Search the web
Sign In
New User? Sign Up
asiforbaby
? Already a member? Sign in to Yahoo!

Yahoo! Groups Tips

Did you know...
Hear how Yahoo! Groups has changed the lives of others. Take me there.

Best of Y! Groups

   Check them out and nominate your group.
Having problems with message search? Fill out this form to ensure your group is one of the first to be migrated to the new message search system.

Messages

  Messages Help
Advanced
Re;(Sharing) mau curhat juga   Message List  
Reply | Forward Message #12758 of 87311 |
Re: Re;(Sharing) mau curhat juga

Aduh diskusinya menarik banget dan.. gue banget!

kalo saya ngeliat masalah FTM vs WM itu masalah yg lebih gede lagi
yaitu masalah norma sosial..

Masalah pertama, pemisahan antara urusan domestik dan urusan publik.
Entah kenapa, norma sosial kita cenderung mendomestikasi urusan
membesarkan anak (hamil, menyusui, merawat anak). Jadi, urusan2 yang
berkaitan dengan itu dibatasi untuk berlangsung di lingkungan dalam
rumah aja. Sedangkan urusan pekerjaan, bisnis, mendominasi dunia luar
tanpa boleh terjamah oleh urusan membesarkan anak. Thus, wanita yang
memilih jalur membesarkan anak sering terjebak norma sosial tersebut.

Padahal, coba dipikir lagi, apa iya anak kecil harus di dalam rumah
terus? Waktu dulu, jaman revolusi industri baru mulai, mungkin iya,
karena lingkungan kerja memang berbahaya utk anak (polusi, mesin2
berbahaya etc). tapi jaman sekarang, teknologi yang udah maju, dan
kebanyakan dari kita di milis ini sebagai white-collar worker
environment, yang tidak berbahaya untuk anak. Tetapi mengapa masih ada
"stigma" bahwa membesarkan anak adalah urusan tertutup dalam rumah?

Masalah kedua adalah, bahwa kegiatan membesarkan anak tidak membawa
keuntungan ekonomi. Wanita yang memilih dari FTM dianggap sebagai
"cost" terhadap ekonomi karena dilihat sebagai angkatan kerja yang
tidak bekerja (unemployed). Padahal, kalo dipikir, membesarkan anak
dengan ASI dan dengan purna waktu bisa jadi membawa keuntungan ekonomi
jangka panjang. Sayangnya belum ada riset ilmiah / riset ekonomi
mengenai ini.

Jadi, dengan dua masalah ini, wanita dihadapkan dengan pilihan yang
lose-lose dalam situasi ini. Jika memilih jadi FTM, ada stigma bahwa
FTM tidak bergaul di luar. Jika memilih jadi WM, waktu untuk anak
seringkali kurang banyak, apalagi bepergian ke tempat kerja di Jakarta
sangat menyita waktu. Tidak ada best-case scenario, bagi si ibu. Semua
pilihan membawa efek negatifnya sendiri. Karena itu bisa jadi banyak
wanita memilih untuk tidak punya anak.

Lebih jauh lagi untuk kedua orang tua. Jika ibu memilih jadi FTM,
bapak harus bekerja duakali lebih keras. Walhasil si bapak memiliki
waktu lebih sedikit untuk anak. Interaksi anak dengan ibu dan bapak
jadi tidak seimbang. Bahkan ada beberapa bapak yang menganggap
pengasuhan anak sebagai penghalang kesibukan. Tapi mau gimana lagi,
inilah yang umum terjadi di jaman ini, dan banyak orang harus
mengambil pilihan seperti ini.

Karena itu kami di sini berusaha mendobrak stereotipe pengasuhan anak.
Caranya sebisa mungkin mengajak anak dengan kegiatan2 yang kita
lakukan di luar. Contohnya, saya sebagai FTM mengajak bayi saya (3bln)
ke seminar ilmiah, dan orang2 melihat dengan heran karena ternyata
anak bisa dibawa ke kegiatan seperti ini. Contoh lain teman saya yang
berprofesi sebagai web developer/designer dan ada juga yang sebagai
arsitek, sehingga bekerja dari rumah. Mereka mengasuh anak dan
mengurus rumah tanpa pembantu atau BS. Mereka membawa anak untuk
pertemuan dengan klien, membawa anak ke pameran seni dan pertemuan
dengan rekan2 designer. Bahkan mereka membawa anak ke Bar utk dugem di
malam hari (karena bar di singapur bebas rokok), sehingga mereka tetap
bisa bersosialisasi. Teman saya ini membagi tugas pengasuhan anak
antara ibu dan bapak dengan sangat seimbang dan merata. Nah, kata
siapa, anak kecil cuma boleh di rumah?

