu, saat seseorang mencapai umur 65
atau 70, ia sudah akan kehilangan 20% dari 100 miliar neuronnya. Faktor lain
kemunduran memori bisa jadi lantaran melemahnya neuron,
sehingga transmisi listrik pada sel-sel tersebut tak memadai lagi.
Buktinya nampak dari penelitian yang pernah dilakukan oleh sebuah perusahaan
asuransi di Massachusetts yang menyimpulkan, gugatan malpraktek lebih banyak
ditujukan kepada dokter tua dibandingkan dengan dokter muda. Dean K. Whitla
(71), ahli ilmu jiwa Harvard, pernah menguji 1.000 dokter berumur antara 30
dan 80 tahun. Hasilnya, secara rata-rata dokter berusia 80-an hanya bisa
mengingat setengah informasi dibandingkan dengan mereka yang berusia 30-an.
Ketika kita berusaha mengingat suatu informasi tertentu, diperlukan beberapa
langkah. Pertama, kemampuan untuk mencatat (register), lalu menyimpan, dan
kemudian mengambilnya. Pencatatan yang efektif memerlukan perhatian dan
motivasi terhadap informasi tersebut. Informasi disimpan lebih gampang jika
sering diingat-ingat kembali. Maka memudahkan pula pemindahan suatu
informasi baru, dari memori jangka pendek ke memori jangka panjang.
Di dalam memori jangka panjang ini, informasi diatur, disortir, dan
dipadatkan sehingga mudah ditata menurut petunjuk (clue) tertentu, yang bisa
dipanggil sewaktu-waktu.
Tapi proses itu tidaklah semulus jalan tol. Banyak pengalang yang membuat
informasi tidak mengendap sebagaimana mestinya. Terlebih bagi mereka yang
sedang memasuki gerbang umur 50-an.
Overload
Menurut Jed Diamond, terapis dan pengarang Male Menopause, penyakit lupa
sebagian disebabkan oleh gangguan hormonal yang ditandai dengan beberapa
gejala seperti sifat lekas marah.
Untunglah, hal itu bersifat sementara, "Dan bisa diredakan dengan penambahan
hormon di bawah pengawasan dokter, olahraga, serta pelbagai bentuk
pengurangan stres."
Gerald Celente (51), pendiri Trends Research Institute di Rhinebeck, New
York, yang mengaku sering kelupaan sesuatu sehingga tiap kali harus kembali
ke kantor, berpendapat, meski umur membuat kemunduran itu, "tapi kerja keras
dan terlampau sibuk juga pegang peranan."
Memang abad informasi saat ini pada akhirnya membawa implikasi tersendiri,
sehubungan dengan terbatasnya kapasitas otak. Overload. Seperti yang
dituturkan oleh Pamela Boyd (48), seorang guru SD di Olympia, Washington,
"Saya harus ingat kode angka untuk mematikan alarm di rumah. Kemudian kode
pos daerah saya diperbarui. Untuk masuk ke lobi apartemen saya yang baru,
saya juga harus memencet-mencet kode dulu. Belum lagi nomor Jaminan Sosial
saya (di AS ini amat penting), e-mail, nomor telepon, dan faksimili," kata
Boyd.
Beberapa gangguan lain, medik maupun bukan, juga bisa menyebabkan orang jadi
pelupa. Tekanan darah tinggi, kurang tidur atau kebanyakan minum pil tidur,
kebanyakan minuman keras, disfungsi kelenjar tiroid. Gangguan psikologis
macam depresi, kecemasan, atau sekadar kurang stimulasi, juga bisa jadi
pengalang terciptanya memori baru.
Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti RS Ninewells di Dundee
memperoleh kesimpulan senada, bahwa pengobatan (khususnya obat tidur),
gangguan kelenjar tiroid, dan kekurangan vitamin juga bisa memicu timbulnya
penyakit lupa. Hanya saja, hal itu biasanya terjadi setelah usia 55 tahun.
Orang muda juga
Tepatlah apa yang dikatakan oleh Cynthia Green, ahli ilmu jiwa yang mengajar
di Sekolah Kedokteran Mount Sinai, New York, memori akan menjadi bom krisis
baru. Hal itu diperkuat oleh tim Pusat Riset Rank Xerox, sebuah laboratorium
di Manchester, Inggris, produsen berbagai alat untuk mengatasi kegagalan
memori. Hasil riset tersebut, kemunduran memori sudah dialami oleh
orang-orang muda, usia akhir 20-an. Mereka, misalnya, sering lupa wajah dan
nama seseorang selama beberapa saat. Atau mau mengerjakan sesuatu tiba-tiba
lupa sama sekali.
Tim Xerox menuding semakin kompetitifnya kehidupan masa kini sebagai salah
satu penyebabnya. Ini bisa ditengarai dengan semakin panjangnya jam kerja
kantor. Tuntutan kehidupan juga membuat orang menjadi bunglon pekerja alias
mendobel. Entah menjadi dosen luar biasa atau konsultan.
"Kehidupan yang sangat sibuk memungkinkan Anda manjadi pelupa," kata Dr.
Abigail Sellen, salah seorang peneliti.
Sellen mengacu kepada penelitian yang dilakukannya terhadap 15.000 manajer
dan eksekutif di Insead, sebuah sekolah bisnis di Eropa. Selama lima tahun,
angka yang menyatakan memori dan konsentrasi merupakan persoalan besar
meningkat dari 15% menjadi 25%. Kesibukan, seperti diungkapkan oleh dr.
Michael McGannon, kepala bagian Pendidikan Bisnis Kesehatan Insead, bisa
menenggelamkan seseorang dalam suasana tertekan yang bisa berakibat buruk,
yakni kegagalan memori.
Ancaman lainnya adalah lingkungan. Profesor James Reason dari Universitas
Manchester mengatakan, timah hitam yang terdapat dalam bensin dan
sumber-sumber lain dapat merusak inteligensia dan daya ingat anak-anak.
"Memori seorang anak yang dalam masa pertumbuhan bisa rusak karena banyak
menghirup zat beracun," katanya.
Hal ini diamini oleh Prof. Dr. Soemarno Markam, ahli saraf FKUI - RSCM.
Menurut dia, polusi bisa menyebabkan perkembangan saraf otak terganggu. Ia
memberi contoh orang-orang Rusia pedesaan yang hidup di lingkungan bersih.
"Hingga usia 100 pun mereka tidak pikun," ujarnya.
Studi terbaru malah menunjukkan, bedah operasi menggunakan bius total juga
bisa menimbulkan masalah berkaitan dengan memori dan konsentrasi.
Apa yang terjadi dengan otak mereka?
Stimulasi dan obat
Berbagai persoalan di atas mendorong para peneliti untuk menyelidik apa
penyebab hilangnya atau mundurnya daya ingat. Apalagi, seperti yang
diungkapkan oleh Dr. Arnold Scheibel, direktur Institut Penelitian Otak
UCLA, "Masih sedikit sekali yang kami ketahui tentang otak yang kecil itu,
meski penelitian telah riuh-rendah begitu."
Dana memang mengalir deras. Sehubungan dengan AAMI, misalnya, The Charles A.
Dana Foundation telah mengucurkan dana untuk kelangsungan sebuah penelitian
sebesar AS $ 8,4 juta kepada lima pusat medis universitas utama. Para
peneliti memperoleh bantuan peralatan yang bernama pelarik PET (positron
emission tomography) yang dapat mendeteksi perubahan kimiawi yang terjadi
saat otak sedang melakukan berbagai tugas, semisal menghafalkan daftar kosa
kata.
Beberapa penelitian telah menunjukkan hasil meski baru diterapkan kepada
binatang. William Greenough, peneliti di Universitas Illinois, bisa jadi
memberikan seberkas lilin untuk menyibak kegelapan yang dialami para manula.
Greenough mengurung tikus bersama beberapa mainan seperti bola, boneka,
dsb., serta luncuran dan terowongan. Ketika ia kemudian membedah otaknya, ia
mendapati jumlah sel otak yang lebih banyak dibandingkan dengan tikus-tikus
yang tidak memiliki mainan dan alat permainan. "Apakah hal itu juga akan
berlaku bagi manusia, dalam arti jika dirangsang akan tumbuh sel otak baru?"
tanya Greenough.