Mari kita coba bayangkan dunia yang berbeda samaa sekali. Boleh dong,
berkhayal?

Di dunia yang ini, tekonologi komunikasi dan transportasi udah canggih
banget sehingga ga ada bedanya berada di rumah atau di kantor. Pilihan
untuk jadi FTM atau WM sama2 positif.

Ibu yang memilih untuk menjadi FTM tidak terisolasi, dan dengan
network yang canggih ibu2 ini bisa membuat homeschooling dengan ibu2
FTM yang lain, sehingga menekan biaya pendidikan anak. Atau bisa juga
membantu mengasuh anak2 dari WM untuk dapet penghasilan tambahan. FTM
juga dengan sangat mudah bertukar informasi mengenai pengasuhan anak
melalui media blog dan forum website (hehe kalo ini udah terjadi
dengan milis asiforbaby). Para FTM juga bisa mendapatkan akreditasi
dan ijazah mengenai menyusui, pengasuhan dan pendidikan anak dengan
assessment kualifikasi mereka oleh organisasi FTM. Selepas anak2
besar, para FTM bisa menyumbangkan ilmu mereka pada organisasi ini
untuk ibu2 yang baru melahirkan.

Dunia yang ini, sangat ramah dengan anak kecil dan menyusui. Menyusui
dan mengurus anak di tempat umum menjadi hal yang biasa. Baik di
taman, di busway, di carrefour, kapan saja dan dimana saja bisa
menyusui atau mengganti popok anak. Anak dapat bermain dan berlarian
di tempat publik dengan bahaya yang sangat minimum.

Dunia yang ini juga sangat ramah dengan WM. Di dunia ini, tidak ada
cuti melahirkan! lho kok malah gak ada? Karena ibu2 ini sejak bayinya
berumur sebulan membawa anaknya turut bekerja. Ketika anaknya masih
bayi dan banyak tidur, bayi ditaruh di tempat tidur bayi di cubicle
dan meja ibu, sehingga kapanpun WM bisa menyusui. Sampai mbak2 teller
di bank pun membawa anaknya, sehingga mereka menerima nasabah sambil
menggendong bayinya. Guru-guru dan dosen menggendong bayinya sambil
mengajar. Konsultan membawa bayinya ke rapat klien, dan klien pun
membawa bayinya ke rapat.

Ketika anak sudah bisa jalan, WM bisa menitipkan anaknya di penitipan
anak di gedung kantor yang sama, yang dikelola oleh para FTM pro-ASI.
Karena jumlah WM dan FTM seimbang, di semua kantor ada TPA. WM
mendapatkan bantuan pengasuhan anak oleh pengasuh profesional (FTM),
dan FTM mendapat penghasilan tambahan. Setiap empat anak diasuh oleh 1
FTM. Di waktu makan siang, WM menyusui anak di TPA. Saat WM mengantor,
FTM memberikan ASI perah. Setiap pulang kantor WM mendapat laporan
kegiatan dari FTM.

Ketika anak sudah berusia lebih dari 2 tahun, belum sekolah, dan
menyusui hanya sedikit, giliran bapak yang mengurus anak sambil
ngantor. ADa banyak pilihan pengasuhan anak balita. Bisa dititipkan di
TPA di gedung kantor, dan bapak akan selalu mengajak anaknya makan
siang atau minum teh di waktu2 istirahat. Atau bisa juga anak ikut
mengantor dengan bapaknya, dan ini bukan hal yang aneh. Karena bapak
mengenal anaknya dengan baik, bapak lebih bisa menghandle anaknya dan
si anak juga akan berusaha mengerti kebutuhan bapaknya. Walhasil, si
anak bisa diajak ke meeting-meeting dan ketemu anak2 kliennya.
Hasilnay si anak akan mengerti apa yg dikerjakan orangtuanya selama di
kantor, dan si anak merasa tidak terisolasi dengan dunia luar. Kalau
anak bosan di kantor bisa turun ke TPA di gedung kantor.