Penelitian yang mirip juga dilakukan di La Jolla, Kalifornia. Para peneliti
menempatkan tikus-tikus pada lingkungan tertentu yang lebih luas dilengkapi
dengan sejumlah mainan tertentu. Hasilnya, volume sel otak tikus yang
bertanggung jawab terhadap kemampuan belajar dan mengingat ternyata
bertambah 15% dibandingkan dengan tikus yang ditempatkan dalam keadaan
normal. Ini menunjukkan bahwa tikus-tikus yang ditempatkan pada kondisi
tertentu itu lebih pintar dibandingkan dengan sesamanya.
Para ahli sebenarnya sudah lama mengetahui bahwa "lingkungan yang diperkaya"
dapat meningkatkan kinerja otak. Stimulasi, yang muncul dari lingkungan,
mampu membuat otak bekerja secara lebih efisien dan meningkatkan koordinasi
antarsel. Kalau mengacu kepada kesamaan struktur otak tikus dengan otak
manusia, maka semestinya hal itu bisa terjadi pada manusia juga. "Saya
justru terkejut kalau hal itu tidak terjadi pada manusia," papar Fred Gage,
peneliti sel otak yang memimpin penelitian di Institut Salk.
Otak manusia memang mempunyai sel-sel cadangan, seperti yang diujarkan
ilmuwan dari Institut Riset Stanford bahwa kita hanya menggunakan 10% otak
kita. Selebihnya nganggur gur! Cadangan tersebut dipakai untuk
mengantisipasi rangsangan tertentu dengan mengembangkan daya komputasi
melalui peningkatan jumlah sel yang tersedia. Akan tetapi jika seseorang
hidup dalam lingkungan yang rendah stimulasi dan tak pernah menggunakan
sel-sel cadangan, maka sel-sel itu akan mati.
Selain penelitian soal stimulasi, para ahli bidang farmasi pun berusaha
menciptakan obat yang mampu meningkatkan kinerja otak. Salah satu pemainnya
adalah Cortex, perusahaan yang didirikan oleh tiga ahli ilmu syaraf dari
Universitas Kalifornia di Irvine. Mereka mengklaim telah menemukan ampakine
yang dapat menyegarkan saraf yang lelah.
Yang lainnya, Helicon Therapeutics di Cold Spring Harbor, New York,
mengembangkan obat-obatan yang ditujukan untuk molekul otak. Peneliti di
sana menemukan adanya protein yang diberi nama CREB, yang kadarnya pada
lalat buah berdampak nyata terhadap kemampuan belajar dan mengingat.
Istirahatkan otak Anda
Penelitian untuk menemukan unsur baru dalam otak yang bisa diberi perlakuan
obat-obatan masih terus berlanjut. Di pihak lain, banyak terapis yang
menawarkan metode lain. Dengan motivasi yang kuat, serta mengaitkan
informasi dengan yang telah ada di memori jangka panjang, ternyata orang
bisa menjadi super dalam ingat-mengingat. Peneliti di Universitas Carnegie
Mellon mencoba hal itu terhadap beberapa siswanya. Dengan memfokuskan mereka
kepada deretan panjang angka, para siswa tersebut pada akhirnya menemukan
pola yang mereka hubungkan dengan sejumlah bilangan yang telah mereka kenal,
semisal hari ulang tahun.
Cara lain diajarkan oleh Harry Lorayne (71), pelatih memori yang terkenal di
kalangan penderita insomnia. Ia mengingat nama seseorang dengan
mengasosiasikan salah satu ciri tubuh yang gampang diingat.
Tak bisa disepelekan juga adalah jembatan keledai. Sebagai contoh, memori
adalah WIRES, yang diambil dari huruf depan Working, Implisit, Remote,
Episodik, Semantik. Prof. Sidiarto pun mengembangkan pola serupa. "Ingatlah
LUPA, maka kamu tidak akan lupa," ujarnya. LUPA versi Prof. Sidiarto ini
adalah Latihan, Ulangan, Perhatian, dan Asosiasi. Jadi, supaya informasi
yang masuk tahan lama harus dilatih, diulang, diberi perhatian, dan kita
asosiasikan. Tapi, yang patut diperhatikan juga adalah dalam mencerna
informasi harus bermodalkan KAMU, "Konsentrasi, Atensi, Motivasi, Upaya,"
tambahnya. Dengan menjalankan LUPA sejak usia muda, otak manusia akan lebih
lama menyimpan informasi karena informasi yang diterimanya tersimpan di
ingatan jangka panjang.
Bagaimanapun juga otak manusia terbatas kemampuannya. Sementara informasi
yang tersebar di dunia ini tak terbatas. Oleh sebab itu McGannon memberi
nasihat, "Biasakan berkonsentrasi pada satu hal. Kemudian istirahat untuk
menjernihkan pikiran dan baru mulai yang lain." Ia juga mengusulkan agar
kita tidak perlu mencemaskan banyak hal. Sebagai manusia modern, orang
sering terjebak pada pemikiran bahwa membaca koran merupakan keharusan.
Apalagi dalam situasi yang tidak menentu seperti saat ini. Tapi, apakah
hidup kita tergantung kepada semua yang tertulis di koran tersebut? Menurut
McGannon, ketika Anda cemas, pikiran dipenuhi berbagai hal. Lahan untuk
memori menjadi tersita dan akhirnya lupalah Anda akan beberapa hal.
McGannon kemudian menambahkan, cara terbaik untuk mengatasi penyakit lupa
adalah beristirahat yang cukup untuk memberikan kesempatan otak berelaksasi.
Ini bisa dilakukan, semisal, dengan tidur selama lima menit, mengambil napas
dalam-dalam, melakukan meditasi pagi dan malam, serta berolahraga agar
pusat-pusat memori otak dipenuhi darah yang kaya oksigen. Tapi, tambahnya,
yang terpenting adalah menghilangkan perasaan cemas dan jangan terlalu
mempersoalkan masalah yang tengah dihadapi. (Dari pelbagai sumber/Yds)
http://www.indomedia.com/intisari/1998/agustus/lupa.htm
On 4/12/07, say ida <zizi_heart@...> wrote:
>
> Please saya juga minta saran donk buat msalah ini, karna hal ini juga
> saya alamin.
> pernah suatu ketika saya kan masak air, saya lupa dan sampai ada tempat
> masak air ngeluarin bara api ya untung ga' kena Gas nya kalau sampai kena
> munkin rumahku kebakaran kali...
> Ayo donk beri kami solusinya....
> saya bingung gimana caranya ngilagin pelupa saya...
>
> Regard,
> Ida
>
> "Titah :)" <titahrahayu@... <titahrahayu%40gmail.com>> wrote:
> saya senang sekali kalau ada yang bisa dan berkenan menjawab
> pertanyaan ini dengan tuntas karena saya sudah belasan tahun mengalami
> hal yang sama. memang sangat merepotkan! tipe lupa saya adalah lupa
> pada memori jangka pendek seperti yang dialami mbak fitri. sedang
> peristiwa berpuluh-puluh tahun lalu (pengalaman masa kecil, misalnya)
> malah ingat terus.
>
> kalau saya ingat-ingat (mungkin, saya tidak terlalu yakin), hal itu
> dimulai setelah saya mengalami stres cukup berat atau Bell's palsy dua
> tahun sesudahnya. apa ada hubungannya ya?
>
> salam,
> titah
>
> On 4/11/07, Fitri Chairina <fitri@... <fitri%40tugu-re.com>>
> wrote:
> > Norman Virus Control: winmail.dat File name matches block list and has
> been blocked.
> >
> >
> > Kenapa lupa ? makanya saya juga bingung, kenapa jadi pelupa ?
> >
> > Pencatatan sudah saya lakukan
> >
> > Tapi masa semuanya mesti dicatat
> >
> > Seperti misalnya, baru menyimpan sesuatu ditas, 1 jam kemudian lupa tadi
> > disimpan dimana ya gitu loh
> >
> > thx
>
> Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
>
>
[Non-text portions of this message have been removed]