Lebih ekstrim lagi, tempat2 dugem pun menjadi ramah anak2. Bebas
rokok, dan tersedia playground / tempat tidur untuk anak. Orangtua
yang suka dugem tetap bisa bersosialisasi tanpa harus meninggalkan anak.

Hayo, ibu2 apakah ada khayalan mengenai dunia yang ramah anak? silakan
ditambahkan.

mudah2an khayalan ini bisa terlaksana.

--- In asiforbaby@yahoogroups.com, "Monika Tanu l Web Designer"
<contact@...> wrote:
>
> Aduh. Topiknya gue banget. Ga tahan ga nimbrung :))
>
> Sama kaya Mbak Vee, hidup berubah setelah merit. 2-3 bulan sebelum
merit,
> saya resign dari kantor karena suami tadinya mo dipindah tugas
keluar kota.
> Pas "dikasi ijin resign" ama bos, saya sempet diwanti-wanti
(kebetulan bos
> saya ini wanita karir sejati): "Abis resign kamu mau ngapain? Jangan
sampe
> ga kerja (jadi IRT) loh Mon,"




Mon Dec 3, 2007 1:58 am

chaerani
Offline Offline
Send Email Send Email

Forward
Message #12758 of 87311 |
Expand Messages Author Sort by Date

Dear Dirga, Wah senengnya ada juga mommy yang mutusin jadi fulltime mommy. Aku juga rencananya mau resign dari kantorku dan jadi full time mommy. Alasanku sih...
Shinta Yannita@Sales@...
shinta_yannita
Offline Send Email
Nov 30, 2007
4:33 am

Dear FTM moms, aduuh senangnya ada yang angkat topik ini..kalo aku lebih seneng klo dipanggil kitchen diva!!hhahah. Aku juga awalnya selalu pengen kerja bgitu...
Inna Banani
nasamari
Online Now Send Email
Nov 30, 2007
7:55 am

Aduh. Topiknya gue banget. Ga tahan ga nimbrung :)) Sama kaya Mbak Vee, hidup berubah setelah merit. 2-3 bulan sebelum merit, saya resign dari kantor karena...
Monika Tanu l Web Des...
montan_imajiku
Offline Send Email
Dec 1, 2007
7:18 pm

Aduh diskusinya menarik banget dan.. gue banget! kalo saya ngeliat masalah FTM vs WM itu masalah yg lebih gede lagi yaitu masalah norma sosial.. Masalah...
Meutia Chaerani Soema...
chaerani
Offline Send Email
Dec 3, 2007
1:58 am

WOW Mba Rani... ngayalnya sama kayak aku (maap yak.. kl kaga seneng disama2in.. he he).. seandainya semuanya can be realized... hope n wish.. TQ, Ibunya si...
noerlaelasari
Offline Send Email
Dec 3, 2007
8:50 am

Whehehe sharenya mba Monik GW BGT TU! :D Nyaris mirip, saya yg tadinya kerja dari jam 9-17 skarang smenjak nikah dan pindah ke Bandung jadi FTM. Sebulan ...
Ratih Wulansari
ratihwulans
Offline Send Email
Dec 3, 2007
5:20 am

Wah, jadi pengen nangis neh... Pas banget. Dari kemaren-kemaren saya ikutan milist asiforbaby ini, saya sempat ngerasa iriiiiiiiii banget ama moms yang...
fitriani_sutrisno
fitriani_sut...
Offline Send Email
Oct 25, 2008
7:31 am

dear all, selamat ya buat moms yang udah memutuskan jadi stay at home mom dan mengalahkan semua egonya untuk si kecil tersayang. rejeki pasti Tuhan yang ...
lutvita hardiani
ulul0604
Offline Send Email
Oct 25, 2008
7:58 am

lho kenapa FTM harus rendah diri? kalo mo tau ya mom kita2 para working mother khususnya saya merasa salut sekali dengan para FTM . swear deh, kesabaran kalian...
izza_haq
Offline Send Email
Oct 25, 2008
2:39 pm
Advanced

Copyright © 2009 Yahoo! Inc. All rights reserved.
Privacy Policy - Terms of Service - Guidelines - Help